Kota Bau-Bau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bau-Bau)
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Bau-Bau
Bau-Bau.png
Lambang Kota Bau-Bau
Moto: Baubau Kota Semerbak
Kota Bau-Bau.jpg
Lokasi Sulawesi Tenggara Kota Bau-Bau.svg
Peta lokasi Kota Bau-Bau
Koordinat: 5.21°–5.33° LS dan 122.30°–122.47° BT
Provinsi Sulawesi Tenggara
Dasar hukum UU No. 13 Tahun 2001
Tanggal 21 Juni 2001
Pemerintahan
 - Walikota Drs. A.S. Tamrin, M.H.
 - DAU Rp. 317.920.877.000,-(2011)[1]
Luas 306 km2
Populasi
 - Total 136.991 jiwa
 - Kepadatan 447,68 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0402
Pembagian administratif
 - Kecamatan 6
 - Kelurahan 38
 - Situs web www.baubaukota.go.id

Kota Bau-Bau atau Baubau adalah sebuah pemerintahan kota di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Bau-Bau memperoleh status kota pada tanggal 21 Juni 2001 berdasarkan UU No. 13 Tahun 2001. Kota Baubau didirikan pada tanggal 17 Oktober 1541.[butuh rujukan]

Bau-Bau menduduki peringkat ke-8 sebagai kota terbesar di Sulawesi berdasarkan jumlah populasi tahun 2010 atau urutan ke-2 untuk Provinsi Sulawesi Tenggara [2]. Hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2006 berjumlah 122.339 jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat jumlah penduduk laki-laki sebanyak 57.027 jiwa (46,61%) dan perempuan 65.312 jiwa (53,39%).

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Kota Baubau sebanyak 137.118 jiwa, dengan kepadatan sebesar 1.113 per km², dan pertumbuhan sebesar 2,975% per tahun.

Nilai PDRB daerah Kota Bau-Bau berdasarkan harga berlaku pada tahun 2007 sebesar. Rp 1.254,49 miliar, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar Rp. 586,32 miliar.[3]

Pada tanggal 19 Februari 2005, Bau-Bau diguncang gempa bumi berkekuatan 6,9 skala Richter. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, Bau-Bau merupakan pusat Kerajaan Buton (Wolio) yang berdiri pada awal abad ke-15 (1401–1499). Buton mulai dikenal dalam Sejarah Indonesia karena telah tercatat dalam naskah Nagarakretagama karya Prapanca pada Tahun 1365 Masehi dengan menyebut Buton atau Butuni sebagai Negeri (Desa) Keresian atau tempat tinggal para resi dimana terbentang taman dan didirikan lingga serta saluran air dengan rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Cikal bakal negeri Buton untuk menjadi sebuah Kerajaan pertama kali dirintis oleh kelompok Mia Patamiana (si empat orang) yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo dan Sijawangkati yang oleh sumber lisan di Buton mereka berasal dari Semenanjung Tanah Melayu pada akhir abad ke-13.

Kejayaan masa Kerajaan Buton (Wolio) sampai Kesultanan Buton sejak berdiri pada tahun 1332 sampai dengan 1960 telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang gemilang. Sampai saat ini masih dapat disaksikan berupa peninggalan sejarah, budaya seperti naskah kuno yg tersimapan pada garis keturunan Laode dan Waode di pulau buton, sedangkan naskah lain masih banyak yg dibawa ke belanda oleh bangsa belanda sendiri pada saat penjajahan mereka dan arkeologi seperti kuburan raja dan sultan,benteng pertahanan keraton,pintu gerbang yg disebut lawa,meriam tua dan masih banyak lagi yg lainnya. Saat ini wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa kabupaten dan kota, yaitu Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Muna Barat, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, dan Kota Bau-Bau.

Keadaan wilayah[sunting | sunting sumber]

Luas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kota Bau-Bau mempunyai wilayah daratan seluas 221,00 km², luas laut mencapai 30 km² merupakan kawasan potensial untuk pengembangan sarana dan prasarana transportasi laut.

