Atman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Agama Hindu
HINDUISME
Topik
Sejarah • Mitologi • Kosmologi • Dewa-Dewi
Keyakinan
Brahman • Atman • Karmaphala • Samsara • Moksa • Ahimsa • Purushartha • Maya
Filsafat
Samkhya • Yoga • Mimamsa • Nyaya • Waisesika • Wedanta (Dwaita • Adwaita • Wisistadwaita)
Pustaka
Weda (Samhita • Brāhmana •
Aranyaka • Upanishad) • Wedangga • Purana • Itihasa • Bhagawadgita • Manusmerti • Arthasastra • Yogasutra • Tantra
Persembahyangan
Puja • Meditasi • Yoga • Bhajan • Upacara • Mantra • Murti
Hari Raya
Dipawali • Nawaratri • Siwaratri • Holi • Janmashtami • Durgapuja • Nyepi
OM Portal agama Hindu

Atman atau Atma (IAST: Ātmā, Sanskerta: आत्म‍ ) dalam Hindu merupakan percikan kecil dari Brahman yang berada di dalam setiap makhluk hidup.[1][2] Atman di dalam badan manusia disebut: Jiwatman atau jiwa atau roh yaitu yang menghidupkan manusia.[1] Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini).[2] Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman.[2] Atman itu berasal dari Brahman, bagaikan matahari dengan sinarnya.[1] Brahman sebagai matahari dan atman-atman sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.[1]

Sifat-sifat Atman[sunting | sunting sumber]

Dalam Bhagavad Gita dijabarkan mengenai sifat-sifat Atman, diantaranya adalah:[3]

  • Achedya : tak terlukai oleh senjata
  • Adahya : tak terbakar oleh api
  • Akledya :tak terkeringkan oleh angin
  • Acesyah : tak terbasahkan oleh air
  • Nitya : abadi
  • Sarwagatah : di mana- mana ada
  • Sthanu : tak berpindah- pindah
  • Acala : tak bergerak
  • Sanatana : selalu sama
  • Awyakta : tak dilahirkan
  • Acintya : tak terpikirkan
  • Awikara : tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Atman dalam Bhagavad Gita[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah beberapa kutipan sloka yang memuat sifat-sifat Atman dalam Bhagavad Gita:[3]

Sloka


nai'nam chhindanti sastrani
na chai'nam kledayanty apo
na soshayati marutah

Terjemahan


Senjata tidak dapat melukai Dia
dan api tidak bisa membakar- Nya
angin tidak dapat mengeringkan Dia
dan air tidak bisa membasahi- Nya


Achedyo 'yam adahyo 'yam
akledya 'soshya eva cha
nityah sarwagatah sthanur
achalo 'yam sanatanah


Dia tidak dapat dilukai, dibakar
juga tidak dikeringkan dan dibasahi
Dia adalah abadi, tiada berubah
tiada bergerak, tetap selama- lamanya.


Awyakto 'yam achintyo 'yam
Awikaryo 'yam uchyate
tasmad ewam widitasi 'nam
na 'nusochitum arhasi.


Dia dikatakan tidak termanifestasikan
tidak dapat dipikirkan, tidak berubah- ubah
dan mengetahui halnya demikian
engkau hendaknya jangan berduka.


Atman tidak dapat menjadi subyek atau obyek dan tindakan atau pekerjaan.[2] Atman tidak terpengaruh akan perubahan-perubahan yang dijalani maupun dialami pikiran, hidup dan jasad atau badan jasmani.[2] Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atman tetap langgeng untuk selamanya.[2]

Empat Jalan menemukan Atman[sunting | sunting sumber]

Untuk menemukan Atman yang tersembunyi di dalam diri manusia, manusia harus melakukan Yoga.[4] Jika telah menemukan dan bersatu dengan Atman, maka barulah manusia mencapai kebahagiaan sempurna.[4] Yoga berfungsi menyatukan jiwa manusia dengan Atman, yang tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam.[4] "Karena semua latihan rohani India (yang dibedakan dengan latihan jasmani) sungguh dimaksudkan untuk mencapai tujuan praktis ini...bagaimana caranya mencapai Brahman dan hidup seperti Brahman."[5]

Ada empat jalan (yoga) untuk menemukan Atman, namun empat jalan tersebut membawa kepada tujuan yang satu.[4] Manusia dapat memilih salah satu dari empat jalan tersebut berdasarkan pribadi orang tersebut.[4] Menurut analisis Hindu, pada umumnya ada empat tipe pribadi manusia yaitu suka merenung, aktif, emosional, dan empiris (menekankan pengalaman).[4]

