Bayezid I

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan wajah Bayezid I oleh Cristofano dell'Altissimo.

Bayezid I (Turki Utsmaniyah: بايزيد اول, bahasa Turki: II. Beyazıt; Edirne, 1360 - Akşehir, 8 Maret 1403) adalah Sultan Utsmaniyah antara tahun 1389-1402. Ia adalah puteranda Murad I[1][2] dan Valide Sultan Gülçiçek Hatun.

Setelah syahidnya Sultan Murad I, Bayezid menggantikannya. Dia dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani, cerdas, murah hati, dan demikian ambisi untuk melakukan ekspansi memperluas wilayah Islam. Oleh karena itulah dia menaruh perhatian besar pada masalah kemiliteran dan berencana menaklukkan negara-negara Kristen di Anatolia. Hanya dalam jangka waktu setahun, negara-negara itu telah berada di bawah kekuasaan pemerintahan Utsmani. Dalam geraknya Bayezid I digambarkan laksana kilat di antara dua front Balkan dan Anatolia. Oleh karena itu, dia diberi gelar "Sang Kilat" (bahasa Turki: Yıldırım).

Kebijakan terhadap Serbia[sunting | sunting sumber]

Pertama kali yang ia lakukan sejak memangku jabatan sultan adalah segera melakukan hubungan bilateral dengan Kekaisaran Serbia. Padahal pihak Serbia dahulu merupakan sponsor utama terjadinya koalisi pasukan Salib Balkan melawan pemerintahan Utsmani. Bayezid bermaksud dengan dibangunnya hubungan bilateral ini, Serbia menjadi tameng antara kekuasaan Utsmani dengan Kerajaan Hongaria. Dia berkepentingan untuk membentuk aliansi militer yang bebas dan aktif. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Seljuk-Turki di Asia Kecil. Oleh sebab itulah, dia sepakat Serbia diperintah oleh Stefan Lazarević, puteranda Pangeran Lazar yang sebelumnya telah terbunuh dalam Pertempuran Kosovo. Dia mewajibkan Stefan untuk menjadi penguasa Serbia dan memerintah sesuai dengan hukum, tradisi, dan adat yang berlaku di Serbia. Bayezid juga mensyaratkan untuk menyatakan loyalitasnya dengan cara membayar upeti dan mengirimkan tentara yang ikut dalam satu kelompok khusus bagi mereka dalam setiap peperangan yang dipimpinnya. Bahkan Bayazid sendiri menikah dengan puterinda Pangeran Lazar yang bernama Olivera Lazarević.

Penaklukan Bulgaria[sunting | sunting sumber]

Setelah terjadinya kesepakatan dengan Serbia, Sultan Bayezid I segera melakukan serangan dahsyat pada tahun 1393 ke Bulgaria. Dia mampu menguasai wilayah itu dan mampu menundukkan rakyatnya. Dengan demikian, maka Bulgaria kehilangan kedaulatan politiknya. Kejatuhan Bulgaria ke tangan pemerintahan Utsmani menimbulkan gaung keras di Eropa dan telah menebarkan kekhawatiran dan rasa takut di seluruh pelosok Eropa. Maka bergeraklah pasukan Salib Kristen untuk menumpas hegemoni pemerintahan Utsmani di Balkan.

Pertempuran Nikopolis[sunting | sunting sumber]

Zsigmond, Raja Hongaria, bersama dengan Paus Bonifasius IX melakukan gerakan aliansi negara-negara Kristen Eropa-Salibis untuk melawan pemerintahan Utsmani. Ini merupakan gabungan kekuatan terbesar yang dihadapi pemerintahan Utsmani pada abad ke-14 dalam hal jumlah negara yang bergabung di dalamnya, lengkap dengan dukungan logistik senjata, dan bala tentara. Jumlah keseluruhan tentara Salib saat itu adalah 120.000 pasukan dari berbagai negara (Kekaisaran Romawi Suci, Perancis, Hongaria, Wallachia, Ksatria Hospitaller, Venesia, Genova, dan Bulgaria).

Pasukan ini berangkat menuju Hongaria pada tahun 1396. Namun para pemimpinnya berselisih pendapat dengan Zsigmond sebelum peperangan dimulai. Zsigmond lebih mengedepankan taktik bertahan hingga pasukan Utsmani datang menyerang. Hal ini ditentang para jenderal dan komandan perang yang berpendapat untuk menyerang langsung. Mereka menyeberangi Donau, yang akhirnya sampai di Nikopol – sebelah utara Balkan. Mereka mulai mengepungnya. Pada awal peperangan, mereka berhasil unggul atas pasukan Utsmani. Namun tiba-tiba Bayezid muncul dibarengi 100.000 pasukan. Jumlah ini lebih sedikit dari pasukan gabungan Eropa-Salibis. Namun mereka lebih unggul dalam kedisiplinan dan persenjataan. Akibatnya, binasalah sebagian besar tentara Kristen. Mereka terpaksa lari tunggang langgang. Ada pula sebagian yang terbunuh dan sebagian pemimpinnya ditawan. Pasukan Utsmani dalam Pertempuran Nikopol ini berhasil mengumpulkan harta rampasan perang yang melimpah dan mampu menguasai barang simpanan musuh.

