Prayungan, Sumberejo, Bojonegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lurah 7 Bapak Rofi'i.jpg

PROFIL DESA[sunting | sunting sumber]

  • LUAS WILAYAH : 230,600 Ha (Lahan Pertanian 129 Ha dan selebihnya lahan Pekarangan dan perumahan)
  • Terdiri dari 3 Dusun, 4 RW, dan 17 RT–Dusun Prayungan   (Kasun Sri Rahayu)

–Dusun Medalem Timur   (Kasun H. Isa Ashari) –Dusun Medalem Barat  (Kasun Rochmadiyah)

  • Jumlah Penduduk 2.740 Jiwa–Laki-laki   : 1.327 jiwa

–Perempuan  : 1.413 jiwa

  • Mayoritas Penduduk bekerja sebagai petani/buruh tani, Pekerja Pabrik dan PNS

VISI DAN MISI DESA PRAYUNGAN[sunting | sunting sumber]

DESA PRAYUNGAN

“ TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL, MAKMUR,

DAN SEJAHTERA MELALUI PENINGKATAN KUALITAS

SUMBER DAYA MANUSIA, PERTANIAN YANG MAJU , AMAN, DAN AGAMIS. “ Untuk merealisasikan Visi Desa Prayungan Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro menjadi kegiatan nyata yang secara langsung dapat dirassakan manfaatnya oleh masyarakat, maka diperlukan perumusan misi sebagai berikut :Menambah Sarana dan Prasarana yang dibutuhkan.

  1. Meningkatkan Sumber Daya Manusia ( SDM ) melalui Pendidikan formal dan non formal.
  2. Bekerja sama dengan Petugas Penyuluh Lapangan untuk meningkatkan hasil – hasil Pertanian.
  3. Meningkatkan kerja sama dengan mitra kerja perusahaan yang berbadan hokum.
  4. Mengelola dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa ( PAD ).
  5. Mewujudkan Pemerintahan Desa yang baik dan bersih melalui Pelaksanaan Otoda.

SEJARAH DESA[sunting | sunting sumber]

SEJARAH DESA PRAYUNGAN

  Terjadinya Desa Prayungan, hampir bersamaan dengan jaman mojopahit, Jalan ceritanya adalah sebagaimana berikut :

  Kyai Tjok Brosot begitulah orang tua terdahulu di Desa Menyebutkan, hidup dengan seorang istri bernama Kyai Tani. Kehidupan keluarga ini bahagia dan sejahtera, disamping saling mengasihi mereka pun rajin bertani, mereka memiliki seorang pembantu yang sangat sakti dan bijaksana bernama Sungging Purbongkoro.

  Menurut Dongeng Sesepuh Desa, bahwa rumahnya terletak di suatu tempat yang dinamakan Desa Juma, Pendoponya (tempat untuk menerima tamu) di dayohan (prayungan), dapurnya di mejuwet, sawahnya di Desa Pratun yang di sebut sawah lembak. Istri Tjok Brosot (Kyai Tani) terkenal dengan kecantikannya, sehingga banyak orang-orang yang ingin merebutnya dari Tjok Brosot.

   Pada suatu hari datanglah seorang tamu/dayoh, yaitu Putro Kyai Sendang Drajat Sedayu. Kedatangnya bermaksud untuk mengadu kesaktiannya dengan Tjok Brosot, disamping itu tamu tersebut juga ingin merebut Kyai Tani dari tangan Tjok Brosot. Kyai Tjok Brosot sanat termashur dengan kesaktiannya baik dalam ilmu bela diri maupun ilmu pertanian.

     Dalam hikayatnya diceritakan kesaktian Kyai Tjok Brosot di bidang pertanian adalah setiap beliau menanam padi pasti hasilnya melimpah ruah dan ulen padinya, panjang tanamannya hampir setengah depa lebih, sehingga tiada yang mampu menyaingi hasil panen dari Kyai Tjok Brosot. Mengetahui demikian Putro Kyai Sendang pun tidak kehilangan akal, dia menantang Kyai Tjok Brosot dengan barang siapa yang mampu menanam padi meskipun tumbuhan padinya pendek tetapi hasilnya melimpah dan ulen, Kyai Tjok Brosot menganggap itu hal yang mudah dan menyanggupinya, beliau berkata : ( Tak ladeni apa sing dadi kekarepanmu lan menawa aku kalah Nyai Tani dak pasrahke Sliramu, anangin yen ora gelem karo sliramu Nyai Tani ojo dipekso) Maka dimulailah pertandingan menanam padi tersebut.

       Setelah beberapa bulan menunggu tanaman Padi yang tumbuh ternyata yang menang adalah Putro Kyai Sendang Drajat, dan dengan berat hati Kyai Tjok Brosot pun menepati janjinya untuk menyerahkan Nyai Tani ke tangan Putro Kyai Sendang Drajat. Akan tetapi Nyai tani tidak bersedia dibawa oleh Putro Kyai Sendang Drajat, sehingga diapun dipaksa akan dibawa pergi, mendengar hal tersebut Kyai Tjok Brosot pun marah dan mengadu kesaktian bela dirinya dengan Putro Kyai Sendang Drajat Sedayu, Perang pun berlangsung dengan sengit dan lama secara Uyang uyungan, dan tempat berlangsungnya perang tersebut ahkirnya diberi nama Prayungan sampai sekarang ini. Jadi Asal-Usul Nama Prayungan berasal dari nama "Perang Uyang-Uyungan".

"Terbentuknya Desa Prayungan"

       Sejarah terbentuknya Desa Prayungan tidak dibukukan akan tetapi disini dapat diketengahkan bahwa sebelum tahun 1898 sudah terdapat kepala desa hasil tunjukan dari Kanjeng Bupati Bojonegoro yang namanya masih belum bisa diketahui.

        Untuk lebih jelasnya berikut adalah nama-nama Kepala Desa Prayungan yang pernah menjabat sampai sekarang ini :

1. Mbah Lurah Upas (ditunjuk oleh Kanjeng Bupati Bojonegero)  (Tahun 18…. – 1898)

2. Prawiroredjo Kasidin (Tahun 1898 – 1923)

3. Kasbi (1923 – 1965)

4. S. Sungkono (1965 – 1967)

5. H. M. Roesman (1968 – 1989)

6. Supranti, MS (1990 – 2003)

7. Drs. H. Imam Rofi’i (2004 – sekarang) Images By : Admin Website Desa