Keempat jalan tersebut dimulai dari beberapa petunjuk penting mengenai kesusilaan.[4] Karena tujuan akhir dari masing-masing jalan adalah untuk menjernihkan permukaan diri kita agar dapat terlihat unsur keilahian yang dibawahnya, maka tentu saja pribadi itu harus dibersihkan dari kotoran moral yang besar.[4] Orang yang ingin melakukan yoga harus memulai kebiasaan serta praktik hidup yang bermoral.[4]

Jalan melalui Pengetahuan[sunting | sunting sumber]

Jalan melalui pengetahuan atau jnana yoga diperuntukkan bagi orang-orang yang mempunyai kecenderungan intelektual yang kuat.[4] Bagi orang seperti itu, Hindu menawarkan serangkaian semadi dan pembuktian logis yang dimaksudkan untuk meyakinkan si pemikir bahwa ada hal yang lebih dari dirinya yang berhingga itu.[4]

Jalan untuk memperoleh pengetahuan ini terdiri dari tiga langkah yaitu mendengar, berpikir, dan pengalihan.[4] Pertama adalah mendengar, yakni mendengar ucapan dari orang-orang bijaksana, dan kitab-kitab suci.[4] Tujuannya agar orang yang bersangkutan berkenalan dengan hipotesis pokok bahwa di pusat jati dirinya terdapat sumber kehidupan yang tak berhingga yang tidak dapat dipadamkan.[4] Langkah kedua adalah berpikir, yaitu Atman yang tadinya berupa konsep kosong, diubah menjadi kenyataan penting.[4] Langkah ketiga adalah pengalihan identifikasi dirinya dengan roh abadi dengan mencoba membayangkan dirinya sebagai roh abadi itu.[4] Ia harus melihat dirinya dari sudut pandang yang berbeda seolah-olah ia adalah pribadi yang berbeda, karena memang dirinya adalah fana dan hanya atman yang nyata.[4]

Jalan melalui Cinta[sunting | sunting sumber]

Jalan melalui cinta atau bhakti yoga berbeda dengan jnana yoga.[4] Dalam jnana yoga gambaran tentang Tuhan bagaikan suatu samudera yang tak berhingga dan berada di dasar diri kita.[4] Tuhan dibayangkan sebagai Diri yang merembesi segala sesuatu yang sepenuhnya berada di dalam manusia ataupun di luar manusia.[4] Tugas manusia adalah mengenal persatuan diri dengan Tuhan, dan Tuhan bukan dipahami sebagai pribadi.[4] Akan tetapi, bagi seseorang yang lebih mengutamakan cinta daripada pikiran, Tuhan pastilah kelihatan berbeda dengan hal-hal tersebut.[4] Pertama, bhakti akan menolak semua pandangan yang menyatakan Tuhan adalah diri pribadinya, bahkan dirinya yang paling dalam, dan berkeras bahwa Tuhan lain dari dirinya.[4] Alasannya, karena cinta merupakan perasaan yang dicurahkan keluar.[4] Kedua, tujuan jnana berbeda dengan bhakti.[4] Tujuannya bukanlah melihat kesatuan dirinya dengan Tuhan, melainkan untuk memuja Tuhan dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya.[4] Apa yang harus dilakukan adalah mencintai Tuhan dengan setulus hati, mencintai dalam kehidupan, mencintai hal lain karena Dia, dan mencintai-Nya tanpa pamrih apapun.[4]

Ada tiga cara pendekatan bhakti yang perlu diketahui yaitu:

  • a. Japam, yaitu latihan menyebut nama Tuhan berulang-ulang kali.[4]
  • b. Mendengungkan pergantian cinta, menunjukan kenyataan bahwa ada berbagai jenis cinta, misalnya cinta anak-orangtua dan suami-istri, dan lain-lain.[4] Cara ini mendorong orang yang melakukan yoga mengalihkan semua cinta kepada Tuhan.[4]
  • c. Pemujaan terhadap Tuhan menurut bentuk ideal seseorang.[4] Menurut agama Hindu ada tingkatan-tingkatan cinta yang semakin mendalam dan timbal balik.[4] Tahap pertama adalah sikap mereka yang dilindungi terhadap si pelindung.[4] Tahap kedua adalah tahap persahabatan, dimana Tuhan dipandang sebagai teman bahkan teman sepermainan.[4] Tahap ketiga adalah sikap cinta orang tua dimana Tuhan dipandang manusia sebagai anak.[4]

Jalan melalui Kerja[sunting | sunting sumber]

Jalan melalui kerja atau karma yoga ditujukan secara khusus bagi orang yang berwatak aktif.[4] Kerja adalah pokok kehidupan manusia. Dorongan bekerja bukanlah motivasi ekonomis, melainkan motivasi psikologis.[4] Manusia akan merasa gelisah atau kehilangan semangat saat tidak bekerja.[4] Jalan ini ditujukan secara khusus bagi orang yang berwatak aktif. Jalan ini menggunakan kerja sebagai sarana untuk menuju Tuhan.[4]

