SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
SMA Pangudi Luhur Jakarta
Informasi
Didirikan 1965
Akreditasi A
Kepala Sekolah Br. Titus Totok Tri Nugroho, ST. FIC (sejak 2015)
Jumlah kelas 4 s/d 5 kelas setiap tingkat
Program/jurusan/
peminatan
IPA dan IPS yang dilakukan pada saat siswa memasuki kelas 11 (kelas 2 SMA)
Rentang kelas Kelas 10 s/d Kelas 12 (jenjang program SMA)
Kurikulum Nasional - Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Status Swasta Katolik
Alamat
Lokasi Jalan Brawijaya IV No. 47, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta,  Indonesia
Tel./Faks. (021) 7243556
Situs web smaplbrawijaya-jkt.pangudiluhur.org
Lain-lain
Lulusan Ikatan Alumni SMA PL - ikapl.org
Moto
Moto Creative, Responsible, Sportif, Respect, Brotherhood

SMA Pangudi Luhur Jakarta adalah sebuah Sekolah Menengah Atas Katolik khusus putra yang berlokasi di Jalan Brawijaya IV No. 47, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Indonesia. SMA Pangudi Luhur didirikan pada tahun 1965 oleh Yayasan Pangudi Luhur yang merupakan badan pembantu para Bruder Kongregasi Santa Perawan Terkandung Tak Bernoda (FIC) dalam bidang karya Kerasulan Pendidikan. Di Indonesia, Kongregasi Bruder FIC secara garis besar fokus pada karya pendidikan generasi muda yang pengelolaannya dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK/STM).

SMA Pangudi Luhur Jakarta saat ini (tahun 2015) telah memiliki lebih dari 8000 alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga di mancanegara. Lulusan SMA PL Jakarta telah banyak berkontribusi di berbagai bidang profesi dan industri yang sangat beragam. Alumni SMA PL terlibat dan berperan aktif sebagai pengusaha berskala nasional, berkiprah di pemerintahan (Kementerian, Duta Besar), TNI/Polri, Badan Usaha Milik Negara, profesional di sektor swasta, dunia pendidikan, dan banyak lagi area lainnya. Sekolah ini dikenal sebagai sekolah khusus siswa laki-laki yang gemar partai (dengan tangan kosong)

namun menghasilkan lulusan-lulusan yang kreatif, pintar, urakan, tetapi juga dikenal dengan disiplin yang baik.

Sejarah SMA Pangudi Luhur Jakarta[sunting | sunting sumber]

SMA Pangudi Luhur Jakarta merupakan karya pendidikan Bruder dari Kongregasi FIC Indonesia yang kantor pusatnya di Semarang. Pada tahun 1965, atas prakarsa dan permintaan dari Uskup Agung Jakarta saat itu, Mgr. A. Djajaseputra, SJ, agar para bruder FIC bersedia membuka sebuah sekolah menengah khusus untuk murid laki-laki di daerah selatan Jakarta sebagai pengembangan wilayah DKI Jakarta, yang saat itu ditandai dengan berdirinya kota satelit Kebayoran Baru (sekarang sudah menjadi bagian terintegrasi di tengah wilayah Jakarta Selatan). Hal ini dilandasi pemikiran bahwa di samping sekolah untuk putri yang telah ada saat itu di daerah jakarta selatan (SMA Tarakanita I - dikelola oleh para Suster Kongregasi CB di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan) maka akan sangat baik bila ada sekolah putra sebagai karya pendidikan yang melengkapi keberadaan sekolah putri tersebut di daera pinggir selatan Jakarta.

Maka atas permintaan tersebut, Yayasan Pangudi Luhur Pusat (Semarang) yang saat itu tengah mempersiapkan hadirnya perwakilan Pangudi Luhur di Jakarta sejak sebelum tahun 1960-an (untuk memperlancar komunikasi dengan Konferensi Wali Gereja Indonesia dan berbagai urusan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) segera menyambut baik arahan Bapak Uskup Agung Jakarta, dengan mendirikan sekolah menengah (SMP dan SMA) di daerah elit Kebayoran Baru, tepatnya di Jl. Brawijaya IV.

Yayasan Pangudi Luhur Jakarta sebagai cabang Yayasan PL Pusat didirikan pada tanggal 24 Juni 1965 dijadikan wadah pengelola bagi sekolah menengah yang akan didirikan. Segera saja meskipun gedung sekolah belum selesai dibangun 100%, pada tanggal 2 Agustus 1965 SMP dan SMA Pangudi Luhur Jakarta mulai berkegiatan di Jl. Brawijaya IV/47 dengan total murid SMP sebanyak 150 siswa putra dan SMA sebanyak 112 siswa putra.

Para Bruder FIC sendiri telah mempersiapkan lokasi tanah yang dibeli pada tahun 1962 untuk pengembangan bangunan SMP, hingga akhirnya SMP Pangudi Luhur Jakarta memisahkan diri ke daerah cipete tersebut pada tahun 1970 (Pemberkatan Gedung SMP PL pada Bulan Mei 1970 oleh Mgr. A Djajaseputra SJ). Acara pemisahan SMP dan SMA ini ditandai dengan arak-arakan siswa SMP yang menggotong kursi sekolah dari Jl. Brawijaya IV ke Jl. Haji Nawi Raya dengan penuh semangat dan kebersamaan. Praktis sejak tahun 1970, lokasi sekolah di Jl. Brawijaya IV benar-benar diperuntukkan untuk kegiatan sekolah SMA PL Jakarta.

Cuplikan cerita awal SMA Pangudi Luhur Jakarta[sunting | sunting sumber]

*tulisan oleh almarhum Bruder Honoratur Knaapen FIC (mantan Kepala Sekolah I SMA PL Jakarta)

Pada tahun 1962 di daerah Kebayoran Baru oleh Yayasan Tarakanita dibuka sekolah SMA untuk puteri saja. Berhubung dengan perkembangan pesat dari kota satelit Kebayoran Baru itu, oleh Bapak Uskup Agung Mgr. Adrianus Djajaseputra dicari suatu Yayasan Katolik lain untuk membuka suatu SMA untuk putera. Bapak Uskup menghubungi para Bruder FIC yang berpusat di Semarang, tetapi mereka sudah sibuk dengan suatu proyek SMA di Magelang.

