Sawi hijau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Sawi hijau (caisim)
Sawihijau1 Pj DSC 4881.jpg
Brassica rapa Kelompok Parachinensis
Spesies Brassica rapa
Kelompok budidaya Parachinensis
Tanah asal Tiongkok, sejak sebelum abad ke-15.

Sawi hijau adalah salah satu sayuran daun populer di Indonesia. Nama lainnya adalah sawi bakso (karena menjadi sayuran daun pendamping dalam penyajian bakso) atau caisim/caisin (dari nama bahasa Kanton 菜心, choy sum, yang harafiah berarti "hatinya sayur"). Jenis sawi lain yang juga kadang-kadang disebut sawi hijau adalah pakcoy/petsai atau sawi sendok.

Pertelaan[sunting | sunting sumber]

Tumbuhan ini mudah dibudidayakan di kawasan tropis, meskipun berasal dari kawasan Cina selatan yang beriklim subtropis.

Terna berukuran sedang, daun duduk pada batang yang pendek sehingga membentuk roset, terutama ketika belum berbunga, tangkai daun panjang, cenderung gilig (silindris) meskipun pada sisi atas (ventral) dapat cekung ke dalam, helai daun lebar, warna hijau cerah, berbentuk bundar telur (elips/oval). Ketika memasuki tahap reproduksi, batang akan tumbuh memanjang dan daun semakin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan infloresens bunga.

Bunga lengkap, tersusun majemuk, pada rangkaian (infloresens) tersusun tandan, kelopak dan mahkota empat helai, warna mahkota biasanya kuning cerah (ada yang putih atau jingga). Buah memanjang, kering ketika matang, berbentuk mirip polong namun memiliki dua dauh buah dan disebut siliqua. Biji kecil, berwarna coklat gelap sampai hitam.

Sebagai sesama sayuran daun, sawi hijau kadang dikacaukan dengan sawi sendok maupun kailan. Sawi hijau berbeda dari sawi sendok (pakcoy) yang berukuran lebih kecil dan tangkai daun melebar (tidak gilig). Sawi hijau juga tidak sama dengan kailan, yang berdaun lebih kaku dan cenderung tidak roset penampilan tanamannya.

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Sawi hijau sangat populer sebagai sayuran pendamping pada bakso serta beberapa masakan dengan pengaruh dari Tiongkok. Dalam budidaya, biasanya dipanen pada usia 40 hari setelah pindah tanam. Bagian yang dikonsumsi adalah helai daun dengan tangkainya, yang jarang dimakan sebagai lalapan. Pengolahan biasanya adalah dilayukan atau direbus.

Galeri gambar[sunting | sunting sumber]