Letak geografis[sunting | sunting sumber]

Secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 5.21° – 5.33° Lintang Selatan dan di antara 122.30° – 122.47° Bujur Timur atau terletak di sebelah Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Wilayah Kota Bau-Bau berbatasan dengan:

Utara Selat Buton
Selatan Kecamatan Pasar Wajo, Kabupaten Buton
Barat Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton
Timur Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kota Bau-Bau pada umumnya memiliki permukaan yang bergunung, bergelombang dan berbukit-bukit. Di antara gunung dan bukit-bukit terbentang dataran yang merupakan daerah-daerah potensial untuk mengembangkan sektor pertanian.

Hidrologis[sunting | sunting sumber]

Kota Bau-Bau memiliki pula sungai yang besar, yaitu sungai Bau-Bau yang membatasi Wolio dan Betoambari serta membelah ibu kota Bau-Bau. Sungai tersebut umumnya memiliki potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber tenaga, irigasi dan kebutuhan rumah tangga.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Keadaan iklim di daerah Kota Bau-Bau umumnya sama dengan daerah lain disekitarnya yang mempunyai 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan suhu udara berkisar 20 °C–33 °C.

Musim hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember dan Maret, pada bulan–bulan tersebut angin barat yang bertiup dari Asia dan Samudera Pasifik mengandung banyak uap air, musim kemarau terjadi mulai bulan Mei sampai bulan Oktober, pada bulan-bulan ini angin timur yang bertiup dari Australia kurang mengandung uap air.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan daerah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kota Bau-Bau terdiri dari 8 kecamatan, yaitu:

Kota Bau-Bau saat ini dipimpin oleh Walikota Drs. Drs. A.S. Tamrin, MH (2013-2018) dan Wakil Walikota Wa Ode Maasra Manarfa, S.Sos, MSi , dengan pusat pemerintahan di Kompleks Perkantoran Palagimata.

DPRD[sunting | sunting sumber]

Komposisi dan anggota DPRD Kota Bau-Bau tahun 2006 sebanyak 25 orang yang terdiri dari 5 orang dari Fraksi Golkar, 5 orang dari Fraksi Bulan Bintang, 4 orang dari Fraksi Amanat Rakyat, 6 orang dari Fraksi Partai Nasional Banteng Kemerdekaan dan 5 orang dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.

Pemerintahan Desa[sunting | sunting sumber]

Wilayah daerah Kota Bau-Bau terdiri dari 40 desa/kelurahan. Pada tahun 2003 dengan jumlah desa 9 dan kelurahan 29, pada tahun 2004 berubah menjadi 38 kelurahan, sedangkan pada tahun 2005 tidak ada perubahan, pada tahun 2011 berubah lagi menjadi 40 kelurahan

Klasifikasi tingkat desa di Kota Bau-Bau tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 tidak ada perubahan di mana terdapat 14 desa swakarya dan 24 desa Swasembada. Sedangkan jumlah Kepala Kelurahan menurut jenis kelamin di Kota Bau-Bau yakni 35 orang Lurah laki-laki dan 3 orang Lurah perempuan.

Kependudukan dan tenaga kerja[sunting | sunting sumber]

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kota Bau-Bau menurut hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 1990 berjumlah 77.224 jiwa dan sepuluh tahun kemudian pada tahun 2000 mencapai 106.092 jiwa, sehingga laju pertumbuhan penduduk per tahun selama 10 tahun sebesar 3,23%. Angka pertumbuhan ini cukup besar karena dipicu oleh adanya eksodus baik dari Ambon maupun dari Timor Leste. Hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2006 berjumlah 122.339 jiwa. Dari jumlah tersebut terdapat penduduk laki-laki sebanyak 57.027 jiwa (46,61%) dan perempuan 65.312 jiwa (53,39%).

Tenaga kerja[sunting | sunting sumber]

Penduduk usia kerja di Kota Bau-Bau pada tahun 2005 sebanyak 95.880 orang, sebanyak 51.610 orang atau 53,83 persen merupakan angkatan kerja dan sisanya sebanyak 44.270 orang atau 46,17 persen bukan angkatan kerja. Angkatan kerja tersebut terdiri dari 40.495 orang (78,46 persen) adalah bekerja dan 11.115 orang (21,54 persen) merupakan pencari kerja (penggangguran terbuka).

