Vaksin RNA

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Vaksin COVID-19 Moderna, salah satu vaksin RNA yang pertama kali mendapat izin penggunaan oleh badan pengawas obat.
Vaksin COVID-19 Moderna dan Pfizer–BioNTech adalah vaksin RNA pertama yang mendapat izin untuk digunakan pada manusia. Negara yang telah mengizinkannya ditandai dengan warna ungu (Pfizer–BioNTech), hijau (Moderna), dan loreng (keduanya).

Vaksin RNA atau vaksin mRNA adalah jenis vaksin yang menggunakan sebuah molekul alamiah yaitu RNA duta (dikenal juga dengan singkatan bahasa Inggrisnya mRNA, dari messenger RNA) untuk mengaktifkan respons imun.

Vaksin mRNA telah diteliti selama beberapa dasawarsa untuk berbagai penyakit seperti flu, Zika, rabies dan sitomegalovirus CMV, dan penelitian berkembang pesat dengan adanya pandemi COVID-19.[1] Pada Desember 2020, untuk pertama kalinya dua vaksin COVID-19 dari jenis ini mendapat izin dari badan pengawas obat untuk penggunaan umum bagi dewasa, yaitu Vaksin COVID-19 Pfizer–BioNTech dan Vaksin COVID-19 Moderna. Setelah peninjauan hasil uji klinisnya, vaksin Pfizer–BioNTech mendapat izin penggunaan darurat oleh badan pengawas obat di Britania pada 2 Desember 2020 dan kemudian diikuti banyak negara lainnya,[2] sedangkan vaksin Moderna pertama kali mendapat izin penggunaan darurat dari badan pengawas obat Amerika Serikat pada 19 Desember, yang kemudian juga diikuti negara-negara lainnya.[3][4][5][6]

Cara kerja[sunting | sunting sumber]

Diagram yang menjelaskan mekanisme vaksin RNA (dalam bahasa Inggris).

Tidak seperti vaksin mati (kadang disebut "vaksin konvensional") yang mengandalkan patogen (virus atau bakteri) asli yang telah dilemahkan, vaksin RNA menggunakan molekul asam ribunukleat duta (RNA duta) yang dapat memerintahkan sel manusia untuk membuat protein khusus yang mampu mengaktifkan respons imun. Respons imun dari tubuh ini menghasilkan antibodi, yang memberikan proteksi jika terjadi infeksi sebenarnya.[1][7]

Dalam vaksin-vaksin COVID-19 jenis mRNA, molekul RNA duta di dalam vaksin mengandung kode instruksi agar sel manusia dapat membuat protein "duri" serupa dengan yang ditemui dalam permukaan virus COVID-19. Tanpa disertai virus secara keseluruhan, protein duri ini tidak menimbulkan bahaya, tetapi dapat dikenali sebagai molekul asing oleh sistem imun manusia.[1] Akibatnya, sistem imum manusia mulai mengaktifkan respons imun dan membuat antibodi terhadap protein ini, melibatkan sel T pembunuh, sel B, dan sel T pembantu.[7] Hasilnya, tubuh manusia tersebut dapat "mengingat" cara melawan protein ini. Jika di kemudian hari terjadi infeksi COVID-19, tubuh akan mengenali protein duri yang ada di permukaan virus dan mampu membuat respons kuat untuk melindungi diri, seperti halnya vaksin jenis lainnya.[1]

Molekul RNA duta sendiri dipecah dan dibuang oleh sel setelah digunakan untuk membuat protein.[1] Karena RNA adalah molekul berumur pendek, tidak ada risiko bahwa materi vaksin ini akan tercampur dengan materi genetis tubuh yang divaksinasi.[7] Dalam bidang terapeutik RNA, cara kerja yang sama juga diteliti tidak hanya untuk membuat vaksin, tetapi untuk membuat obat yang mengaktifkan sistem imun manusia untuk melawan sel kanker.[1]

Pembuatan dan distribusi[sunting | sunting sumber]

Vaksin RNA memiliki beberapa keuntungan dalam pembuatan dibanding jenis-jenis vaksin sebelumnya. Jenis vaksin ini dapat dirancang dengan cepat setelah urutan genom patogen diketahui, misalnya vaksin COVID-19 Moderna dapat memulai uji klinisnya dalam dua bulan setelah urutan genom SARS-CoV-2 berhasil ditentukan.[7] Jika terjadi mutasi virus yang membutuhkan virus baru, produksi dapat diadaptasi dengan mudah dengan memodifikasi 'cetakan DNA' di awal prosedur.[8] Karena kelebihan-kelebihan ini, jenis vaksin ini diprediksi akan berperan penting dalam menghadapi pandemi-pandemi baru atau patogen-patogen yang sering bermutasi.[7]

