Kreatina

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kreatina
Gambar
Gambar
Identifikasi
Nomor CAS [57-00-1]
Nomor EINECS 200-306-6
SMILES [NH2+]=C(N)N(C)CC([O-])=O
Sifat
Rumus molekul C4H9N3O2
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25°C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Kreatina adalah asam organik bernitrogen yang terdapat secara alami di dalam hewan vertebrata. Kreatina dapat membantu menyediakan cadangan energi bagi jaringan otot dan saraf. Kreatina ditemukan pertama kali oleh Derek Edward Bye pada tahun 1832 sebagai komponen dari otot rangka. Nama kreatina sendiri berasal dari bahasa Yunani, dari kata Kreas yang berarti daging.

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Kreatina, sesudah dikonversi menjadi fosfokreatina, menjalankan fungsinya bersama enzim kreatina kinase di semua vertebrata dan beberapa invertebrata. Mekanisme ini mirip dengan sistem arginina/fosfoarginina bersama arginina kinase yang ada di banyak invertebrata. Sistem ini bertindak sebagai larutan penyangga (buffer) yang menjaga perbandingan ATP/ADP tetap tinggi di dalam ruang seluler di mana ATP dibutuhkan sehingga menjamin ketersediaan ATP tetap tinggi dan meminimumkan hilangnya nukleotida adenosin sehingga mencegah disfungsi seluler. Larutan penyangga fosfat berenergi tinggi itu dikenal dengan nama fosfoarginina atau fosfagen. Sebagai tambahan, kehadiran isoform kreatina kinase di situs-situs spesifik sel menunjukkan bahwa sistem fosfokreatina/kreatina kinase juga berfungsi sebagai sistem transpor energi dari tempat di mana ATP dihasilkan (mitokondria dan proses glikolisis) menuju tempat di mana energi dibutuhkan (misalnya miofibril untuk kontraksi otot atau retikulum sarkoplasma untuk memompa kalsium)[1][2][3][4][5]

Biosintesis[sunting | sunting sumber]

Pada manusia, sekitar setengah kebutuhan kreatina disintesis dari 3 macam asam amino (arginina, glisina, and metionina). Sisanya diambil dari makanan. Sekitar 95% kreatina disimpan di dalam otot rangka. Kreatina juga berperan dalam memperbesar dan memperkuat otot-otot tersebut.

The pathway for the synthesis of creatine
Arg - Arginine; GAMT - Guanidinoacetate N-methyltransferase; GAMT - Glycine amidinotransferase; Gly - Glycine; Met - Methionine; SAH - S-adenosyl homocysteine; SAM - S-adenosyl methionine.
The color scheme is as follows:enzymes, coenzymes and the Met part, substrate names, the Gly part, the Arg part

Enzim GAMT (guanidinoacetat N-metiltransferase, atau dikenal juga sebagai L-arginin:glicin amidinotransferase (AGAT), EC 2.1.4.1) adalah enzim mitochondrial enzyme yang bertanggung jawab untuk mengatalisis tahap pembatas pertama dalam biosintesis kreatina. Ia diekspresikan secara primer pada ginjal dan pankreas[1].

Enzim kedua yang terlibat dalam jalur ini (GAMT, guanidinoacetate N-methyltransferase, EC:2.1.1.2) diekspresikan secara primer di dalam hati dan pankreas[2].

Cacat genetik dalam biosintesis kreatina menghasilkan sejumlah gangguan saraf[3].

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Dokumentasi mengenai efektivitas kreatina dalam pengobatan penyakit-penyakit muskular, neuromuskular, dan neuro-degeneratif sudah banyak dilakukan[6] tapi kegunannya sebagai peningkat performa di dalam olah raga (sebagai suplemen olah raga) sering dipertanyakan[7]. Beberapa organisasi bahkan menyarankan agar penggunannya sebaiknya dilarang [8] [9] [10] Despite this, creatine remains very popular.[11].

Efek Samping[sunting | sunting sumber]

Penggunaan jangka pendek kreatina umumnya dinyatakan aman (dinyatakan sebagai generally recognized as safe (GRASS) oleh FDA). Penggunaan terus menerus terutama dalam dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping. Sejumlah hipotesis menyatakan bahwa asupan kreatina berlebihan dapat menyebabkan hipertensi yang diakibatkan karena kemampuan senyawa ini untuk meningkatkan retensi air di dalam tubuh[12].

