Elihu (Kitab Ayub)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kemarahan Elihu terhadap Ayub dan ketiga temannya

Elihu (Kitab Ayub) adalah nama dari salah saru karakter yang ada dalam Kitab Ayub.[1] Elihu merupakan sahabat Ayub yang paling muda.[2] Sosok Elihu memang tidak disebut di awal bagian Kitab Ayub.[3] Akan tetapi, sosok ini memainkan peranan penting dalam Kitab Ayub.[3] Elihu turut memberikan pidato terhadap penderitaan yang dialami Ayub.[4] Pidato Elihu berdiri sendiri dan berbeda dari ketiga teman Ayub lainnya yaitu Zofar, Bildad, dan Elifas.[4]

Asal Usul Elihu[sunting | sunting sumber]

Nama Elihu dalam Bahasa Ibrani diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti Allahku ialah Dia.[2] Ada beberapa nama Elihu di dalam Alkitab.[2] Dalam Kitab 1 Samuel 1:1, nama Elihu merujuk kepada nama anak dari Samuel.[2] Dalam Kitab 1 Tawarikh 12:20, nama Elihu merujuk kepada salah seorang kepala pasukan dari suku Manasye.[2] Dalam Kitab 1 Tawarikh 27:18, nama Elihu merujuk kepada salah seorang kepala suku Yehuda yang dikenal sebagai saudara dari Daud.[2] Dalam Kitab 1 Tawarikh 26:7, nama Elihu merujuk kepada seorang pahlawan yang gagah perkasa yang bertugas menjaga pintu gerbang bait suci di bawah pemerintahan Daud.[2] Akan tetapi, nama-nama ini tidak berarti sama dengan sosok Elihu yang ada di dalam Kitab Ayub.[2] Dalam Kitab Ayub 32:2, Elihu dikenal sebagai anak dari Barakheel.[2] Elihu merupakan orang Bus dari suku Ram.[2] Keterangan tentang Elihu tidak dijelaskan lebih lanjut dalam kitab Ayub.[1] Hal ini didasarkan pada beberapa kemungkinan, yaitu kemungkinan bahwa Elihu adalah bagian dari rombongan penghibur yang turut berduka atas musibah yang menimpa Ayub sehingga identitas dirinya tidak terlalu penting untuk dibahas.[3] Kemungkinan lain adalah identitas Elihu tidak dijelaskan untuk menambah unsur kejutan dalam narasi tentang penderitaan Ayub.[3]

Pemikiran Elihu[sunting | sunting sumber]

Dalam penderitaan Ayub, ketiga teman Ayub memberikan pendapatnya lebih dahulu.[5] Elihu menyadari bahwa usianya yang muda tidak memungkinkan ia berbicara lebih dahulu.[5] Ia menahan diri untuk berbicara sampai Elifas, Bilda, dan Zofar selesai berbicara.[5] Walapun ia terlihat sabar dalam menunggu kesempatan untuk berbicara, Elihu adalah seorang yang memiliki sifat pemarah.[1] Ia mengikuti pembicaraan antara Ayub dan ketiga temannya dari dekat sambil menahan amarah.[1] Dalam Kitab Ayub 32:19, Elihu marah karena ia merasa tidak puas dengan pembicaraan antara Ayub dengan ketiga temannya.[1] Ia merasa tidak puas karena ia merasa ketiga teman Ayub tidak menyentuh permasalahan mendasar dari penderitaan yang dialami oleh Ayub.[1] Ia kemudian menuang seluruh isi pikirannya saat mendapat giliran untuk berbicara.[1] Elihu memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang yang berdosa.[5] Elihu juga percaya bahwa Tuhan akan mengampuni setiap orang yang mengakui dosa-dosanya dan berbalik kepada Tuhan.[5] Hal ini adalah kepercayaan yang fundamental dari Elihu.[5] Akan tetapi, pendapat Elihu tetap mempunyai keunikan tersendiri yang membuat pendapatnya berbeda dengan ketiga temannya.[4] Pemahaman teologi Elihu dapat ditemukan dalam Kitab Ayub 32-37.[5]

Kitab Ayub 32[sunting | sunting sumber]