Sosial[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun pelajaran 2002/2003 jumlah Sekolah Taman Kanak-Kanak meningkat yaitu 46 unit tahun pelajaran 2002/2003 menjadi 54 unit tahun pelajaran 2005/2006 jumlah guru pada tahun 2002/2003 166 orang menjadi 230 orang pada tahun pelajaran 2005/2006, sedangkan jumlah murid mengalami peningkatan dari 2.291 orang pada tahun 2002/2003 menjadi 2.637 orang pada tahun pelajaran 2005/2006 atau naik 15,10 persen. Rasio antara guru terhadap sekolah TK tahun pelajaran 2005/2006 rata-rata 4 orang, rasio murid terhadap sekolah rata-rata 49 orang dan murid terhadap guru rata-rata 11 orang.

Jumlah Sekolah Dasar pada tahun pelajaran 2002/2003 sampai dengan tahun pelajaran 2005 / 2006 adalah 64 unit, pada tahun pelajaran yang sama jumlah guru meningkat dari 846 orang menjadi 940 orang atau naik sebesar 11,11 persen, demikian juga dengan jumlah murid dari tahun pelajaran 2002/2003 sebesar 17,262 orang menjadi 17.127 orang pada tahun pelajaran 2005/2006 atau turun 0,78 persen. Rasio guru terhadap sekolah pada tahun pelajaran 2005/2006 rata-rata 15 orang guru setiap sekolah, rasio murid terhadap sekolah 268 orang, sedangkan rasio murid terhadap guru rata-rata 18 orang.

Pada tahun pelajaran 2002/2003 jumlah sekolah menengah pertama (SMP) berjumlah 13 unit menjadi 19 unit pada tahun pelajaran 2005/2006 atau naik 46,15%. Pada tahun pelajaran yang sama jumlah guru meningkat dari 489 orang menjadi 570 orang atau naik 17,59%. Tahun 2002/2003 jumlah murid 7.436 orang menurun menjadi 7.234 orang. Pada tahun pelajaran 2005/2006 atau turun 2,72%. Rasio antara guru terhadap sekolah tahun pelajaran 2005/2006 rata-rata 30 orang per sekolah, rasio murid terhadap sekolah rata-rata 381 orang dan rasio murid terhadap guru rata-rata 13 orang.

Jumlah Sekolah Menengah Atas/SMA pada tahun pelajaran 2002/2003 sampai dengan tahun pelajaran 2004/2005 tidak ada perubahan yaitu 14 unit, tetapi pada tahun pelajaran 2005/2006 menjadi 17 unit. Jumlah guru pada tahun pelajaran 2002/2003 yakni 607 orang menjadi 733 orang pada tahun pelajaran 2005/2006 atau naik 20,76%. Demikian pula jumlah murid menurun dari 9.033 orang tahun pelajaran 2002/2003 menjadi 8.697 orang pada tahun 2005/2006 atau turun 3,72%. Dilihat dari rasio guru per sekolah pada tahun 2005/2006 rata–rata 43 orang dan rasio murid terhadap sekolah rata-rata 512 orang dan murid terhadap guru rata-rata 12 orang.

Jumlah Mahasiswa Universitas Dayanu Ikhsanuddin yakni pada semester ganjil[per kapan?] sebanyak 1.406 dan semester genap sebanyak 1.408 dengan alumni sebanyak 249 orang. Sementara untuk jumlah dosen sebanyak 165 orang dengan tenaga administrasi 33 orang. Pada Universitas Islam Buton Nusantara memiliki mahasiswa pada semester ganjil sebanyak 752 dan pada semester genap sebanyak 807 dengan jumlah dosen sebanyak 51 serta tenaga administrasi sebanyak 8 orang. Universitas Muhammadiyah pada tahun 2005/2006 memiliki mahasiswa pada semester ganjil sebanyak 2.318 dan jumlah mahasiswa pada semester genap sebanyak ... dengan jumlah dosen sebanyak 115 serta tenaga adminitrasi sebanyak 14 orang. Sedangkan untuk STAI pada tahun 2005/2006 memiliki mahasiswa pada semester ganjil dan semester genap masing-masing sebanyak 583 dan 742 dengan jumlah dosen sebanyak 50 serta tenaga administrasi sebanyak 15 orang.

