Kabupaten Wakatobi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Wakatobi
Lambang Kabupaten Wakatobi.png
Lambang Kabupaten Wakatobi


Lokasi Sulawesi Tenggara Kabupaten Wakatobi.svg
Peta lokasi Kabupaten Wakatobi
Koordinat: 5.00°–6.25° LS dan 123.34°–124.64° BT
Provinsi Sulawesi Tenggara
Dasar hukum UU RI Nomor 29 Tahun 2003
Tanggal 18 Desember 2003
Ibu kota Wangi-Wangi
Pemerintahan
 - Bupati Ir. Hugua
 - DAU Rp. 353.873.348.000.-(2013)[1]
Luas 823 km²
Populasi
 - Total 92.995 jiwa (BPS 2010)
 - Kepadatan 115
Demografi
 - Kode area telepon 040x
Pembagian administratif
 - Kecamatan 8
 - Kelurahan 61
 - Situs web http://www.wakatobikab.go.id

Kabupaten Wakatobi adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Wangi-Wangi, dibentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2003, tanggal 18 Desember 2003. Luas wilayahnya adalah 823 km² dan pada tahun 2011 berpenduduk 94.846 jiwa.

Wakatobi juga merupakan nama kawasan taman nasional yang ditetapkan pada tahun 1996, dengan luas keseluruhan 1,39 juta hektare, menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia.

Sejarah daerah[sunting | sunting sumber]

Sebelum menjadi daerah otonom wilayah Kabupaten Wakatobi lebih dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi.

Masa sebelum kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Pada masa sebelum kemerdekaan Wakatobi berada di bawah kekuasaan Kesultanan Buton.

Masa sesudah kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Setelah Indonesia Merdeka dan SulawesiTenggara berdiri sebagai satu provinsi, wilayah Wakatobi hanya berstatus beberapa kecamatan dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Buton.

Masa reformasi[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 18 Desember 2003 wakatobi  resmi ditetapkan sebagai salah satu kabupaten pemekaran di Sulawesi Tenggara yang terbentuk berdasarkan Undang – Undang  Nomor  29 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Kolaka Utara

Saat pertama kali terbentuk Wakatobi hanya terdiri dari lima kecamatan yaitu Kecamatan Wangi-Wangi, Kecamatan Wangi Selatan, Kecamatan Kaledupa, Kecamatan Tomia dan Kecamatan Binongko.

Pada tahun 2005 melalui Peraturan Daerah Kabupaten Wakatobi Nomor 19 Tahun 2005 dibentuk Kecamatan Kaledupa Selatan dan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Wakatobi Nomor 20 Tahun 2005 dibentuk Kecamatan Tomia Timur.

pada tahun 2007 melalui Peraturan Daerah Kabupaten Wakatobi Nomor  41 Tahun 2007 dibentuk Kecamatan Togo Binongko] sehingga jumlah kecamatan di Kabupaten Wakatobi menjadi 8 kecamatan yang terbagi menjadi 100 desa dan kelurahan (25 kelurahan dan 75 desa).

Pemerintahan Diawal Pembentukan[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Kabupaten Wakatobi sebagai daerah otonom secara resmi ditandai dengan pelantikan Syarifudin Safaa, SH, MM sebagai pejabat Bupati Wakatobi pada tanggal 19 Januari 2004 sampai dengan tanggal 19 Januari 2006. Kemudian dilanjutkan oleh H. LM. Mahufi Madra, SH, MH sebagai  pejabat bupati selanjutnya  sejak tanggal 19 Januari 2006 sampai dengan tanggal 28 Juni 2006.

Pemerintahan hasil pemilu kepala daerah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil pemilihan kepala daerah secara langsung maka pada tanggal 28 Juni 2006 Bupati dan Wakil Bupati Wakatobi yang terpilih yaitu Ir. Hugua dan Ediarto Rusmin, BAE dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi, SH atas nama Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.74-314 tanggal 13 Juni 2006 tentang pengesahan pengangkatan Bupati Wakatobi Ir. Hugua dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri  Nomor : 132.74-315 tanggal 13 Juni 2006 tentang pengesahan pengangkatan Wakil Bupati Wakatobi Ediarto Rusmin, BAE untuk masa bhakti 2006-2011.