Dalam kitab Ayub 32, Elihu mulai berbicara kepada ketiga teman Ayub.[6] Elihu menyadari bahwa usianya yang masih muda.[6] Ia merasa tidak layak memotong pembicaraan yang sedang berlangsung.[6] Namun, ia menyadari bahwa ia harus berbicara.[6] Elihu yakin bahwa hikmat tidak datang kepada manusia dengan memandang usia.[6] Elihu yakin bahwa hikmat dari Tuhan datang kepada siapa saja tanpa memandang usia (Kitab Ayub 32:9).[6] Bagi Elihu, hikmat tidak dapat ditangkap sepenuhnya oleh manusia (Kitab Ayub 32:13).[6] Manusia adalah makhluk yang terbatas, begitu juga dalam menangkap dan mencerna hikmat.[6] Hikmat hanya ada sepenuhnya dipahami oleh Tuhan karena hikmat berasal dari Tuhan.[6] Elihu memperhatikan dengan seksama pembicaraan yang berlangsung antara Ayub dan ketiga temannya.[6] Bagi Elihu, kata-kata Zofar, Bildad, dan Elifas tidak menyentuh permasalahan tentang penderitaan Ayub.[6] Hal ini mengakibatkan pembicaraan tersebut berujung buntu (Kitab Ayub 32:15-16).[6] Pembicaraan yang buntu ini adalah penyebab Elihu akhirnya menyatakan pendapat dan pikirannya.[6] Dalam (Kitab Ayub 32:21, Elihu menegaskan bahwa pendapatnya tidak akan membela siapa pun.[6] Ia juga tidak akan berusaha untuk menyenangkan hati salah satu dari mereka (Zofar,Bildad,Elifas,dan Ayub).[6] Elihu menyatakan pendapatnya dengan bersandar pada hikmat yang Tuhan berikan kepada dirinya yang terbatas.[6]

Kitab Ayub 33[sunting | sunting sumber]

Dalam Kitab Ayub 32, Elihu berbicara kepada ketiga teman ayub.[6] Dalam bagian ini, Elihu berbicara secara langsung kepada Ayub.[6] Ada beberapa hal yang dikemukakan Elihu terkait dengan penderitaan Ayub.[6] Pertama, Elihu berbicara tentang Tuhan kepada Ayub.[6]Tuhan adalah sosok yang lebih besar daripada manusia.[6] Tuhan adalah sosok yang tidak terbatas.[6] Tuhan berbicara dengan cara yang tidak terbatas pula kepada manusia.[6] Ia berbicara melalui hal-hal yang tidak diduga oleh manusia.[6] Elihu mengambil contoh tentang hal ini yaitu mimpi.[6] Tuhan memberi penglihatan melalui mimpi.[6] Cara ini merupakan cara yang lumrah dipahami dalam dunia kuno.[6] Elihu menegaskan bahwa Tuhan hendak menyelamatkan manusia melalui tindakan-Nya yang tidak terduga.[6] Kedua, Elihu Berbicara mengenai penderitaan.[6] Bagi Elihu, penderitaan adalah sebuah sarana pendidikan.[6] Tuhan menyelamatkan manusia melalui penderitaan.[6] Tuhan mendidik manusia melalui penderitaan.[6] Pendidikan ini mempunyai tujuan agar manusia memahami ketakterbatasan Tuhan dalam berbicara.[6] Dalam bagian akhir dari Kitab Ayub 33, Elihu membuka topik pembicaraan tentang hikmat.[6] Elihu menjabarkan hikmat dalam Kitab Ayub 34.[6]

Kitab Ayub 34[sunting | sunting sumber]

Dalam bagian ini, Elihu menghubungan Tuhan dengan keadilan.[6] Keadilan Tuhan adalah salah satu hal yang diprotes Ayub.[6] Ayub merasa dirinya tidak bersalah.[6] Ia melaksanakan segala bentuk kewajiban keagamaan.[6] Ia menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan.[6] Akan tetapi, penderitaan yang Ayub alami tidak sejalan dengan kesetiaan yang ia tunjukkan kepada Tuhan.[6] Elihu menegaskan bahwa Tuhan tidak berlaku curang terhadap Ayub.[6] Elihu yakin bahwa keadilan Tuhan tak patut untuk dipertanyakan.[6] Ia yakin bahwa Tuhan mengutuk orang yang jahat dan menghukum orang yang baik.[6] Keyakinan ini dikenal dengan istilah kutuk dan berkat.[6]

Kitab Ayub 35[sunting | sunting sumber]