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Sarana dan pelayanan kesehatan di Daerah Kota Bau-Bau pada tahun 2005 seperti rumah Sakit terdapat 2 buah (kini 3 buah), Puskesmas 12 buah, Pustu sebanyak 17 buah, Puskesmas Keliling sebanyak 9 unit. Informasi jumlah tenaga medis dan paramedis tahun 2005, yakni jumlah Dokter Spesialis sebanyak 12 orang, Dokter Umum sebanyak 3 orang, Apoteker 5 orang, Sarjana Kesehatan Masyarakat sebanyak 8 orang, Perawat sebanyak 170 orang, Anastesi sebanyak 4 orang dan Analisis Laboratorium Kesehatan sebanyak 6 orang.

Agama[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2005 jumlah sarana peribadatan di Kota Bau-Bau sebanyak 120 buah yang terdiri dari masjid 73 buah, mushala 32 buah, gereja Katolik 2 buah, gereja protestan 7 buah dan pura/vihara 6 buah. Selain itu juga jumlah jemaah haji, dimana tahun 2001 sebanyak 160 orang menjadi 203 orang pada tahun 2005 atau naik 26,88 persen.

Sosial lainnya[sunting | sunting sumber]

Jumlah penyandang cacat di Kota Bau-Bau tahun 2005 sebanyak 538 orang yang terdiri dari cacat ganda 9 orang, tuna netra 47 orang, tuna wicara/rungu 54 orang, cacat anggota badan 269 orang, cacat mental 157 orang, penyenang ex. penyandang penyakit kronis 2 orang.

Sementara itu jumlah peristiwa bencana alam yang terjadi di Kota Bau-Bau pada tahun 2005 tercatat sebanyak 10 kali yang terdiri dari banjir 1 kali, kebakaran 7 kali dan lainnya sebanyak 2 kali.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pertanian dan perkebunan[sunting | sunting sumber]

Tanaman padi sawah pada tahun 2005 memiliki luas panen 1.697 Ha dengan hasil produksi sebesar 8.145,2 ton yang hanya terkonsentrasi pada 2 kecamatan yakni Kecamatan Sorawolio dengan luas panen sebesar 18 Ha yang mencapai produksi sebesar 86,6 ton, kemudian Kecamatan Bungi dengan luas panen 1.678 Ha yang mencapai hasil produksi sebesar 8.725,6 ton. Bila dibandingkan dengan tahun 2004 maka produksi padi sawah terjjadi kenaikan sebesar 26.03% dimana pada tahun 2003 produksi padi sawah mencapai 6.463 ton.

Untuk tanaman padi ladang juga terkonsentrasi pada 3 kecamatan yaitu Kecamatan Betoambari dengan luas panen 20 Ha yang mencapai hasil produksi sebesar 72,4 ton, kemudian Kecamatan Sorawoilo dengan luas panen 405 Ha serta mencapai hasil produksi sebesar 1.470,15 ton, Kecamatan Bungi dengan luas panen 27 Ha yang mencapai hasil produksi sebesar 97,47 ton. Bila dibandingkan dengan tahun 2004 dimana produksi padi ladang mencapai 706,30 ton sedangkan tahun 2005 mencapai 1.636,24 ton maka terjadi peningkatan produksi sebesar 131,66%.

Pada tahun 2005 luas panen tanaman jagung mencapai 373 Ha dengan hasil 818,4 ton dimana terjadi peningkatan hasil produksi sebesar 29,09% bila dibandingkan dengan hasil produksi pada tahun 2004 yang mencapai 634 ton. Untuk tanaman ubi kayu dengan luas panen 130 Ha mencapai hasil produksi sebesar 1.249,3 ton dimana terjadi pula peningkatan hasil produksi tanaman ubi kayu sebesar 68,60% bila dibandingkan dengan hasil produksi tahun 2004 yang mencapai 741 ton.

Hasil produksi sayur-sayuran pada tahun 2005 masih didominasi oleh kacang panjang, terong dan tomat, masing-masing dengan hasil produksi sebesar 5.875 kuintal, 238 kuintal dan 82,5 kuintal.

Hasil produksi buah-buahan yang paling menonjol adalah buah pisang pada tahun 2005 sebesar 58,834 kuintal. Sama halnya dengan nangka dengan hasil produksi pada tahun 2005 sebesar 45,090 dan berikutnya adalah buah mangga sebesar 18.559 kuintal.