Banyak pembesar Perancis yang tertawan dalam peperangan ini. Di antaranya adalah Graf Nevers. Sultan Bayazid menerima tebusannya dan dia dibebaskan dari tawanan. Sultan sendiri menegaskan agar dia bersumpah untuk tidak kembali berperanga melawan dirinya. Sultan berkata padanya:

Saya membolehkanmu tidak menaati sumpah ini; engkau boleh saja untuk kembali berperang melawan saya. Sebab tidak ada satu hal pun yang saya lebih senangi daripada memerangi semua orang Kristen Eropa dan saya menang atas mereka.

Sedangkan Raja Hongaria yang telah kerasukan rasa bangga saat melihat jumlah pasukannya yang demikian banyak dan telah mengatakan, "Andaikan langit runtuh, maka akan kami tangkap dia dengan kekuatan pasukan kami." Dia sendiri lari lintang pukang bersama dengan komandan pasukan kavaleri Rhodesia. Tatkala sampai di Laut Hitam, keduanya bertemu dengan 1 armada Kristen, maka melompatlah keduanya pada salah satu kapal dan segera melarikan diri tanpa menoleh ke belakang. Kekalahan Hongaria dalam Pertempuran Nikopolis menjadikan posisi Hongaria terpuruk di mata masyarakat Eropa dan wibawanya langsung melorot.

Kemenangan ini memiliki dampak yang sangat kuat bagi Beyazid dan masyarakat Islam. Maka Bayazid segera mengirimkan surat pada para penguasa Islam di wilayah Timur dan memberikan kabar gembira pada mereka tentang kemenangan yang demikian gemilang atas pasukan Salib Kristen. Bersama para utusan, dikirimkan pula beberapa tawanan perang laki-laki kepada para penguasa Islam sebagai hadiah dari seorang yang menang perang dan sebagai indikasi material atas kemenangan yang telah dicapainya. Sedangkan Bayezid sendiri mengangkat dirinya sebagai sultan Romawi, sebagai bukti bahwa dia telah mewarisi pemerintahan Seljuk dan telah menguasai Anatolia. Ia juga mengirimkan utusan pada Al-Mutawakkil I, khalifah Bani Abbasiyah yang saat itu berada di Kairo, untuk mengokohkan gelar ini hingga dia bisa menggunakan gelar ini dalam kesultanannya yang telah dia usahakan bersama para pendahulunya. Dengan adanya pengesahan ini maka dia memiliki legalitas dan akan semakin kuat wibawa dan posisinya di dunia Islam. Barquq, Sultan Mamluk yang melindungi Khalifah Bani Abbasiyah menerima permintaan ini. Dia melihat bahwa Bayezid adalah sekutu satu-satunya dalam usaha mencegah kekuatan Timur Lenk yang sedang mengancam kekuasaan pemerintahan Mamluk (yang berpusat di Mesir) dan Utsmani.

Pengepungan Konstantinopel[sunting | sunting sumber]

Sebelum Pertempuran Nikopolis, Bayazid mampu menekan Kekaisaran Bizantium dan memerintahkan pada Kaisar Manuel II untuk memilih qadi di Konstantinopel yang bertugas memutuskan perkara yang terjadi antara kaum Muslim. Bayezid terus mengepung ibu kota Bizantium, hingga akhirnya kaisar menerima pembentukan mahkamah Islam, pembangunan masjid, pembangunan 700 rumah khusus untuk kaum Muslimin di dalam kota. Sebagaimana ia juga menyerahkan separuh desa Ghalthah yang menjadi tameng Utsmani karena di dalamnya ada 6.000 tentara. Upeti yang harus diserahkan oleh Bizantium juga dinaikkan. Kas negara pemerintahan Utsmani mewajibkan untuk menyetorkan kurma, dan sayur-sayuran yang berada di luar kota.

