Suyoto

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Suyoto
Bupati Bojonegoro 40
Masa jabatan
12 Maret 2008 – 13 Maret 2018
WakilSetyo Hartono
PendahuluMohammad Santoso
PenggantiAnna Muáwanah
Informasi pribadi
Lahir17 Februari 1965 (umur 54)
Bendera Indonesia Bojonegoro, Jawa Timur
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Partai politikPartai NasDem
Alma materUIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Universitas Muhammadiyah Malang

Dr. Suyoto M.Si (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 Februari 1965; umur 54 tahun, biasa disapa Kang Yoto) adalah seorang tokoh pendidikan, tokoh politik Nasionalis-Islam dan Bupati Bojonegoro yang menjabat pada dua periode yakni, 2008-2013 dan 2013-2018. Ia bersama pasangannya Setyo Hartono dilantik pada 12 Maret 2008[1] dan 13 Maret 2013.[2] Berdasarkan hasil rekapitulasi surat suara resmi KPU Kabupaten Bojonegoro pasangan ini meraih 320.536 (44.38%). Pasangan ini memenangi perolehan suara di 22 kecamatan dari 27 kecamatan di Bojonegoro. Yaitu Kecamatan Ngraho, Margomulyo, Tambakrejo, Purwosari, Padangan, Kasiman, Ngambon, Sekar, Gondang, Temayang dan lainnya. Sedangkan urutan kedua yakni, pasangan M Choiri-Untung Basuki (Choirun) dengan perolehan suara sebanyak 227.522 (31.50%). Kemudian, pasangan M Thalhah-Budiyanto di urutan ketiga dengan perolehan suara sebanyak 104.803(14.51%), pasangan independen Andromeda Qomariah-Sigit Budi memperoleh suara sebanyak 49.117 (6.80%). Sedangkan, pasangan independen Sarif Usman-Syamsiah Rahim (Sasa) memperoleh suara sebanyak 20.311 (2.81%).[3] Ia juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik, dan pernah menjadi rektor disana pada periode 2000-2004.[4]

Kang Yoto meraih gelar Doktor Program Ilmu Sosial dan Ilmu Politik setelah menjalani ujian terbuka di hadapan promotor dan penguji di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada hari Sabtu, 23 September 2017.[5] Beliau melakukan penelitian di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro. Disertasi yang mengulas demokrasi ala desa itu diberi judul "Konstruksi Pemaknaan Ritual Kematian sebagai Perwujudan Nilai-nilai Kebijakan Sosial dalam Perspektif Bergerian".[6]

Sebagai Bupati, Kang Yoto dikenal sarat dengan prestasinya dalam memimpin Kabupaten Bojonegoro. Selama hampir sepuluh tahun menjabat, berbagai terobosan ia lakukan dalam membangun dan mengelola Kabupaten Bojonegoro. Hasilnya cukup mencengangkan, melalui tangan kreatif dan solutifnya ia mampu mengakhiri "kutukan" Bojonegoro sebagai daerah tertinggal, miskin, berkalang hutang, intoleran dan langganan banjir. Segala kisah miring tentang Bojonegoro berbalik menjadi kisah manis, bahkan kini menjadi percontohan dunia, ratusan penghargaan telah diraih baik nasional maupun internasional. Keberhasilan Kang Yoto dalam mengentaskan kemiskinan endemik di Bojonegoro serta temuannya tentang dialog generatif dalam kajian disertasinya membuatnya diakui sebagai satu-satunya ahli pembangunan desa di Indonesia.[7]

Bupati Bojonegoro Suyoto atau akrab disapa Kang Yoto juga sukses membawa daerahnya menjadi percontohan pada ajang Open Government Partnership (OGP) Subnational Government Program atau Percontohan Pemerintah Daerah Terbuka. Bojonegoro yang dulu merupakan daerah termiskin, kini sejajar dengan beberapa kota besar di dunia seperti Paris dan Madrid. Bojonegoro menjadi satu dari 15 pemerintahan daerah di dunia yang lolos seleksi pada ajang OGP. Bojonegoro sejajar dengan Paris, Madrid, Skotlandia, Buenos Aires, Jalisco (Meksiko) dan Sao Paolo. Program OGP ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan sejak kemitraan OGP terbentuk di bulan September 2011. Kemitraan ini bertujuan untuk mendukung kemajuan keterbukaan pemerintah sesuai dengan aspirasi dan komitmen negara yang mencanangkannya. OGP ini mendorong negara-negara anggotanya mewujudkan transparansi, partisipasi publik, akuntabilitas dan inovasi dalam tata kelola pemerintahannya. Di Indonesia, OGP dikoordinasikan oleh Sekretariat Nasional Open Government Indonesia dan sejauh ini Bojonegoro menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang lolos seleksi untuk menjadi percontohan pemerintahan daerah terbuka. DKI Jakarta dan Banda Aceh ikut berpartisipasi namun belum lolos seleksi.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Mohammad Santoso
Bupati Bojonegoro
2008–2018
Diteruskan oleh:
Anna Muáwanah