Lompat ke isi

Tamil Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tamil Indonesia
இந்தோனேசியத் தமிழர்
Orang Tamil di Pura Sri Mariamman, Medan, Indonesia.
Jumlah populasi
40.000–75.000
Daerah dengan populasi signifikan
Bahasa
Agama
Kelompok etnik terkait

Tamil Indonesia adalah orang keturunan Tamil yang tinggal di Indonesia. Mayoritas tinggal di Medan, Sumatera Utara meskipun terdapat minoritas di Jakarta, Aceh, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.[1] Komunitas Tamil di Medan berakar dari koloni pekerja perkebunan, tetapi seiring waktu banyak yang meninggalkan sektor perkebunan dan menjadi pedagang, guru, dan profesional lainnya. Mereka membentuk lingkungan sosial dan budaya yang unik, yang kini dikenal sebagai Kampung Madras

Berbeda dengan komunitas Tionghoa, Tamil Indonesia selalu memiliki hubungan yang harmonis dengan kelompok etnis lain di Sumatra Utara, karena latar belakang budaya dan ekonomi mereka tidak terlalu berbeda. Adapun soal pernikahan antar-etnis, baru dalam dua generasi terakhir orang Tamil Indonesia mulai menikah dengan anggota dari kelompok etnis lain.

Sejarah

Era Pra-Kolonial

Orang Tamil memiliki sejarah panjang di Indonesia. Setelah serangan Rajendra Chola I terhadap Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1024–1025, terjadi peningkatan yang signifikan dalam aktivitas ekonomi Tamil di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Salah satu konsekuensi langsung dari invasi Chola tersebut adalah kemunculan Kota Cina, sebuah kota dagang kuno yang kini terletak di bagian utara kota Medan.

Kehadiran mereka juga tercatat dalam Prasasti Lobu Tua yang berasal dari tahun 1088 M, yang menyebutkan tentang Lima Ratus Pedagang dari Ayyavolu, sebuah serikat dagang Tamil di Barus, kota pelabuhan kuno yang kini berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Tamil, dan Barus disebut sebagai Varocu oleh mereka. Orang Tamil yang tinggal secara permanen atau sementara di Barus umumnya berprofesi sebagai pedagang atau perajin. Sebagian dari mereka kemudian bermigrasi ke wilayah Karoland dan Kota Cina, serta berasimilasi dengan masyarakat lokal Karo.

Salah satu marga (merga) dalam suku Karo, yaitu Sembiring, diyakini memiliki hubungan dengan keturunan Tamil. Banyak sub-marga dari Sembiring seperti Colia, Berahmana, Pandia, Meliala, Depari, Muham, Pelawi, dan Tekan memiliki nama yang jelas berasal dari India Selatan. Beberapa ahli menyebutkan bahwa sejumlah aspek dalam tradisi Karo diyakini mendapat pengaruh dari budaya Tamil, seperti cara pemakaman dan urung (federasi desa), yang dianggap terinspirasi dari struktur sosial Tamil pada masa pertengahan.[2]

Bukti lain dari kehadiran Tamil adalah Prasasti Suruaso yang berasal dari abad ke-14. Prasasti ini ditemukan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan ditulis dalam dua bahasa: Melayu Kuno dan Tamil. Orang Tamil juga berasimilasi dengan masyarakat Aceh, dan banyak dari mereka memiliki kemiripan fisik dengan orang Tamil. Namun demikian, mereka tidak lagi mempraktikkan budaya Tamil ataupun menggunakan bahasa Tamil.

Masa kolonial Belanda

Orang Tamil dari India dibawa ke Indonesia oleh pihak Belanda pada awal perkembangan industri perkebunan pada tahun 1830-an.[1] Para agen Belanda mengunjungi desa-desa di India Selatan dan membujuk orang-orang Tamil yang miskin dan tidak berpendidikan untuk datang ke "Tanah Deli" (Sumatra), dengan janji pekerjaan yang mudah dan upah yang baik.

