Bola gawang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bola gawang adalah olahraga tim yang dirancang khusus untuk atlet dengan gangguan penglihatan. Peserta bersaing dalam tim yang terdiri dari tiga orang dan mencoba melempar bola yang memiliki lonceng yang tertanam di dalamnya ke gawang lawan.[1] Bola dilempar dengan tangan dan tidak boleh ditendang. Goalball mengutamakan koordinasi antara telinga dan tangan. Olahraga ini tidak memiliki padanan dengan olahraga nondifabel. Atlet nondifabel yang ikut bermain olahraga ini menggunakan penutup mata.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Permainan ini dibuat oleh orang Austria Hanz Lorrenzen dan orang Jerman Sett Reindle (juga ditulis sebagai Sepp Reindle) pada 1946. Permainan ini awalnya digunakan untuk rehabilitasi prajurit perang dunia.

Pada kejuraan Paralympic, bola gawang pertama kali dimainkan di Paralympic Toronto, Kanada pada 1976.

Kejuaraan dunia pertama dimainkan di Vocklamarck, Austria, pada 1978.

Pada Oktober 2021, terdapat 271 wasit yang diakui.[2]

Pada 30 November 2021, terdapat 96 negara yang telah ikut berkompetisi.[3]

Bola gawang dimainkan pada Paralympic Tokyo 2020. Hasil dari permainan itu adalah[4][5]:

Emas Perak Perunggu
Pria Brasil Tiongkok Lithuania
Wanita Turki Amerika Serikat Jepang

Perlengkapan yang harus dipersiapkan[sunting | sunting sumber]

Permainan ini membutuhkan sebuah lapangan bermain dengan panjang 18 meter dan lebar 9 meter. Ukuran gawang sama dengan lebar lapangan.

Lapangan dibagi menjadi area lawan dan area kawan. Setiap area dibagi dengan sebuah garis. Garis ini dibuat menggunakan sebuah selotip yang dibawahnya terdapat sebuah kabel. Kabel ini yang akan dirasakan oleh kaki pemain untuk mengetahui posisi mereka.

Jersei yang digunakan oleh pemain bebas menggunakan bahan apa saja dan warna apa saja. Namun, jersei semua pemain harus seragam (memiliki warna yang sama) dan setiap pemain harus memiliki nomor punggung berbeda di belakang baju mereka. Pemain juga bebas untuk menggunakan pelindung lutut atau tidak.

Meskipun semua pemain telah diakui sebagai orang tunanetra, setiap pemain harus menggunakan kacamata khusus yang akan menggelapkan seluruh penglihatan. Kacamata gelap ini digunakan untuk menjamin tidak ada pemain yang mendapatkan handicap. Biasanya dibawah kacamata gelap juga terdapat sebuah penutup mata yang ditempelkan ke wajah untuk benar benar memastikan seseorang tidak bisa melihat apapun. Jika tidak dapat membeli penutup mata, kacamata renang dapat digunakan sebagai pengganti. Kacamata renang ini lalu dilapisi menggunakan selotip sampai tidak ada cahaya lagi yang masuk ke mata.

Bola yang digunakan adalah bola khusus yang memiliki laher di dalamnya.[6] Laher ini akan membuat bola bersuara. Bola ini memiliki diameter 76 cm, berat 1.25kg/2.57 pon, dan terdapat 8 lubang; 4 lubang diatas dan 4 lubang dibawah. Lubang ini membuat bola tidak memantul terlalu jauh.

Cara bermain dan aturan[sunting | sunting sumber]

Pada kejuaraan profesional, pemain dibagi menjadi empat kelas. B1, B2, B3, dan Buta total.

Permainan berdurasi 24 menit, terdiri dari 2 babak, tiap babak berdurasi 15 menit. Setiap tim diperbolehkan memiliki 6 pemain, 3 di lapangan, dan 3 pemain cadangan.[6] Pemain di lapangan dibagi tiga, right wing, left wing, dan centre. Pemain ini akan menjaga sisi lapangan sesuai dengan namanya.

Tiap tim boleh melakukan tactical timeout hanya sekali di tiap permainan. Timeout yang tidak digunakan akan hangus.

Sebelum permainan dimulai, koin dilemparkan. Tim yang memilih sisi koin yang benar akan mendapatkan bola.

Selama permainan, pemain tidak boleh menyentuh penutup mata tanpa izin.[6]

Wasit akan meminta seluruh pemain dan penonton untuk diam, meniup peliut sebanyak 3 kali, lalu akan mengatakan "Play".[6]

Pemain lalu melemparkan bola yang dipegang ke arah lawan. Bola harus memantul dari lantai setidaknya sekali. Gaya melempar bebas sesuai dengan keinginan pemain.

Pemain lawan lalu berusaha memblokir bola agar tidak masuk ke gawang.

Ketika pemain melemparakan bola, terdapat empat situasi yang dapat terjadi:

  • Bola masuk ke gawang, tim mendapatkan poin.
  • Bola berhasil diblokir, bola sekarang berada di tangan tim lawan. lawan dapat langsung melempar bola.
  • Bola berhasil diblokir, dan bola keluar dari lapangan. Permainan akan dimulai lagi setelah bola berada di tangan tim yang memblokir.
  • Bola tidak masuk, dan bola keluar dari lapangan. Permainan akan dimulai lagi dengan bola berada pada tim lawan.

Tim dapat memenangkan permainan dengan memiliki poin terbanyak ketika waktu habis atau dengan unggul 10 poin dari tim lawan.[6]

Manfaat bagi badan[sunting | sunting sumber]

Orang yang mengidap tuna netra seringkali tidak memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik. Terhambatnya aktivitas fisik ini juga membuat orang tuna netra kesulitan dalam bersosialisasi. Bola gawang adalah permainan yang cocok untuk mengatasi masalah ini. Selain memberikan tubuh yang sehat, permainan ini juga mendukung kerja sama tim, yang akan memperbaiki kemampuan bersosialisasi. Sebagai sebuah olahraga, bola gawang juga memberikan pemainnya kemampuan motorik dan spatial awareness yang baik, juga memperbagus koordinasi telinga dan badan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Goalball - Paralympic Athletes, Photos & Events". Paralympic.org. Diakses tanggal 2015-03-06. 
  2. ^ Certified Referees October 2021 (PDF). International Blind Sports Federation. Oktober 2021. hlm. 1–6. 
  3. ^ IBSA Goalball World Rankings (PDF). International Blind Sports Federation. Oktober 2021. hlm. 1–4. 
  4. ^ "Goalball at the Tokyo 2020 Paralympic Games". IPC Historical Results Archive. Diakses tanggal 8 Februari 2022. 
  5. ^ "Goalball at the Tokyo 2020 Paralympic Games". IPC Historical Results Archive. Diakses tanggal 8 Februari 2022. 
  6. ^ a b c d e "Goalball is unique to the Paralympics — here's how it works". abc.net.au. 25 Agustus 2021. Diakses tanggal 8 Februari 2022. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]