Komoditas hasil perkebunan yang mengalami peningkatan hasil produksi, yakni kemiri dengan hasil produksi 103,94 ton pada tahun 2004 menjadi 241,666 ton pada tahun 2005, enau dari 93,96 ton menjadi 13,920 ton, kapuk dari 51,18 ton menjadi 30.044 ton dan kelapa dalam dari 56,01 ton menjadi 182,41 ton, jambu mete dimana pada tahun 2004 sebesar 196,19 ton menjadi 244,695 ton pada tahun 2005.

Peternakan dan Perikanan[sunting | sunting sumber]

Jumlah produksi ternak besar dan kecil pada tahun 2005, yakni sapi sebanyak 1.380 ekor, kuda sebanyak 7 ekor, kambing sebanyak 940 ekor dan babi sebanyak 1.188 ekor. Sedangkan untuk ternak unggas, yakni ayam buras sebanyak 152.330 ekor, ayam ras sebanyak 105.000 ekor dan itik/bebek sebanyak 6.470 ekor.

Hasil produksi perikanan pada tahun 2005 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2004, dimana untuk perikanan laut tahun 2005 mencapai 12.779,88 ton turun menjadi 9,92% dibandingkan dengan tahun 2004 yang mencapai 14.188 ton. Produksi perikanan darat tahun 2005 mencapai 23,6 ton atau menurun sebesar 28,49% dibandingkan dengan tahun 2004 yang mencapai 33,00 ton.

Industri[sunting | sunting sumber]

Industri besar antara tahun 2004 dan tahun 2005 tidak terjadi penambahan yaitu sebanyak 1 buah dengan jumlah tenaga kerja 280 orang, sedangkan industri sedang, industri kecil dan industri rumah tangga terjadi penambahan masing-masing secara berturut dari 3 buah menjadi 4 buah dengan jumlah tenaga kerja 92 oran, dari 50 buah menjadi 59 buah dengan jumlah tenaga kerja 227 orang, dari 39 buah menjadi 123 buah dengan tenaga kerja sebanyak 384 orang.

Daya terpasang listrik pada tahun 2004 mencapai 14.313.150 kwh sedangkan pada tahun 2005 sebanyak 175.849.850 kw atau meningkat 91,86 persen. Jumlah pelanggan tahun 2004 sebanyak 15.437 dan tahun 2005 sebanyak 61.841. listrik terjual tahun 2004 sebanyak 22.248.988 kwh dan tahun 2005 sebanyak 57.677.122 kwh dan nilai penjualan listrik tahun 2004 sebanyak Rp. 13.233.889.000,- dan tahun 2005 meningkat menjadi Rp. 34.311.908.000,-.[butuh rujukan]

Jumlah pelanggan air minum tahun 2004 sebanyak 7.848 sedangkan tahun 2005 mencapai 7.958 atau terjadi peningkatan sebesar 1,38 persen. Volume air yang disalurkan ke pelanggan tahun 2005 juga mengalami peningkatan sebesar 9,65 persen dari tahun sebelumnya, yaitu dari 2.214.473 m3 tahun 2004 menjadi 2.450.882 m3 tahun 2005. Sedangkan nilai air minum yang disalurkan / didistribusikan tahun 2005 mencapai Rp. 3.041.168.000,- sedangkan tahun 2004 sebanyak Rp. 3.262.980.000,- atau mengalami penurunan 7,29 persen.[butuh rujukan]

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Secara kuantitatif komoditi-komoditi potensial yang diperdagangkan antar pulau melalui pelabuhan Bau-Bau antara lain adalah hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, hasil hutan dan industri. Total volume komoditi yang diperdagangkan pada tahun 2005 sebesar 9.470.139,4 ton, 98.000 biji, 1.207 m3 dan 10.594 buah dengan nilai Rp. 78.284.641.335,- dimana komoditi perkebunan merupakan komoditi tertinggi yang diperdagangkan, yaitu sebesar 665.201 ton dengan nilai sebesar Rp. 35.866.963.335,- dan komoditi yang terkecil adalah peternakan, yaitu sebesar 31,25 ton dengan nilai sebesar Rp. 151.250.000,-.

Angkutan dan komunikasi[sunting | sunting sumber]

Aksesibilitas[sunting | sunting sumber]

Kota Bau-Bau adalah daerah penghubung Connecting Area antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), selain itu bagi masyarakat daerah hinterland-nya, Kota Bau-Bau berperan sebagai daerah akumulator hasil produksi dan distributor kebutuhan daerah tersebut, dengan penghubung menggunakan pelabuhan Fery ASDP, yaitu Pelabuhan Batulo.

