Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Rumpun Ilmu-Ilmu Kesehatan
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia
Didirikan 21 Desember 1960
Makara Hijau Tua - Putih
Pimpinan
Dekan Dr. drg. Yosi Kusuma Eriwati, M.Si
Wadek 1 Dr. drg. Corputty Johan, E.M., Sp.BM
Wadek 2 drg. Nurtami, Ph.D
Masa Bakti 2014 - 2017
Informasi Umum
Jenjang Pendidikan S1, Profesi Dokter Gigi, Spesialis, S2, dan S3
Jumlah Guru Besar 12
Lokasi
  1. Jalan Salemba Raya No 6, Kampus UI - Salemba, Jakarta
  2. Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan, Jln. Prof. Dr. Sudjono D Pusponegoro, Kampus UI - Depok, Jawa Barat
Situs Web http://www.fkg.ui.ac.id/

Fakultas Kedokteran Gigi UI disingkat FKG UI adalah fakultas kedokteran khusus untuk kesehatan gigi dan mulut yang berada dibawah Universitas Indonesia. Saat ini (2008) fakultas ini dipimpin oleh Prof. Bambang Irawan, drg,Ph.D.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

FKG UI berdiri pada tahun 1960, dengan 71 satu orang mahasiswa sebagai angkatan pertamanya. Pendirian fakultas ini dirintis karena munculnya keprihatinan tentang kondisi kedokteran gigi di Indonesia. Ketika itu, perbandingan antara dokter gigi dan penduduk masih sangat kecil, yaitu 1 : 200.000, selain itu, lulusan dokter gigi juga hanya berasal dari dua fakultas (FKG Unair dan FKG UGM) dengan jumlah yang sangat sedikit, tidak pernah lebih dari 35 orang.

Pada tahun 1959, Prof. Dr. Ouw Eng Liang (alm) dan kawan-kawan dari bagian Gigi dan Mulut FKUI mengajukan rencara terinci pendirian FKG di UI. Rencana itu mendapat dukungan pula dari Rektor UI Dr. Sudjono Djuned Pusponegoro dan Dekan FKUI Prof. Dr. M. Soekardjo. Pada tanggal 21 Desember 1960, Surat Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI No. 108049 yang berisi tentang pendirian Fakultas Kedokteran Gigi di UI dikeluarkan. Sejak itulah, lahir FKGUI yang merupakan Fakultas Kedokteran Gigi Negeri keempat di Indonesia dengan Prof. Dr. Ouw Eng Liang sebagai Dekan pertama.

Tahun 1961, FKGUI yang memiliki 2 Staf Pengajar Tetap, 37 Staf Pengajar Luar Biasa, dibantu 7 tenaga administrasi termasuk pesuruh secara resmi membuka pintunya bagi mahasiswa baru. Awalnya, FKGUI praktis tak mempunyai fasilitas gedung dan perlengkapan. Satu-satunya ruang adalah ruang pinjaman dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yaitu bagian Tata Usaha Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut RSCM. Untuk kuliah tingkat persiapan, pelaksanaan dan tempatnya digabung bersama mahasiswa tingkat I FKUI. Sedangkan praktikum Anatomi Gigi menggunakan tempat penitipan sepeda RSCM (kini tempat parkir paviliun Cendrawasih RSCM). Pada 17 Oktober 1963, mengingat meningkatnya kebutuhan mahasiswa dan keterbatasan fasilitas, maka sebagian ruang depan Perpustakaan Rakyat milik Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan RI di Salemba 4 diserahkan kepada FKGUI. Namun, kuliah dan praktikum masih bergabung dengan FKUI. Tahun berikutnya, pada 1964, FKGUI mendapat ruang tambahan yaitu bagian belakang dari Perpustakaan Rakyat. Sebagian ruang itu digunakan untuk preklinik (praktikum) mahasiswa tingkat III sebagai persiapan kepaniteraan klinik di tingkat IV nanti.