Saaat ini kepemimpinan daerah di Kabupaten Wakatobi dijabat oleh pasangan bupati dan wakil bupati Ir. Hugua dan H. Arhawi, SE sejak dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tenggara H. Nur Alam, SE pada tanggal 28 Juni 2011 atas nama Menteri Dalam Negeri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 132.74-403, tanggal 30 Mei 2011 tentang pengesahan pengangkatan Bupati Wakatobi Ir. Hugua dan Wakil Bupati Wakatobi H. Arhawi, SE untuk masa bhakti 2011-2016.

Keadaan wilayah[sunting | sunting sumber]

Letak[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Wakatobi berbentuk kepulauan dan terletak di tenggara Pulau Sulawesi. Secara astronomis, Kabupaten Wakatobi berada di selatan garis khatulistiwa, membujur dari 5,00º sampai 6,25º Lintang Selatan (sepanjang ± 160 km) dan melintang dari 123,34º sampai 124.64º Bujur Timur (sepanjang ± 120 km).

Luas[sunting | sunting sumber]

Luas wilayah daratan Kabupaten Wakatobi adalah ± 823 km², sedangkan wilayah perairan lautnya diperkirakan seluas ± 18.377,31 km².

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kabupaten Buton dan Kabupaten Buton Utara
Selatan Laut Flores
Barat Kabupaten Buton
Timur Laut Banda

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Wakatobi sama seperti daerah–daerah lain di Indonesia mengalami dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Wilayah daratan Kabupaten Wakatobi umumnya memiliki ketinggian di bawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar daerah khatulistiwa, sehingga daerah ini beriklim tropika.

Demografi Daerah[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2000 berjumlah 87.793 jiwa yang terdiri dari laki-laki 42.620 jiwa dan perempuan 45.173 jiwa. Tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 2003 diadakan pendaftaran pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan yang disingkat P4B secara sensus dengan hasil jumlah penduduk sebanyak 91.497 jiwa atau selama tiga tahun naik sejumlah 3.704 jiwa atau sekitar 1,41 persen per tahun.

Sebaran penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk berada di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, 23,37% berada di Kecamatan Wangi-Wangi, 19,05% berada di Kecamatan Kaledupa, 17,86% berada di Kecamatan Tomia dan 15,01% berada di Kecamatan Binongko.

Jumlah penduduk bila dibandingkan dengan luas wilayah, maka kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Kaledupa 166 jiwa/km², menyusul Kecamatan Tomia 141 jiwa/km², kemudian Kecamatan Wangi-Wangi Selatan 109 jiwa/km².

Struktur umur, jenis kelamin dan suku[sunting | sunting sumber]

Keadaan struktur penduduk pada tahun 2003, 34,55% atau 31.610 jiwa adalah tergolong usia muda yang berusia 15 tahun ke bawah.

Rasio jenis kelamin di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2003 sebesar 96,12%.

Terdapat 8 suku bangsa yang mendiami daerah Kabupaten Wakatobi dengan data tahun 2000 sebanyak 87.793, suku bangsa yang terbanyak adalah Wakatobi 91,33%, Bajau 7,92%, dan suku lainnya yang berjumlah kurang dari 1%.

Ketenagakerjaan[sunting | sunting sumber]

Penduduk usia kerja sebanyak 70.343 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 23.981 jiwa atau 34,09% dan perempuan sebanyak 36,362 jiwa atau 65,91%. Terdapat angkatan kerja 40.395 jiwa terdiri dari yang bekerja 37.678 jiwa atau 93,27% atau 53,56% terhadap penduduk usia kerja dan pengangguran terbuka sebanyak 6,73%. Bukan angkatan kerja sebanyak 29.408 jiwa atau 41,81% dari usia kerja yang terdiri dari sekolah 15.740 jiwa atau 53,52%, mengurus rumah tangga dan lainnya sebesar 13.668 jiwa atau 46,48%.

Bila dilihat menurut lapangan usaha maka yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan jumlah 43,609 jiwa atau 61,99%, kemudian sektor perdagangan 15.635 jiwa atau 17,02%, disusul sektor jasa, industri dan transportasi.

