Lompat ke isi

Tedak siten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tedak siten

Tedak siten (bahasa Jawa: [tedhak sitèn] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) adalah salah satu upacara adat tradisional Jawa yang menandai momen ketika seorang anak untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke tanah atau bumi.[1][2][3] Tradisi ini dikenal juga dengan sebutan mudun lemah atau turun tanah.[4] Upacara ini umumnya dilaksanakan saat anak berusia tujuh lapan kalender Jawa atau sekitar delapan bulan kalender Masehi, yaitu ketika anak mulai belajar duduk dan berjalan.

Tedak Siten merupakan serangkaian prosesi adat daur hidup yang sarat akan makna filosofis dan harapan bagi masa depan anak.[1][2][4] Tujuannya adalah untuk membimbing anak dalam meniti kehidupannya. Melalui upacara ini, orang tua menyampaikan semua harapan dan arahan hidup bagi sang anak. Tradisi ini mengajarkan konsep kemandirian, tanggung jawab, ketangguhan dalam menghadapi persoalan, serta sifat dermawan terhadap sesama.

Selain itu, Tedak Siten merupakan bentuk penghormatan kepada bumi sebagai tempat anak mulai belajar menginjakkan kakinya.[2][3][5] Ini juga menjadi wujud syukur atas perkembangan anak yang mulai mengenal lingkungannya dan belajar melangkah. Dalam budaya Jawa, terdapat filosofi "Ibu Pertiwi Bapa Angkasa", yang mengartikan bumi sebagai ibu dan langit sebagai bapak, sehingga Tedak Siten juga memperkenalkan anak pada ibu pertiwi sebagai simbol tanah tempat berpijak. Harapannya, saat dewasa nanti, anak dapat menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup demi mencapai cita-citanya. Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya berbagi rezeki dan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, sebagaimana diajarkan dalam budaya Jawa dan ajaran Islam.[4]

Perlengkapan

[sunting | sunting sumber]

Untuk melaksanakan upacara Tedak Siten, diperlukan berbagai perlengkapan atau uba rampe yang memiliki makna simbolis tersendiri.[1][2][3][4] Beberapa di antaranya meliputi:

  • Jadah tujuh warna: Makanan yang terbuat dari beras ketan, umumnya memiliki tujuh warna seperti hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan putih,[4] atau merah, putih, hijau, kuning, biru, merah jambu, dan ungu.[1][2] Warna-warna ini menggambarkan beragamnya kesulitan hidup dan rintangan yang tak terhitung jenisnya.
  • Tangga tebu: Terbuat dari batang tebu, sering kali menggunakan tebu jenis arjuna atau tebu wulung.
  • Kurungan ayam: Biasanya dihias dan diisi dengan berbagai macam benda atau mainan seperti alat dapur, alat musik, perhiasan, buku tulis, dan beras.
  • Air dari tujuh sumber: Air yang digunakan untuk memandikan bayi, sering kali diambil dari beberapa sumber yang berbeda dan diyakini memiliki warna, rasa, serta khasiat tersendiri. Air ini kadang diambil pada malam hari dan diembunkan hingga pagi hari sebelum digunakan.
  • Uang koin dan beras kuning: Ditempatkan di tikar atau disebar sebagai udhik-udhik.
  • Nasi tumpeng lengkap dengan gudangan dan nasi kuning: Serta berbagai jenis jenang-jenangan dan jajanan pasar.
  • Ayam panggang dan pisang raja: Melambangkan harapan akan kehidupan yang sejahtera.
  • Gambar tokoh wayang: Digunakan agar anak memilih karakter yang dipercaya dapat membentuk kepribadiannya kelak.
  • Pasir dalam wadah.

Tedak Siten memiliki tujuh rangkaian utama yang masing-masing mengandung makna filosofis.[4] Urutan prosesi ini bervariasi antara daerah, tetapi umumnya meliputi tahapan berikut:

