Canting

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
CantingTjantingꦕꦤ꧀ꦛꦶꦁ
Tjanting.jpg
Canting digunakan dalam proses pembuatan batik
TipeRengreng, Isen, Cecek, Klowong, Tembokan, Cecekan, Loron, Telon, Prapatan, Liman, Byok, Galaran
Digunakan denganMalam, Batik
PenemuOrang Jawa[1][2][3][4][5]
Diproduksi olehIndonesia (Jawa)
Alat terkait
Peralatan dalam pembuatan batik ditampilkan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dari tengah atas: canting, alat yang digunakan untuk mengaplikasikan lilin; dari kiri ke kanan: sikat kayu dengan bulu sabut kelapa, kaliper besi untuk mengukur, kaliper, penjepit, palu, dan kikir.
Bagian canting
Contoh penggunaan canting

Canting (berasal dari bahasa Jawa: ꦕꦤ꧀ꦛꦶꦁ, translit. canthing, IPA: tʃanʈiŋ; ejaan lama: tjanting) adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas asli Indonesia. Canting tradisional untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Canting dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Canting pada umumnya terbuat dari bahan tembaga dengan gagang bambu, tetapi saat ini canting untuk membatik mulai digantikan dengan teflon.

Desain[sunting | sunting sumber]

Sebuah canting terdiri dari:

  1. Nyamplung: tempat tampungan cairan malam, terbuat dari tembaga.
  2. Cucuk: tergabung dengan nyamplung, adalah tempat keluarnya cairan malam panas saat menulis batik.
  3. Gagang: pegangan canting, umumnya terbuat dari bambu atau kayu.

Ukuran canting dapat bermacam-macam sesuai besar kecilnya lukisan batik yang akan dibuat. Saat digunakan, pengrajin memegang canting seperti menggunakan pena, mengisi nyamplung dengan malam cair dari wajan tempat memanaskan malam tersebut. Pengrajin kemudian meniup cairan malam panas dalam nyamplung untuk menurunkan suhunya sedikit, kemudian melukiskan malam yang keluar dari cucuk tersebut di atas gambar motif batik yang sebelumnya telah dilukis dengan pensil.[6]

Canting berdasarkan jumlah cucuk:

  • canting cecek

Canting cecek bercucuk satu dan berukuran kecil. Kegiatan membuat titik-titik dengan canting cecekan disebut nyeceki. Selain untuk membuat titik-titik kecil sebagai pengisi bidang, canting cecekan juga digunakan untuk membuat garis-garis kecil.

  • canting loron

Loron berasal dari kata loro yang berarti dua. Canting loron digunakan untuk membuuat garis rangkap.

  • canting telon

Telon dari kata telu yang berarti tiga. Canting ini bercucuk tiga.

  • canting prapat

Canting ini berguna untuk mengisi bidang yang terdiri dari empat buah titik.

  • canting liman

Canting yang bercucuk lima.

  • canting byok

Canting yang bercucuk tujuh atau lebih.

  • canting renteng

Canting yang bercucuk genap empat buah atau lebih.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tirta, Iwan; Steen, Gareth L.; Urso, Deborah M.; Alisjahbana, Mario (1996). Batik: A Play of Lights and Shades. 1. Gaya Favorit Press. ISBN 978-979-515-313-9. [pranala nonaktif permanen]
  2. ^ Ratna, Roostika (2019). "TERRITORIAL MARKETING AND COLLECTIVE BRANDING TO SUPPORT REGIONAL DEVELOPMENT: A STUDY OF SMEs BATIK INDUSTRY". Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences. 90 (6). doi:10.18551/rjoas.2019-06.14. Diakses tanggal 4 February 2021. 
  3. ^ Akhir, Noor Haslina Mohamad; Ismail, Normaz Wana; Said, Rusmawati; Ranjanee, Shivee; Kaliappan, P (2015). "Traditional Craftsmanship:The Origin, Culture, and Challenges of Batik Industry in Malaysia". Islamic perspectives relating to business, arts, culture and communication. doi:10.1007/978-981-287-429-0_22. Diakses tanggal 4 February 2021. 
  4. ^ Lee, Thienny (2016). "Defining the Aesthetics of the Nyonyas' Batik Sarongs in the Straits Settlements, Late Nineteenth to Early Twentieth Century". Asian Studies Review. 40 (2). doi:10.1080/10357823.2016.1162137. Diakses tanggal 4 February 2021. 
  5. ^ Baasanjargal, Tsolmonchimeg; Soon-Joo, Ahn; Mi-Jeong, Kwon (2019). "인도네시아 바틱전통 패턴의 비교 분석 : 자바섬의 족자카르타와 페칼롱간의 패턴을 중심으로 [Comparative Analysis of Indonesian Batik Traditional Patterns: Focused on Patterns of Yogyakarta and Pekalongan in Java Island]". 한복문화. 22 (3). doi:10.16885/jktc.2019.09.22.3.75. Diakses tanggal 4 February 2021. 
  6. ^ Tim Bina Karya Guru. 2007. "Seni Budaya dan Keterampilan Untuk Sekolah Dasar Kelas VI". Penerbit Erlangga. ISBN(13): 978-979-015-060-7.