Pada tahun 1963 Kantor Waligereja Indonesia (KWI) sebagai pusat pendidikan Katolik nasional, mendapat tawaran dari Pemda DKI untuk membangun suatu kompleks sekolah di tanah yang kosong yang terletak di jalan Brawijaya IV antara jalan Prapanca I dan II. Bapak Uskup menhubungi para Bruder lagi, yang sebenarnya tidak menyukai lokasi di Kebayoran ini. Mereka menyediakan tanah di daerah Cipete untuk mulai suatu sekolah sederhana di daerah (yang pada waktu itu) berupa pedesaan.Tetapi Bapak Uskup berhasil meyakinkan mereka bahwa suatu SMA di Kebayoran sangat urgen dan harus bermutu baik hingga dapat menampung putera yang mau melanjutkan studi di kemudian hari. Akhirnya para Bruder membatalkan proyek di Magelang dan bersedia datang ke Jakarta.

Pembangunan gedung dimulai pada tahun 1963 tetapi mengalami banyak kesulitan. Waktu para bruder datang untuk mulai mendaftar murid baru pada bulan Juni 1965, tingkat atas belum selesai dibangun, dan lantai-lantai bawah masih berupa tanah. Lapangan tengah penuh dengan material bangunan. Sekolah harus dimulai pada 17 Juli tetapi langsung diliburkan sampai 17 Agustus 1965 dengan harapan bahwa kelas-kelas bawah dan WC darurat bisa dipakai.

Diputuskan bahwa akan dimulai dengan tiga kelas I SMA dan 2 kelas 1 dan 1 kelas II SMP, karena ternyata Tarakanita di SMP Blok Q hanya menerima murid putri. Maka Brawijaya menjadi kampus SMP SMA putera. Pemimpin pertama dari SMP adalah Br. Pancratio, dan untuk SMA Br. Honoratus. Kedua-duanya meninggalkan tugas mereka di Ambarawa untuk menunaikan tugas baru di Jakarta. Untuk sementara waktu mereka bertempat tinggal di Bruderan St. Aloisius di Medan Merdeka Timur 4, dan setiap hari pulang-pergi dengan mobil VW minibus.

Guru-guru baru berasal dari Jawa tengah (Bapak L. Sutarno), Tarakanita (Bapak RAJ Suhardjono), Santa Maria Della Strada (Bapak J. Budiono) dan tempat lain. Agar mereka yang berdinas subsidi dapat diangkat pada sekolah yang baru itu, diadakan perjanjian dengan SMP & SMA Kanisius di Menteng Raya 64 dan kelas-kelas baru diangkat menjadi “kelas jauh” dari SMA Kanisius.

Untuk administrasi tahun-tahun pertama, dan juga pada ujian pertama sekolah-sekolah disebut: SMP & SMA Pangudi Luhur / Kanisius II. Ujian-ujian selanjutnya dilakukan di bawah panji Pangudi Luhur sendiri tanpa embel-embel. Tahun pertama sekolah yang baru itu mengalami banyak gangguan. Gangguan pertama adalah gangguan fisik karena selama pelajaran berlangsung, pembangunan gedung tetap dilaksanakan. Baru pada bulan April 1966 gedungnya selesai, dan pada 22 Mei 1966 diberkati dan diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Mgr. A. Dajajaseputra SJ. Pada ketika itu perayaan dimeriahkan dengan display drumband Tarakanita yang pedana. Pada lapangan basket yang baru dibuat diadakan pertandingan persahabatan dengan SMA Kanisius yang berakhir dengan keributan!

Tetapi gangguan terbesar ialah peristiwa G 30 S. Ketika pada 1 Oktober 1965 pagi-pagi para Bruder berangkat dari Medan Merdeka Timur ke Brawijaya, mereka terkejut. Medan merdeka itu seperti lapangan perang. Tank dan meriam diarahkan ke istana dan gedung RRI dan juga sepanjang jalan ke Kebayoran ada banyak tentara. Tetapi mereka berpikir bahwa ini suatu latihan untuk acara 5 Oktober sehingga tidak terlalu khawatir. Tetapi waktu datang di sekolah mereka mendengar kabar tentang penculikan dan pembunuhan para jenderal, antara lain, ayah dari seorang murid, Jendral DI Panjaitan. Pada sore hari menjadi sangat sukar untuk kembali ke Medan Merdeka Timur, karena ternyata Pos Komando Kostrad dari Pak Harto terletak tepat di samping gedung Bruderan dan dijaga sangat ketat. Banyak akal diperlukan untuk pulang dengan selamat. Pada tanggal 5 Oktober para Jendral dikebumikan di Kalibata dan para Bruder dan beberapa murid hadir di situ.

Kemudian terjadi suatu periode yang kacau, semua tidak tentu. Banyak demonstrasi dari KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) – KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) – KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia). Dan siswa Pangudi Luhur, yang tergabung dalam PPSK (Persatuan Pelajar Sekolah Katolik) juga ikut serta, jika terjadi suatu panggilan untuk itu. Akhirnya terjadi pemogokan belajar: siswa datang ke sekolah tetapi hanya siap untuk mendapat panggilan berdemonstrasi. Kadang-kadang datang polisi atau tentara yang menyuruh mereka masuk ke kelas, tetapi kemudian berangkat lagi. Keadaan itu berakhir pada 11 Maret 1966, waktu Pak Harto mendapat kekuasaan penuh. Langsung sekolah-sekolah Katolik mulai lagi dengan tugasnya dan mencoba menyusul apa yang ketinggalan. Karena yang ketinggal banyak maka oleh Menteri Pendidikan yang baru, tahun sekolah diperpanjang sampai Desember 1966.

Perkembangan SMP dan SMA ternyata sangat subur, hingga lama kelamaan gedung di Brawijaya menjadi terlalu penuh. Di jalan Haji Nawi telah didirikan gedung baru untuk SMP di daerah yang masih hampir kosong. Menjelang akhir tahun 1970 SMP Pangudi Luhur meninggalkan kampus di jalan Brawijaya  dan pindah ke Cipete. Karena jarak antara SMP Tarakanita Blok Q dan Cipete besar, maka diputuskan bahwa selanjutnya baik SMP Tarakanita maupun SMP Pangudi Luhur menerima siswa putera dan puteri. Tetapi pada tingkat SMA tiada perubahan. Oleh karena itu SMA Pangudi Luhur dapat menerima lebih banyak siswa dari 3 x 3 menjadi 3 x 4 kelas.

