Bambularangan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Bambularangan adalah nama sebuah perkampungan yang terdiri dari dua rukun warga yakni Rw 09 dan Rw 05, Bambularangan rw 09 masuk dalam wilayah Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, sedangkan bambularangan rw 05 masuk kedalam kelurahan cengkareng barat kecamatan Cengkareng, Keduanya dalam wilayah Jakarta Barat.

Secara geografis letaknya 106 42' 51" derajat bujur barat dan 6 8' 12" derajat lintang selatan, bambularangan berbatasan langsung dengan Pinggirawa disebalah barat, Menceng dan Pulo disebelah Utara, Utan Jati disebelah selatan serta Kampung Malang disebelah timur.

Di antara semua perkampungan yang melingkupinya bambularangan adalah perkampungan tertua menurut catatan sejarah yang ada, Kampung Bambularangan dibangun tahun 1889, setahun setelah persitiwa pemberontakan petani banten berhasil dipadamkan oleh Belanda dengan terbunuhnya pemimpin gerakan tersebut yaitu H. Wasid (ada yang memanggilnya dengan Waseh atau Wasith) ditikungan camara distrik Cilegon, Banten. Setelah meredam pemberontakan Belanda melanjutkan dengan penangkapan orang-orang yang dianggap terlibat, mereka yang tertangkap biasanya dibunuh atau diasingkan kewilayah terpencil di Indonesia.

Salah seorang yang terlibat pemberontakan dari distrik tigaraksa adalah SATIM, dia berhasil melarikan diri kearah Jakarta dengan menggunakan rakit yang dikayuhnya di atas Saluran Mookervart. Sungai Mookervaart merupakan sungai buatan yang dibangun tahun 1681, berupa sebuah kanal yang menghubungkan sungai Tji Sadane (Cisadane) dan Tji Angke (Kali Angke). Saat ini sungai tersebut merupakan bagian dari aliran Sungai Angke Pesanggrahan. Ketika Satim melintas disekitar sumur bor, dia merapatkan rakitnya, lalu melanjutkan perjalanan kearah utara. Sampai tibalah dia disebuah wilayah yang kontur tanahnya membukit dan banyak sekali ditumbuhi pohon bambu betung (Dendrocalamus aspers), bambu tali (Gigantochloa apus), bambu hitam(Gigantochloa atter), serta pohon ilalang (Impperianta sp).Oleh karena nya wilayah itu awalnya dinamakan benteng alang-alang, entah kenapa kemudian namanya berubah menjadi bambularangan. Menurut cerita orang-orang tua diwilah ini pada waktu itu siapa yang menebang pohon bambu tanpa izin maka orang terebut akan meninggal dunia, tapi hal itu merupakan cerita yang turun-temurun saja. Pada awalnya SATIM mendirikan rumah disebelah masjid safinatul husna, setelah dirasa aman dia kembali ke tempat asalnya di tigaraksa untuk menjemput dua orang keponakannya yaitu KUNTARA dan MAIRAN, kedua orang inilah yang kemidian mengembangkan wilayah bambularangan dengan keahlian masing-masing, Kuntara yang ahli ilmu agama islam ditempatkan disebelah utara sungai mengurusi masjid safinatul husna, sedangkan Mairan yang ahli ilmu bela diri betawi SELIWA, ditempatkan disebelah selatan sungai. sampai saat ini keturunan mereka masih menempati sebagian besar wilayah bambularangan. Kebanyakan keturunan mereka kawin dengan masyarakat betawi cengkareng, kosambi, pondok pinang, pasar jumaat dan sekitarnya sehingga budaya mereka adalah percampuran antara budaya betawi san budaya tangerang. Orang bambularangan sangat menggemari lenong, cokek, gambang kromong, kasidahan dan tentu juga irama melayu dangdut, dahulu mereka adalah petani tetapi perkembangan jakarta memaksa mereka untuk beralih profesi menjadi pekerja, pedagang, buruh serta profesi lainnya, karena lahan persawahan mereka kebanyakan sudah menjadi perumahan.(adam Muslih / www.anakmandorbuang.blogspot.com))