Sidrotun Naim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sidrotun Naim bersama Raja Felipe VI dari Spanyol saat penganugerahan Prince of Asturias Pin

Sidrotun Naim Ph.D., M.P.A. (lahir di Sukoharjo, 29 Mei 1979; umur 40 tahun) adalah ilmuwan Indonesia multitalenta. Bidang utamanya adalah ilmu lingkungan terkait penyakit udang, perikanan, dan mikrobiologi. Keahlian yang kedua adalah 'adaptive leadership' dikaitkan dengan kebijakan publik, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Naim berstatus sebagai staf pengajar dan peneliti di program studi agribisnis dan menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Budidaya Berkelanjutan dan Patologi (AquaPath) di Surya University, Tangerang, Banten sejak Maret 2013. Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menunjuknya sebagai salah satu tim ahli untuk penyakit udang. Sebagai seorang ilmuwan perempuan, Naim aktif dalam banyak kegiatan untuk memotivasi lebih banyak remaja perempuan tertarik ke bidang sains dan teknik. Di bidang kajian sosial, Naim adalah dewan pakar di Indonesia Strategic Institute (INSTRAT), Bandung.

Naim mendapatkan gelar doktornya dari Universitas Arizona di Tucson, Arizona, Amerika Serikat pada 2012, dilanjutkan dengan bekerja sebagai peneliti post-doctoral di Harvard Medical School, Boston. Naim adalah satu dari lima belas peneliti muda tingkat dunia penerima anugerah UNESCO-L’Oréal For Women in Science di markas UNESCO, Paris. Setelah kembali ke Indonesia selama 2014/2015 untuk mengajar di Surya University, gelar Master in Public Administration dari Harvard University John F. Kennedy School of Government & Political Science diselesaikan pada tahun 2016. Naim adalah lulusan teladan untuk kelas angkatannya, penerima penghargaan "The Lucius N. Littauer Award for Academic Excellence and Significant Impact" karena kemampuan akademik, dedikasi dan kontribusi pemikirannya untuk memperkaya diskusi fenomena sosial menggunakan pendekatan dan perspektif scientific (sains dan matematik) yang dipahaminya. Prestasi ini melanjutkan kekonsistenan Naim dalam bidang akademik dan dunia professional dengan penghargaan yang tak putus sejak 2009.

Kecintaan Naim terhadap ilmu merupakan tradisi dalam keluarga selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Leluhurnya mengabdi di keraton setidaknya sejak zaman Kesultanan Demak. Setelah berubah menjadi Mataram, leluhurnya adalah ulama untuk keraton Kasunanan Surakarta secara turun temurun. Meskipun tidak melanjutkan tradisi sebagai ulama atau guru agama, Naim meneruskan tradisi keilmuwan di keluarga dengan menjadi scientist.

Salah satu bagian disertasi doktornya membahas tentang bakteri berpendar di udang menggunakan pendekatan genetik dan biologi molekuler, berkolaborasi dan dibimbing oleh Professor Bonnie L. Bassler (geneticist dan molecular biologist) dari Princeton University. Naim ke Arizona untuk S3 karena Arizona adalah OIE (Office International des Epizooties/ World Animal Health Organization) Reference Lab untuk penyakit udang, di bawah pimpinan Professor Donald Lightner. Naim adalah orang Indonesia pertama yang lulus dari lab referensi ini. Selain tentang penyakit udang, selama di Arizona, Naim juga mendalami tentang biologi dan budidaya ikan nila dan mujair bersama Professor Kevin Fitzsimmons yang merupakan pembimbing utamanya, dan epidemiologi molekuler virus bersama Professor Judith Brown. Selama 3 tahun di Arizona, Naim meraih 3 gelar akademik (PhD dan dua MS) yang menjadi sejarah baru universitas sekaligus menegaskan keluasan bidang yang pernah dikaji. Selama 2 tahun di Harvard Medical School, Naim dibimbing oleh Professor Max L. Nibert (seorang dokter dan virologist) untuk memahami asal usul virus menggunakan analisis bioinformatik, model matematik yang berbeda, dan perilaku virus secara biokimia.