Kota Bau-Bau dapat diakses secara langsung dengan 3 (tiga) cara, yaitu:

  • Melalui laut dengan menggunakan kapal laut PELNI yang menyinggahi Pelabuhan Murhum sebanyak 24 kali dalam sebulan. Lamanya perjalanan dari Jakarta ke Bau-Bau selama 3 hari.
  • Melalui pintu udara dari Jakarta melalui Kendari dengan menggunakan pesawat Merpati, Garuda, Lion Air, Sriwijaya dan Batavia selama 3 jam selanjutnya menuju ke Bau-Bau dengan menggunakan jet foil (kapal cepat) selama 5 jam sambil menikmati pemandangan pesisir Pulau Buton dan Pulau Muna
  • Melalui pintu udara dari Makasar ke Bau-Bau dengan menggunakan pesawat Express Air (Dornier), Lion Air dan Merpati
  • Melalui pintu udara dari Kendari selama 30 menit dengan menggunakan pesawat Express Air (Dornier).
  • Melalui pintu udara dari Wangi-wangi, ibukota Kabupaten Wakatobi selama 30 menit dengan menggunakan pesawat Express Air.

Panjang jalan[sunting | sunting sumber]

Panjang jalan tahun 2005 di Kota Bau-Bau secara keseluruhan sepanjang 205,04 km yang terdiri dari jalan beraspal sepanjang 139,9 km (69%), kerikil 51,28 km (25%), tanah 9,15 km (4%) dan tidak diperinci sepanjang 4,65 km (2%) dari total 205,04 km. Kondisi jalan yang sedang sepanjang 134,20 km, sedangkan sepanjang 55,14 km dalam kondisi rusak dan rusak berat.

Angkutan[sunting | sunting sumber]

Jenis sarana angkutan darat yang dicakup adalah kendaraan bermotor meliputi mobil penumpang sebanyak 130 buah, mobil barang sebanyak 471 buah, mobil bus sebanyak 506 buah dan sepeda motor sebanyak 7.683 buah.

Jumlah kunjungan kapal laut tahun 2005 di Pelabuhan Murhum tercatat sebanyak 6.818 kunjungan meningkat dibanding tahun 2004 yang hanya mencapai 5.406 kunjungan (naik 26%). Untuk volume bongkar barang mencapai 189.302.391 ton dan muat sebanyak 79.638.571 ton.[butuh rujukan] Untuk penyeberangan kapal ferry selama tahun 2004 tercatat sebanyak 1.681 kunjungan dengan jumlah penumpang yang naik mencapai 115.637 orang dan turun 135.870 orang.

Sarana bandar udara yang ada di kota Bau-Bau yang dapat disinggahi pesawat udara sebagai angkutan penumpang dan barang adalah Bandar Udara Betoambari yang dapat menghubungkan Bau-Bau dan Makassar sebagai bandara transit. Kunjungan kapal terbang yang datang melalui bandar udara Betoambari selama tahun 2005 dengan jumlah kunjungan sebanyak 52 kali dengan jumlah penumpang datang sebanyak 879 orang dan 982 orang yang berangkat. Jumlah lalu lintas barang melalui bandar udara Betoambari tahun 2005 baru mencapai 280 kg bongkar dan 405 kg muat, sedangkan bagasi untuk bongkar mencapai 5.222 kg dan muat 4.908 kg.[butuh rujukan]

Pos dan Telekomunikasi[sunting | sunting sumber]

Dalam penyampaian informasi surat tetap menjadi jalur komunikasi yang utama, karena itu dibutuhkan sarana fisik pelayanan Pos dan Giro yang memadai. Pada tahun 2004 di Kota Bau-Bau sudah tersedia 1 buah Kantor Pos, 1 buah Kantor Pos Tambahan, 1 buah Pos Keliling Kota, 2 buah Rumah Pos dan 9 buah Bis Surat.