Potensi Perekonomian Daerah[sunting | sunting sumber]

Pertanian, perkebunan, dan kehutanan[sunting | sunting sumber]

Dari lima jenis tanaman bahan makanan yang diusahakan, tanaman ubi kayu merupakan tanaman yang paling tinggi produksinya, dimana Pada tahun 2003 sebesar 40.199 ton, menyusul jagung sebesar 1.715 ton, kemudian ubi jalar sebesar 58 ton, sedangkan padi ladang dan kacang tanah masing-masing hanya sebesar 8 dan 4 ton.

Pada tahun 2003 produksi buah-buahan yang terbanyak dihasilkan, yaitu mangga sebanyak 9.229 kw diikuti pisang sebanyak 5.788 kw dan jeruk sebanyak 4.134 kw. Produksi sayur-sayuran yang terbanyak adalah kacang panjang sebanyak 229 kw, menyusul terung sebanyak 210 kw, kangkung sebanyak 205 kw, bawang merah sebanyak 160 kw.

Pada tahun 2003 produksi perkebunan rakyat yang terbanyak adalah kelapa dalam yaitu sebanyak 225 ton, menyusul jambu mete 59 ton, kelapa hibrida 8 ton, kakao 6 ton, kopi 3 ton dan kurang produksinya adalah pala yang hanya sebanyak 0,35 ton.

Jenis hutan pada tahun 2003 hanyalah hutan lindung dengan lahan seluas 11.300 ha.

Peternakan dan perikanan[sunting | sunting sumber]

Populasi ternak besar pada tahun 2003 yang ada hanya sapi sebanyak 308 ekor. Bila dibandingkan dengan tahun 2002 jumlah sapi mengalami peningkatan sebesar 60,42%, dimana pada tahun 2002 mencapai 192 ekor dan tahun 2003 meningkat menjadi 308 ekor.

Populasi ternak kecil tahun 2003 yang ada hanya kambing sebanyak 9.789 ekor. Bila dibandingkan dengan tahun 2002 kambing mengalami penurunan sebesar 5,43% dimana tahun 2002 ada sebanyak 10.351 ekor dan tahun 2003 mencapai 9,789 ekor.

Produksi perikanan tahun 2003 berjumlah 17.985,60 ton yang terdiri dari perikanan laut 17.453,60 ton dan hasil budidaya laut berupa rumput laut sebanyak 532 ton.

Industri dan energi[sunting | sunting sumber]

Hingga tahun 2003 belum ada industri besar maupun industri sedang, yang ada baru industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Jumlah industri kecil sebanyak 107 unit dengan tenaga kerja sebanyak 514 orang dan industri kerajinan rumah tangga (home industry) sebanyak 1.290 unit dengan tenaga kerja sebanyak 1.863 orang.

Jumlah pelanggan Listrik Negara pada tahun 2003 sebanyak 9.652 dengan daya terpasang sebesar 6.047.905 VA, sedangkan produksi listrik ada sebesar 6.278.762 kwh dengan tenaga listrik terjual sebesar 5.367.403 kwh dan nilai penjualan sebesar 2.791.737.755 ribu rupiah.[rujukan?]

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Untuk tahun 2003 total volume komoditi yang diperdagangkan adalah sebesar 233.650,13 ton dengan nilai 28.639.873 ribu rupiah, dimana komoditi kehutanan merupakan komoditi tertinggi yang diperdagangkan, yaitu sebesar 231.529,68 ton dengan nilai sebesar 13.761.355 ribu rupiah, menyusul komoditi hasil pertanian tanaman pangan sebesar 1.355,29 ton dengan nilai 3.756.470 ribu rupiah, sedangkan yang terendah adalah komoditi peternakan yang hanya mencapai 3,95 ton dengan nilai 5.928 ribu rupiah, menyusul perkebunan dengan nilai 9,59 ton dengan nilai 1.902.403 ribu rupiah.

Potensi Wisata Daerah[sunting | sunting sumber]

WISATA TAMAN NASIONAL[sunting | sunting sumber]

Taman Nasional Wakatobi merupakan salah satu dari 50 taman nasoinal di Indonesia, yang terletak di kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Taman nasional ini ditetapkan pada tahun 1996, dengan total area 1,39 juta ha, menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang; yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Kedalaman air di taman nasional ini bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter di bawah permukaan air laut.

