Abiem Ngesti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Abiem Ngesti
Latar belakang
Nama lahir Abiemanyu Wiwien Ngesti
Lahir 30 Oktober 1978
Bendera Indonesia Kudus, Jawa Tengah Indonesia
Meninggal 19 Agustus 1995 (umur 16)
Bendera Indonesia Cikampek, Jawa Barat Indonesia
Jenis musik Dangdut
Pekerjaan Penyanyi
Tahun aktif 1992 - 1995
Orang tua Wiwien Ngesti (Ayah)

Abiem Ngesti (lahir di Kudus, 30 Oktober 1978 – meninggal di Cikampek, Jawa Barat, 28 Agustus 1995 pada umur 16 tahun) adalah penyanyi dangdut Indonesia. Ia terkenal lewat lagu ‘Pangeran Dangdut’ (dirilis 1992) dan merupakan satu-satunya penyanyi anak-anak yang ‘terus terang’ meniti kariernya lewat jalur dangdut, dan sempat ngetop sebagai penyanyi dangdut remaja dengan album album selanjutnya, antara lain ‘Kugenggam dunia’ dan ‘Dahsyat’ (1995).

Karier dan Prestasi[sunting | sunting sumber]

Musik dangdut yang sebelumnya tidak direkomendasikan pemerintah, karena dianggap meniru budaya India dan Timur Tengah. Namun berkat kepiawaian Rhoma Irama yang berhasil merevolusi orkes melayu sehingga warna musik yang kemudian dikenal Dangdut menjadi musik alternatif di tengah-tengah dominasi musik Rock ke segenap penjuru dunia kala itu.

Album pertama “Pangeran Dangdut” berhasil membeludak dan sangat fenomenal. Sehingga ayahanda Abiem Ngesti yang bernama Wiwien Ngesti bisa membeli mobil baru dari Royalti album pertama ini. Setelah sukess dengan album pertamanya kemudian launching Album kedua “Ini Dangdut” yang dengan lagu ini pernah duet dengan Iis Dahlia dan Dewi Purwati.

Perlu diketahui bahwa pada saat itu, disamping musik Dangdut, masyarakat Indonesia pun sedang mengalami demam (trend) musik Melayu aliran Slow Rock. Maka peluang ini pun dilirik juga oleh produser yang mengorbitkan penyanyi jebolan SMP Negeri 2 Jepara ini. Setelah sukses dengan album pertama dan kedua, maka munculah album ketiga dengan aliran berbeda dari sebelumnya, yaitu album “Kugenggam Dunia”. Dalam pembuatan video klip lagu ini featuring dengan Poppy Mercury, dimana penyanyi ini cukup tenar dengan lagu-lagunya seperti Surat Undangan dan Antara Jakarta dan Penang yang saat itu sama-sama ngetop dengan jenis musiknya masing-masing. Sebaliknya Abiem Ngesti tampil atraktif bermain gitar dalam video klip Poppy Mercury di lagu "Terlambat Sudah".

Ketika beberapa wilayah Indonesia terkena musibah Gempa, maka lahirlah album ke empat berjudul “Gempa”. Di album ini ada lagu Rocker Dangdut, lanjutan dari Pangeran Dangdut dan Ini Dangdut. Selanjutnya disusul dengan mengeluarkan album kelima “Ini Jaman Uang”. Di lagu Ini Jaman Uang, Abiem Ngesti berduet dengan Erie Suzan. Selanjutnya mengeluarkan kembali album keenam “Astaghfirullah” yang di dalamnya ada lagu Bandar Dangdut dan Sekarang Dangdut.

Setelah sukses dengan album Slow Rock, “Kugenggam Dunia” keluarlah Album Leila besutan Wiwien Ngesti. Kemudian disusul Lagu Sonia. Selanjutnya Abiem Ngesti mencoba berkreasi karya sendiri dalam lagu “Gadis Baliku” yang memadukan musik dangdut, Rap, dan etnik dengan introducing “Ole ole ole” dimana pada saat itu sedang gegap gempita Piala Dunia 1994. Lagu Gadis Baliku boleh dikatakan sebagai pencapaian estetis tertinggi di sepanjang karier musiknya, sebelum kepergian untuk selamanya. Karena lewat karyanya sendiri ini, lagunya sangat visioner dan juga dalam video pembuatan video klipnya di Tanah Lot Bali sangat memukau tentang kesadaran sosial dan budaya Indonesia.

Album kesebelas “Dahsyat” rupanya sebagai album terakhir Abiem Ngesti. Berdasarkan penuturan Azhar Gunawan yang menangani pembuatan video klip lagu Dahsyat di Pantai Palabuan Ratu bahwa “Abiem betul-betul habis-habisan, meski syuting tepat di tepi jurang, Abiem tak menunjukkan rasa takut.” Dikatakan saat itu Abiem disebutkan seolah memberi isyarat ingin pamit pada penggemarnya dengan menampilkan video klip yang “sempurna”. [1]

Prestasi perjalanan karier Abiem Ngesti, untuk album Pangeran Dangdut meraih penghargaan HDX Awards dan masuk nominasi BASF Awards. Video klip Dahsyat meraih Anugerah Dangdut TPI, dan tahun 2015 lagu Ini Dangdut dijadikan soundtrack Hollywood film Blackhat karya sutradara Michael Mann yang mengambil lokasi syuting di Amerika, China, Hongkong, Malaysia, dan Indonesia. Michael Mann adalah sutradara kenamaan Hollywood yang populer dengan film besutannya Java Heat dan Collateral.

Kematian[sunting | sunting sumber]

Abiem Ngesti meninggal karena sebuah kecelakaan parah yang terjadi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Waktu itu tanggal 19 Agustus 1995, mobil yang mengangkut dirinya beserta keluarga besarnya berangkat dari Kudus, kampung halamannya, menabrak truk gandeng yang sedang berhenti di bahu jalan. Selain Abiem, Ibu Abiem, adiknya yang masih 6 tahun, sepupunya, dan juga pamannya, Kaswito yang sekaligus sopir mobil nahas tersebut juga ikut menjadi korban.[2]

Tidak hanya semasa hidupnya, setelah kematiannya ia tetap bersinar dengan lagu-lagunya yang terus dibawakan oleh penyanyi-penyanyi lain seperti lagu Pangeran Dangdut, Ini Dangdut, Rocker Dangdut, Bandar Dangdut, Sekarang Dangdut, Sonia, Dahsyat, dan lagu lainnya. Para pengagumnya hari ini yang terkumpul di fanpage dan grup ANFC (Abiem Ngesti Fans Club) dari hari ke hari, dari menit ke menit terus menjalin komunikasi untuk berbagi informasi tentang idolanya yang tak tergantikan meski pendatang lama dan baru silih berganti.

Di komunitas ANFC ternyata muncul informasi bahwa Pangeran Dangdut sebenarnya bukanlah album perdananya. Karena sebelumnya Abiem Ngesti pernah merilis album Amir Asongan di bawah label Puspita Records. Namun sayang kaset album ini sedikit orang yang punya. Sehingga di zaman digital ini, untuk lagu-lagu di album Amir Asongan belum banyak orang mengetahuinya kecuali orang-orang sejamannya yang dulu sering mendengarkannya di radio.

Album[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]