Pada bulan April 1965, seluruh ruang Perpustakaan Rakyat diserahkan ke FKGUI sehingga kuliah dan praktikum yang bersifat dental dan kegiatan kemahasiswaan dilakukan disini. Pada 27 Maret, FKGUI membuka poliklinik gigi untuk umum bertempat di Biro Rektor UI. Mulanya poliklinik ini terdiri dari Ilmu Pengawet Gigi dan Ilmu Meratakan Gigi, sedangkan bagian lain yang diperlukan dalam kepaniteraan klinik mendapat pinjaman ruang dari RSCM yaitu bagian Exodontia dan Bagian Ilmu Gigi Tiruan. Terjalinnya kerjasama antara FKGUI dan RSCM, maka bagian Ilmu Pengawet Gigi dan Ilmu Bedah Mulut pun dapat memakai sarana RSCM. Sedangkan kegiatan bagian Ilmu Gigi Tiruan dipindahkan ke FKGUI. Pada 1967, FKGUI berhasil meluluskan 15 dokter gigi.

Pada 1968, poliklinik gigi FKGUI diperluas dengan pengadaan laboratorium teknik dan pembukaan poliklinik baru di Pegangsaan Timur 17, hasil kerjasama dengan bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FKUI. Poliklinik ini semula digunakan bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Periodontologi. Pada 1969, poliklinik gigi di Salemba 4 diperluas dengan membuka bagian Periodontologi sehingga jumlahnya mencapai 17 dental unit . Kerjasama dengan fakultas dan instansi lain pun mulai dibina.

Pada 1970, FKGUI menempati gedung baru berlantai empat untuk kegiatan dental dan non-dental . Baru pada 1972, semua perkuliahan dan poliklinik dipusatkan di gedung ini, kecuali bagian Ilmu Bedah Mulut yang berada di RSCM. Berbagai bantuan pun mengalir ke FKGUI berkat jasa Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro (alm) sebagai Rektor UI. Di sisi lain, FKGUI juga berpartisipasi dalam Proyek Pedesaan UI melalui Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Serpong di Tangerang pada 1976. Pada 1978, FKGUI mendapat tambahan lagi gedung baru berlantai empat.

Departemen[sunting | sunting sumber]

Fakultas Kedokteran Gigi UI (FKG) membawahi 11 departemen, yaitu:

  • Departemen Bedah Mulut
  • Departemen Ilmu Penyakit Mulut
  • Departemen Konservasi Gigi
  • Departemen Periodonsia
  • Departemen Prostodonsia
  • Departemen Ortodonsia
  • Departemen Radiologi
  • Departemen Ilmu Material Kedokteran Gigi (IMKG)
  • Departemen Oral Biologi
  • Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan (IKGM-P)
  • Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Anak(IKGA)

Penelitian[sunting | sunting sumber]

  • Pada September 2006 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) Depok tercatat menjadi penyelenggarakan pertemuan ilmiah Lembaga Internasional Kedokteran Gigi se-Asia Tenggara (South East Association for Dental Education/SEAADE XVII) di Jakarta Convention Center[1]
  • Pada Agustus 2008 penelitian yang dipresentasikan Dr Ria Puspita, drg, pada sidang Ujian Terbuka Program Doktor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) pada disertasinya dengan tema "Pengaruh Paparan Musik terhadap Kualitas Pertumbuhan Gigi dan Mandibula (Tulang Rahang)" memaparkan bahwa stimulasi musik yang harmonis mampu memacu pembentukan gigi dan mandibula (tulang rahang) anak tikus strain wistar menjadi lebih baik dan berkualitas. Disamping itu musik dapat meningkatkan hormon pertumbuhan. Dimana hormon pertumbuhan merupakan hormon utama yang berperan dalam pertumbuhan fisik termasuk pembentukan dan pertumbuhan tulang dan gigi [2].

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]