Samudramantana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan India menggambarkan Sagaramantana

Samuderamantana atau Sagaramantana diterjemahkan dari bahasa Sansekerta sebagai Pengadukan Samudra Susu merupakan salah satu bagian dari sekumpulan cerita mitologi agama Hindu yang merupakan periode populer dalam Purana dan tergabung di dalam naskah Adiparwa, parwa pertama dari Mahabharata. Berdasarkan sumbernya, kitab Mahabharata, maka dapat diketahui bahwa cerita ini berlatar belakang agama Hindu dan merupakan bagian dari pengaruh kebudayaan yang diadopsi dari India. Kisah ini mengibaratkan upaya para dewa dan asura dalam memperoleh air keabadian amerta dari pengadukan samudra susu, dengan proses yang mirip dengan cara tradisional pembuatan mentega dengan mengaduk-aduk cairan krim susu.

Selain di India, kisah ini terkenal di lingkungan kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi budaya Hindu, seperti Kerajaan Khmer di Kamboja dan Kerajaan-kerajaan Jawa Kuno di Indonesia, serta Thailand. Relief rendah yang besar dan indah terdapat di dinding candi Angkor Wat, terdapat pula mastaka atau kemucak candi berupa replika adegan Samudra Manthana di Trowulan, Majapahit. Di masa kini adegan Samudramanthana menjadi hiasan yang terkenal di Bandara Suwarnabhumi, Bangkok, Thailand.

Kisah Pengadukan Samudra Susu[sunting | sunting sumber]

Pengadukan Samudra Susu ditampilkan dalam relief rendah di Angkor Wat Kamboja dan bandara Suwarnabhumi di Bangkok, Thailand, menampilkan Wishnu di tengah, awataranya berwujud kura-kura raksasa Kurma di bawahnya, sementara asura di kiri dan dewa di kanan menarik tubuh naga Wasuki.

Kisah ini berawal dari upaya para dewa dan asura untuk memperoleh air suci amerta yang dapat memberikan keabadian bagi siapa saja yang meminumnya. Wishnu membujuk para dewa dan asura, bahwa daripada mereka bertempur sebaiknya mereka bekerjasama untuk mendapatkan amerta. Maka Wishnu memimpin baik kaum dewa dan asura untuk melilitkan naga raksasa Wasuki pada Gunung Meru. Lalu gunung Meru dipindahkan ke samudra, akan tetapi gunung Meru tenggelam, untuk menyelamatkannya Wishnu berubah wujud menjadi Kurma awatara yaitu kura-kura raksasa, dan menopang Gunung Meru. Wishnu membujuk ara asura untuk memegang ujung tubuh yang terdapat kepala Wasuki, sementara para dewa memegang ekor ular naga Wasuki. Maka akibatnya para asura terkena racun bisa yang keluar dari mulut Wasuki. Meskipun demikian baik para dewa maupun para asura tetap bekerjasama menarik tubuh Wasuki dengan gerakan seperti menarik tambang untuk memutar gunung Meru, sehingga samudra susu teraduk.

Dari dalam adukan ini muncullah racun berbahaya yang disebut Halahala. Racun ini demikian berbahaya sehingga dapat memusnahkan alam semesta. Wisnu membujuk Siwa untuk membantu, maka Siwa menelan racun ini dan menyelamatkan jagat raya. Pasangan Siwa, Parwati membantu menekan leher Siwa agar racun tidak lolos keluar. Karena hal ini leher Siwa berubah menjadi biru, sehingga muncul julukan Siwa sebagai Nilakanta (sansekerta: nila= biru, kantha= leher).

Ratna[sunting | sunting sumber]

Dari adukan ini muncullah beberapa harta benda berharga (dianggap ratna atau "permata") yaitu:

  • Lakshmi, dewi keberuntungan dan kekayaan - yang akhirnya menerima Wishnu sebagai suaminya.
  • Apsara, berbagai bidadari seperti Rambha, Menaka, Punjisthala, Urwasi, Tilotama, dan lain-lain - memilih para dewata sebagai pasangannya
  • Waruni atau Sura, dewi pencipta minuman memabukan - dengan enggan menerima para asura sebagai pasangannya.

Muncul pula binatang ajaib seperti;

  • Kamadhenu atau Surabhi (sansekerta:kāmadhuk), sapi ajaib pengabul harapan - diambil oleh Wishnu dan diberikan kepada para resi agar mentega dari susunya dapat dijadikan persembahan.
  • Airawata, dan beberapa gajah lainnya, diambil oleh Indra pemimpin para dewa sebagai kendaraannya.
  • Uchhaishrawas, kuda berkepala tujuh - diberikan kepada asura.

terdapat pula tiga benda berharga;

  • Kaustubha, permata paling berharga di dunia, dikenakan oleh Wishnu di mahkotanya.
  • Parijat, pohon berbunga abadi - dibawa ke Indraloka oleh para dewa.
  • Busur yang sangat kuat - melambangkan semangat tempur para asura

Produk sampingan yang dihasilkan antara lain;

  • Chandra, bulan yang kemudian menghiasi kepala Siwa
  • Dhanwantari, tabib para dewa yang membawa air keabadian Amerta.
  • Halahala, racun berbahaya yang dihirup Siwa

Daftar benda berharga juga berbeda-beda menurut beberapa versi Purana, Ramayana dan Mahabharata. Daftar dilengkapi dengan tambahan ratna:

  • Shankha terompet kerang Wishnu
  • Jyestha - dewi kemalangan
  • Payung yang diambil dewa Waruna
  • Anting yang diberikan kepada Aditi, oleh putranya Indra
  • Pohon ajaib Kalpawreksa atau Kalpataru
  • Nidra binatang seperti kuskus

Samudramanthana di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Replika Samuderamantana di Museum Trowulan

Kisah ini telah begitu dikenal oleh masyarakat pendukung budaya Hindu pada waktu itu dengan diketahui telah disalinnya kisah ini ke dalam bahasa Jawa Kuno (dijawakan) semenjak zaman Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram Hindu yang memerintah pada sekitar tahun 991 M-1016 M. [1] Masyarakat Jawa Kuno telah menganggap cerita ini sebagai cerita Jawa Kuno asli, dan segala sesuatunya tentang cerita ini dianggap terjadi di tanah Jawa. Keadaan ini sebenarnya disebabkan oleh kebijaksanaan dan kecerdasan dari para sastrawan yang telah mampu memindahkan alam pikiran para pembaca dan pendengarnya dari suasana India menjadi suasana Jawa asli. Inti dari cerita ini adalah pengadukan Samudera yang dilakukan oleh para dewa dan raksasa untuk mendapatkan air amerta (air suci). [2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Marwati Djoened, Poesponegoro, ed. Sejarah Nasional Indonesia, Jil. II, ed.4; Cet 5, Jakarta: Balai Pustaka. 1984. hlm. 255.
  2. ^ Siti Maziyah. “Sumbangan Cerita Samuderamathana Terhadap Pemahaman Arti Air Penghidupan Pada Masyarakat Jawa Kuna”, dalam Jurnal Citra Lekha, Volume IV, Nomor 1, Februari 2001, hal. 16, Semarang.