Setelah mengalami kemenangan yang gemilang dalam Pertempuran Nikopolis, pemerintahan Utsmani mampu mengokohkan kakinya di Balkan di mana rasa takut dan khawatir telah merebak pada rakyat Balkan. Sedangkan Bulgaria tunduk di bawah pemerintahan Utsmani. Sementara itu tentara Utsmani terus melakukan pengawasan kemerosotan Kristen dan kemurtadan mereka. Sultan Bayezid menjatuhkan sanksi pada pembesar-pembesar Moreas, yang telah dengan sengaja memberikan bantuan militer pada aliansi Salibis sebagai sanksi terhadap kaisar Bizantium, atas sikapnya yang menyatakan permusuhan tatkala Bayezid memintanya menyerahkan Konstantinopel. Setelah itu, Kaisar Manuel II meminta bantuan pada beberapa pemerintahan di Eropa, namun tidak ada respon positif yang dia terima.

Penaklukkan Konstantinopel menjadi target utama dalam program jihad Sultan Bayezid I. Oleh sebab itulah, dia bergerak sendiri memimpin pasukan Utsmani dan melakukan pengepungan ibu kota Bizantium yang demikian rapi dan melakukan tekanan yang keras. Pengepungan ini berlangsung sedemikian rapi, hingga membuat kota itu hampir menemui keruntuhannya. Tatkala Eropa menunggu hari-hari kejatuhan ibukota Bizantium, tiba-tiba Sultan memalingkan perhatiannya dari penaklukkan kota Konstantinopel, karena munculnya bahaya baru yang mengancam pemerintahan Utsmani, yaitu serangan dari Tamerlane (Timur Lenk).

Serangan Tamerlane[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa sebab yang menimbulkan bentrokan antara Timurlenk dan Bayezid I, yakni:

  • Para petinggi di Irak yang negerinya kini dikuasai Emir Timur meminta perlindungan pada Bayezid, sebagaimana para penguasa di Asia Kecil meminta perlindungan pada Tamerlane. Akibatnya, pada kedua sisi pihak yang meminta perlindungan ini selalu mendorong terjadinya perang melawan pihak yang lain.
  • Provokasi-provokasi Kristen terhadap Tamerlane untuk menumpas Bayezid.
  • Adanya surat-surat yang membakar dari kedua belah pihak. Dalam salah satu surat yang dikirim Tamerlane pada Bayazid, dia menyatakan penghinaan yang sangat pedas tatkala dia menyebutkan secara implisit tentang ketidakjelasan asal usul garis keturunannya. Dia menawarkan pengampunan atasnya, karena dia telah menganggap Utsmaniyah telah banyak membaktikan diri untuk kepentingan Islam. Dia mengakhiri suratnya – sebagai pimpinan Turki – dengan mengecilkan posisi Bayazid yang telah menerima tantangan dan yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia akan melawan Tamerlane yang akan merampas kesultanannya.
  • Kedua pemimpin ini sama-sama berusaha untuk meluaskan wilayah kekuasaannya.

Tamerlane bersama-sama balatentaranya bergerak dan dia mampu menguasai Sivas dan menekuklututkan bala tentara Utsmani di tempat itu yang dipimpin oleh Ertuğrul bin Bayezid. Kedua pasukan bertemu dekat Angora (kini Ankara) pada tahun 1402. Kekuatan tentara Bayezid mencapai 120.000 jiwa, sedangkan Tamerlane bergerak dengan kekuatan pasukan yang demikian banyak pada tanggal 20 Juli 1402. pada peperangan ini orang-orang Mongol berhasil mengalahkan tentara Utsmani dan Bayezid sendiri jatuh sebagai tawanan. Dia berada di dalam tahanan itu hingga meninggal setahun setelah itu.

Kekalahan ini disebabkan oleh ketergesa-gesaan Bayezid, sehingga dia tidak memilih tempat dengan cara yang sebaik-baiknya bersama-sama dengan tentaranya. Padahal jumlah tentaranya tidak kurang dari 120.000 orang, sedangkan tentara Tamerlane berjumlah tidak kurang dari 800.000 tentara. Banyak tentara Bayezid yang meninggal kehausan karena kekurangan air. Waktu itu adalah musim panas yang demikian gersang. Hampir saja kedua pasukan itu bertemu di Angora, hingga akhirnya tentara Tartar yang berada di barisan Bayezid dan tentara-tentara yang berasal dari negara-negara Asia yang berhasil ditaklukkan dalam masa beberapa waktu yang lalu juga melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Tamerlane.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lowry HW. 2003 The Nature of the Early Ottoman State. Albany: State University of New York Press
  2. ^ Runciman S. The Fall of Constantinople. Cambridge: Cambridge University Press
  • Ash-Shalabi AM. 2004. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Didahului oleh:
Murad I
Sultan Utsmaniyah
1389-1403
Diteruskan oleh:
Mehmed I