Produksi dapat dilakukan dengan proses kimia. Dalam vaksin COVID-19, proses produksi dimuali dengan menggunakan E. coli yang gennya dimodifikasi agar mengandung potongan genom SARS-Cov-2, yang mengandung instruksi pembuatan protein duri. Sel E. coli ini kemudian dibiarkan membelah diri terus menerus selama beberapa hari, kemudian potongan DNAnya yang mengandung instruksi protein duri (ini disebut "cetakan DNA" atau DNA template) diambil dan dimurnikan. Cetakan DNA ini kemudian dicampurkan dengan carian berisi enzim tertenru, dan diberi molekul-molekul nukleotida yang merupakan bahan penyusun RNA. Enzim-enzim tersebut kemudian memproduksi mRNA yang dikehendaki dalam jumlah besar, dengan menggunakan nukleotidanya sebagai bahan dan mengacu pada kode yang ada dalam cetakan DNA. Molekul-molekul mRNA yang dihasilkan kemudian dipisahkan dalam paket-paket sangat kecil dan dibungkus dalam gelembung lemak—paket ini adalah vaksin mRNA yang kemudian didistribusikan.[8] Vaksin untuk penyakit-penyakit berbeda dapat diproduksi dalam pabrik yang sama, sehingga produksinya diprediksi akan lebih ekonomis dibanding vaksin konvensional.[7]

Kulkas khusus dengan suhu -80°C yang digunakan untuk menyimpan vaksin COVID-19 Pfizer–BioNTech. Distribusi suhu ultra rendah adalah salah satu tantangan terkait sebagian vaksin RNA.

Di antara tantangan terkait vaksin RNA adalah mencegah rusaknya molekul RNA, baik oleh lingkungan selama proses distribusi sebelum mencapai tubuh, ataupun oleh tubuh manusia sendiri. Vaksin RNA membutuhkan vial berbahan khusus untuk mencegah reaksi. Sebagian vaksin RNA, termasuk vaksin COVID-19 Pfizer–BioNTech, membutuhkan suhu ultra rendah (jauh dibawah titik beku),[8] sehingga tidak memungkinkan digunakan oleh negara-negara berkembang tanpa fasilitas pembekuan yang memadai.[9][10] Namun, beberapa pabrikan melakukan uji coba vaksin RNA baru dengan tujuan dapat stabil di suhu kulkas biasa (4°C).[8]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Centers for Disease Control and Prevention (4 Maret 2021). "Understanding mRNA COVID-19 Vaccines" (dalam bahasa Inggris). 
  2. ^ Neergaard L, Kirka D (2 December 2020). "Britain OKs Pfizer vaccine and will begin shots within days". Associated Press. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 December 2020. Diakses tanggal 6 December 2020. 
  3. ^ Cohen, Elizabeth (30 November 2020). "Moderna applies for FDA authorization for its Covid-19 vaccine". CNN. Diakses tanggal 4 December 2020. 
  4. ^ Burger, Ludwig (1 December 2020). "COVID-19 vaccine sprint as Pfizer-BioNTech, Moderna seek emergency EU approval". Reuters. Diakses tanggal 4 December 2020. 
  5. ^ Kuchler, Hannah (30 November 2020). "Canada could be among the first to clear Moderna's COVID-19 vaccine for use". The Financial Post. Diakses tanggal 4 December 2020. 
  6. ^ Parsons, Lucy (28 October 2020). "UK's MHRA starts rolling review of Moderna's COVID-19 vaccine". PharmaTimes. Diakses tanggal 4 December 2020. 
  7. ^ a b c d e f Gavi, the Vaccine Alliance (Desember 2020). "What are nucleic acid vaccines and how could they be turned against COVID-19?" (dalam bahasa Inggris). 
  8. ^ a b c d "Vaccine manufacture: How vaccines are made, and why it is hard". The Economist. 4 Februaru 2021. 
  9. ^ "How China's COVID-19 could fill the gaps left by Pfizer, Moderna, AstraZeneca". Fortune. 5 December 2020. 
  10. ^ "Pfizer's Vaccine Is Out of the Question as Indonesia Lacks Refrigerators: State Pharma Boss". Jakarta Globe. 22 November 2020.