Anisakis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Anisakis
Anisakis.jpg
Anisakis simplex
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Nematoda
Kelas: Secernentea
Ordo: Ascaridida
Famili: Anisakidae
Genus: Anisakis
Dujardin, 1845
Spesies

Anisakis adalah genus nematoda parasit yang menyerang ikan dan mamalia laut.[1] Cacing ini juga dapat menyerang manusia yang memakan ikan mentah dan menyebabkan penyakit anisakiasis. Dalam beberapa kasus, tubuh dapat menghasilkan imunoglobulin E untuk melawan parasit ini dan memicu reaksi alergi seperti anafilaksis.

Siklus hidup[sunting | sunting sumber]

Cacing Anisakis menyerang beberapa inang sepanjang masa hidupnya. Telur cacing ini menetas di air laut dan larvanya dimakan oleh krustasea. Krustasea yang terinfeksi lalu dimakan oleh ikan atau cumi-cumi, dan cacing ini lalu masuk ke dalam dinding usus inangnya. Kadang-kadang cacing ini juga masuk ke dalam otot atau di bawah kulit. Setelah ikan yang terinfeksi dimakan oleh mamalia laut (seperti paus, anjing laut atau lumba-lumba), cacing ini akan menyelesaikan siklus hidupnya di dalam tubuh inang tersebut. Cacing ini masuk ke dalam usus inang tersebut, bereproduksi, dan mengeluarkan telurnya ke air laut lewat tinja inangnya. Usus mamalia laut mirip dengan manusia, sehingga spesies Anisakis juga dapat menyerang manusia yang memakan ikan mentah.

Dampak kesehatan[sunting | sunting sumber]

Anisakis dapat memicu penyakit anisakiasis pada manusia. Penyakit ini sering terjadi di negara-negara yang sering memakan ikan mentah, seperti di Skandinavia, Jepang (setelah memakan sushi atau sashimi), Belanda (setelah memakan ikan hering mentah), Spanyol (dari memakan ikan teri atau ikan lainnya yang dimarinasi ala escabeche) serta wilayah pesisir Samudra Pasifik di Amerika Selatan (setelah memakan ceviche). Di Jepang, lebih dari 1.000 kasus dilaporkan setiap tahunnya.[2]

Dalam waktu beberapa jam setelah memakan ikan yang terinfeksi, cacing ini mencoba mengubur diri ke dalam dinding usus, tetapi cacing ini tidak dapat menembusnya dan lalu mati. Keberadaan cacing ini memicu tanggapan dari sistem kekebalan tubuh. Sel-sel imun mengepung cacing tersebut dan membentuk struktur yang seperti bola yang dapat memblokir sistem pencernaan, sehingga memicu sakit perut yang parah, malnutrisi dan muntah-muntah. Kadang-kadang larva cacing ini juga dimuntahkan. Jika larva ini masuk ke dalam usus besar, penyakit dengan gejala yang mirip dengan penyakit Crohn juga dapat terjadi dalam waktu satu atau dua minggu.

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Penyakit yang dipicu oleh cacing ini dapat dicegah dengan memasak pada suhu yang melebihi 60 °C atau dengan membekukannya. Food and Drug Administration (FDA) menyarankan agar semua ikan dan kerang yang dimakan mentah dibekukan pada suhu −35 °C atau lebih rendah selama 15 jam atau dibekukan pada suhu −20 °C atau lebih rendah selama tujuh hari.[2] Marinasi dan penggaraman tidak cukup untuk membunuh parasit ini. Di Uni Eropa, terdapat regulasi yang mewajibkan semua ikan yang akan dimakan mentah untuk dibekukan sebelum dijual. Regulasi ini berhasil memberantas penyakit anisakiasis di Belanda.

Sebagai catatan, parasit Anisakis lebih sering ditemukan pada ikan di laut daripada ikan hasil budidaya.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Berger SA, Marr JS (2006). Human Parasitic Diseases Sourcebook. Jones and Bartlett Publishers: Sudbury, Massachusetts
  2. ^ a b Bad Bug Book: Foodborne Pathogens Microorganisms and Natural Toxins Handbook, 2nd edition Food and Drug Administration.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]