Turah (film)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Turah (film)
Poster Turah.jpg
Sutradara Wicaksono Wisnu Legowo
Produser Ifa Isfansyah
Penulis Wicaksono Wisnu Legowo
Pemeran Ubaidillah
Slamet Ambari
Yono Daryono
Rudi Iteng
Firman Hadi
Narti Diono
Bontot Sukandar
Distributor Fourcolours Films
Tanggal rilis
2016
Durasi
83 menit
Negara  Indonesia
Bahasa Bahasa Jawa dialek Tegal

Turah adalah film drama Indonesia berbahasa Tegal produksi Fourcolours Films tahun 2016. Film berdurasi 83 menit ini disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo, diproduseri oleh Ifa Isfansyah (sutradara Pendekar Tongkat Emas), dengan menampilkan para aktor/aktris antara lain Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Firman Hadi, Bontot Sukandar, Narti Diono, dan lain-lain. Turah menceritakan tentang kehidupan masyarakat Kampung Tirang di Kota Tegal yang mengalami isolasi selama bertahun-tahun yang kemudian memunculkan berbagai problema. Tahun 2016, film ini memenangi 3 kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Sedangkan kategori Asian Feature Film Special Mention diraih dalam Singapore International Film Festival.[1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11][12][13][14]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Di pesisir pantai utara, dekat dengan Pelabuhan Tegalsari Kota Tegal, ada sebuah perkampungan yang berdiri di atas tanah timbul. Kampung tersebut dikelilingi oleh air laut dan termasuk wilayah kategori miskin serta terpencil. Listrik menyala hanya pada malam hari serta tidak ada air bersih. Oleh masyarakat sekitar, kampung itu dikenal sebagai Kampung Tirang. Kondisi tersebut menginspirasi sineas muda Tegal, Wicaksono Wisnu Legowo, untuk mengangkat kisah hidup para warga di Kampung Tirang melalui film layar lebar dengan lakon Turah. Proses produksi film itu dilaksanakan di Kampung Tirang, dengan menggandeng para aktor teater, wartawan, dan masyarakat sekitar. Film ini menggambarkan problema sosial masyarakat setempat.

Tahun 2017, film Turah akan mewakili Indonesia dalam ajang Academy Awards atau Oscar ke-90 setelah Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) mengadakan seleksi yang terdiri dari 13 orang, dengan Christine Hakim sebagai ketuanya. Christine, dalam siaran persnya, mengatakan bahwa Turah (produksi Empat Warna Media) dikirim mewakili Indonesia melalui Kategori Film Berbahasa Asing (Foreign Language Film). "13 juri termasuk saya tidak memilih berdasar laiknya Festival Film tapi lebih daripada itu semua," papar Christine Hakim. Sedangkan Mathias Muchus memaparkan, "Kalau kita bicara soal film, secara teknis 'Turah' sangat apik dan sangat konseptual. Bisa kita penggal dari awal gambar muncul ending. Itu ada semacam circle dan pergulatan yang terus berulang ulang. Itu jelas sekali".[15][16]

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Kerasnya persaingan hidup menyisakan orang-orang kalah di Kampung Tirang. Mereka dijangkiti pesimisme dan diliputi perasaan takut. Terutama kepada Darso, juragan kaya yang telah memberi mereka ‘kehidupan’. Pakel, sarjana penjilat di lingkaran Darso dengan pintar membuat kampung makin bermental kerdil. Situasi tersebut memudahkannya untuk terus mengeruk keuntungan. Setitik optimisme dan harapan untuk lepas dari kehidupan tanpa daya hadir pada diri Turah dan Jadag. Peristiwa-peristiwa terjadi, mendorong Turah dan Jadag untuk melawan rasa takut yang sudah akut dan meloloskan diri dari narasi penuh kelicikan. Ini adalah usaha sekuat daya dari mereka, orang-orang di Kampung Tirang, agar mereka tidak lagi menjadi manusia kalah, manusia sisa-sisa.

Para pemain[sunting | sunting sumber]

  • Ubaidillah sebagai Turah
  • Slamet Ambari sebagai Jadag
  • Yono Daryono sebagai Darso
  • Rudi Iteng sebagai Pakel
  • Narti Diono sebagai Kanti
  • Cartiwi sebagai Rum
  • Muh. Riziq sebagai Roji
  • Siti Khalimatus Sadiyah sebagai Sulis
  • Aminah sebagai Nenek Sulis
  • M. Ilham Maulana sebagai Agung
  • Bontot Sukandar sebagai Kandar
  • Sulistyo Kusumawati sebagai Ibu Slamet
  • Firman Hadi sebagai Petugas Sensus 1
  • Lukman Jiwa sebagai Petugas Sensus 2
  • Bambang Suwidagdo sebagai Polisi 1
  • Ali Mukti sebagai Polisi 2
  • Dicky Mareta sebagai Polisi 3
  • Wawan Hudiyanto sebagai Wartawan 1
  • Citra Egi sebagai Wartawan 2
  • M. Haikal sebagai Wartawan 3
  • Khaerul Anam sebagai Wartawan 4

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Suara Merdeka Kisah Warga Kampung Tirang Diangkat ke Layar Lebar diakses 23 November 2016
  2. ^ DPRD Kota Tegal Kisah Warga Kampung Tirang Diangkat ke Layar Lebar diakses 23 November 2016
  3. ^ Singapore International Film Festival Film: Turah diakses 23 November 2016
  4. ^ Jogja-Netpac Asian Film Festival Film:Turah diakses 23 November 2016
  5. ^ Detik Hot Turah Berkompetisi di Singapura dan JAFF-Netpac Asian Film Festival diakses 4 Desember 2016
  6. ^ Suara Merdeka Turah Mengekspose Korupsi dan Kemunafikan, diakses 6 Desember 2016
  7. ^ Film Indonesia: Turah, diakses 23 Februari 2017
  8. ^ Majalah Cobra: Menonton berdendang dan makan bersama di film musik, diakses 23 Februari 2017
  9. ^ MovieGoers Magazine: Film Turah Karya Sutradara Tegal Berlaga di Singapura & JAFF-Netpac Asian Film Festival, diakses 23 Februari 2017
  10. ^ Metro TV News: 'Sajian' di Festival Film Musik Makan 2017, diakses 23 Februari 2017
  11. ^ Turah dan Jadag Melawan Kemelaratan, Indra Permanasari, Kompas, 18 Juni 2017
  12. ^ Tempo: Skenario Terbaik Festival Film Tempo Diraih Film Turah diakses 18 Januari 2018
  13. ^ Tempo: Wicaksono Wisnu Legowo Raih Sutradara Pilihan Tempo 2017 diakses 18 Januari 2018
  14. ^ The Jakarta Post: Turah Director Named Best Director at Asean Film Awards diakses 18 Januari 2018
  15. ^ Hot Detik: Film 'Turah' Mewakili Indonesia di Oscar 2018 diakses 19 Septermber 2017
  16. ^ Metro TV: Film 'Turah' Masuk Nominasi Oscar 2018 diakses 22 September 2017