Suhu swasulut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Suhu swanyala)
Lompat ke: navigasi, cari

Suhu swasulut (suhu penyalaan otomatis, temperatur autosulutan, suhu swanyala, ataupun suhu penyalaan sendiri [1] (Bahasa Inggris: autoignition temperature) dari suatu zat kimia adalah batas temperatur terendah dimana zat tersebut akan terbakar di atmosfer normal tanpa adanya sumber pembakaran dari luar, seperti api dsb. Pada suhu ini, sebagian besar energi kinetik gas telah mencapai energi aktivasi dari reaksi pembakaran. Temperatur autsulutan pada keadaan non-atmosfer turun jika tekanan meningkat atau konsentrasi oksigen meningkat. Fakta ini biasanya diterapkan pada campuran bahan bakar.

Temperatur autosulutan dari suatu bahan kimia cair biasanya diukur menggunakan labu kimia yang diletakkan pada oven (yang temperaturnya dapat diatur).

Persamaan swasulut[sunting | sunting sumber]

Waktu t_{ig}\, yang dibutuhkan suatu bahan untuk mencapai suhu swasulut T_{ig}\, jika diekspos pada suatu aliran panas q''\, dihitung menurut persamaan berikut

t_{ig} = \left ( \frac{\pi}{4} \right ) \left (k \rho c \right )\left [ \frac{T_{ig}-T_{o}}{q''} \right]^2 [2]

di manak = konduktivitas termal (W/(m·K)), ρ = densitas (kg/m³), dan c = kapasitas panas spesifik (J/(kg·K)) dari bahan tersebut.  T_{o}\, adalah suhu, dalam satuan Kelvin, suhu awal bahan (atau suhu bahan bulk), dan q''\, adalah heat flux (W/m²) yang dikenakan pada bahan.

Titik swasulut sejumlah bahan[sunting | sunting sumber]

Dalam literatur tercatat variasi suhu yang luas dan hanya dipakai sebagai perkiraan. Faktor-faktor yang menyebabkan variasi ini termasuk tekanan parsial oksigen, ketinggian, kelembaban, dan panjang waktu yang dibutuhkan untuk penyulutan. Umumnya suhu swasulut bagi campuran hidrokarbon/udara turun seiring dengan meningkatkan berat molekul dan bertambahnya panjang rantai. Suhu swasulut juga lebih tinggi pada hidrokarbon berantai cabang daripada hidrokarbon berantai lurus.[3]

Bahan Titik swasulut (°C) Titik swasulut (°F) Catatan
Trietilborana 2998800000000000000−20 °C −4 °F
Silana 700121000000000000021 °C 70 °F atau lebih rendah
Fosfor putih 700134000000000000034 °C 93 °F Tersulut ketika bersentuhan dengan bahan organik, kalau tidak, meleleh
Karbon disulfida 700190000000000000090 °C 194 °F
Dietil eter 7002160000000000000160 °C 320 °F[4]
Diesel atau Jet A-1 7002210000000000000210 °C 410 °F
Bensin (Petrol) 7002247000000000000247–280 °C 477–536 °F[5]
Etanol 7002363000000000000363 °C 685 °F[5]
Butana 7002405000000000000405 °C 761 °F[6]
Kertas 7002218000000000000218–246 °C 424–475 °F[7]
Magnesium 7002473000000000000473 °C 883 °F
Hidrogen 7002536000000000000536 °C 997 °F[8]

Untuk kertas, ada variasi luas antara sumber-sumbernya, terutama karena ada banyak variabel fisika pada berbagai jenis kertas, seperti ketebalan, densitas dan komposisi; lagipula, lebih lama untuk kertas mengalami combustion pada suhu rendah.[9]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Glosarium Pusat Bahasa
  2. ^ Principles of Fire Behavior. ISBN 0-8273-7732-0. 1998.
  3. ^ Zabetakis, M.G. (1965), Flammability characteristics of combustible gases and vapours, U.S. Department of Mines, Bulletin 627.
  4. ^ "Diethyl Ether - Safety Properties". Wolfram|Alpha. 
  5. ^ a b Fuels and Chemicals - Autoignition Temperatures, engineeringtoolbox.com 
  6. ^ "Butane - Safety Properties". Wolfram|Alpha. 
  7. ^ Tony Cafe. "Physical Constants for Investigators". Journal of Australian Fire Investigators.  (Reproduced from "Firepoint" magazine)
  8. ^ "Hydrogen - Safety Properties". Wolfram|Alpha. 
  9. ^ Forest Products Laboratory (1964). "Ignition and charring temperatures of wood" (PDF). Forest Service U. S. Department of Agriculture. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]