Anti-rohaniwan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Anti-rohaniwan merujuk kepada gerakan-gerakan dalam sejarah yang menentang rohaniwan atas alasan-alasan yang meliputi tuduhan kekuasaan dan pengaruh mereka dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat dan politik dan keterlibatan mereka dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, hak-hak mereka atas pemaksaan ortodoksi mereka[1]

Tidak semua anti-rohaniwan adalah irelijius atau anti-agama, beberapa beragama dan menentang rohaniwan atas dasar masalah-masalah kelembagaan dan/atau ketidaksetujuan dalam tafsir keagamaan, seperti saat Reformasi Protestan.

Eropa[sunting | sunting sumber]

Perancis[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi dalam majalah anti-rohaniwan Perancis La Calotte pada 1908.

Revolusi[sunting | sunting sumber]

Revolusi Perancis, terutama pada masa Jacobin, diwarnai salah satu peristiwa anti-rohaniwan paling keras dalam sejarah Eropa modern sebagai reaksi melawan peran dominan gereja Katolik di Perancis pada masa sebelum revolusi; otirtas revolusioner yang baru mendepak gereja; menghancurkan, menodai dan mengalihfungsikan biara-biara; mengasingkan 30,000 pendeta dan membunuh ratusan orang.[2] Sebagai bagian dari kampanye untuk mendekristenisasikan Perancis pada Oktober 1793 kalender Kristen digantikan dengan penghitungan dari tanggal Revolusi, dan Kultus Akal Budi yang ateis didirikan, seluruh gereja yang tidak bernaung pada kultus tersebut ditutup.[3] Pada 1794, kultus ateistik tersebut digantikan dengan Kultus Sosok Tertinggi yang deistik.[3] Saat anti-rohaniwan menjadi tujuan yang jelas dari kaum revolusioner Perancis, kontra-revolusioner memulihkan tradisi dan Rezim lama angkat senjata, terutama dalam Perang Vendée (1793 sampai 1796).

Saat Paus Pius VI menyatakan pertentangan terhadap revolusi tersebut dalam Koalisi Pertama (1792–1797), Napoleon Bonaparte menginvasi Italia (1796).[4] Pasukan Perancis menahan Paus pada 1797, dan ia meninggal setelah enam minggu ditahan.[4] Setelah berubah sikap, Napoleon kemudian mendirikan kembali Gereja Katolik di Perancis dengan menandatangani Konkordat 1801,[4] dan mencekal Kultus Sosok Tertinggi. Beberapa kebijakan anti-rohaniwan masih diteruskan. Saat tentara Napoleon memasuki sebuah wilayah, biara-biara seringkali dirusak dan properti gereja disekulerisasikan.[5][6][7][8]

Amerika Latin[sunting | sunting sumber]

Kuba[sunting | sunting sumber]

Kuba, di bawah pemerintahan ateis Fidel Castro, mengurangi ruang karya Gereja dengan mendeportasi uskup agung dan 150 pendeta Spanyol, mendiskriminasi umat Katolik dalam kehidupan masyarakat dan pendidikan dan menolak menerima mereka sebagai anggota Partai Komunis.[9] The subsequent flight of 300,000 people from the island also helped to diminish the Church there.[9]

Komunisme[sunting | sunting sumber]

Kebanyakan pemerintahan Marxis–Leninis secara resmi anti-rohaniwan, meniadakan hari-hari libur keagamaan, mengajarkan ateisme di sekolah-sekolah, menutup biara-biara, lembaga-lembaga pendidikan dan sosial gereja dan beberapa gereja.[10] Di Uni Soviet, anti-rohaniwan diekspresikan melalui negara; dalam lima tahun pertama sendiri setelah Revolusi Bolshevik, 28 uskup dan 1,200 pendeta dieksekusi.[11]

Anti-rohaniwan di dunia Islam[sunting | sunting sumber]