Walaupun demikian, belum ditemukan adanya dehidrasi air akibat peningkatan pengambilan air otot yang disebabkan oleh suplementasi kreatina dalam jumlah dan dosis yang tepat[13].

Otoritas Keamanan Pangan Eropa (European Food Safety Authorities/EFSA) menyatakan bahwa konsumsi kreatina yang berasal dari kreatina monohidrat (tingkat kemurnian 99.5%) sebaiknya tidak melebihi 20 gram / hari. Konsumsi suplemen ini sebesar 3 g/hari tidak menunjukkan adanya risiko atau ancaman [14].

Opini ini muncul karena fakta bahwa kreatina merupakan komponen alami dari air susu ibu (ASI). Kreatina juga merupakan komponen yang penting bagi perkembangan otak pada embrio manusia dan bayi. Ia juga dibutuhkan untuk mengoptimalkan fungsi fisiologi pada orang dewasa, terutama pada otak, jaringan saraf, sistem saraf, otot dan organ-organ lain yang membutuhkan banyak energi.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Pada manusia, kreatina yang diperoleh dari makanan umumnya berasal dari produk-produk hewani seperti daging sapi dan ikan. Tumbuhan tidak magandung kreatina sehingga kaum vegetarian cenderung memiliki konsentrasi kreatina yang rendah di dalam ototnya. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan suplemen kreatina[15].

Sumber-sumber kreatina dapat dilihat pada tabel di bawah ini [16]. Patut diingat bahwa proses pemaksakan daging mentah sangat memengaruhi konsentrasi kreatina karena senyawa ini dapat mudah bereaksi membentuk kreatinina dan kehilangan fungsinya [17]. Proses pemasakan dapat mengurangi 68-78% kandungan kreatina semula yang ada di dalam daging [18].

Produk Kuantitas Kreatina
Daging Sapi Mentah 250 g 1 g
Daging Ayam Mentah 250 g 1 g
Daging kelinci Mentah 250 g 1 g
Dendeng sapi 100 g 0.04 g
L-Men Platinum 100 g (3 kali saji) 0.3 g
Daging Sapi Masak 250 g 0.3 g
Daging Ayam Masak 250 g 0.3 g
Daging kelinci Masak 250 g 0.3 g

Kreatina dan pengobatan penyakit otot[sunting | sunting sumber]

Investigasi terhdapat suplementasi kreatina dalam mengobati penyakit-penyakit otot dan saraf saat ini terus-menerus dilakukan. Investigasi dampak senyawa ini terhadap penyakit lain seperti artritis, gagal jantung, penyakit Parkinson, atrofi, penyakit McArdle, penyakit Huntington, dan berbagai penyakit terpaut otot dan saraf lain juga terus menerus dikembangkan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa kreatina dua kali lebih efektif dari obat riluzol dalam memperpanjang usia tikus yang terkena penyakit neuro-degeneratif sklerosis lateral amiotrofik [19]. Efek neuropatif yang muncul mungkin diakibatkan oleh peningkatan ketersediaan energi di dalam sel saraf yang rusak.

Studi lain menunjukkan bahwa kreatina dapat meningkatkan kekuatan otot pada orang-orang yang terkena penyakit neuromuskular[20].