Usaha untuk menjaga mutu dilakukan sejak semula. Faktor yang tidak menguntungkan ialah ujian negara yang dilakukan pada waktu itu, yang dengan sistem pengatrolan meluluskan hampir semua siswa. Hal ini tidak terlalu merangsang para siswa untuk belajar keras. Lalu bersama dengan beberapa SMA Katolik (antara lain: Kanisius, Tarakanita, Regina Pacis, Ursula, total 7 SMA) diadakan suatu ujian sendiri, yang disebut “Ujian Gabungan” yang mendahului ujian negeri itu dan mempergunakan norma-norma yang sangat ketat.

Siswa-siswa rajin mencoba untuk lulus bagi kedua ujian itu dan sangat bangga kalau berhasil pada Ujian Gabungan itu. Dalam masyarakat ujian itu lebih dihargai daripada ujian negara dan mereka yang hendak belajar di luar negeri diterima atas dasar ujian itu. Karena Menteri Pendidikan (Bapak Sumantri Brojonegoro) dan Dirjen Bapak Makagiansar mempunyai putera-putera di SMA Pangudi Luhur, maka bersama dengan Pater C. Jeuken SJ dari SMA Kanisius diusulkan kepada Bapak Menteri untuk mengganti ujian negara yang “kosong” itu dengan suatu ujian sekolah, hingga nama sekolah menjadi penjamin untuk mutu lulusannya. Hal itu dikabulkan, mula-mula untuk beberapa SMA Katolik di Jakarta sebagai pilot project (al Pangudi Luhur sendiri) dan kemudian disebarkan untuk seluruh Indonesia dengan pengaruh sangat besar. Oleh karena itu Ujian Gabung dirasa tidak berfungsi lagi dan tidak dilanjutkan. Sayang di kemudian hari ujian sekolah menjadi Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional) hingga problem dari ujian negara timbul kembali seperti dahulu.

Adapun staf pengajar: pada tahun-tahun pertama staf itu hanya terdiri dari beberapa guru tetap; yang lain adalah guru berpengalaman dari SMA lain yang mengajar sebagai tenaga honorer dan juga mahasiswa universitas. Lama kelamaan hal itu berubah dan Pangudi Luhur mendapat staf guru tetap yang komplet. Walaupun begitu beberapa tenaga honorer dari jam-jam pertama masih lama membantu dengan dedikasi besar, sehingga malah melampaui masa-bakti 25 tahun (Bapak Bobby HS, Bapak PA Sitorus, Bapak G. Suwarno, Bapak Sudarno). Di antara pengajar tetap terdapat juga beberapa Bruder: Br. Mercurius untuk bahasa Inggris dan Business English, dan Br. Goswin untuk matematika. Mistar-hitung raksasanya masih menghiasi dinding kamar guru sebagai peringatan akan masa tanpa kalkulator.

Terdapat juga beberapa guru wanita di kalangan serba-lelaki itu. Dan, yang mengherankan: mereka lebih tegas dalam mendirikan disiplin daripada kaum Adam. Untuk menyebut beberapa dari jaman pertama itu: Ibu Rasjid (kimia), dan Ibu Soesilo (ekonomi). Pada periode pertama pelajaran agama diberikan oleh para pastor dari paroki Blok B. Untuk menyebut beberapa: Pastor Endrokaryono almarhum, juga Pastor L. Soekoto pada waktu sebelum menjadi Uskup Agung pengganti Mgr. A. Djajaseputra, Pastor R. Kurris, Pastor Fv. D. Schueren (semua SJ).

Ikhtisar ini tidak komplet kalau tidak mengenang jasa para pengajar yang telah mendahului kami: Bapak P. Sumardi, Bp. R. Sumardi, Bp. R. Soeharno, dan Bp. RJ Sutadi. Semoga mereka beristirahat kekal dan tetap mendoakan SMA Pangudi Luhur yang tercinta ini.

                (tulisan ini diambil dari tulisan Bruder Honoratus, dalam buku “Sekali Laki-laki tetap Laki-laki”, buku acara reuni akbar SMA Pangudi Luhur 1965-2003)

Kepala Sekolah SMA PL Jakarta[sunting | sunting sumber]

  1. 1965 – 1978   Br. Honoratus Knappen FIC
  2. 1978 – 1991   Br. Michael Pudyartono FIC.
  3. 1991 – 1993   Br. Frans Sugi FIC.
  4. 1993 – 1995   Br. Heribertus Sumarjo FIC.
  5. 1995 – 2000   Br. Romualdus Suyono FIC.
  6. 2000 – 2006   Br. Frans Djija Atmajda FIC.
  7. 2006 – 2007   Br. Petrus Ponidi FIC.
  8. 2007 – 2013   Br. Ag. Giwal Santoso FIC.
  9. 2013 – 2015   Br. Y.B. Purwanto FIC.
  10. 2015 -  Br. Titus Totok Tri Nugroho, ST. FIC

Fasilitas Sekolah[sunting | sunting sumber]

Beberapa fasilitas yang terdapat pada sekolah ini:


Makna Logo SMA Pangudi Luhur Jakarta
[sunting | sunting sumber]

Logo/lambang Pangudi Luhur diciptakan oleh Bapak R. Bobby Harry Sutopo. Dia adalah guru olahraga SMA Pangudi Luhur Jakarta. Logo ini diciptakan pada tahun 1966, saat diresmikan penggunaan gedung SMA dan SMP Pangudi Luhur yang terletak di jalan Brawijaya IV no. 47, Jakarta Selatan.  