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pada masa kejatuhan Suharto pada 1998, dukun-dukun diburu di Banyuwangi atas tuduhan para dukung terlibat dalam merebaknya kerusuhan dan kekerasan. Selain para dukun, para rohaniwan Islam juga ditargetkan dan dibunuh, para anggota Nahdlatul Ulama dibunuh oleh para perusuh.[12][13]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ José Mariano Sánchez, Anticlericalism: a brief history (University of Notre Dame Press, 1972)
  2. ^ Collins, Michael (1999). The Story of Christianity. Mathew A Price. Dorling Kindersley. ISBN 978-0-7513-0467-1. [halaman dibutuhkan]
  3. ^ a b Helmstadter, Richard J. (1997). Freedom and religion in the nineteenth century. Stanford Univ. Press. hlm. 251. 
  4. ^ a b c Duffy, Eamon (1997). Saints and Sinners, a History of the Popes. Yale University Press in association with S4C. Library of Congress Catalog card number 97-60897. 
  5. ^ Napoleon's Legacy: Problems of Government in Restoration Europe - Google Books. Books.google.com. Diakses tanggal July 2013.  Periksa nilai tanggal di: |accessdate= (bantuan)
  6. ^ The Churchman - Google Books. Books.google.com. 1985-12-29. Diakses tanggal July 2013.  Periksa nilai tanggal di: |accessdate= (bantuan)
  7. ^ Prosperity and Plunder: European Catholic Monasteries in the Age of ... - Derek Edward Dawson Beales - Google Books. Books.google.com. 2003-07-24. Diakses tanggal July 2013.  Periksa nilai tanggal di: |accessdate= (bantuan)
  8. ^ "Notes On Monastero San Paolo: Reentering The Vestibule of Paradise - Gordon College". Gordon.edu. Diakses tanggal July 2013.  Periksa nilai tanggal di: |accessdate= (bantuan)
  9. ^ a b Chadwick, A History of Christianity (1995), p. 266
  10. ^ 2008 Annual Report of the United States Commission on International Religious Freedom
  11. ^ Ostling, Richard (June 24, 2001). "Cross meets Kremlin". TIME Magazine. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 August 2007. Diakses tanggal 2007-07-03. 
  12. ^ http://www.insideindonesia.org/weekly-articles/the-banyuwangi-murders
  13. ^ http://content.time.com/time/world/article/0,8599,2053925,00.html

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Beevor, Antony (2006), The Battle For Spain; The Spanish Civil War 1936-1939, London: Weidenfeld and Nicholson .
  • Berenger, Jean (1990), A History of the Habsburg Empire, 1700-1918, Edinburgh: Addison Wesley 
  • de la Cueva, Julio (1998), "Religious Persecution, Anticlerical Tradition and Revolution: On Atrocities against the Clergy during the Spanish Civil War", Journal of Contemporary History, XXXIII (3), JSTOR 261121 
  • Economist staff (February 17, 2000), "The people against the mullahs", The Economist 
  • Franklin, James (2006), "Freemasonry in Europe", Catholic Values and Australian Realities, Connor Court Publishing Pty Ltd, hlm. 7–10, ISBN 9780975801543 
  • Gross, Michael B. The war against Catholicism: Liberalism and the anti-Catholic imagination in nineteenth-century Germany (University of Michigan Press, 2004)
  • Wikisource-logo.svg Gruber, Hermann (1909). "Masonry (Freemasonry)". Dalam Herbermann, Charles. Catholic Encyclopedia. 6. New York: Robert Appleton Company. 
  • Jedin, Hubert; Dolan, John; Adriányi, Gabriel (1981), History of the Church: The Church in the Twentieth Century, X, Continuum International Publishing Group 
  • Jedin, Hubert; Repgen, Konrad; Dolan, John, ed. (1999) [1981], History of the Church: The Church in the Twentieth Century, X, New York & London: Burn & Oates 
  • Okey, Robin (2002), The Habsburg Monarchy c. 1765-1918, New York: Palgrave MacMillan 
  • Sánchez, José Mariano. Anticlericalism: a brief history (University of Notre Dame Press, 1972)
  • Thomas, Hugh (1961), The Spanish Civil War, ???: Touchstone, ISBN 0-671-75876-4 .
  • Williford, Thomas J. (2005), Armando los espiritus: Political Rhetoric in Colombia on the Eve of La Violencia, 1930–1945, Vanderbilt University 

Templat:Agama dan politik