  1. Membersihkan kaki: Orang tua menggendong anak untuk membersihkan kakinya sebelum menginjakkan kaki ke tanah. Ini melambangkan dimulainya kehidupan dengan hati yang suci.
  2. Berjalan melewati tujuh jadah: Anak dituntun berjalan di atas tujuh jadah berwarna berbeda. Makna di baliknya adalah bahwa hidup berawal dari kegelapan dan akan berakhir dengan terang. Angka tujuh (pitu) melambangkan harapan agar anak senantiasa mendapatkan pertolongan (pitulungan) dari Tuhan dalam menghadapi kesulitan hidup. Setiap warna jadah memiliki arti spesifik, seperti merah melambangkan keberanian, kuning melambangkan kekuatan, putih kesucian, merah jambu kasih sayang, biru ketenangan, hijau lingkungan dan kesuburan, serta ungu kesempurnaan atau puncak kehidupan. Jadah disusun dari warna gelap ke terang, menggambarkan bahwa masalah akan selalu menemukan titik terang penyelesaiannya.
  3. Menaiki tangga tebu: Anak dibimbing orang tua untuk menaiki tujuh tangga yang terbuat dari tebu. Kata "tebu" berasal dari antebing kalbu yang berarti kemantapan hati atau tekad yang kuat dan kepercayaan diri. Tangga melambangkan perjalanan hidup yang lurus ke atas agar tidak roboh. Penggunaan tebu jenis arjuna diharapkan anak memiliki sifat ksatria seperti Arjuna yang bertanggung jawab dan tangguh. Setelah turun dari tangga, anak dapat dituntun berjalan di atas pasir, mengaisnya (ceker-ceker) yang melambangkan usaha mencari nafkah.
  4. Memasuki kurungan: Anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang diibaratkan sebagai simbol dunia. Di dalamnya, anak dibiarkan memilih salah satu dari beragam benda atau mainan. Benda yang dipilih ini diyakini melambangkan profesi atau pekerjaan yang kelak akan digeluti anak saat dewasa. Beberapa prosesi juga menyertakan pemilihan gambar tokoh wayang untuk membentuk karakter anak.
  5. Memandikan anak: Anak dimandikan dengan air yang telah diberi bunga. Air ini sering kali berasal dari tujuh sumber berbeda atau diambil pada malam hari dan diembunkan. Prosesi ini bermakna agar anak kelak dapat mengharumkan nama keluarga dan menjadi kebanggaan. Setelah dimandikan, anak diberi pakaian baru.
  6. Memberikan udhik-udhik: Ayah dan kakek anak menyebarkan udhik-udhik (beras kuning dicampur kunyit dan uang logam, atau uang logam dicampur bunga) untuk diperebutkan oleh anak-anak dan orang dewasa yang hadir. Tindakan ini mengajarkan anak untuk selalu berbagi dan bersedekah, dengan harapan ia akan menjadi dermawan dan mudah mendapatkan rezeki.
  7. Bermain dengan teman sebaya: Terakhir, anak digaulkan dan dibiarkan bermain dengan teman sebayanya. Ini melambangkan pentingnya bersosialisasi dan selalu membutuhkan teman dalam hidup, sesuai dengan ajaran habluminanas dalam Islam tentang hubungan baik dengan sesama manusia.

Pelestarian

[sunting | sunting sumber]

Meskipun Tedak Siten merupakan tradisi masyarakat Jawa yang mulai jarang dilaksanakan,[1] masih banyak masyarakat yang melestarikannya karena masih melekat erat dalam budaya Jawa.[5] Para leluhur menganggap tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada bumi. Pelaksanaan tradisi ini dapat berbeda di setiap daerah, tetapi tujuannya tetap sama.

Keberlanjutan tradisi Tedak Siten adalah penting bagi sebagian masyarakat sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa agar tidak punah.[5] Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun sehingga sulit untuk ditinggalkan. Budayawan Jawa, Ki Suryo, berharap tradisi Tedak Siten dapat dijadikan kearifan lokal di Malang, khususnya di kabupaten.[4] Menurutnya, generasi muda saat ini sering kali kehilangan arah dan sopan santun karena melupakan budaya. Oleh karena itu, melestarikan tradisi ini dapat membantu mengatasi krisis moral dan menjaga nilai-nilai luhur kearifan lokal.

Warisan Takbenda

[sunting | sunting sumber]

Tedak Siten telah masuk daftar warisan takbenda yang diakui UNESCO pada 2021.[6]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 "Tedhak Siten, Upacara Adat Menapak Tanah Pertama Bagi Anak". Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-06-18.
  2. 1 2 3 4 5 "Perlengkapan Tedak Siten, yang Perlu Disiapkan dalam Tradisi Jawa Ini!". Best Seller Gramedia. 2024-12-18. Diakses tanggal 2025-06-18.
  3. 1 2 3 "Tradisi Tedak Siten - Ritual Saat Pertama Kali Menginjakan Kaki ke Tanah". 2023-07-23. Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 "Ada Tujuh Rangkaian dan Makna Filosofi dalam Tedak Siten". MalangVoice. 2016-12-12. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. 1 2 3 "Menengok Kearifan Lokal "Tedhak Siten" Yang Masih Lestari Di Masyarakat Desa". Desa Dero Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi. Diakses tanggal 2025-06-18.
  6. Kemendikdasmen. "Tedhak Siten". Referensi Data Kemendikdasmen. Diakses tanggal 8 Februari 20266.

Pranala Luar

[sunting | sunting sumber]