  1. Makna Simbol Warna
    • Warna Dasar logo kuning. Warna Kuning melambangkan agung, luhur, cinta kasih
    • Warna Biru pada layar yang terbuka melambangkan kedalaman, kelembutan dan perkasa
    • Warna Merah mengandung arti berani
    • Warna Putih mengandung arti suci
    • Warna Hitam / garis hitam mengandung arti tegas dan kuat
  2. Makna Simbol Salib
    • Salib dalam logo Pangudi Luhur merupakan lambang bahwa pendidikan di Pangudi Luhur bernapaskan Katolik Dasar-dasar pendidikan yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip ajaran Kristiani, serta berlandaskan pada KeTuhanan Yang Maha Esa.
  3. Makna Simbol Layar
    • Layar Terkembang tersebut mengandung makna bahwa “Pendidikan di Pangudi Luhur tidak akan pernah berhenti ataupun surut, melainkan maju terus menerus”
    • Layar Terkembang tersebut dibatasi oleh tiga garis yang berwarna hitam secara jelas dan saling berhubungan yang sekaligus mengandung makna: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”

Arti Logo secara keseluruhan:

Logo Pangudi Luhur tersebut mengandung makna simbolis, bahwa “Pendidikan di Pangudi Luhur, dalam mengemban misi untuk menempuh cita-cita sebagai putra bangsa harus berani, agung, dan luhur penuh keperkasaan, dan ketegasan serta kebijaksanaan dengan memegang teguh prinsip-prinsip Kristiani, berdasarkan UUD 45 dan Pancasila tanpa kenal putus asa untuk maju terus pantang mundur.” 

Ekstrakurikuler SMA PL[sunting | sunting sumber]

SMA Pangudi Luhur Jakarta memiliki sepuluh kegiatan ekstrakurikuler yang aktif. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas para siswa. Ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang memiliki guru atau pembimbing sendiri di luar guru sekolah SMA Pangudi Luhur Jakarta. Semua kegiatan ekstrakurikuler secara bersama dilakukan setiap hari Jumat & Sabtu di lingkungan sekolah. Beberapa kegiatan ekstrakurikuler telah mendapatkan prestasi yang tinggi di bidangnya masing-masing.

  • GPA PL - Group Pencinta Alam Pangudi Luhur
  • PMR PL - Palang Merah Remaja
  • Keris PL - Kreatifitas Siswa Pangudi Luhur (majalah sekolah)
  • Pencak Silat Merpati Putih
  • Archiatros: Seni menggambar, dan desain
  • Paskibra (dulu: Gerak Jalan PL - GJPL)
  • BRABAS - Brawijaya Basket
  • BRAFA - Brawijaya Football Association
  • PC PL - Photography Club
  • E-COM - Ekskul Computer

Group Pecinta Alam Pangudi Luhur (GPA PL)[sunting | sunting sumber]

Berawal dari keprihatinan Bapak R. Bobby H.S. (Alm), guru olahraga yang juga sekaligus pelatih gulat nasional saat itu, bahwa sebagai sekolah khusus laki-laki, SMA Pangudi Luhur dinilai tidak memiliki kegiatan yang menunjukkan “kelaki-lakiannya”.

Kebetulan pada saat itu, Pak Bobby sering berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan Thomas Sebastianus Priyono alias Mbah, salah satu siswa PL yang sering melakukan perjalanan alam bebas dan bahkan ikut dalam keanggotaan MCO (Mountaineer Climb Otista). Lewat beberapa diskusi di antara keduanya, akhirnya muncul ide untuk membentuk kelompok pecinta alam sebagai solusinya, dan Mbah ditugasi oleh Pak Bobby untuk membidani lahirnya kelompok pencinta alam tersebut yang kemudian dikenal sebagai Group Pencinta Alam Pangudi Luhur (GPA PL).

Mulai dari resmi berdirinya tahun 1979 hingga saat ini GPA PL tercatat telah memiliki lebih dari 400 anggota, lebih dari 20 Dewan Pengurus yang secara berkesinambungan berganti setiap tahunnya, dan melakukan puluhan pendakian gunung dan penjelahan rimba. Catatan statistik ini akan terus bertambah, seiring masih eksisnya organisasi tertua di SMA PL itu, hingga kini.

Keanggotaan[sunting | sunting sumber]

Pada dasarnya, status keanggotaan GPA PL, setelah yang bersangkutan dilantik sebagai Anggota dan belum pernah menyatakan diri mengundurkan diri atau dikeluarkan, berlaku seumur hidup.

Untuk saat ini GPA PL mengenal jenjang keanggotaan sebagai berikut:

  • Calon Anggota
  • Anggota Muda
  • Anggota
  • Anggota Senior
  • Pemegang Syal

Kegiatan[sunting | sunting sumber]

GPA PL memiliki berbagai kegiatan dalam pelaksanaannya sebagai wadah pecinta alam remaja. Kegiatan yang rutin dilakukan antara lain :

  • Pendidikan dan Latihan
  • Latihan Fisik
  • Pendakian Anggota
  • Jelajah Rimba
  • Jungle Survival
  • Pelatihan Navigasi dan S.A.R

Alumni SMA PL[sunting | sunting sumber]

Semua lulusan dari SMA PL tergabung dalam wadah formal ikatan alumni yang dinamakan Ikatan Alumni Pangudi Luhur (IKAPL). Semua alumni adalah anggota IKAPL, dan dalam setiap periode ditentukan pengurus IKAPL dalam Musyawarah Anggota (musang) IKAPL yang dihadiri oleh perwakilan setiap angkatan lulusan SMA PL.

Beberapa nama alumni SMA Pangudi Luhur yang telah memberikan kebanggaan bagi sekolahnya antara lain:

  • Ponco Sutowo, 1968 - Pengusaha Nasional, Ketua Umum Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI)
  • Dr. dr. Aru Sudoyo, SppD, K-HOM, FINASIM, FACP, 1969 - Ketua Umum PB PAPDI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia); Anggota Badan Eksekutif Perhimpunan Penyakit Dalam Sedunia
  • Dr. dr. Jusuf Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV(K), MARS, 1969 - Spesialist Bedah Toraks Kardiovaskular
  • Rully Chaerul Azwar, 1970 - Politisi Partai Golkar, Anggota DPR
  • Trihatma Kusuma Haliman, 1970 - Pengusaha, CEO Podomoro Group.
  • Letnan Jenderal TNI DR. Hotmangaradja Pandjaitan, M.H., 1972 - Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Andorra, dan Monaco; Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan RI.
  • Letnan Jenderal TNI Joenianto Haroen, 1972 - Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional RI.
  • Letnan Jenderal TNI Johannes Suryo Prabowo, 1972 - Mantan Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia (Kasum TNI).
  • Bakti Santoso Luddin, 1972 - Pengusaha, Komisaris PT Wijaya Karya
  • dr. Bambang Tridjaja, M.MPed., Sp.A(K), 1973, Dokter Spesialis Anak, Pediatric Endocrionologist
  • Hans Nugroho, 1973 - Direktur Komersial Citilink
  • Rizal Eri Yamin, 1973 - Presdir State Bank of India, Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi
  • Adi Rahman Adiwoso, 1973 - pemilik beberapa paten internasional di bidang Telekomunikasi, Pendiri PT. Pasifik Satelit Nusantara
  • Pamudji R. Kartohadiprodjo, 1973 - profesional dan filantropis, pendiri lebih dari 250 taman bacaan di banyak daerah di Indonesia.
  • Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, 1973 - Praktisi Pendidikan, mantan Dirjen Perguruan Tinggi - Depdikbud RI
  • Edward Wanandi, 1973 - Pengusaha
  • Ronald Waas, 1973 - Deputi Gubernur Bank Indonesia
  • Sjahrazad Alamsjah (Monchu), 1973 - President at Merpati Putih Australia Inc.
  • Agus Martowardojo, 1974 - Gubernur Bank Indonesia; mantan Menteri Keuangan RI; mantan Direktur Utama Bank Mandiri
  • Suryo Susilo, 1975 - Ketua Umum Forum Silaturahmi Anak Bangsa
  • Ricardo Gelael - Pengusaha, Presiden Direktur PT Fast Food Indonesia Tbk.; Presiden Komisaris PT Darma Henwa Tbk.
  • Parman Nataatmadja 1976 - Direktur Utama PT. Permodalan Nasional Mandiri
  • Ananta Wiyogo 1976 - Direktur Utama PT. BNI Securities
  • Riswinandi 1976 - Direktur Utama PT. Pegadaian
  • Markus RA Prasetyo 1976 - Direktur Program dan Berita TVRI
  • Soetikno Soedarjo, 1976, Pengusaha Nasional, Co-founder MRA Group
  • Gellwynn Daniel Hamzah Yusuf, 1977 - Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian KKP RI
  • Rinaldi Firmansyah, 1979 - Komisaris Telkom, mantan Dirut Telkom
  • Sonny Sukada, 1979 - Direktur CSR Danone
  • Maman Wirjawan, 1980 - Ketua Umum PP PELTI, Direktur Utama Benakat Integra Tbk.
  • Yori Antar Awal, 1981 - Principal Han Awal & Partners, pendiri Arsitek Muda Indonesia
  • Muhammad Mahendradatta, 1981 - Pengacara
  • Irwan Afiff, 1982 - Senior managing partner RSM AAJ Associates.
  • Hotasi Nababan, 1983 - mantan Direktur Utama PT. Merpati Nusantara Airlines
  • Patrick Adhiatmadja, 1983 - Presiden Direktur PT Federal Karyatama, executive Saratoga Investama
  • Biem Benyamin, 1983 - Wirausaha & wakil rakyat, putra Seniman besar Betawi H. Benyamin Sueb
  • Muki Hamami, 1983 - Pengusaha, Preskom Trakindo Group
  • Gabriel Tri Swastono, 1983 - pengusaha sukses, pendiri Bintang Baja group
  • dr. Roesdian Utama Roeslani, 1983 - dokter THT, Pemilik & Direktur RS Gandaria
  • Joseph Chamdani (Giece), 1983 - CTO & Entrepreneur di Amerika Serikat, Pemilik banyak paten teknologi IT di Amerika
  • Constant Marino Ponggawa - Partner law firm Hanafiah Ponggawa & Partners
  • Stephanus Turangan, 1984 - Presiden Direktur PT. Trimegah Securities Tbk.
  • Mirza Adityaswara, 1984 - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Chief Executive Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
  • Rizal Bambang Prasetijo, 1984 - ex Country Head JP Morgan Indonesia, Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
  • Bambang Brodjonegoro,1985 - Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas); Mantan Menteri Keuangan RI; mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • Rudy Musdiono, 1986, Pengusaha
  • Sandiaga Uno, 1987 - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra; Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI); pendiri Recapital group dan Saratoga Investama Sedaya
  • Rosan Roeslani, 1987 - Pengusaha, pendiri Recapital Group; pemilik Inter Milan Football Club
  • Gugun Gondrong, 1987 - Entertainer
  • Prof. Pitoyo, 1988 - Dosen (Universitas Chukyo Jepang), ahli robotika
  • Prof. Suahasil Nazara, 1988 - Ekonom FEUI, pejabat eselon satu Kemenkeu
  • Dr. Sjamsu Raharja, 1988 - ekonom
  • Jaya Wahono, 1988 - ahli renewable energy - mengolah bambu untuk menghasilkan energi listrik
  • Bari Hamami 1989 - Pengusaha, Presiden Direktur PT. Trakindo Utama
  • Aria Witoelar, 1990 - Pengusaha; Environment and Climate Change at Indonesian Chamber of Commerce
  • Harold J.D. Tjiptadjaja, 1990 - Managing Director/Chief Investment Officer PT Indonesia Infrastructure Finance
  • Benny Bernarto, 1990 - Partner law firm Susandarini & Partners
  • Robert Astowo, 1990 - Pengusaha, Ketua Umum IKA PL (Ikatan Alumni Pangudi Luhur) 2009-2013
  • Sunata Tjiterosampurno, 1991 - Komisaris Perbankan
  • Yoris Sebastian, 1991 - Pengusaha
  • Alexander Yahya Datuk, 1991, Ketua Bidang Perbankan, Investasi dan Pasar Modal HIPMI
  • Adi Nugroho (Seseq), 1991 - pakar digital media communication, Chief Creative Officer Narrada Communications
  • Maesa Samola, 1991, Pengusaha, CEO JTV
  • Anindya Bakrie, 1992 - Pengusaha; CEO PT Bakrie Global Ventura; Anggota Dewan Pengarah HIPMI
  • Dimas Djayadiningrat, 1992 - Sineas, movie director
  • Ralph Tampubolon, 1992 - Presenter Televisi
  • DJ Riri, 1992 - DJ/Entertainer
  • Eka Anwar, 1992 - Marketing Director PT. RIM Indonesia.
  • Anda "Bunga" Pradana, 1993 - Musisi
  • Reza Ario Bimo - musisi, Personil Bragi
  • Renaldi Wahab - musisi, Personil Bragi
  • Rendy Wahab, 1993 - musisi, Personil Bragi
  • Ari Arya Perdana, 1993 - Pengamat Ekonomi
  • dr. Martin Leman, 1993 - Dokter Spesialis Anak, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  • Marsyel Ririhena, 1994 - Tokoh Beladiri Nasional, Ketua Merpati Putih se-dunia,
  • Andre Djokosoetono, 1994 - Direktur Blue Bird Group, CEO Iron Bird Logistics
  • Adrian A. Gunadi, 1995, Bankir/Private Equity Owner, Mantan Direktur PT Bank Muamalat Tbk.
  • Bonny Sidharta, 1995 - Musisi
  • Francois Mohede, 1995 - Pendiri Baan Muaythai Club, Ketua Perkumpulan Muaythai Profesional Indonesia
  • Urip Hudiono, 1995
  • Yandhrie Arvian, 1995
  • Adrian Maulana, 1996 - Bintang film/sinetron
  • Wingky Wiryawan, 1997 - DJ/Bintang Film
  • Agasyah Karim, 1997 - sineas muda, penulis skenario & sutradara film
  • Sebastian Tobing, 1997 - praktisi pasar modal, Head of Research Trimegah Securities
  • Mohammad Ghozie Indra Dalel, 1997 - Mantan Country Manager IBM Indonesia
  • Christian Sugiono, 1999 - Entertainer; Pengusaha, pendiri MBDC Media
  • Letnan Dua (Inf) Jeremia Sesa Mangaradja Pandjaitan, 2004 - Brigade Infanteri Lintas Udara ke 17 / Kostrad dan U.S. Army Ranger
  • Arief Satria Kurniagung, 2001 - Pengusaha
  • Imam Darto, 2000- Entertainer
  • Ruddy Hatumena, 2002 - Seniman Video Art. Lembaga: Tromarama, berkeliling dunia untuk melakukan pameran tunggal karyanya
  • Aditya Pratama, 2003 - Penyiar Radio/Broadcaster
  • Dhipa Barus, 2003 - DJ, entertainer
  • Reka Sadewo, 2005 - Bintang film
  • Lionil Tikoalu, 2006 - Artis
  • Gerald Situmorang, 2006 - Musisi, Sketsa Band
  • Ryuji Utomo, 2013 - Pemain sepak bola Profesional, mantan pemain nasional U-19, saat ini bermain di klub Al Najma Bahrain.