Penggunaan telpon sebagai sarana telekomunikasi di Kota Bau-Bau mengalami peningkatan yang sangat pesat terlihat dari produksi pulsa telepon dan SLJJ tahun 2004 mencapai 55.960.443 pulsa (25,57%) dibanding tahun 2003 yang hanya 44.564.220 pulsa.[butuh rujukan]

Kapasitas sentral telpon tahun 2004 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2003 untuk sambungan telepon induk dari 4.408 sambungan menjadi 4.592 sambungan atau naik 4,17%, sedangkan untuk kapasitas sentral otomat tidak mengalami perubahan.

Media daring[sunting | sunting sumber]

Media daring yang tersedia antara lain:

Media cetak[sunting | sunting sumber]

Awalnya di Baubau hanya terdapat satu surat kabar lokal, yakni harian Radar Buton. Namun mulai tanggal 1 Maret 2011, harian Baubau Pos yang sebelumnya merupakan media online, resmi terbit. Selain harian lokal, beredar pula surat kabar dari luar Kota Baubau yakni Kendari Pos, Kendari Ekspres, dan Media Sultra, serta harian nasional lainnya.

Radio[sunting | sunting sumber]

Beberapa radio yang ada di Baubau antara lain:

  • Radio La Wero 100,2 MHZ, Kel. Batulo
  • Radio Techno 91,1 MHZ, Kel. Bataraguru Telp. 2821459
  • L. Radio 93,50 MHZ, Kel. Tomba Telp. 2821212
  • Radio Syekh Abdul Wahid 98,60 MHZ, Kel. Bataraguru Telp. 2823052
  • Radio Keraton 91,90 MHZ Kel. Kaobula
  • Radio Suara Bau-Bau 92,7 MHZ, Jl.Pahlawan KM.5 Telp. 2900326
  • Radio Ozzon 105,30 MHZ, Kel. Batulo
  • Radio Blok M 106,90 MHZ, Blok-M RT 2/RW 3
  • Radio Al-Amanah 97 MHZ, Kel. Lia Buku

Televisi[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa TV swasta lokal yang beroperasi di Baubau yaitu Buton Raya TV, BauBau TV, dan Semerbak TV.

Lokasi hotspot[sunting | sunting sumber]

Kota Bau-Bau dalam pemanfaatan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, telah menyediakan fasilitas layanan kepada publik berupa free area hotspot untuk mengakses internet secara gratis, yang berlokasi di beberapa titik-titik pusat ramai kota Baubau yaitu:

  • Area Hotspot Pantai Kamali.
  • Area Hotspot Kantor Walikota Baubau, Palagimata.

Yang Menarik untuk Dikunjungi[sunting | sunting sumber]

Benteng Keraton Buton pada tahun 1928.

Kunjungan wisata di Kota Bau-Bau dapat dibagi menjadi 2 jenis kunjungan utama, yaitu:

  • Wisata sejarah berupa kunjungan wisata ke peninggalan sejarah dari Kesultanan Buton, berupa:
    • Benteng Keraton Buton dan Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena)
    • Masjid Kuba dan Tiang Bendera (Kasuluna Tombi)
    • Rumah Adat (Malige), Badili (Meriam), Samparaja, Lawa dan Baluara.
  • Wisata alam berupa kunjungan melihat pemandangan alam yang indah, berupa:
    • Pantai, yaitu Kamali, Nirwana, Lakeba dan Kokalukuna
    • Air terjun, di antaranya Tirtarimba, Samparona dan Lagawuna
    • Gua, yaitu Lakasa dan Ntiti
    • Pemandian alam Bungi.

Hubungan internasional[sunting | sunting sumber]

Kota kembar (bahasa Inggris:sister city, twin cities, sister cities) atau kota bersaudara adalah konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antar penduduk.

Kota kembar umumnya memiliki persamaan keadaan demografi dan masalah-masalah yang dihadapi. Konsep kota kembar bisa diumpamakan sebagai sahabat pena antara dua kota. Hubungan kota kembar sangat bermanfaat bagi program pertukaran pelajar dan kerjasama di bidang budaya dan perdagangan.

Kota Baubau sudah menjalin hubungan kota kembar dengan Seoul, Korea pada tahun 2010.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 6 Tahun 2011". 2011-02-17. Diakses 2011-05-23. 
  2. ^ "Indonesia: Provinces, Cities & Municipalities". City Population. Diakses 2010-04-28. 
  3. ^ "Lokomotif Pembangunan di Kawasan Timur", TEMPO, No. 3746 (26 Januari-1 Februari 2009)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]