Rakai Warak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Samaragrawira)
Lompat ke: navigasi, cari

Sri Maharaja Rakai Warak adalah raja keempat Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah sekitar tahun 800-an. Nama ini ditemukan dalam daftar raja-raja Medang dalam prasasti Mantyasih.

Salah satu teori yang dikemukakan oleh sejarawan Slamet Muljana menyebutkan bahwa, nama asli Rakai Warak adalah Samaragrawira, yaitu ayah dari Balaputradewa, raja Kerajaan Sriwijaya.

Riwayat Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Sri Maharaja Rakai Warak menempati urutan keempat dalam daftar para raja Kerajaan Medang yang ditemukan pada prasasti Mantyasih. Namanya disebut sesudah Rakai Panunggalan dan sebelum Rakai Garung.

Istilah Rakai Warak sendiri bukan nama asli karena nama ini bermakna “kepala daerah Warak”. Siapa nama aslinya tidak diketahui dengan pasti karena peninggalan sejarah atas nama tokoh ini sangatlah minim ditemukan. Satu-satunya prasasti yang menyebut adanya tokoh bernama Rakai Warak hanyalah prasasti Mantyasih (907)yang baru ditulis puluhan tahun setelah kematiannya.

Sejarawan Slamet Muljana mengidentifikasi Rakai Warak dengan tokoh Samaragrawira. Namun identifikasi ini baru bersifat dugaan saja, yaitu dengan cara memadukan beberapa prasasti sebagai perbandingan.

Identifikasi Samaragrawira[sunting | sunting sumber]

Nama Samaragrawira terdapat dalam prasasti Nalanda sebagai ayah dari Balaputradewa raja Kerajaan Sriwijaya. Samaragrawira merupakan putra dari seseorang yang dijuluki sebagai Wirawairimathana (penumpas musuh perwira). Julukan ini mirip dengan Wairiwarawimardana alias Dharanindra dalam prasasti Kelurak (782).

Sejarawan Krom menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga, ayah dari Pramodawardhani. Secara otomatis, Balaputradewa pun disebut sebagai saudara Pramodawardhani. Pendapat ini kemudian berkembang menjadi teori populer yang banyak didukung oleh para sejarawan lainnya.

Sejarawan Slamet Muljana berpendapat lain. Ia membantah teori tersebut karena menurut prasasti Kayumwungan (824), Samaratungga hanya memiliki seorang putri bernama Pramodawardhani. Menurutnya, Samaragrawira lebih tepat disebut sebagai ayah Samaratungga. Dengan demikian, Balaputradewa merupakan paman dari Pramodawardhani.

Slamet Muljana mencoba memadukan nama Samaragrawira dengan daftar para raja versi prasasti Mantyasih yang selama ini dianggap sebagai daftar raja-raja Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Ia menolak anggapan tersebut karena Rakai Panangkaran yang menempati urutan kedua dalam daftar menurutnya merupakan anggota Wangsa Sailendra (dengan mengacu pada isi prasasti Kalasan).

Analisis Slamet Muljana dimulai dengan berita bahwa Rakai Pikatan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Samaratungga. Maka, Samaratungga pun dianggap identik dengan Rakai Garung yang namanya disebut sebelum Rakai Pikatan dalam daftar para raja Medang. Sementara itu, Samaragrawira yang diyakininya sebagai ayah dari Samaratungga, dianggap identik dengan Rakai Warak, yaitu nama raja sebelum Rakai Garung dalam daftar tersebut.

Keluarga Samaragrawira[sunting | sunting sumber]

Menurut teori Slamet Muljana, Samaragrawira alias Rakai Warak naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Dharanindra alias Rakai Panunggalan.

Menurut prasasti Nalanda, Balaputradewa adalah putra Samaragrawira yang lahir dari Dewi Tara, putri Sri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Kebanyakan para sejarawan berpendapat bahwa Sri Dharmasetu merupakan raja Kerajaan Sriwijaya. Dengan kata lain, Balaputradewa mewarisi takhta pulau Sumatra dari kakeknya itu.

Slamet Muljana menemukan nama Sri Dharmasetu juga terdapat dalam prasasti Kelurak sebagai bawahan Dharanindra, yang ditugasi merawat bangunan suci di desa Kelurak. Dengan demikian, Sri Dharmasetu bukan orang Sumatra, melainkan orang Jawa. Jadi, pendapat bahwa ia merupakan raja Sriwijaya sulit untuk dipertahankan.

