Saturnalia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Saturnalia merupakan salah satu festival yang dilaksanakan oleh bangsa Romawi untuk penyembahan Dewa Saturnus. Menurut kepercayaan bangsa Romawi, Dewa Saturnus adalah dewa benih tanaman dan pepohonan atau lebih dikenal dengan dewa pertanian. Dalam legenda Romawi, Saturnus tercatat pernah memerintah wilayah Roma pada zaman yang disebut sebagai Era Emas di dalam mitologi bangsa Romawi. Dewa Saturnus turun ke bumi dan memberitahukan kepada rakyatnya bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan benar. Pengajaran yang sangat penting ini membuat Saturnus menjadi salah satu dewa yang paling populer di antara dewa-dewa Romawi lainnya. Ini pula yang menjadi alasan orang Romawi begitu menghormatinya sampai dibuatkan sebuah festival tersendiri.[1]

Awal Tradisi[sunting | sunting sumber]

Festival Saturnalia mulai diadakan sejak abad kelima sebelum Masehi. Berasal dari ritual yang sangat sederhana, festival ini berkembang menjadi perayaan dengan skala besar dan menjadikan hari perayaannya sebagai hari terbesar yang dirayakan oleh seluruh orang di Kekaisaran Romawi dalam satu tahun kalender. Festival pertamanya yang dihadiri oleh seluruh rakyat diselenggarakan pada tahun 497 Sebelum Masehi bertepatan dengan selesainya pembangunan Kuil Saturnus di Roma.[1]

Jadwal Festival[sunting | sunting sumber]

Festival Saturnalia dirayakan oleh bangsa Romawi setiap tahunnya pada pertengahan bulan Desember.[2] Festival Saturnalia dilakukan tepat setelah hari pertama musim dingin. Hari ini adalah hari di sepanjang tahun dengan siang hari yang terpendek dan malam hari yang terpanjang. Lama pelaksanaan perayaan tidak menentu setiap tahunnya. Terkadang hanya satu hari. Kadang ditambah menjadi tiga hari hingga lima hari. Pada tahun tertentu, festival diadakan selama tujuh hari.[1] Umunya festival Saturnalia diadakan tiap tanggal 17 Desember hingga 25 Desember.[3]

Kegiatan Festival[sunting | sunting sumber]

Pada hari festival Saturnalia, semua pekerjaan dan bisnis diberhentikan.[2] Festival Saturnalia diawali dengan memberi penghormatan ke Saturnus. Selanjutnya kumpulan ikatan wol yang berada di sekeliling kaki patung dewa di dalam Kuil Saturnus diangkat dan dilakukan ritual pengorbanan. Korban yang dipersembahan pada ritual pengorbanan adalah salah seorang dari mereka. Korban terlebih dahulu diberikan siksaan dan hinaan selama satu minggu. Akhir penyiksaannya adalah pada saat pengorbanan dilakukan, yaitu pada tanggal 25 Desember.

Setelah ritual pengorbanan selesai, para peserta ritual bersorak dengan menyebut, "Io, Saturnalia!" yang menandakan dimulainya festival.[1] Pada saat festival, bangsa Romawi hanya menikmati hari dengan bersantai dan saling tukar-menukar hadiah. Hadiah yang diberikan dapat berupa barang seperti boneka dan lilin. Hadiah berupa hewan umumnya adalah burung yang terkurung di dalam sangkar.[4] Selama festival, perjudian diperbolehkan. Orang-orang akan mengenakan pakaian yang berwarna-warni. Selain itu, orang kaya akan membayar uang sewa dan memberikan uang kepada orang miskin sebagai bentuk bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Para penguasa juga akan saling bertukar tempat dengan budak mereka. Para budak dberi izin untuk mengenakan topi pileus yang menjadi tanda bagi seorang budak yang dimerdekakan. Para budak Romawi juga diberi izin untuk melakukan hal yang sama dengan tuan mereka.[1] Kegiatan lain yang dilakukan selama festival Saturnalia adalah penghiasan kuil-kuil Dewa Saturnus. Kuil-kuil tersebut dihiasi dengan menggunakan daun-daun pepohonan.[3]

Makna Festival[sunting | sunting sumber]

Festival Saturnalia merupakan pertanda yang menyatakan bahwa musim bercocok tanam dan musim gugur telah berakhir. Dengan demikian maka petani memberikan suatu bentuk penghormatan kepada Dewa Saturnus dengan harapan hasil panen mereka akan lebih berlimpah.[1]

Perubahan Tujuan Festival[sunting | sunting sumber]

Festival Saturnalia adalah perayaan yang paling penting dalam kehidupan bangsa Romawi. Pada masa awal masuknya agama Kristen di Kekaisaran Romawi, hari terakhir festival Saturnalia ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus. Penetapan ini dilakukan oleh penguasa Romawi yang telah memeluk agama Kristen. Tujuan penetapan ini adalah untuk mempengaruhi kaum Pagan yang masih menyembah berhala agar segera memeluk agama Kristen. Siasat politik ini secara tidak langsung telah mengubah tujuan festival Saturnalia yang awalnya untuk menyembah Dewa Saturnus, menjadi perayaan untuk memperingati kelahiran Yesus.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Okezone (2017-10-05). "OKEZONE STORY: Perayaan Saturnalia di Romawi, Saat Para Tuan Bertukar Tempat dengan Budak Mereka : Okezone News". news.okezone.com. Diakses tanggal 2020-01-18. 
  2. ^ a b "Apa yang Alkitab Katakan tentang Natal?". Bhayangkari (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-18. 
  3. ^ a b "Perayaan Hari Besar 25 Desember & Sejarah Simbolis Pohon Natal". tirto.id. Diakses tanggal 2020-01-18. 
  4. ^ Maharrani, Anindita (27 Desember 2015). "4 Ide Acara Tukar Kado". beritagar.id. Diakses tanggal 2020-01-18. 
  5. ^ Media, Kompas Cyber. "Penemuan yang Mengubah Dunia: Pohon Natal, Kenapa Harus Cemara? Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-01-18.