Taman Nasional Wakatobi, Menyajikan Berupa :[sunting | sunting sumber]

  1. Terumbu karang
  2. Ikan
  3. Satwa lain
  4. Keistimewaan, dan
  5. Pulau Hoga


WISATA SEJARAH[sunting | sunting sumber]

Pulau Wangi- Wangi[sunting | sunting sumber]

BENTENG TINDOI

Benteng Tindoi  merupakan salah satu objek wisata budayaberada di Kecamatan Wangi-Wangi, berjarak ± 5 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda  empat selama ±15 menit dari pusat kota.

BENTENG LIYA dan MESJID KERATON LIYA

Benteng Liya terletak di Desa Liya Togo Kec. Wangi-Wangi Selatan. Benteng Liya terdiri dari empat lapis dengan 12 Lawa (Pintu), 12 lawa tersebut merupakan pintu keluar yang digunakan masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.

Di dalam benteng terdapat Masjid Keraton Liya yang berjarak 8 Km atau 15 menit dari Ibukota Kabupaten, dapat ditempuh menggunakan alat transportasi roda dua dan empat.

BENTENG MANDATI TONGA

Benteng Mandati Tonga terletak di Desa Mandati Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Benteng tersebut berbentuk persegi panjang dengan luas  ± 1 hektare. Pagar tertinggi benteng sekitar 7 meter terletak di bagian barat dan selatan.

BENTENG TOGO MOLENGO

Benteng Togo Molengo terletak di Puncak Gunung Pulau Kapota,  dapat ditempuh ± 20 menit menggunakan perahu tradisional dari Wangi-Wangi,  lalu dengan kendaraan roda dua ±10 menit.

MERCUSUAR

Mercusuar ini dibangun 1901 pada masa penjajahan Belanda. Lokasi objek wisata ini ada di Desa Waha Kecamatan Wangi-Wangi, dengan jarak ± 8 Km atau dari Ibukota Kabupaten dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua ± 15 menit.

Pulau Keledupa[sunting | sunting sumber]

Situs sejarah (Makam Tua dan Benteng)

MAKAM TUA dan KAMALI Makam Tua dan Kamali berada di Desa Pale’a Kecamatan Kaledupa Selatan.

BENTENG OLLO Dan MESJID TUA Benteng Ollo dan Mesjid Tua merupakan situs sejarah peninggalan kebudayaan masyarakat di Pulau Kaledupa yang hingga kini tetap terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Di dalam Benteng Ollo terdapat Mesjid Tua yang berukuran 6,5 x 7 meter.

BENTENG LA DONDA Benteng La Donda merupakan salah satu situs sejarah peninggalan kebudayan masyarakat Kaldupa.

Pulau Tomia[sunting | sunting sumber]

BENTENG PATUA

Benteng Patua adalah salah satu situs sejarah kebudayaan masyarakat Tomia.

BENTENG SUO-SUO

Benteng Suo-Suo berada di Desa Kahianga Kec. Tomia timur, berjarak ± 3 km dari ibukota kecamatan, dapat ditempuh dengan dari ibukota kecamatan.

MESJID TUA ONEMAY

Mesjid Tua Onemay merupakan berada di Kelurahan Onemay Kecamatan Tomia.

Pulau Binongko[sunting | sunting sumber]

BENTENG PALAHIDU

 Benteng Palahidu merupakan salah satu peninggalan sejarah masyarakat Binongko yang berada di Desa Palahidu Kecamatan Binongko. Benteng Palahidu terletak di atas tebing bagian utara pinggir pantai Pulau Binongko.

BENTENG WALI

 Benteng Wali adalah salah situs sejarah peninggalan masyarakat Togo Binongko.


WISATA BUDAYA[sunting | sunting sumber]

Pulau Kaledupa[sunting | sunting sumber]

Pulau Kaledupa memiliki pesona budaya yang  tetap terjaga dan diletarikan oleh masyarakat setempat.

Berikut objek wisata budaya yang ada di Pulau Kaledupa.

a. Tari Tradisional Kaledupa[sunting | sunting sumber]

TARI LARIANGI

Tari Lariangi merupakan tari tradisional Kecamatan Kaledupa yang lahir pada tahun 1634 dikala Raja Buton yang pertama berkuasa yaitu WA KAKA.