Melengkapi keahliannya di bidang sains, selama program di Harvard Kennedy School, Naim mendalami pemikiran dan mendapat mentorship dari dua orang professor, Sheila Jasanoff (ahli matematika, linguist dan pengacara hukum lingkungan) untuk science policy, studi multidisiplin antara science, power, and democracy, dan Ronald Heifetz (psikiater, policy analyst dan pemain cello), untuk adaptive leadership (kepemimpinan dan pengambilan keputusan). Naim juga terpilih untuk program training kepemimpinan perempuan selama setahun "From Harvard Square to Oval Office" yang diselenggarakan oleh Women and Public Policy Program.

Saat di Boston, Naim berinisiatif untuk mengumpulkan para diaspora dan mahasiswa Indonesia, dan ditunjuk oleh Wali kota Bandung, M. Ridwan Kamil sebagai koordinator kelompok kerja untuk memberikan gagasan inovatif untuk pembangunan Kota Bandung https://m.tempo.co/read/news/2016/05/06/079768735/ridwan-kamil-bertandang-ke-harvard-dan-mit-apa-hasilnya.

Riwayat Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Madrasah Diniyah Awaliyah dan Wustha Syarif, Kartasura (1985-1994)

  • SMP 9 Surakarta/Solo
  • SMA 3 Surakarta
  • Sarjana Sains (S.Si), Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung,2002.
  • Master of Marine Studies (M.Mar.St); University of Queensland, Australia; 2005.
  • Master of Science (M.S.) in Environmental Science; University of Arizona, Amerika Serikat, 2010.
  • M.S. in Microbiology and Pathobiology, University of Arizona, Amerika Serikat, 2012.
  • Ph.D. in Environmental Microbiology, University of Arizona, Amerika Serikat, 2012.
  • Master in Public Administration (M.P.A.), Harvard University John F. Kennedy School of Government, Amerika Serikat, 2016.
  • Edward S. Mason Certificate in Public Policy and Management, Harvard University John F. Kennedy School of Government, 2016.
  • Certificate in Management, Leadership, and Decision Sciences, Harvard University John F. Kennedy School of Government, 2016.

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Sidrotun Naim dilahirkan di Sukoharjo, Jawa Tengah, dari bapak seorang guru agama, Abidullah dan Ibu, Siti Muslichah[1]. Ia adalah anak ketujuh dari sebelas bersaudara. Leluhurnya adalah para ulama dan cendekiawan di Surakarta. Yang terdokumentasi misalnya K.H.Imam Rozi Singomanjat adalah penghulu perang Diponegoro (1825-1830), penyampai pesan rahasia antara Diponegoro dan Pakubuwana VI. Setelah perang berakhir, Diponegoro diasingkan ke Makassar sedangkan Pakubuwana VI ke Ambon.

Keluarga besarnya vakum, menjaga jarak dengan penguasa selama masa Pakubuwana VII dan VIII. Pada masa Pakubuwana IX (anak dari Pakubuwana VI), keluarga kembali menjadi ulama keraton lewat menantu Imam Rozi, K.H.M.Zahid bin Jayan Iman bin Iman Puro. Dua putera Kyai Zahid (K.H.M. Idris dan K.H.M.Irsam/R.M.Reksodipuro, panewu Katib keraton kasunanan) membangun kembali dan mengajar di Pondok Jamsaren. Pada masa Pakubuwana X, selain menjadi ulama keraton, keduanya juga mengajar di sekolah Mambaul Ulum (dirintis 1905). Kyai Idris menjadi kepala sekolah kedua setelah Kyai Bagus Arfah. Di sekolah Mambaul Ulum, dua putera Kyai Irsam ikut mengajar, yaitu Kyai Dimyati (R.Ng.Condrowiyoto), dan K.H.Achmad Sanusi, kakek buyut dari Naim dari jalur bapak. Begitu juga K.H.Jalal Suyuti bin Kyai Kasan Dulkarim, kakek buyut dari jalur ibu.