Dalam bagian ini, Elihu mulai menyerang pendapat Ayub tentang penderitaannya.[7] Ayub membela diri di hadapan Tuhan terhadap penderitaannya.[7] Kesetiaan Ayub menjadi dasar pembelaan Ayub atas penderitaan yang ditimpakan Tuhan kepadanya.[7] Elihu mengatakan kepada Ayub bahwa kesetiaan Ayub terhadap Tuhan tidak berpengaruh terhadap Tuhan.[7] Manusia yang terbatas tidak mampu mempengaruhi yang Tuhan yang tidak terbatas.[7] Elihu melihat bahwa kesetiaan Ayub kepada Tuhan hanya memberikan dampak kepada sesama ciptaan Tuhan.[7] Kebaikan manusia hanya berpengaruh kepada lingkungan sosial di mana ia berada.[7] Elihu melihat bahwa Ayub terlampau jauh untuk memprotes keadilan Tuhan.[7] Ayub tidak mampu untuk membaca cara Tuhan bekerja.[7] Dalam bagian ini, Elihu pula membahas mengenai doa.[8] Elihu melihat bahwa doa adalah salah satu sarana manusia berbicara kepada Tuhan.[8] Dalam penderitaan, manusia meminta pertolongan Tuhan melalui doa.[8] Terkadang manusia pun meragukan Tuhan dalam penderitaan.[8] Keraguan ini mengantar manusia kepada sikap protes terhadap Tuhan.[9] Elihu memandang bahwa suara protes ini sebagai teriakan yang kosong atau sebuah tindakan yang sia-sia.[9] Terkadang manusia harus menerima penderitaan tanpa memprotes.[9] Bagi Elihu, tindakan protes Ayub adalah salah satu bukti teriakan kosong tersebut.[9]

Kitab Ayub 36[sunting | sunting sumber]

Dalam bagian ini, Elihu kembali mempertahankan pendapatnya kepada Ayub.[10] Keadilan Tuhan adalah sesuatu yang mutlak.[10] Ia tidak akan membiarkan orang benar menderita.[10] Akan tetapi, Elihu menegaskan bahwa Tuhan tidak mengikat dirinya dengan orang-orang benar.[10] Bagi Elihu, Tuhan memuliakan orang benar.[10] Elihu juga menjelaskan bahwa penderitaan orang benar itu datang dari Tuhan.[10] Tuhan yang berinisiatif memberikan penderitaan tersebut.[10] Penderitaan adalah salah satu bentuk nyata dari firman Tuhan.[10] Penderitaan ini merupakan suatu cara Tuhan berkomunikasi.[10] Karena itu, penderitaan ini menuntut respon dari manusia.[10] Respon tersebut menentukan apakah manusia akan setia terhadap Tuhan atau jatuh ke dalam dosa.[10] Bagi Elihu, Tuhan ingin berkomunikasi lebih dalam dengan Ayub.[10] Elihu menegaskan kepada Ayub bahwa sikap Ayub terhadap penderitaan yang ia alami menjadi penghalang bagi Tuhan untuk berkomunikasi dengannya.[10] Selanjutnya, Elihu menekankan bagaimana keterbatasan manusia dalam memahami pekerjaan Tuhan melalui fenomena alam seperti awan dan petir.[10] Fenomena alam ini menunjukkan kemahakuasaan Tuhan yang tidak terbatas.[10]

Kitab Ayub 37[sunting | sunting sumber]

Dalam bagian ini, Elihu menjelaskan lebih dalam mengenai fenomena alam seperti petir, Hujan, dan badai.[11] Elihu melihat bahwa fenomena alam adalah salah satu suara Tuhan.[11] Fenomena alam ini merupakan bagian dari perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan.[11] Bagi Elihu, fenomena alam ini juga merupakan cara Tuhan mengatur alam semesta beserta isinya.[11] Elihu menantang Ayub untuk menjelaskan bagaimana fenomena alam ini terjadi.[10] Pertanyaan ini diajukan Elihu untuk menyadarkan Ayub akan keterbatasannya dalam memahami karya Tuhan dalam alam semesta.[10] Dalam Kitab Ayub 37:17-18, Elihu meminta Ayub melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan Ayub.[10] Hal ini pun untuk menyadarkan Ayub bahwa ia terbatas untuk mengetahui cara Tuhan bekerja.[10] Dalam Kitab Ayub 32, Elihu kembali mengulang penegasan bahwa Tuhan terlalu besar untuk digapai manusia.[10] Elihu menegaskan bahwa hikmat tentang Tuhan hanya dapat diperoleh melalui rasa takut akan Tuhan.[10]

