Lompat ke isi

Sultan Johor

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sultan Johor
Duli Yang Maha Mulia Sultan Yang di-Pertuan bagi Negeri dan Jajahan Takluk Johor Darul Takzim
‏سلطان يڠ دڤرتوان باڬي نڬري دان ججهن تعلوق جوهر دارالتعظيم
Kesultanan
Sedang berkuasa
Sultan Ibrahim
sejak 23 Januari 2010
23 Maret 2015 (naik takhta)
Perincian
Sapaan resmiBaginda
PewarisTunku Ismail ibni Sultan Ibrahim
Penguasa pertamaAla'uddin Riayat Syah II
Pembentukan1528; 498 tahun lalu (1528) (asli)
1886; 140 tahun lalu (1886) (modern)
KediamanIstana Bukit Serene, Johor Bahru
Situs webroyal.johor.my

Sultan Johor (bahasa Melayu: [Sultan Johor] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan); Jawi: ‏سلطان جوهر‎‎) adalah jabatan turun-temurun dan penguasa tertinggi negara bagian Johor di Malaysia. Di masa lalu, sultan memegang kekuasaan absolut atas negara bagian dan dibantu oleh seorang bendahara. Saat ini, peran bendahara telah diambil alih oleh Menteri Besar dalam sistem monarki konstitusional melalui Konstitusi Negara Bagian Johor. Sultan adalah kepala negara konstitusional Johor. Sultan memiliki pasukan militer independennya sendiri, yaitu Pasukan Pengawal Setia Johor (bahasa Melayu: [Askar Timbalan Setia Negeri Johor] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)). Sultan juga merupakan Kepala Islam di Johor.[1] Selain itu, penguasa atau Raja Johor ini juga bergelar Yang Dipertuan Besar Johor.

Berikut daftar Sultan Johor hingga kini:

PeriodeNama RajaCatatan dan peristiwa penting
Dinasti Melaka - Johor
1528–1564Ala'uddin Riayat Syah IIPutera daripada raja terakhir Melaka, yakni Mahmud Syah
1564–1570Muzaffar Syah
1570–1571Abdul Jalil I
1571–1597Ali Jalla Abdul Jalil Syah II
1597–1615Ala'uddin Riayat Syah III
1615–1623Abdullah Ma'ayat Syah
1623–1677Abdul Jalil Syah III
1677–1685Mahmud Syah II
1677–1685Ibrahim Syah
1685–1699Mahmud Syah IIDibunuh. Tidak mewariskan penerus
Wangsa Bendahara | Klaim dari Dinasti Melaka Johor
(1699 - 1720) Abdul Jalil IV | (1718 - 1722) Abdul Jalil Rahmat Syah I
(sebagai putera dari Abdul Majid bin Ali bin Muhammad | (mengklaim sebagai
yang mengambil alih tahta Johor) | putera daripada Mahmud Syah II)
Wangsa Bendahara
1722–1760Sulaiman Badrul Alam SyahAmbil alih kerajaan dengan bantuan pangeran-pangeran Bugis
1760–1761Abdul Jalil V
1761–1770Ahmad Riayat I
1770–1811Mahmud Syah III
1811–1819Abdul Rahman I
1819–1835Hussain SyahSultan Johor dan Singapura
1835–1855Ali IskandarTurun tahta pada tahun 1855 lalu menjadi Sultan Muar
Tumenggung Johor
1855–1862Tumenggung Daeng Ibrahim
bin Abdul Rahman
Tumenggung Johor.
Bersepakat dengan
Pemerintah Jajahan
Negeri-Negeri Selat di Singapura
dengan menerima uang
sejumlah 5.000 dolar
dan mendapatkan jatah bulanan
sebesar 500 dolar.
Mengganti nama ibukota
menjadi Iskandar Puteri.
Sempat memerintah
dari Teluk Belanga, Singapura
1862–1895Abu BakarTumenggung Johor 1862 - 1868
Maharaja Johor hingga 1886
menjadi Sultan Johor
1895–1959Ibrahim
1959–1981Ismail
1981–2010Iskandar
2010–sekarangIbrahim Ismail[2]Petahana

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. WAI, WONG CHUN (2017-09-27). "Dressing down for launderette". The Star (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-01-31.
  2. "BERNAMA - Tunku Ibrahim Ismail Proclaimed As Sultan Of Johor". www.bernama.com. Diakses tanggal 2026-01-31.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]