Karma yoga mempunyai rute-rute alternatif tergantung pada pendekatan kita, apakah dengan filosofis atau dengan sikap cinta.[4] Jadi karma yoga dapat dipraktikkan dengan gaya jnana yoga (pengetahuan) atau bhakti yoga (cinta).[4] Pekerjaan dapat menjadi wahana menuju Tuhan melalui kedua hal tersebut, karena agama Hindu mengajarkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan pada dunia di luar kita mempunyai reaksi yang sepadan di dalam diri pelakunya.[4] Setiap perbuatan yang manusia lakukan untuk kepentingan kesejahteraan diri manusia akan menambah satu lapisan ego yang semakin mempertebal jarak antara dirinya dan Tuhan, baik yang dipahami di dalam diri maupun di luar diri.[4] Demikian pula setiap tindakan yang dilakukan tanpa mengingat kepentingan diri sendiri, akan mengurangi hambatan untuk mencapai Atman di dalam diri, hingga akhirnya tidak ada hambatan yang mengaburkan hubungan seseorang dengan Tuhan.[4]

Seorang yang menganut jalan karma yoga akan berusaha melakukan setiap hal yang dihadapinya seakan-akan hal itu merupakan satu-satunya tugas yang harus dikerjakannya.[4] Ia akan berusaha memusatkan perhatiannya secara utuh dan mantap terhadap setiap tugas, dengan menjauhkan segala bentuk ketidaksabaran, kegembiraan, ataupun usaha yang sia-sia untuk melakukan atau mengingat berbagai hal lainnya dalam waktu yang sama.[4] Ia akan berusaha sekuat tenaga, karena jika tidak berarti ia telah menyerah kepada kemalasan yang merupakan sifat mementingkan diri.[4]

Jalan melalui Latihan Psikologis[sunting | sunting sumber]

Jalan melalui latihan psikologis disebut juga raja yoga karena jenis yoga ini mampu membawa orang ke taraf yang tinggi.[4] Satu-satunya syarat yang diperlukan untuk menempuh raja yoga ini adalah dimilikinya suatu dugaan kuat bahwa diri manusia sebenarnya jauh lebih mengagumkan dari yang kita sadari saat ini.[4] Orang yang melakukan raja yoga akan melakukan percobaan terhadap rohaninya sendiri dengan hipotesis bahwa Atman ada di dalam lapisan-lapisan diri manusia.[4] Tujuan raja yoga adalah untuk membuktikan keabsahan dari pandangan tentang lapisan-lapisan ini.[4]

Tahap-tahap dari raja yoga ada delapan tingkat, namun dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:[6] a. Persiapan etis atau persiapan di bidang kesusilaan, yaitu tidak membunuh atau membenci apapun juga, tidak mencuri, tidak berbuat mesum, tidak berbuat curang, dan harus murni secara batin.[6] b. Persiapan badani, yaitu orang harus menguasai gerak-gerik, napas tubuh, serta perasaannya.[6] c. Merenung, yaitu orang harus dapat memusatkan perhatiannya kepada sesuatu supaya menjadi tenang. Setelah tenang orang harus merenungkan sesuatu.[6] d. Samadhi, yang menghapuskan perasaan adanya identitas. Tubuh dan pikiran menjadi mati terhadap segala perangsang dari luar. Hanya sasaran yang direnungkan itulah yang tinggal bersinar-sinar.[6]

Jika telah dapat mencapai tahap ini, maka ia telah mencapai tingkatan moksa, yaitu kesadaran bahwa segala sesuatu adalah satu dan dengan pengalamannya ia merealisasikan kesatuan itu.[6] Baginya hanya Atman/Brahman saja yang kekal, sedangkan segala yang lain di dalam dunia ini adalah maya atau tidak nyata.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur. Depok: Jalasutra.
  2. ^ a b c d e f Harun Hadiwijono. 1971. Sari Filsafat India. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  3. ^ a b (Inggris)Bhaktivedanta Swami Prabhupada (Trans.). 1986. Bhagavad Gita As It Is. Sydney: The Bhaktivedanta Book Trust.
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at au av aw ax ay Huston Smith. 1999. Agama-Agama Manusia. Jakarta: Obor. Hal. 40-41.
  5. ^ Heinrich Zimmer. 1951. The Philosophy of India. New York: Patheon Books. p. 80-81.
  6. ^ a b c d e f g Harun Hadiwijono. 1982. Agama Hindu Budha. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 25.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]