Andaleh, Batipuh, Tanah Datar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Andaleh
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Barat
KabupatenTanah Datar
KecamatanBatipuh
Kode Kemendagri13.04.02.2001 Edit the value on Wikidata
Luas21,00 km²
Jumlah penduduk1.829 jiwa

Andaleh merupakan salah satu nagari yang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Nagari ini terletak di dekat Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar. Nama Andaleh berasal dari nama sebatang pohon tua yang telah hidup lebih dari seratus tahun di daerah itu. Hasil utama penduduk di Nagari Andaleh beras, sayur-sayuran seperti cabe, bawang merah, bawang putih dan juga tanaman keras seperti kopi dan Kayu Manis. Terletak di ketinggian lebih dari 750 meter di atas permukaan laut Nagari Andaleh juga adalah penghasil aneka bunga yang indah dan banyak dicari oleh penduduk dari daerah lain.

Pada tahun 2006 Nagari Andaleh mendapat predikat sebagai nagari terbaik se Provinsi Sumatra Barat. Keberhasilan ini antara lain ditunjang oleh keberhasilan pemerintahan nagari dalam mengembangkan perekonomian penduduk melalui pengembangan Nagari sebagai pusat bunga di daerah Sumatra Barat. Keistimewan lain dari nagari ini adalah tersedianya air bersih yang menjangkau hampir semua rumah penduduk, jalan-jalan yang terawat rapi dan bersih serta adanya tanaman bunga Raflesia Arnoldi yang tumbuh dan berkembang secara berkala di satu tempat yang disebut Cubadia. Mereka yang mengunjungi tempat tumbuh Raflesia Arnoldi juga dapat menikmati keindahan air terjun Dindianghari yang tinggi menjulang di tengah belantara hutan tropis yang masih basah dan gelap. Nagari ini juga punya sumber air panas di daerah aie angek yang berbatasan dengan Nagari Batipuh Atas.

Karena berada di daerah yang tinggi, Nagari Andaleh menjadi daerah yang sejuk dan cenderung dingin. Hujan bahkan bisa turun hampir setiap hari. Dari salah satu sudut di nagari Andaleh yang dinamai Parak Rio dapat dilihat hamparan sawah-sawah penduduk yang terbentang luas dan Danau Singkarak yang airnya berwarna biru di kejauhan. Sejak tahun 2014 hamparan sawah-sawah itu sudah bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Pemerintah nagari membangun jalan lingkar sepanjang hampir 2 km di tengah areal persawahan. Tersedianya jalan lingkar ini sangat membantu para petani datang dan pulang dari sawah mereka serta mempercepat dibawanya hasil panen ke pasar Padang Panjang yang berjarak 6 km dari nagari Andaleh.


Randai merupakan salah satu seni tradisional yang terus bertahan di nagari ini. Ada beberapa grup Randai yang rutin tampil mengisi berbagai acara baik di nagari maupun diundang ke daerah lain. Di Nagari Andaleh juga terdapat tiga masjid yang berdiri megah. Masjid Asasi merupakan masjid warga Muhammadiyah, sedangkan dua majid lain adalah Masjid Almubarak yang merupakan masjid Syatariah Naqsabandiah. Meskipun berbeda masjid, masyarakat di nagari ini kompak dan rukun. Peran alim ulama dan petinggi suku (ninik mamak) sangat berpengaruh terhadap kebersamaan warga dalam berbagai hal. Ada beberapa suku di Andaleh, yaitu suku Sikumbang, Koto, Pisang, Jambak, dan Malayu.

Beberapa tokoh yang mempunyai reputasi baik nasional maupun lokal berasal dari nagari ini. Mereka antara lain Lucya Andam Dewi (pengusaha nasional),Yos Paguno Amir (Pengusaha Nasional dan Pengurus Perbasi), Denny Jaya Abri Yani(Pengusaha dan Anggota DPR RI 2014-2019), Drs. Muswar (Birokrat), Junaidi Gafar, Faisal Maad (akademisi), dan Pima Tista Putriana (ahli keuangan).