Sejarah ilmu linguistik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sejarah ilmu Linguistik (bahasa Inggris: History of linguistics) adalah catatan mengenai perkembangan studi tentang linguistik dari zaman Yunani kuno hingga modern.[1] Ilmu mengenai linguistik telah dibahas sejak peradaban Babilonia, namun proses penelitian yang terstandar baru dimulai sejak periode Yunani kuno.[1] Dari perjalanan ilmu bahasa zaman Yunani, berkembang aliran linguistik tradisional, beranjak ke linguistik strukturalis, dan terakhir linguistik transformasional atau modern.[2]

Linguistik tradisional[sunting | sunting sumber]

Linguistik tradisional adalah adalah segala hal mengenai paham, aliran, dan tokoh yang ada pada zaman Yunani kuno hingga zaman renaisans.[2] Dalam zaman linguistik tradisional, para ahli bahasa saat itu mengkaji bahasa berdasarkan filsafat dan semantik.[2] Tokoh yang mengembangkan ilmu linguistik tradisional di antaranya berasal dari bangsa Eropa dan Asia seperti Yunani, Romawi, India, Latin, dan Arab.[2]

Aristoteles
Linguistik zaman Yunani[sunting | sunting sumber]

Studi bahasa pada zaman Yunani telah berjalan sekitar kurang-lebih 600 tahun (5 SM-2 M).[2] Masalah pokok yang menjadi bahasan studi linguistik pada zaman ini adalah pertentangan mengenai sifat dasar bahasa, apakah ia bersifat alami dan tak bisa diubah maknanya (fisis), atau bahasa itu bersifat manasuka dan dapat berubah-ubah maknanya (nomos).[3] Selain itu, pada zaman diperdebatkan pula apakah bahasa itu bersifat teratur (reguler) misalnya seperti pembentukan kata jamak boy->boys, girl->girls, check-checked, atau bahasa itu bersifat tak teratur (ireguler) seperti kata bahasa Inggris go->went, write-wrote bukan writed.[2] Tokoh-tokoh yang muncul dan memberikan sumbangsih dalam perkembangan ilmu bahasa pada zaman linguistik tradisional di Yunani di antaranya adalah Kaum Sophis, Plato, Aristoteles, dan Kaum Stoik.[2]

Kaum Sophis (5 SM) mulai melakukan studi bahasa dengan melakukan penelitian secara empiris dengan menggunakan ukuran-ukuran, dan mereka juga meng

klasifikasikan tipe-tipe kalimat berdasarkan makna.[3] Mereka melakukan penelitian bahasa dengan memperhatikan retorika, atau cara para cendekiawan Yunani menyampaikan ceramah.[3] Tokoh yang populer dari Kaum Sophis adalah Protagoras dan Georgias.[3]

Plato (429-347 SM) memberikan sumbangan pada ilmu bahasa dalam bukunya yang berjudul Dialoog. Ia menyatakan bahwa bahasa merupakan hasil pikiran manusia yang terdiri dari onoma dan rhemata.[3] Onoma yaitu kata benda, nama, dan subjek, sedangkan rhemata adalah ucapan sehari-hari, verba, dan predikat.[3] Dalam bukunya juga dibahas mengenai perbedaan antara sifat bahasa yang alamiah dan konvensional.[3]

Pasca Plato, muridnya Aristoteles (384-322 SM) juga ikut memberikan sumbangsih dalam ilmu bahasa, di antaranya yaitu ia menambahkan elemen bahasa yang dinyatakan Plato dengan antar lain Onoma, Rhemata, dan Syndesmoi atau preposisi dan konjungsi.[3] Selain itu, ditambahkan pula mengenai Legein bunyi tak bermakna, dan prophetal atau bunyi bermakna, dan kelamin kata (gender).[3]

Selanjutnya, Kaum Stoik (4 SM), menambahkan elemen bahasa menjadi onoma, rhemata, syndesmoi, dan arthoron, yang artinya adverbial kuantitas.[3] Selain itu, mereka juga meletekkan dasar komponen utama dalam studi bahasa di antaranya mengenai simbol, makna, dan konteks, yaitu sesuatu yang di luar bahasa.[3] Mereka juga lah yang pertama kali mengenalkan kata kerja pasif dan aktif.[3]

Kaum Alexandria[sunting | sunting sumber]