TARI HEBALIA

Tari Hebalia merupakan tari tradisional Kecamatan Kaledu pa, diciptakan oleh para dukun pada zaman dahulu,

TARI SOMBO BUNGKALE

Tari Sombo Bungkale merupakan tari tradisional Kecamatan Kaledupa Selatan. Tarian ini dilakoni oleh penari gadis cantik sebanyak 12 orang.

b. Pesta Adat dan tradisi[sunting | sunting sumber]

PESTA ADAT KARIA’A

Pesta adat Karia’a merupakan tradisi khas masyarakat Kaledupa. Usungan 15 sampai 20 dalam sekali upacara.

TRADISI ADAT PENCAK SILAT

Tradisi pencak silat adalah tradisi adat masyarakat Kaledupa.

Pulau Tomia[sunting | sunting sumber]

PESTA ADAT SAFARA

Pesta Adat Safara adalah Pesta adat masyarakat Tomia yang dilakukan pada setiap Bulan Safar.

TRADISI BOSE – BOSE

Tradisi Bose – Bose adalah tradisi yang dilakukan dengan menghiasi perahu dengan hiasan berwarna-warni, dan dimuati sajian masakan tradisional,  seperti Liwo, lalu diarak mengelilingi pantai dari Dermaga Patipelong menuju Dermaga Usuku sampai ke Selat One Mobaa, sambil menabuh gendang. Pesta adat ini dilaksanakan bertujuan agar semua dosa dapat hanyut bersama riaknya air laut.

TARI SAJO MOANE

Tari Sajo Moane adalah Tarian Sakral yang dimaikan oleh kaum laki – laki.

TARI SARIDE

Tari Saride merupakan tarian tradisional yang berarti persatuan dan kebersamaan dalam menyelesaikan suatu kegiatan yang menyangkut kepentingan umum.

Pulau Binongko[sunting | sunting sumber]

Tari Balumpa

Tari Balumpa adalah salah satu tari tradisional yang berasal dari Pulau Binongko.

Sarana Infrastruktur Daerah[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Jumlah Sekolah Taman Kanak-kanak pada tahun 2003 ada sebanyak 22 unit yang tersebar di lima kecamatan. Sementara itu jumlah guru ada sebanyak 47 orang, sedangkan jumlah murid ada sebanyak 989 orang. Pada Tahun 2003 rasio antara guru terhadap sekolah rata-rata 2 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 45 orang, dan murid terhadap guru rata-rata 21 orang.

Dari jenjang Pendidikan Sekolah Dasar tercatat jumlah sekolah pada tahun 2003 sebanyak 101 unit. Jumlah guru sebanyak 684 orang, sedangkan jumlah murid sebanyak 14.742 orang. Rasio di tingkat SD pada tahun 2003 antara guru terhadap sekolah tercatat dengan rata-rata 7 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 145 orang, dan murid terhadap guru rata-rata 22 orang.

Pada jenjang pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) terdapat 16 unit sekolah pada tahun 2003, sedangkan jumlah guru dan murid masing-masing ada sebanyak 235 dan 4.287 orang. Sehingga rasio antara guru terhadap sekolah tercatat dengan rata-rata 15 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 268 orang, dan murid terhadap guru rata-rata 18 orang.

Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) tahun 2003 terdapat 4 unit sekolah. Jumlah guru pada tahun 2003 ada sebanyak 93 orang dan jumlah murid ada sebanyak 2.212 orang. Rasio yang tercatat pada tahun 2003 antara guru terhadap sekolah rata-rata 23 orang, murid terhadap sekolah rata-rata 553 orang, dan murid terhadap guru rata-rata 24 orang.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Sampai tahun 2003 di Kabupaten Wakatobi belum ada Rumah Sakit Umum. Terdapat 7 unit Puskesmas keperawatan dan 12 unit Puskesmas Ppembantu, Dokter Umum sebanyak 5 orang, SKM sebanyak 2 orang, paramedis sebanyak 85 orang dan pembantu paramedis sebanyak 9 orang.