Lustrum X SMA Pangudi Luhur Jakarta - 50 Tahun SMA PL (2015)[sunting | sunting sumber]

Keluarga besar SMA Pangudi Luhur Jakarta, yang terdiri dari Yayasan Pangudi Luhur, manajemen sekolah, siswa, dan Ikatan Alumni Pangudi Luhur (IKA PL), pada tahun 2014-2015 mengadakan serangkaian kegiatan untuk memperingati 50 tahun (Lustrum X) berdirinya SMA PL Jakarta.

Reuni Akbar SMA PL Jakarta yang diadakan 17 Oktober 2015 mulai pukul 09.00 WIB di Gedung Sekolah SMA PL Jakarta sendiri merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan yang sudah berlangsung sejak Oktober 2014. Selain sebagai ajang berkumpulnya lebih dari 4000 dari total 7300an alumni dari tahun 1965 hingga 2015, acara yang digerakkan oleh IKA PL ini juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangun kembali SMA PL Jakarta dengan langkah-langkah yang berorientasi pada tindakan dari jaringan alumni dan para pemangku kepentingan lainnya. Pada prinsipnya, upaya ini bertujuan untuk mengembangkan kualitas pembelajaran sekolah sehingga dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa lulusan SMA PL Jakarta dapat membawa manfaat tidak hanya bagi keluarga dan masyarakat, namun juga bagi Tanah Air Indonesia seperti yang tercantum dalam lirik mars PL yakni, “berbakti dengan suka rela hati untuk tanah airku” sebagai perwujudan dari PL Brotherhood.

Acara Lustrum X SMA PL ini merupakan kesempatan para alumni untuk kembali hadir ke almamater Pangudi Luhur, memperkuat semangat persaudaraan, memperkuat jejaring alumni PL Jakarta, dan memberikan persembahan kepada sekolah sebagai perwujudan ungkapan terima kasih atas jasa para guru dan sekolah yang sudah mengajarkan nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup untuk mencapai kesuksesan.

Kehadiran lebih dari 4000 alumni sekolah khusus lelaki ini di tanggal 17 Oktober 2015 menjadi peristiwa yang luar biasa dalam sejarah perjalanan Pangudi Luhur.. Alumni SMA PL memberikan bukti bahwa rasa persaudaraan dan kekompakan di antara keluarga besar SMA PL adalah sesuatu yang nyata, antar angkatan maupun lintas angkatan.. Semangat PL brotherhood #browijaya4ever - telah dibuktikan dalam banyak kegiatan menjelang Lustrum ke-10 ini.. menggalang kemampuan semua alumni PL menjadi kekuatan kolektif dalam memberikan dampak positif pada perkembangan SMA PL dan masyarakat luas sehingga acara puncak tersebut mengusung tema “PL Untuk Indonesia.”

Rangkaian Kegiatan Lustrum X SMA PL[sunting | sunting sumber]