Namun setelah mereka tiba di Indonesia, mereka justru digunakan untuk pekerjaan berat dan ditempatkan di pondok-pondok sederhana. Sebagian besar dari mereka bekerja untuk perusahaan Belanda, Deli Maatschappij, di bawah kondisi kerja yang keras. Sebagian kecil orang Tamil kembali ke India setelah masa kontrak mereka berakhir. Pada akhir tahun 1940-an, banyak dari mereka mendapat kesempatan untuk kembali ke tanah asal dan memilih pulang. Namun, sekitar 5.000 hingga 10.000 orang Tamil tetap tinggal di Sumatra Utara, terutama di Medan, serta di Lubuk Pakam (Kabupaten Deli Serdang), Tebing Tinggi, dan Binjai.

Perang Dunia II dan Kemerdekaan

Setelah berakhirnya Perang Dunia II dan kemerdekaan Indonesia dari Belanda, banyak orang Tamil meninggalkan pekerjaan di perkebunan, dan mereka sering menggunakan kereta sapi sebagai alat transportasi. Kendaraan ini kemudian menjadi sarana mata pencaharian mereka. Beberapa dari mereka bahkan membeli kendaraan militer Jepang yang ditinggalkan, yang kemudian digunakan untuk mengangkut pasir dan bahan bangunan untuk proyek-proyek konstruksi.

Sebagian orang Tamil lainnya mulai mengkhususkan diri dalam perdagangan rempah-rempah di pasar-pasar tradisional, dan beberapa ada yang menjadi kontraktor serta pejabat pemerintahan.

Sebagian besar masyarakat Tamil Indonesia tetap tinggal di Sumatra Utara, kecuali beberapa ratus keluarga yang pindah ke Jakarta, dan komunitas Tamil yang lebih awal bermigrasi ke Sigli di Kabupaten Pidie, Aceh.

Demografi dan Persebaran

Jumlah pasti orang Tamil di Indonesia tidak diketahui, karena sensus nasional tidak mencatat etnis secara rinci, namun diperkirakan berjumlah antara 50.000 hingga 100.000 orang.[3] Mayoritas Tamil Indonesia tinggal di:

Agama

Dari segi agama, mayoritas Tamil Indonesia beragama Hindu, Kristen (Katolik dan Protestan), dan sebagian kecil beragama Islam, terutama keturunan Tamil Muslim dari India Selatan.

Kebudayaan

Masyarakat Tamil di Indonesia tetap mempertahankan identitas budaya mereka yang berbeda meskipun tinggal di masyarakat yang mayoritas berbahasa Melayu. Mereka terus berbicara bahasa Tamil, merayakan festival Tamil seperti Pongal dan Deepavali, serta menjalankan adat dan ritual tradisional mereka.

Kuil Shri Mariamman di Medan, Sumatera Utara, merupakan bukti warisan keagamaan masyarakat. Dibangun pada tahun 1884, ini adalah kuil Hindu Dravida nyang tertua di Indonesia dan merupakan objek wisata yang populer.

Tokoh Tamil Indonesia Terkemuka


Referensi

  1. 1 2 ""Tamils - a Trans State Nation, Indonesia", Tamilnation.org, 15 August 2011.
  2. Andaya, Leonard Y. (2002). "The Trans-Sumatra Trade and the Ethnicization of the 'Batak'". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 158 (3): 367–409. doi:10.1163/22134379-90003770. S2CID 153410250.
  3. Kuppusamy, Barath. "Tamils in Indonesia: A Forgotten Diaspora." Asia Times, 2005.

Pranala luar

Bibliography

  • Baskaran, S. (2009). The Indian diaspora in Indonesia: Continuities and transformations. In Indian Diasporas: Networks, Identities, and Transnational Engagements (pp. 114-137). Routledge.
  • Kumar, A. (2012). The Indian diaspora in Southeast Asia: Dynamics of identity and belonging. In The Indian Diaspora in Southeast Asia (pp. 15-40). Routledge.
  • Muthiah, A. (2008). The Indian community in Southeast Asia: A historical perspective. In The Indian Diaspora in Southeast Asia (pp. 1-14). Routledge.

Ramaswamy, S. (2013). The Tamil diaspora: Negotiating identity and space in the global arena. Routledge.

  • Suryadinata, L. (2011). Peranakan Indians in Indonesia: Acculturation and identity change. In The Chinese Diaspora in Southeast Asia (pp. 167-180). Routledge