Lompat ke isi

Serat Kalatidha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Serat Kalatidha
PengarangRanggawarsita
NegaraHindia Belanda
BahasaJawa
Genre
TeksSerat Kalatidha di Wikisource

Serat Kalatidha (bahasa Jawa: ꧋ꦱꦼꦫꦠ꧀ ꦏꦭꦠꦶꦣ꧈) adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Serat ini sering dianggap sebagai refleksi mendalam mengenai keadaan zaman yang penuh kekacauan, ketidakpastian, dan kemerosotan moral. Istilah “kalatidha” sendiri berarti zaman keraguan atau masa suram di mana nilai-nilai luhur tidak lagi dihargai. Dalam serat ini, Ranggawarsita menggambarkan kebingungan masyarakat ketika menghadapi perubahan sosial, politik, dan budaya yang cepat, terutama akibat tekanan kolonial dan melemahnya tatanan tradisional Jawa. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.[1]

Salah satu kutipan paling terkenal dalam Serat Kalatidha ini adalah “Zamane zaman edan, yen ora edan ora keduman”, sesuai dengan ramalan Jayabaya yang menggambarkan dilema moral hidup pada masa penuh kegilaan. Namun, Ranggawarsita menegaskan bahwa tetap berpegang pada laku utama adalah pilihan terbaik, melalui ungkapan: Zamane zaman edan, sing ora edan ora bakal keduman. Nanging sak bejo-bejone wong edan, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo (akan datang saatnya jaman edan/gila. Orang yang tidak ikut edan-edanan tidak akan mendapatkan bagian. Namun sebesar apapun beruntungnya orang edan, masih lebih beruntung bagi orang  yang sadar dan waspada). Dengan ungkapan ini, Serat Kalatidha menjadi refleksi abadi tentang krisis zaman dan pentingnya kebijaksanaan spiritual.[2][3]

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum Sinom dan seluruhnya ditulis menggunakan aksara Jawa (Hanacaraka) gagrak Surakarta. Kala tidha secara harfiah artinya adalah "zaman gila" atau jaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisasi keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup atau "pujangga terakhir". Sebab setelah itu tidak ada "pujangga kerajaan" lagi.

Arti singkat

[sunting | sunting sumber]

Syair Kalatidha bisa dibagi menjadi tiga bagian:

  1. bagian pertama adalah bait 1 sampai 6, (lihat pada tautan wikisource di pojok kanan bawah layar ini)
  2. bagian kedua adalah bait 7 dan
  3. bagian ketiga adalah bait 8 sampai 12.

Bagian pertama adalah tentang keadaan pada masa Rangga Warsita yang menurut ia merupakan keadaan tanpa prinsip. Bagian kedua isinya adalah ketekadan dan sebuah introspeksi diri. Sedangkan bagian ketiga isinya adalah sikap seseorang yang taat dengan agama di dalam masyarakat.

Sehingga beberapa ajaran/isi penting dalam Serat Kalatidha ini meliputi:

  • Dunia sedang mengalami kerusakan moral dan sosial.
  • Orang yang jujur sering kalah, yang curang justru naik pangkat.
  • Umat manusia harus tetap sabar, menerima takdir, dan tidak hanyut dalam “kegilaan zaman.”
  • Jalan selamat adalah tetap percaya kepada Gusti Allah dan menjaga ketenangan batin.

Petikan Bait 7

[sunting | sunting sumber]

Bait Serat Kalatidha yang paling terkenal berada pada bait ke-7, sebab bait ini merupakan esensi utama dari syair ini. Seluruh amanat dari syair Kalatidha diringkas pada satu bait ini:

Teks asli (aksara Jawa) Transkripsi Alih bahasa
ꦲꦩꦼꦤꦁꦔꦶꦗꦩꦤ꧀ꦲꦺꦢꦤ꧀

ꦲꦺꦮꦸꦃꦲꦪꦲꦶꦁꦥꦩ꧀ꦧꦸꦢꦶ꧈
ꦩꦺꦭꦸꦲꦺꦢꦤ꧀ꦤꦺꦴꦫꦠꦲꦤ꧀
ꦪꦺꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦶꦭꦸꦲꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶ꧈
ꦧꦺꦴꦪꦏꦢꦸꦩꦤ꧀ꦩꦺꦭꦶꦏ꧀
ꦏꦭꦶꦂꦉꦤ꧀ꦮꦼꦏꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀
ꦢꦶꦭꦭꦃꦏꦂꦱꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈
ꦧꦼꦒ꧀ꦗꦧꦼꦒ꧀ꦗꦤꦺꦏꦁꦭꦭꦶ꧈
ꦭꦸꦮꦶꦃꦧꦼꦒ꧀ꦗꦏꦁꦲꦺꦭꦶꦁꦭꦮꦤ꧀ꦮꦱ꧀ꦥꦢ꧉

Amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu édan nora tahan,
yén tan milu anglakoni,
boya kaduman mélik,
kaliren wekasanipun.
Dilalah kersa Allah,
begja-begjane kang lali,
luwih begja kang éling lawan waspada.

Berada pada zaman gila,
serba salah dalam bertindak.
Ikut gila tidak akan tahan,
kalau tidak mengikuti arus,
tidak akan kebagian,
(lalu) jatuh miskin pada akhirnya.
Namun Allah Maha adil,
Seberuntung orang yang lalai,
akan lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Serat Kalatidha di kota Leiden

[sunting | sunting sumber]

Serat Kalatidha ditulis dalam bentuk tembang macapat, umumnya menggunakan metrum Dhandhanggula dan Pangkur. Melalui bahasa simbolik dan kiasan, Ranggawarsita menekankan bahwa kejahatan tampak merajalela, orang baik sering tersingkir, dan orang bijak dianggap aneh atau tidak dihargai. Ia mengekspresikan rasa prihatin mendalam tetapi tetap menyelipkan harapan bahwa manusia harus kembali pada kebijaksanaan batin, kesadaran moral, dan keteguhan iman. Serat Kalatidha ini menjadi salah satu puisi di dalam proyek puisi dinding di Leiden, Belanda.

Ringkasan Serat Kalatidha

[sunting | sunting sumber]

Secara ringkas, Serat Kalatidha ini berisi kritik sosial, keluh kesah zaman, dan wejangan spiritual agar manusia tidak terseret oleh arus zaman edan:

  • Menggambarkan keadaan masyarakat Jawa pada masa itu yang penuh penderitaan, ketidakpastian, ketidakadilan, dan kemerosotan moral.
  • Ranggawarsita menyebut zaman itu sebagai “jaman edan” (zaman gila), di mana orang baik sulit hidup, sementara orang yang curang justru berjaya.
  • Meski demikian, ia menasihatkan agar orang tetap eling lan waspada (ingat kepada Tuhan dan selalu waspada).
  • Ada nada pesimis sekaligus religius, karena ia menekankan bahwa semua keadaan dunia hanyalah sementara, dan manusia harus kembali pada iman serta keteguhan batin.[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Menelaah Serat Kalatidha". ui.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  2. "Menjadi Pintar di Zaman Edan". nu.or.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  3. "Ramalan Joyoboyo Itu Terwujud Beberapa Tahun Terakhir". kompasiana.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  4. "Serat Kalatidha". lib.ugm.ac.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.

Lihat juga

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]