Kaum Alexandria membuat buku tata bahasa yang bernama Dionysius Thrax yang diterjemahkan ke dalam bahasa Ars Gramatika.[2] Buku ini merupakan buku pertama tata bahasa pada aliran linguistik tradisional, jadi buku tata bahasa Dionysius Thrax itu merupakan cikal bakal linguistik tradisional.[2] Sementara itu, Panini (400 SM) seorang sarjana Hindu dari India juga menerbitkan buku bernama Astdhyasi tata bahasa Sanskerta dengan jumlah 4000 ayat yang gagasan-gagasannya digunakan oleh para ahli linguistik modern hingga saat ini.[1]

Zaman Romawi[sunting | sunting sumber]

Studi bahasa pada zaman Romawi banyak terpengaruh dari zaman Yunani.[2] Tokoh penting dalam perkembangan bahasa pada zaman ini adalah Varro, yang mengeluarkan buku De Lingua Latina setebal 25 jilid dan Priscia 18 jilid.[2] Kedua buku menjelaskan mengenai etimologi (asal mula kata), morfologi, dan sintaksis.[2] Selanjutnya buku ini menjadi tonggak utama perkembangan linguistik tradisional Eropa.[2]

Zaman Renaisans[sunting | sunting sumber]

Zaman renaisans merupakan pembukaan bagi abad pemikiran modern dalam studi linguistik.[3] Hal itu dikarenakan pada zaman ini banyak sarjana yang menguasai bahasa Yunani, Ibrani, Latin, dan Arab.[3] Selain itu, mereka juga mengkaji, menyusun, dan membuat perbandingan terhadap bahasa-bahasa tersebut.[3]

Linguistik bahasa Ibrani dan bahasa Arab[sunting | sunting sumber]

Penelitian dalam linguistik bahasa Ibrani dan bahasa Arab dilakukan karena kedudukan kedua bahasa tersebut dalam agama Islam dan agama Yahudi.[2] Dalam studi linguistik bahasa Ibrani diterbitkan buku berjudul De Rudimentis Hebraicis karangan Reuchlin yang membahas mengenai penggolongan kata dalam bahasa Ibrani.[2] Sedangkan studi linguistik bahasa Arab terbagi menjadi dua aliran yaitu Basrah dan Kufah.[2] Perbedaan dari kedua aliran ini adalah Basrah mengikuti konsep analogi, yaitu bahasa merupakan sistem yang teratur atau regular.[2] Sedangkan kufah berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur atau ireguler.[2] Tokoh-tokoh yang menerbitkan karya pada zaman ini adalah Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi dengan karya Kitab al Ayn, dan Sibawaih dengan karyanya Al-Kitab.

Linguistik strukturalis[sunting | sunting sumber]

LInguistik strukturalis merupakan perkembangan lanjut studi bahasa yang eksis sejak 1857 yang diprakarsai oleh Bapak Linguistik Modern Ferdinand de Saussure.[4]Aliran linguistik strukturalis mendeskripsikan bahasa berdasarkan ciri khas yang dimiliki bahasa tersebut.[4] Selanjutnya berkembang para tokoh penerus linguistik modern yang di antaranya berasal dari aliran Praha, aliran Glosematik, Bloomfield dan Strukturalis Amerika.

Ferdinand de Saussure[sunting | sunting sumber]

Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah bapak Linguistik Modern yang mengarang Course de Linguistique Generale.[5] Dalam buku tersebut tersimpul empat gagasan penting sebagai berikut:

Ferdinand de Saussure
  • Bahasa dapat ditelaah secara sinkronik, yaitu diteliti berdasarkan kurun waktu penggunaannya pada zaman tertentu, dan juga diakronik yaitu penelitian pada sebuah bahasa yang diteliti dari sejarah penggunannya hingga masa kini.[5]
  • Perbedaan mengenai Langue dan Parole.[5] Langue adalah keseluruhan sistem tanda bersifat abstrak yang digunakan sebagai alat komunikasi verbal antar manusia.[5] Sedangkan parole adalah realisasi dari langue, sifatnya konkrit dan dapat diamati.[5]
  • Bahasa mengandung sistem tanda linguistik yang bernama signifiant dan signifie.[5] Signifiant adalah kesan bunyi yang timbul dalam benak manusia, sedangkan signifie kesan makna yang merujuk pada objek yang dimaksud.[5]
  • Elemen bahasa seperti fonem, morfologi, dan sintaksis memiliki hubungan yang dinamakan Sintagmatik dan Paradigmatik.[5]