  • PLAC (Pangudi Luhur Alumni Club) – dimulai dari Oktober 2014 (dan masih akan terus dilaksanakan) - Kegiatan rutin bulanan antar komunitas alumni PL membahas isu-isu hangat di berbagai industri & profesi dalam bentuk forum diskusi informal dan sekaligus ajang temu kangen bulanan alumni SMA PL.
  • XPL Golf Tournament – Juni 2015 - Kompetisi golf antar alumni dan umum yang diikuti oleh 200 partisipan.
  • Revitalisasi Fisik SMA PL Jakarta – (Tahap 1 : Agustus 2015 - Oktober 2015) - diprakarsai oleh alumni yang mencoba melakukan renovasi & penataan ulang atas bangunan fisik sekolah, pengecatan beberapa bagian sekolah, dan beberapa perbaikan untuk menciptakan “IMPACT” sekolah yang lebih berkelas.
  • Misa Syukur Ulang Tahun ke 50 SMA PL Jakarta – 23 September 2015 - Ungkapan rasa syukur atas berkat dan pendampingan Tuhan kepada SMA Pangudi Luhur Jakarta serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan pendidikan SMA PL selama 50 tahun ini. Misa Ekaristi dipersembahkan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, diikuti dengan pemberkatan Gedung Honoratus.
  • Browijaya Champions Cup – 26 September 2015 - Galang kekerabatan alumni dalam bentuk pertandingan olahraga (sepak bola, basket, adu panco, dll). Diprakarsai oleh alumni SMA PL angkatan 2004-2015 dan didukung oleh semua alumni lintas angkatan untuk mempererat persahabatan dan mengkomunikasikan kegiatan acara puncak lustrum di tanggal 17 Oktober 2015.
  • PL ART EXPO – 2-3 Oktober 2015 - Rangkaian acara unjuk kreativitas dalam upaya meningkatkan citra SMA PL yang diprakarsai oleh siswa SMA PL. ART EXPO menampilkan pameran karya seni dalam bentuk lukisan, foto, kerajinan tangan, glow art dan mural; serta festival film pendek karya pelajar SMA PL serta sekolah lain yang diundang untuk berpartisipasi. Kegiatan ini juga diramaikan dengan festival kuliner, musik taman, dan bazaar oleh pelajar SMA.
  • PL CYBRO Back To Barrack – 10 Oktober 2015 - Fun Bike keluarga besar SMA Pangudi Luhur Jakarta, diprakarsai oleh PL Cybro (komunitas alumni penggiat olahraga bersepeda). Dengan tema “Back to Barrack,” mengajak para alumni dan stakeholder SMA PL Jakarta untuk bersepeda santai di tengah kota Jakarta.
  • Seminar Pendidikan: Transformasi Pendidik Abad 21 – 10 Oktober 2015 - Seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh guru SMA PL, dihadiri oleh praktisi pendidikan di Jakarta dan Menteri gnatius Jonan sebagai narasumber utama. Seminar ini mengupas upaya transformasi pendidikan dan pemanfaatan teknologi dalam membuat terobosan (termasuk perubahan budaya) untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekolah.
  • PLAKSOS (Aksi Sosial Kesehatan) – 10 Oktober 2015 - Wujud kepedulian sosial siswa SMA PL dalam bentuk kegiatan bakti sosial kesehatan yang didukung oleh alumni PL yang bergerak di dunia medis – berupa: donor darah (umum) & pemeriksaan kesehatan (stakeholder SMA PL)
  • Pagelaran Wayang Kulit “Ki Agus Sambowo Heriyanto: Semar Mbangun Khayangan” – 10 Oktober 2015 - Wujud kepedulian stakeholder SMA PL Jakarta atas budaya ditampilkan dengan menggelar salah satu kegiatan budaya wayang kulit di SMA Pangudi Luhur dengan mengundang masyarakat sekitar dan dihadiri lebih dari 1000 orang pengunjung pada malam minggu yang seru itu. .
  • Bobby’s Memorial Run – Oktober 2015 - Olahraga lari pagi santai dengan jarak tempuh 5 km untuk bersama-sama semua stakeholder SMA PL mengenang kembali kegiatan lari bersama semasa bersekolah di SMA PL yang diprakarsai oleh Bpk. R. Bobby H.S (alm).

Isu Kekerasan di SMA Pangudi Luhur[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana di sekolah-sekolah lain, SMA PL sempat digoncang permasalahan kekerasan di sekolah (bullying). Salah satu kasus terakhir (2007) dialami oleh Blasius Adi Saputra, yang dianiaya fisik dan mental oleh para seniornya. Adi melaporkan kasus ini ke polisi sehingga muncullah isu ini ke publik. Kasus ini menyebabkan empat siswa dikeluarkan dari sekolah. Senioritas di PL di era tahun 1990-2000 an memang sempat mengalami pergeseran nilai yang semakin mengarah pada isu-isu negatif, sehingga pada akhirnya muncul budaya kekerasan/bullying yang juga tidak jelas asal muasalnya. Alumni SMA PL di era sebelum 1990 menyatakan ini bukanlah budaya Pangudi Luhur! Bercermin pada dampak negatif yang membuat nama baik SMA PL Jakarta merosot, maka alumni SMA PL menyatakan sikap menentang budaya kekerasan itu dan mendukung terciptanya suasana belajar mengajar dengan ciri khas SMA PL 'borderless brotherhood".. Solid dan respect tanpa rasa takut dan penindasan. Alumni sekolah ini semakin solid mengawasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan di SMA PL untuk terus mewujudkan peningkatan kualitas terbaik dari SMA Pangudi Luhur Jakarta.

Saat ini SMA Pangudi Luhur tengah mengalami transformasi total dalam proses pembelajaran, budaya, suasana, dan sistem pembelajaran. SMA Pangudi Luhur juga mengedepankan "Persaudaraan Sejati" yang terpancar melalui kuatnya ikatan antar sesama alumni dalam berbagai bidang, seperti: bisnis, ekonomi, lingkungan, sosial, media, dan politik; serta pendampingan pada siswa-siswa SMA PL yang masih bersekolah dengan semangat nilai-nilai: CREATIVE, RESPONSIBLE, SPORTIF, RESPECT, BROTHERHOOD.

Pionir Kegiatan Pentas Seni SMA di jamannya[sunting | sunting sumber]

Dahulu, kegiatan siswa SMA PL yang terkenal adalah PL Fair. Acara ini adalah acara pioneer dari pentas seni SMA di Indonesia yang telah diadakan sejak tahun 1989. Hasil keuntungan dari acara ini digunakan untuk donasi kepada mereka yang kurang mampu, panti jompo, panti asuhan, anak putus sekolah, dll. Bahkan pada tahun 2013, profit dari PL Fair digunakan untuk membangun jembatan di Banten.

Acara ini 100% adalah karya dari murid-murid untuk masyarakat dan turut melibatkan para alumni. Acara ini juga mengasah kemampuan murid-murid dalam bidang: project management, event management, sales & marketing, financing, public relation, dll. Tahapan untuk acara ini (planning sampai execution), termasuk tetapi tidak terbatas pada: brainstorm konsep ide acara, market survey untuk tema acara, rancangan framework acara, pemilihan artis, perencanaan dana (budgeting), pencarian dana / sponsor (sponsorship), penyusunan venue acara, penyusunan run-down acara, dan lain-lain.

