Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pulau Untung Jawa
Kelurahan
Negara Indonesia
ProvinsiJakarta
Kabupaten AdministrasiKepulauan Seribu
KecamatanKepulauan Seribu Selatan
Kodepos14510
Luas1,03 km²[1]
Jumlah penduduk1.726 jiwa (2010)[2]
2.264 jiwa (2017)[1]
Kepadatan2.198 jiwa/km² (2017)[1]
Jumlah RT9
Jumlah RW3
Jumlah KK683

Pulau Untung Jawa adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Saat Indonesia dikuasai Oleh Hindia Belanda, ternyata pulau-pulau di wilayah Kelurahan Pulau Untung Jawa sudah dikuasai oleh orang-orang pribumi yang berasal dari daratan Pulau Jawa. Sejak tahun 1920-an, wilayah ini dipimpin oleh seseorang yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Bek' (Lurah-red) Fi'i dan Bek Kasim, yang berdomisili di Pulau Kherkof dan memimpin beberapa pulau.

Penguasaan Belanda menjadikan nama-nama pulau yang ada dikepulauan seribu sekarang yang kita kenal berbau Belanda, kemudian pasca kemerdekaan RI nama nama tersebut telah diubah. beberapa nama pulau yang diganti adalah sebagai berikut:

  • Pulau Amiterdam menjadi Pulau Untung Jawa.
  • Pulau Middbur menjadi Pulau Rambut (suaka margasatwa).
  • Pulau Rotterdam menjadi Pulau Ubi Besar.
  • Pulau Sehiedam menjadi Pulau Ubi Kecil.
  • Pulau Purmerend menjadi Pulau Sakit kemudian diubah kembali menjadi Pulau Bidadari.
  • Pulau Kherkof menjadi Pulau Kelor.
  • Pulau Kuiper menjadi Pulau Cipir/Khayangan.
  • Pulau Onrust menjadi Pulau Kapal/Pulau Sibuk.

Imigrasi[sunting | sunting sumber]

Sekitar tahun 1930-an, karena kondisi daratan pulau yang abrasi (terkikis oleh air laut), Bek Marah (nama Lurah tersebut) menganjurkan rakyatnya yang tinggal di Pulau Kherkof untuk pindah ke Pulau Amiterdam (Untung Jawa). Perjalanan dengan kapal layar sampai di Pulau Amiterdam, dan penduduk asli pulau menerima dengan tangan terbuka. Nama asli penduduk Amiterdam tersebut antara lain Cule, Kemple, Derahman, Derahim, Selihun, Sa'adi, Saemin, mereka menganjurkan agar segera memilih lahan untuk langsung 'digarap'. Akhirnya Pulau Amiterdam berganti nama menjadi "Pulau Untung Jawa" yang berarti keberuntungan bagi orang orang dari daratan Pulau Jawa saat itu.

Berakhirnya nama Amiterdam dan berakhir pula kepemimpinan Bek Marah yang kemudian digantikan oleh Bek Midih dengan masa jabatan selama kurang lebih 10 tahun, lalu dilanjutkan kembali oleh Bek Markasan kemudian Bek Saenan.

Serangan Nyamuk besar-besaran[sunting | sunting sumber]

Sekitar tahun 1940-an, datang serangan nyamuk besar-besaran. Karena tak tahan dengan penderitaan rakyatnya, Bek Saenan menyarankan untuk bermukim ke Pulau Ubi Besar. Penderitaan seakan semakin parah. Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari hari yang biasa mereka dapat dari Pasar Ikan Sunda Kelapa menjadi sangat sulit diakibatkan oleh penjajahan Nippon (Jepang) saat itu.

Tahun 1945, perubahan besar terjadi diseluruh pelosok Nusantara karena Indonesia telah merdeka dari belenggu penjajah. Perubahan inipun dirasakan oleh masyarakat kepulauan seribu pada umumnya. Antara lain kata 'Bek' berubah menjadi Lurah begitu juga dengan kepemimpinannya.

Pemerintahan bukan lagi Hindia Belanda atau Jepang, melainkan Pemerintahan Indonesia. Berubahnya mekanisme kepemerintahan, Bek Saenan pun digantikan oleh Lurah pertama yaitu Lurah Maesan.

Pulau Ubi Besar tak luput dari abrasi. Atas prakarsa Lurah Maesan dengan persetujuan pemerintah mereka hijrah yang kedua kalinya ke Pulau Untung Jawa.

Desa Wisata Nelayan[sunting | sunting sumber]

Pada 13 Februari 1954, Lurah bersama penduduk berinisiatif mendirikan tugu peringatan kepindahan yang terletak di tengah pulau tersebut. Mulai saat itu, semakin banyak kemajuan yang dirasakan masyarakat Pulau Untung Jawa dan pemerintah DKI tidak tinggal diam memperhatikan kemajuannya.

Lama sesudah kepemimpinan Lurah Maesan dan kemudian dilanjutkan oleh lurah-lurah lainnya. Nama-nama lurah yang memimpin di Pulau Untung Jawa sampai dengan sekarang ini adalah: Maesan, Muran, sumawi, Marzuki, Safi'i, Abdul Manaf, Machbub Sanadi, Haman Sudjana, Ambas, Slamet Riyadi S.sos, Agus Irwanto dan Eko Suroyo, S.Sos., M.Si.

Pemerintah dengan segala daya upaya yang didukung oleh masyarakat terus meningkatkan pembangunan dan taraf kehidupan. Dan akhirnya mulai tahun 2002 Pulau Untung Jawa dicanangkan sebagai Desa Wisata Nelayan.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2017, Kelurahan ini memiliki penduduk sebesar 2.264 jiwa yang terdiri dari 1.171 laki-laki dan 1.472 perempuan dengan seks rasio 79.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dalam Angka 2018". Badan Pusat Statistik Indonesia. 2018. Diakses tanggal 13-07-2019. 
  2. ^ "Penduduk Indonesia Menurut Desa 2010" (PDF). Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 132. Diakses tanggal 14 Juni 2019. 
  3. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]