Bersamaan dengan perjalanan Ferdinand de Saussure, perkembangan ilmu fonologi pun berkembang berkat Aliran Praha pada tahun 1926 yang terdiri dari para tokoh linguistik bernama Vilem Mathesius, Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson, dan Morris Halle. Dalam perkembangan fonologi, mereka membedakan dengan tegas fonetik dan fonologi.[4]

Bloomfield dan Strukturalis Amerika[sunting | sunting sumber]

Di Amerika, Leonard Bloomfield (1877-1949) dan kawan-kawannya mengembangkan aliran linguistik struktural Amerika.[4] Ciri utama pada aliran mereka yaitu menolak paham mentalistik dalam melihat fenomena berbahasa dan memihak pada aliran behaviorisme.[4] Artinya, mereka lebih menekankan penelitian bahasa pada sesuatu yang bisa diamati secara empirik dan mengabaikan makna atau arti.[4] Dan perkembangan para ahli linguistik di Amerika tergabung dalam The Linguistics Society of America di mana mereka melaporkan hasil kerja mereka dalam majalah berjudul Language.[4]

Linguistik transformasional dan aliran sesudahnya[sunting | sunting sumber]

Noam Chomsky

Pada zaman ini penelahan bahasa dari segi struktural telah mulai ditinggalkan karena model tersebut dinilai memiliki banyak kelemahan sehingga para ahli linguistik zaman itu mulai membuat aliran baru dengan nama aliran linguistik transformasional yang diprakarsai oleh Noam Chomsky.[4] Ia memberikan gagasan mengenai kaidah transformasi yang diyatakan bahwa terdapat struktur batin dari setiap kalimat, yaitu struktur asal yang tersimpan dalam mental yang kemudian dapat ditransformasikan ke dalam struktur lahir dengan kategori urutan kata yang berbeda-beda.[4]

Selanjutnya pada tahun 70-an para murid pengikut Chomsky mulai meninggalkan teori yang dianut gurunya.[4] Mereka membentuk kelompok baru dengan nama aliran semantic generatif.[4]Aliran ini secara konsep teori mereka adalah struktur makna dan kalimat bersifat homogeny, dan untuk menghubungkan keduanya cukup dengan menggunakan kaidah transformasi. Lalu selain aliran semantic generatif, aliran tata bahasa relasional yang muncul sekitar tahun 1970-an dengan tokoh populer di antaranya adalah David M. Perlmutter dan Paul M. Postal.[4]

Kajian ilmu linguistik di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pada akhir abad ke-19 dan 20 penelitian bahasa-bahasa yang terdapat di Indonesia dilakukan oleh para kolonialis demi kepentingan informasi. Penelitian bahasa pada zaman kolonial sifatnya berupa observasi dan klasifikasi; belum bersifat ilmiah. Para tokoh yang melakukan penelitian tersebut adalah Van der Tuuk yang menyusun Hukum Van der Tuuk, dan selanjutnya diikuti oleh para tokoh sarjana belanda lainnya.

Lalu, sekitar tahun tujuh puluh dan delapan puluhan, proses penelitian pendeskripsian bahasa-bahasa daerah di Indonesia dilanjutkan oleh para ahli bahasa di Indonesia yang dilakukan di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa). Dan pengaruh linguistik modern yang dibawa oleh Ferdinand de Saussure dan Noam Chomsky pun sampai ke Indonesia meskipun berbenturan dengan paham lama linguistik tradisional orang Indonesia. Para tokoh linguistik Indonesia di antaranya adalah A.M. Moeliono, Harimurti Kridalaksana, dan Gorys Keraf.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c (Inggris) Continuum Books. "Outline of History of Linguistics" (PDF). 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r (Indonesia), Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. P. 332-381.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o (Inggris) Pustaka Sekolah. "Sejarah perkembangan ilmu bahasa". 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l Campbell, L. (2001). The History of Linguistics. Oxford: Blackwell Publishers.
  5. ^ a b c d e f g h (Inggris) Angel Fire. "Ferdinand de Saussure's Course in Linguistics". Diakses tanggal 4/13/2014.