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Schlattner U, Tokarska-Schlattner M, Wallimann T. (2006) Mitochondrial creatine kinase in human health and disease. Biochim Biophys Acta. 2006 Feb;1762(2):164-80. Review
  2. ^ Wallimann T, Wyss M, Brdiczka D, Nicolay K, Eppenberger HM. (1992) Intracellular compartmentation, structure and function of creatine kinase isoenzymes in tissues with high and fluctuating energy demands: the 'phosphocreatine circuit' for cellular energy homeostasis. Biochem J. 1992 Jan 1;281 ( Pt 1):21-40. Review.
  3. ^ Creatine and Creatine Kinase in Health and Disease (2007) Series: Subcellular Biochemistry , Vol. 46 Salomons, Gajja S.; Wyss, Markus (Eds.) 2007, XVIII, 352 p., Hardcover ISBN 978-1-4020-6485-2
  4. ^ Wallimann T, Tokarska-Schlattner M, Neumann D, Epand RM, Epand RF, Andres RH, Widmer HR, Hornemann T, Saks VA, Agarkova I, Schlattner U. (2007) The phospho-creatine circuit: molecular and cellular physiology of creatine kinases, sensitivity to free radicals and enhancement by creatine supplementation. In: Molecular Systems Bioenergetics: Energy for Life, Basic Principles, Organization and Dynamics of Cellular Energetics (Saks, V.A., Editor), Wiley-VCH, Weinheim, Germany, pp. 195-264 (2007)
  5. ^ Anders RH, Ducray AD, Schlattner U, Wallimann T, Widmer HR. Functions and effects of creatine in the central nervous system Brain Research Bulletin (2008) (in press)
  6. ^ Creatine and Creatine Kinase in Health and Disease (2007) Series: Subcellular Biochemistry , Vol. 46 Salomons, Gajja S.; Wyss, Markus (Eds.) 2007, XVIII, 352 p., Hardcover ISBN 978-1-4020-6485-2
  7. ^ Edward G. McFarland, M.D. (2002-10-04). "Sports Enhancers - The Good, the Questionable and the Dangerous". Johns Hopkins Hospital. Diakses 2008-01-08. 
  8. ^ "AFSSA calls for creatine ban". 
  9. ^ "The NCAA's Advertising and Promotional Standards". 2006-11-01. Diarsipkan dari aslinya tanggal 2012-09-07.  "...impermissible Nutritional Supplements that NCAA member institutions may not provide to student-athletes (e.g., creatine..."
  10. ^ "Parliament of Ireland".  See section titled "Ban on creatine".
  11. ^ "Creatine sales totaled $193 million in 2003 — or roughly 10% of the $1.9-billion sports supplement market, according to the San Diego-based Nutrition Business Journal
  12. ^ Is creatine bad for you?, TeenGrowth.com
  13. ^ Bizzarini E, De Angelis L. (December 2004). "Is the use of oral creatine supplementation safe?". J Sports Med Phys Fitness. PMID 15758854. 
  14. ^ EFSA statement, 26 April 2006.
  15. ^ Burke DG, Chilibeck PD, Parise G, Candow DG, Mahoney D, Tarnopolsky M (2003). "Effect of creatine and weight training on muscle creatine and performance in vegetarians". Medicine and science in sports and exercise 35 (11): 1946–55. doi:10.1249/01.MSS.0000093614.17517.79. PMID 14600563. 
  16. ^ Harris RC, Lowe JA, Warnes K, Orme CE. The concentration of creatine in meat, offal and commercial dog food.Res Vet Sci. 1997 Jan-Feb;62(1):58-62.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9160426
  17. ^ R. W. Purchas, , a, S. M. Rutherfurda, P. D. Pearcea, R. Vathera and B. H. P. Wilkinson. Concentrations in beef and lamb of taurine, carnosine, coenzyme Q10, and creatine. Meat Science Volume 66, Issue 3, March 2004, Pages 629-637
  18. ^ Rune Larsen, a, , Svein Kristian Stormoa, Bjørn Tore Dragnesa and Edel O. Elvevolla. Losses of taurine, creatine, glycine and alanine from cod (Gadus morhua L.) fillet during processing.Journal of Food Composition and Analysis Volume 20, Issue 5, August 2007, Pages 396-402
  19. ^ Klivenyi P, Ferrante RJ, Matthews RT, Bogdanov MB, Klein AM, Andreassen OA, Mueller G, Wermer M, Kaddurah-Daouk R, Beal MF. (mar 1999). "Neuroprotective effects of creatine in a transgenic animal model of amyotrophic lateral sclerosis.". Nature Medicine. 5 (3): 347–350. PMID 10086395. 
  20. ^ Tarnopolsky M, Martin J (1999). "Creatine monohydrate increases strength in patients with neuromuscular disease". Neurology 52 (4): 854–7. PMID 10078740. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]