T’ongil-gyo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Moon Syun Myung dan istri

T’ongil-gyo adalah gerakan mesianik di Korea yang didirikan oleh Moon Syun Myung.[1] T’ongil-gyo adalah bahasa Korea dari Gereja Unifikasi.[2] Gerakan mesianik ini percaya bahwa pada hari terakhir, Tuhan dari Adven kedua akan datang untuk melengkapi misi Yesus yang belum tuntas.[2][3] Kemudian, Tuhan dari Adven kedua itu akan mendirikan kerajaan surga di bumi ini. [3][2]

Proses pendirian T’ongil-gyo[sunting | sunting sumber]

Moon dilahirkan di Korea Utara, pada tanggal 6 Januari 1920.[1] Menurut Moon, pada saat Paskah tahun 1936, Yesus menampakan diri kepadanya.[1] Yesus mengatakan kepada Moon, bahwa Moon terpilih untuk melengkapi tugas Yesus yang belum selesai di dunia ini.[1] Moon percaya bahwa Yesus Kristus gagal dalam menyelesaikan misi-Nya.[1] Moon mengakui bahwa dirinya mempunyai karunia penglihatan dan spiritual sejak ia lahir.[1] Ia mengaku, seringkali berhubungan dengan Buddha, Khrisna dan Musa.[1] Karena klaim telogisnya ini, pada tahun 1948, Moon diekskomunikasikan oleh gereja Presbiterian di Korea.[1]

Karena diekskomunikasikan oleh Gereja Presbiterian, pada tahun 1954, Moon membentuk T’ongil-gyo.[4] Dalam bahasa Inggris, gereja ini disebut sebagai the Holly Spirit Association for the Unification of World Christianity.[4] Kesempatan kemunculan T’ongil-gyo ini juga turut dirangsang oleh pertikaian teologis yang terjadi pada gereja-gereja di Korea saat itu.[4]

Pada tahun 1957, Moon menulis dan menerbitkan buku yang berjudul Wolli Kagnon (Penjelasan Prinsip Illahi).[5] Isi buku ini adalah penafsiran Moon terhadap Alkitab.[5] Moon menjelaskan bahwa kematian Yesus hanya membawa keselamatan spiritual dan tidak membawa keselamatan jasmani.[5] Ia mengacu Wahyu 7:2 dan menyatakan bahwa dirinya adalah inkarnasi Allah dari Timur (Korea).[5] Moon menganggap seluruh dunia berada di dalam tangannya. Ia menganggap dirinya lebih besar dan lebih mulia dari Yesus.[5]

Menurut Moon, kehidupan rakyat Korea paralel dengan kehidupan bangsa Israel.[1] Bangsa Israel menderita dalam perjalanan di padang gurun selama 40 tahun. Bangsa Korea juga menderita di bawah pemerintahan Jepang selama 40 tahun.[1] Oleh karena itu, cita-cita Moon adalah mendirikan Kerajaan Allah di bumi. Kerajaan Allah ini akan diperintah oleh Moon sendiri.[1] Oleh karena itu, cita-cita Moon adalah mendirikan Kerajaan Allah di bumi. Kerajaan Allah ini akan diperintah oleh Moon sendiri.[1]

Perkembangan T’ongil-gyo[sunting | sunting sumber]

Menurut James, Gereja ini berkembang dengan sangat cepat di Korea Selatan.[5] Pada akhir tahun 1955, sudah ada 30 gereja di Korea Selatan. Pada tahun 1958, gereja ini mengirimkan misionaris ke Jepang.[5] Pada tahun 1959, misionaris dikirim ke Amerika.[5] Pada tahun 1970, pertumbuhan gereja ini di Amerika Serikat sudah sangat pesat.[5] Pada tahun 1994, Gereja ini mengaku bahwa jumlah jemaatnya di Korea mencapai 550.000 orang dengan 1216 pendeta dan 502 gereja lokal.[5] Pada tahun 1970, pertumbuhan gereja ini di Amerika Serikat sudah sangat pesat. Pada tahun 1994, Gereja ini mengaku bahwa jumlah jemaatnya di Korea mencapai 550.000 orang dengan 1216 pendeta dan 502 gereja lokal.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l Ron Calrson dan Ed Decker, Fast Facts on False Teaching. Oregon: Harvest House Publisher. 1994. 151-152.
  2. ^ a b c Steve Brouwer, Paul Gifford, and Susan D. Rose Exporting the American Gospel: Global Christian Fundamentalism. New York: Routledge. 1996. hlm. 113.
  3. ^ a b Peter B. Clarke. New Religions in Global Perspective: A Study of Religious Change in the Modern World. New York: Routledge. 2006. hlm. 342-348.
  4. ^ a b c (Inggris) Anne Ruck. “Sejarah Gereja Asia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006. Hal. 311
  5. ^ a b c d e f g h i j k James Huntley Grayson. Korea: A Religious History. London: Routledge Curzon, 2002. Hal. 211