Dengan demikian, menurut Muljana, Balaputradewa tidak mewarisi takhta Sriwijaya dari Dharmasetu. Balaputradewa bisa menjadi raja Sriwijaya karena ia merupakan anggota Wangsa Sailendra, yaitu sebuah dinasti yang saat itu berkuasa di pulau Jawa dan Sumatra. Keberhasilan Wangsa Sailendra menaklukkan Kerajaan Sriwijaya terjadi pada masa pemerintahan Dharanindra. Raja ini dijuluki sebagai “penakluk musuh perwira” yang kekuasaannya bahkan mencapai Kamboja dan Campa.

Sepeninggal Dharanindra, putranya yang bernama Samaragrawira naik takhta. Meskipun ia dipuji sebagai pahlawan perkasa dalam prasasti Nalanda, namun raja baru ini mungkin tidak sekuat ayahnya. Hal itu terbukti dengan ditemukannya prasasti Po Ngar yang menceritakan bahwa, Kamboja berhasil melepaskan diri dari penjajahan Jawa pada tahun 802. Saat itu Dharanindra kemungkinan sudah meninggal, sedangkan Samaragrawira sebagai raja baru tidak mampu menaklukkan negeri itu kembali.

Atas dasar tersebut, pada akhir pemerintahan Samaragrawira, kekuasaan Wangsa Sailendra pun dibagi menjadi dua agar pengawasannya lebih mudah. Kekuasaan tersebut diserahkan pada kedua putranya, yaitu Samaratungga di pulau Jawa, serta Balaputradewa di pulau Sumatra.

Pada umumnya teori yang berkembang menyebutkan bahwa, sepeninggal Samaratungga terjadi perebutan takhta Jawa antara kedua anaknya, yaitu Balaputradewa melawan Pramodawardhani. Teori ini mengatakan, bahwa Rakai Pikatan suami Pramodawardhani berhasil mengusir Balaputradewa dari benteng persembunyiannya di bukit Ratu Baka.

Namun berdasarkan analisis Drs. Buchari, di bukit Ratu Baka sama sekali tidak ditemukan bukti-bukti peninggalan Balaputradewa. Justru yang ditemukan adalah peninggalan seorang bangsawan bernama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni, yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (Sanjaya). Buchari berpendapat bahwa Mpu Kumbhayoni inilah yang memberontak terhadap pemerintahan Rakai Pikatan, meskipun keduanya sama-sama keturunan Sanjaya.

Jika teori Slamet Muljana dan Buchari dipadukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa, kepergian Balaputradewa dari pulau Jawa bukan karena kalah perang, mengingat musuh Rakai Pikatan memang bukan dirinya, melainkan bernama Mpu Kumbhayoni. Balaputradewa berhasil menjadi raja Kerajaan Sriwijaya juga bukan karena mewarisi takhta dari Sri Dharmasetu, melainkan sejak awal ia mungkin sudah diangkat sebagai pemimpin cabang Wangsa Sailendra di pulau Sumatra.

Tahun Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kapan tepatnya Rakai Warak alias Samaragrawira naik takhta tidak dapat diketahui dengan pasti. Pada tahun 782 yaitu tahun dikeluarkannya prasasti Kelurak, kerajaan masih dipimpin oleh Dharanindra. Raja ini terkenal sebagai penumpas musuh perwira, bahkan sampai berhasil menaklukkan negeri Kamboja.

Menurut prasasti Po Ngar, Kamboja merdeka dari penjajahan Jawa pada tahun 802. Mungkin saat itu Dharanindra sudah meninggal, sedangkan putranya, yaitu Samaragrawira tidak sekuat dirinya. Jadi, dapat diperkirakan Samaragrawira naik takhta sekitar tahun 802.

Tidak diketahui dengan pasti kapan pemerintahan Samaragrawira berakhir. Prasasti atas nama Rakai Garung yang tertua yang sudah ditemukan adalah prasasti Pengging tahun 819. Namun, belum tentu kalau prasasti ini adalah prasasti pertamanya.

Jadi, apabila teori Slamet Muljana benar, maka pemerintahan Rakai Warak Samaragrawira dapat diperkirakan berjalan tidak lebih dari 17 tahun.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  • Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta: LKIS


Didahului oleh:
Dharanindra
Raja Kerajaan Medang (periode Jawa Tengah)
sekitar 802? – sebelum 819?
Diteruskan oleh:
Samaratungga