Agama[sunting | sunting sumber]

Tempat ibadah menurut agama, terlihat bahwa tahun 2003, Masjid sebanyak 112 buah dan Mushollah 22 buah, sementara Gereja, Pura dan Vihara tidak ada. Ini menandakan bahwa masyarakat Wakatobi memeluk agama Islam.

Pemerintah[sunting | sunting sumber]

Masa Bhakti 2011-2016.[sunting | sunting sumber]

Bupati wakatobi.jpg

Kabupaten Wakatobi saat ini dipimpin oleh Bupati Ir. Hugua

H. ARHAWI, SE.jpg

Kabupaten Wakatobi saat ini dipimpin Wakil Bupati H. Arhawi, SE

Pendapatan Domestik Bruto (PDRB) Perkapita[sunting | sunting sumber]

Tahun 2003[sunting | sunting sumber]

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Wakatobi berdasarkan harga berlaku pada tahun 2003 sebesar Rp.179.774,04,- juta, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp. 160.473,67,- juta. Berdasarkan harga berlaku,PDRB per kapita Kabupaten Wakatobi pada tahun 2002 adalah sebesar Rp. 1.833.775,23,- menjadi Rp. 2.026.993,35,- pada tahun 2003 atau naik sebesar 10,54%.

Pembagian Administratif[sunting | sunting sumber]

  1. Kecamatan Binongko
  2. Kecamatan Kaledupa
  3. Kecamatan Kaledupa Selatan
  4. Kecamatan Togo Binongko
  5. Kecamatan Tomia
  6. Kecamatan Tomia Timur
  7. Kecamatan Wangi-Wangi
  8. Kecamatan Wangi-Wangi Selatan

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

Seluruh kecamatan di Kabupaten Wakatobi dibagi lagi ke dalam 61 desa/kelurahan, tepatnya 45 desa dan 16 kelurahan. Dari 61 desa/kelurahan pada tahun 2003 tersebut, 10 desa telah mencapai desa swasembada (15,63%), 16 desa swakarya (25,00%), dan 38 desa swadaya (59,38%).

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah[sunting | sunting sumber]

DPR Tahun 2004[sunting | sunting sumber]

Komposisi perolehan kursi di DPRD Kabupaten Wakatobi hasil Pemilu 2004 berdasarkan partai peserta pemilu dan daerah pemilihan, di mana Partai Golkar mendapat kursi terbanyak dengan mendapatkan 4 kursi disusul oleh PBB, PPP, PAN, PNBK, PBR dan PDIP dengan 2 kursi, selanjutnya Partai Merdeka, PKB, Partai Patriot Pancasila dan Partai Demokrat masing-masing 1 kursi dari 20 kursi di DPRD.

Anggota DPRD Tahun 2009-2014 :[sunting | sunting sumber]

1 MUHAMAD ALI, SP, M.Si (PDIP)

2 H. LA INDIA, S.Sos (PAN)

3 H. SAIRUDDIN LA ABA (PNBKI)

4 DARYONO MOANE, S.Sos (PDIP)

5 LAODE MAS'UDIN (PDIP)

6 SUPARDI (PDIP)

7 H. LA ODE ARIFUDIN, S.Sos (PDIP)

8 HALIADI  HABIRUN (PAN)

9 H. SUNAIDI (PAN)

10 HASNUN, S.Sos (PNBKI)

11 MUH. SYAWAL, ST (PNBKI)

12 Drs. H. SYAFRUDDIN (Golkar)

13 Dra. H. SAFIA WUALO (Golkar)

14 SUTOMO HADI, S.Sos (PBR)

15 ZAKARIA, SH, MH (PBR)

16 LA MOANE SABARA, S.Sos (Partai Demokrat)

17 SUBARDIN BAU, S.Pd, M.Si (Partai Demokrat)

18 MUSDIN, S.Pd, MM (Partai Persatuan Daerah)

19 ANDI HASAN, S.Pd (Partai Persatuan Daerah)

20 Hj. ERNAWATI RASYID (PPDI)

21 HAERUDIN KONDE, ST (Partai Keadilan)

22 H. MUNSIR (PKB)

23 LA KE (Barnas)

24 HAIRUDIN BUTON, S.Sos (PPNUI

25 H. SUKIMAN (Hanura)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]