Dari perspektif murid-murid, acara ini adalah praktik pelatihan bagi mereka sebelum memasuki universitas dan dunia kerja. Dari perspektif alumni, acara ini adalah event untuk mentoring murid, temu kangen sesama alumni, dan kontribusi kepada almamater SMA Pangudi Luhur melalui bantuan dana dan network. Dari perspektif sekolah, acara ini merupakan alat promosi kreativitas murid-murid dan sumbangsih sekolah kepada masyarakat umum.

Pada usia ke-25 pada tahun 2015, PL Fair tidak lagi dilaksanakan dengan banyak pertimbangan. Pentas seni sudah bukan lagi acuan kreativitas pelajar sekolah menengah dan menjadi ajang hiburan musik semata dengan anggaran yang luar biasa fantastis. Pada tahun 2015, siswa SMA PL mengubah mind-set berkegiatan dengan tidak lagi menyelenggarakan pentas seni seperti PL Fair. Sebuah terobosan baru yang dilakukan adalah dengan membuat pameran karya seni siswa PL dalam bentuk ART EXPO, dimana dengan sederhana tetapi tetap berkelas, karya-karya siswa SMA PL dipamerkan kepada publik di kampus SMA PL Brawijaya.

Sekilas mengenai Bruder Kongregasi FIC[sunting | sunting sumber]

Kongregasi FIC merupakan salah satu perkumpulan biarawan dalam Gereja Katolik yang misi awalnya adalah membantu orang miskin melalui penyediaan pendidikan yang baik serta pengembangan dan pengajaran generasi muda yang terabaikan. Kongregasi ini berkomitmen untuk mengikuti teladan Yesus Kristus dengan menjalani kehidupan sederhana di masyarakat, berdoa bersama dan dengan hidup seturut tiga kaul biarawan, yaitu: kemiskinan, selibat dan ketaatan. Kongregasi ini didirikan pada tahun 1840 oleh Pastor Louis Rutten di Maastricht, Belanda - dengan nama secara resmi adalah Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis (Brothers of the Immaculate Conception of the Blessed Virgin Mary) - Persaudaraan Santa Perawan Maria yang dikandung tak bernoda, sebagai bentuk penghormatan dan devosi Pastor Louis Rutten yang begitu besar kepada Bunda Maria. Pengalaman bahwa Bunda Maria selalu membimbing dan menyertai, membuat Pastor Rutten (pendiri FIC) menyerahkan kongregasi yang didirikannya di bawah perlindungan Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda.

Pastor Rutten memulai karyanya dengan membuka kelas pagi untuk anak kecil di teras gereja St. Servaas, yang kemudian diikuti dengan memulai kelas malam untuk anak laki-laki dan perempuan yang usianya sedikit lebih tua, serta sebuah sekolah anak-anak secara formal. Semangat ini ditularkan kepada beberapa pemuda yang akhirnya tertarik bergabung dengan Pastor Rutten dalam aktivitas pendidikan kaum muda ini. Salah satunya, adalah Bernardus Hoecken, yang kelak menjadi Bruder (saudara) pertama dalam Kongregasi ini.

Sebuah tradisi yang berharga dalam kongregasi ini adalah kesediaan untuk membantu membangun 'dunia yang lebih peduli' bahkan sampai harus rela meninggalkan negaranya sendiri (jika dibutuhkan) demi membantu menjalankan misi pengembangan pendidikan ini. Oleh karena itu pada tahun 1922, sebagai biara yang sudah cukup mapan dan didukung oleh teman-teman di kala itu, saudara-saudara (para bruder) memutuskan untuk pergi ke Indonesia (1920), Chili (1953), Malawi (1960) dan akhirnya Ghana (1965).

Mengenai misi ke Indonesia, Dari 113 bruder yang mendaftarkan diri ke Dewan Umum untuk menjadi misionaris di Jawa, akhirnya pada pesta Paskah 1920 dimeriahkan dengan diumumkannya 5 bruder yang diutus menjadi misionaris, yakni Br. August, Br. Lebuinus, Br. Eufrasius, Br. Constantius, dan Br. Ivo.

Pada hari Minggu, 8 Agustus 1920, sesudah misa agung di biara Induk De Beyart di Maastricht, Br. August dilantik sebagai pemimpin Komunitas FIC St. Fransiskus Xaverius di Yogyakarta. Kemudian 14 Agustus 1920 para misionaris pertama naik kapal Wilis dari Rotterdam, menuju apa yang pada masa tu bernama Batavia (sekarang Jakarta). Tanggal 19 September 1920 mereka sampai di Tanjung Priok dan dijemput oleh Pastor van Lith. Kelima bruder menginap semalam di Gereja Katedral dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan kereta api.

Pada tanggal 20 September 1920 sore, para bruder tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta dan dijemput Pastor Hoeberechts, superior misi. Sesudah disambut di pastoran Kemementstraat (pastoran Kidul Loji sekarang), para bruder diantar ke rumah yang sekarang dikenal dengan Bruderan FIC Fransiskus Xaverius, Jl. P. Senopati 18 Yogyakarta. Sejak itu, tanggal 20 September dikenang sebagai tanggal hadirnya Para Bruder FIC di Provinsi FIC Indonesia.

Para bruder misonaris, selain berkarya di sekolah, juga berusaha menarik panggilan ke Kongregasi FIC. Buahnya, tahun 1924, sesudah empat tahun kedatangan di Jawa, Br. Aloysius Sugiardjo dan Br. Jacobus Hendrowarsito mengikrarkan kaul pertama di Maastricht. Dengan kata lain, dua tahun sesudah kedatangan lima bruder di Yogyakarta, ada dua calon bruder FIC pribumi dan keduanya menerima pendidikan sebagai bruder FIC di Belanda.

Calon-calon berikutnya mengalami pendidikan sebagai calon bruder FIC di Belanda. Semenjak 1 Agustus 1936 dimulailah pendidikan calon bruder di Jawa dan sampai hari ini pendidikan tersebut berjalan terus. Dengan berkembangnya jumlah bruder FIC pribumi, maka berkembang pula jumlah komunitas dan karya yang ditangani. Para bruder tetap berusaha melanjutkan dan membangun pondasi kongregasi yang telah dibangun Pastor Rutten dan Br. Bernardus beserta para misionaris yang datang ke Indonesia.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]