Venerasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Venerasi atas St. Konradus dari Piacenza (San Corrado), di Noto, Italia.

Venerasi (bahasa Inggris: veneration; bahasa Latin: veneratio, dulia; bahasa Yunani: δουλεία, douleia),[a] atau penghormatan orang kudus, adalah tindakan menghormati seorang kudus/suci (santo/santa), seseorang yang telah diidentifikasi memiliki suatu tingkat kekudusan atau kesucian yang tinggi.[2] Malaikat diberikan venerasi atau penghormatan serupa dalam banyak agama. Secara filologis, "melakukan venerasi" (to venerate) berasal dari kata kerja Latin venerare, yang berarti memandang dengan takzim dan rasa hormat. Venerasi orang suci dipraktikkan, baik secara formal maupun informal, oleh para penganut dari berbagai cabang semua agama besar seperti Kekristenan, Yudaisme,[3] Hinduisme,[4] Islam,[5] dan Buddhisme.[2][4]

Dalam Kekristenan, penghormatan dipraktikkan oleh kelompok-kelompok seperti Gereja Ortodoks Timur, Gereja Katolik Roma, dan Gereja Katolik Timur, yang kesemuanya memiliki beragam prosedur kanonisasi atau glorifikasi. Dalam beberapa denominasi Kristen, penghormatan ditunjukkan secara lahiriah dengan cara membungkuk dengan hormat atau membuat tanda salib di hadapan ikon, relikui, atau patung orang suci, ataupun dengan melakukan ziarah ke situs-situs yang dikaitkan dengan orang suci. Praktik penghormatan dianggap sesat oleh denominasi-denominasi ikonoklastik.

Hinduisme memiliki tradisi panjang dalam penghormatan orang-orang suci, yang diungkapkan terhadap berbagai guru dan pengajar kesucian, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Cabang-cabang Buddhisme melakukan ibadah liturgis secara formal terhadap orang-orang suci; Mahāyāna mengklasifikasikan berbagai tingkatan kesucian.[2][4]

Dalam Islam praktek venerasi adalah terlarang dan merupakan suatu bentuk kesyirikan. Praktek ini memberikan salah satu dari jenis-jenis ibadah yang terkhusus untuk Allah namun diberikan kepada selain Allah, yaitu kepada orang-orang saleh atau para wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Jenis venerasi yang dilaksanakan seperti penghormatan yang berlebihan terhadap Wali, berdoa kepada orang yang mati, tidak berhak atau tidak mampu, meminta hal yang khusus milik Allah seperti minta keselamatan, jodoh, rejeki, kesehatan, umur, dll. Sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab ulama. Mayoritas kelompok dari Ahlus Sunnah (Sunni), melarang dan menentang praktek ini.[6] Praktek venerasi dalam Islam umumnya dilakukan kaum Syi'ah, Sufisme dan sebagian sekte Sunni, serta dalam banyak bagian Asia Tenggara, bersama dengan agama rakyat, yang sering menggabungkan beragam praktik dan keyakinan setempat.[7][8]

Dalam Yudaisme, tidak ada pengakuan secara formal ataupun klasik atas orang-orang suci, namun terdapat sejarah panjang penghormatan yang ditunjukkan terhadap para martir dan pahlawan biblika. Di beberapa daerah, misalnya dalam Yudaisme di Maroko, terdapat suatu tradisi yang telah lama dan tersebar luas akan penghormatan orang suci.[2][3][4]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kata veneratio dalam bahasa Latin dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi venerasi, yang berarti "penghormatan".[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ J.S. Badudu (2003), Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Penerbit Buku Kompas, p. 361, ISBN 9789797090630 
  2. ^ a b c d (Inggris) Lindsay Jones, ed. (2005). Thomson Gale Encyclopedia of Religion (dalam Tajik). Sainthood (Second ed.). Macmillan Reference USA. p. 8033. 
  3. ^ a b (Inggris) "Veneration of saints is a universal phenomenon. All monotheistic and polytheistic creeds contain something of its religious dimension... " Issachar Ben-Ami (1998). Saint Veneration Among the Jews in Morocco. Wayne State University Press. p. 13. ISBN 978-0-8143-2198-0. Diakses tanggal 7 September 2012. 
  4. ^ a b c d (Inggris) Werner Stark (1966). Sociology of Religion. Taylor & Francis. p. 367. GGKEY:ZSKE259PDZ9. Diakses tanggal 7 September 2012. 
  5. ^ (Inggris) Florian Pohl (1 September 2010). Modern Muslim Societies. Marshall Cavendish. pp. 294–295. ISBN 978-0-7614-7927-7. Diakses tanggal 7 September 2012. 
  6. ^ (Inggris) Kim Murphy (2003-05-08). "Saudi Shiites Take Hope From Changes Next Door". Los Angeles Times. while most Sunnis view them as fellow, though possibly misguided, Muslims, Shiites are regarded as infidels by the Saudi religious establishment, which adheres to the ultraconservative and austere variation of Sunni faith known as Wahhabism. Saudi religious leaders see the Shiite veneration of saints and shrines, celebration of the prophet Muhammad's birthday and other rituals as sinful. 
  7. ^ (Inggris) "Sufi Islam". Although frequently characterized as the mystical component of Islam, there are also "Folklorist" Sufis, and the "Traditional" Sufis...Sufism is characterized by the veneration of local saints and by brotherhoods that practice their own rituals. 
  8. ^ (Inggris) "Of saints and sinners: The Islam of the Taliban is far removed from the popular Sufism practised by most South Asian Muslims". The Economist. December 18, 2008. In its popular form, Sufism is expressed mainly through the veneration of saints...South Asia is littered with the tombs of those saints. They include great medieval monuments, like the 13th-century shrine of Khwaja Moinuddin Chisti, founder of South Asia’s pre-eminent Sufi order, in Ajmer. But for every famous grave, there are thousands of roadside shrines, jutting into Delhi’s streets, or sprinkled across the craggy deserts of southern Pakistan. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Templat:Orang suci