Tema Teologis[sunting | sunting sumber]

Dalam pemikiran Elihu, kita dapat menemukan beberapa tema teologi seperti doa, keadilan, moral, hikmat dan penderitaan.[10]

Hikmat[sunting | sunting sumber]

Hikmat adalah salah satu tema teologis yang ada dalam pemikiran Elihu.[6] Elihu memakai hikmat sebagai dasar untuk berbicara.[6] Usia Elihu yang lebih muda dibandingkan ketiga teman Ayub menjadi penyebab ia harus menahan diri untuk berbicara.[6] Elihu pun kalah pengalaman jika dibandingkan dengan ketiga teman Ayub.[6] Umumnya, pengalaman diukur berdasarkan usia.[6] Namun, hikmat tidak sama dengan pengalaman.[6] Hikmat adalah pemberian Tuhan.[6] Tuhan mempunyai hak penuh atas hikmat sehingga Ia bisa memberikan hikmat atas kehendak-Nya.[6] Hikmat tidak memandang usia.[6] Hikmat juga tidak ditentukan oleh banyak atau sedikit pengalaman seseorang.[6] Dalam hal ini, Elihu meyakinkan ketiga teman Ayub dan juga Ayub bahwa ia berbicara berdasarkan hikmat dari Tuhan.[6] Elihu berbicara tanpa memihak pada siapapun karena hikmat tidak berpihak pada siapapun.[1]

Penderitaan[sunting | sunting sumber]

Elihu berbicara tentang penderitaan kepada Ayub.[1] Bagi Elihu, penderitaan adalah satu cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia.[1] Tuhan hendak mendidik manusia melalui penderitaan.[1] Elihu juga memahami bahwa penderitaan tidak lepas dari dosa.[1] Elihu meyakini tradisi kutuk berkat.[1] Dalam Perjanjian Lama, tradisi kutuk berkat adalah pemahaman bahwa Tuhan menghukum orang fasik dan memberkati orang yang benar.[1] Dalam pemahaman ini, penderitaan adalah bagian dari kutukan.[1] Namun, penderitaan yang dialami Ayub adalah penderitaan yang berbeda.[1] Ayub tidak berdosa dan ia setia terhadap Tuhan.[1] Tidak sedetik pun ia berpaling dari Tuhan.[1] Seharusnya Ayub terhindar dari penderitaan.[1] Elihu menyadari bahwa Ayub tidak berdosa dan saat yang sama Elihu yakin bahwa manusia terbatas untuk mengetahui rencana Tuhan.[1] Alasan ini membantu kita memahami mengapa Elihu melihat penderitaan sebagai cara Tuhan berkomunikas.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u Dianne Bergant. 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta Kanisius. Hlm 422.
  2. ^ a b c d e f g h i j J.J. De Heer. 2008. Nama-nama Pribadi dalam Alkitab. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm 37.
  3. ^ a b c d W.S.Lasor. 2007. Pengantar Perjanjian Lama 2:Sastra dan Nubuat. Jakarta:BPK Gunung Mulia. Hlm 123.
  4. ^ a b c S. Wismoady Wahono. 2009. Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm 228.
  5. ^ a b c d e f g (English) 2010. Who's Who in the Jewish Bible. Philadelphia: Jewish Publication Society. Hlm 105.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at au av aw ax ay az ba bb bc bd (English) Marvin H. Pope. 1973: The Anchor Bible: Job. New York:Doubleday & Company.
  7. ^ a b c d e f g h i (English) Charles Garden. 1769.An Improved Version, Attempted, of the Book of Job: a Poem. London: J.Cooke.Hlm 397.
  8. ^ a b c d (English) Francis I. Andersen. 1976. An Introduction & Commentary. Illinois: Intervarsity. Hlm 260.
  9. ^ a b c d (English) Elmer L. Town. 2006. Praying the Book of Job: To understand Trouble and Suffering. Pennsylvania:Destiny Image Publishers. Hlm 113.
  10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v (English) Norman C. Habel. 1985. The Book of Job: A commentary. Pennsylvania: Westminster Press. Hlm 507.
  11. ^ a b c d (English) John E. Hartley. 1988. The Book of Job. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans. Hlm 480.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]