Pada masa Pakubuwana XI dan selama pendudukan Jepang (1942-1945), keraton mulai mengalami kemunduran secara politik. Achmad Junaidi Sanusi, seorang penghafal Quran berusia 22 tahun, kakek dari Naim, mengabdi di keraton sebagai pengajar Quran untuk keluarga raja. Karena pengaruh keraton makin memudar setelah Proklamasi, maka tradisi mengabdi kepada raja berhenti. Meskipun demikian, tradisi mengabdi berlanjut karena Abidullah Junaidi, bapak dari Naim, adalah PNS guru agama di Solo selama hampir 40 tahun. Ibunya adalah perempuan tangguh yang mengasuh sebelas anak dengan tangannya sendiri.

Pada saat bersekolah di SMA 3 Surakarta (1994-1997), Naim diasuh oleh kakek dan neneknya dari jalur ibu, Muhammad Komar bin K.H. Jalal Suyuti dan Kusniyah binti Muhiddin. Kakeknya, pensiunan naib (penghulu), berjuang mati-matian agar bangunan sekolah bekas Mambaul Ulum tidak digusur untuk perluasan Pasar Klewer oleh Pemerintah Kota. Pada saat itulah, Naim menyaksikan bagaimana kakeknya mencari dukungan dan menggalang kekuatan. Mambaul Ulum memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan Islam dan penyebaran Islam di Indonesia. Sekolah Islam pertama yang menggunakan sistem kelas, ada kurikulum, dan ijazah untuk mempersiapkan penghulu, ulama, dan cendekiawan muslim.

Baik dari jalur ibu maupun bapak, Naim memiliki darah sebagai ilmuwan, sesederhana apapun kehidupan mereka. Bapaknya adalah aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tumbuh dalam lingkungan NU, bapaknya bergabung sebagai kader Muhammadiyah ketika muda dan bahkan menjadi ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Solo. Mewarisi berbagai macam identitas yang mengalir dalam darahnya, Naim menganggapnya sebagai sebuah kekayaan untuk menghargai Islam dan Jawa.

Karier Naim berawal setelah lulus ITB, ia bekerja di Freeport, Papua, di bagian bioremediasi lahan bekas tambang. Di Papua ia tertarik untuk menjadi peneliti dibidang kelautan. Ia pun melanjutkan studinya di program master of marine studies di Universitas Queensland, Australia, 2005. Sepulang dari Australia, ia sempat menjadi guru SD dan SMA di Bandung. Tahun berikutnya ia diajak oleh kawannya untuk memberikan pendampingan melalui program WWF Indonesia-Aceh kepada petambak udang korban tsunami di Aceh[2].

Di Aceh inilah ketertarikan pada studi penyakit udang dimulai ketika mengalami gagal panen pada tahun 2008 karena serangan penyakit. Jika tidak diatasi, penyakit udang menyebabkan kerugian ekonomi mencapai 4 triliun per tahun, bahkan lebih da skala nasional. Kepeduliannya ini menghantarkannya untuk melamar sebagai mahasiswa program doktor ilmu lingkungan di Universitas Arizona, Amerika Serikat. Ia-pun pergi ke Arizona bersama suami dan anaknya, Elhurr, yang saat itu masih balita. Suaminya, Dedi Priadi, ikut menempuh pendidikan paska sarjana ilmu psikologi pendidikan di Universitas Arizona. Selain menyelesaikan program PhD selama tiga tahun, pada waktu bersamaan Naim juga lulus dua program master yang berkaitan, sesuatu yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Sepanjang 2009-2016, Naim banyak memperoleh penghargaan di Indonesia maupun di luar negeri. Di awal tahun 2012, Sidrotun Naim menjadi satu dari lima belas peneliti muda tingkat dunia yang menerima anugerah UNESCO-L’Oréal For Women in Science di markas UNESCO, Paris. Di penghujung 2012, Naim resmi menyelesaikan program doktornya dan langsung berlanjut ke program riset di Harvard Medical School, Boston. Selama di Boston, Naim juga aktif mengikuti kegiatan Harvard Kennedy School (HKS) Women and Public Policy Program, HKS Leadership Program, dan diterima di HKS Master in Public Administration Edward S. Mason Program pada tahun 2014, dan diselesaikan pada tahun 2016. Menurut Naim, ilmuwan perlu memiliki kemampuan dasar kepemimpinan, kebijakan publik, dan pemerintahan, sehingga inovasi sains dan teknologi yang dihasilkan dapat bermanfaat dalam mendorong kemajuan sosioekonomi secara nyata. Tanpa pemahaman yang memadai tentang aspek bisnis, ekonomi, dan hukum yang berlaku terkait dengan inovasi sains, maka sains tidak dapat memberikan dampak luas. Apalagi bidang yang dikajinya terkait dengan budidaya udang dan penyakitnya, berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat pesisir.

