Wae Rebo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Wae Rebo.jpg

Wae Rebo adalah sebuah desa adat terpencil dan misterius di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Terletak di ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut. Di kampung ini hanya terdapat 7 rumah utama atau yang disebut sebagai Mbaru Niang. Pemandangan alam berpadu dengan Mbaru Niang adalah suguhan luar biasa untuk pengunjung yang pernah datang ke Wae Rebo. Menurut legenda masyarakatnya, nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau, Sumatra.[1]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Mbaru Niang dengan 6 rumah lain pada pagi yang dingin di Wae Rebo

Menurut keyakinan orang Wae Rebo, nenek moyang mereka bernama Empu Maro berasal dari Minangkabau. Dalam sebuah kompetisi memperebutkan gadis cantik di Minangkabau, Empu Maro harus berhadapan dengan kakak kandungnya. Para tetua adat meminta mereka untuk melangsungkan pertandingan dengan cara adu kerbau.

Dengan kepintarannya, Empu Maro tidak menurunkan kerbau besar yang kuat dalam adu kerbau itu, dia justru menurunkan anak kerbau yang tidak diberi minum susu seminggu jelang diadu. Empu Maro menambahkan tanduk pada anak kerbau yang haus akan susu itu.

Saat pertandingan, anak kerbau yang haus susu tersebut mengejar kerbau besar lawannya karena haus susu, tanpa disadari oleh musuhnya, sewaktu kerbau kecil ini mencari puting untuk dia menyusu, ketika itu tanduk buatan yang dipasang Empu Maro menusuk tepat di bagian dada kerbau jantan itu. Seketika kerbau jantan mati dan Empu Maro dinyatakan sebagai pemenang.

Jelang persiapan pernikahan Empu Maro dengan gadis tersebut, terdengar isu bahwa kakak kandung Empu Maro tidak terima dengan kekalahannya, dia bermaksud membunuh Empu Maro. Saudara perempuan Empu Maro yang mendengar rencana itu akhirnya meminta Empu Maro untuk segera pergi meninggalkan desa.

Akhirnya Empu Maro pergi meninggalkan desa di Minangkabau tempat kelahirannya dengan menggunakan perahu. Perahu berlabuh hingga ke Makassar. Tidak lama di Makassar, Empu Maro meneruskan perjalanan hingga tiba di Labuan Bajo, Flores. Perjalanan diteruskan sampai ke sebuah tempat yang bernama Waraloka. Empu Maro pindah dari satu desa ke desa lainnya, dimulai dari Waraloka kemudian ke Mangapa’ang, kemudian pindah lagi ke Todo, Popo, Liho, Mofo, Golo Ponto, Ndara, Golo Pando, Golo Damu.

Di desa-desa yang didatangi Empu Maro diatas, beberapa kali dia mendapatkan suasana pertikaian antar warga yang membuat dirinya tidak bisa bertahan lama. Akhirnya, Empu Maro melakukan pendakian dan menemukan tempat yang hingga kini kita kenal dengan nama Wae Rebo dan membangun desa ini dengan penuh ketentraman yang masih terjaga hingga kini.