Di penghujung 2014, Sidrotun Naim dipilih secara bertahap untuk menentukan lima alumni Fulbright yang berhak mewakili lebih dari 360,000 alumni di seluruh dunia. Seleksi awal dilakukan oleh AMINEF (Fulbright Indonesia), untuk kemudian dinominasikan secara resmi oleh Kedutaan Amerika di Jakarta ke US Department of State di Washington D.C, bersaing dengan nominasi dari masing-masing Program Fulbright di belahan dunia lain. US Department of State melakukan seleksi akhir untuk memilih hanya lima alumni Fulbright untuk menerima penghargaan Prince of Asturias Award 2014. Dua alumni yang diseleksi sudah ditentukan harus dari Spanyol dan Amerika Serikat. Tiga alumni lain yang terpilih selain Naim dari Indonesia, juga dua alumni dari Afrika Selatan dan Pakistan. Prince of Asturias Award adalah penghargaan tertinggi dari Spanyol, yang sering disebut sebagai Nobel dari Spanyol untuk kategori sastra, perdamaian, sains, sosial, dan olahraga. Fulbright Program adalah pemenang penghargaan Prince of Asturias untuk kategori kerja sama internasional yang diberikan di Teater Campoamor, Oviedo[3][4]. Kepada lima alumni Fulbright yang terpilih, Raja Felipe memberikan pin Asturias secara terpisah saat jamuan di Hotel Reconquista, diberikan secara resmi di depan bendera negara masing-masing, termasuk Sidrotun Naim di depan Sang Saka Merah Putih.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Australian Development Scholarship
  • Dean’s commendation for high achievement from the Faculty of Biological and Chemical Sciences, University of Queensland, Australia.
  • US Department of State (Presidential Fulbright Program), Amerika Serikat.
  • University of Arizona Graduate Tuition Award, Amerika Serikat.
  • L’Oréal Indonesia For Women in Science Award, Indonesia.
  • Schlumberger Foundation Faculty for the Future Award, Prancis.
  • Alltech Young Scientist Award, Amerika Serikat
  • Ambassador Award for Excellence, given by the Indonesian ambassador to the US
  • UNESCO - L’Oréal For Women in Science International Award, Prancis.
  • University of Arizona dissertation award, Amerika Serikat.
  • Research and Technology Award from the Indonesian Minister of Research and Technology, Indonesia.
  • Indonesia Digital Women Award from Telkom Indonesia and the Indonesian Minister for Women Empowerment and Children Protection.
  • Global Innovation Initiative, US Department of State
  • Penghargaan Kartini Next Generation (KNG) 2015 kategori perempuan pendorong perubahan di bidang riset perikanan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia[5]
  • Harvard Kennedy School Graduate Award, Amerika Serikat
  • Ancora Foundation Fellowship, Indonesia dan Amerika Serikat
  • From Harvard Square to Oval Office, training kepemimpinan perempuan selama setahun, diseleksi ketat oleh Women and Public Policy Program, Harvard University John F. Kennedy School of Government, Amerika Serikat
  • The Lucius N. Littauer Award for Academic Excellence and Significant Impact on the Harvard Kennedy School Community
  • Perempuan Inspiratif Nova

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]