Philolaos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Ilustrasi Abad Pertengahan yang menggambarkan Pythagoras and Philolaos yang sedang menyelidiki musik

Philolaos adalah seorang filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Phytagoras.[1] Selain sebagai filsuf, ia juga dikenal sebagai dokter dan juga penulis.[2] Ia adalah filsuf pertama dari Mazhab Phytagoras yang mengeluarkan karya tertulis.[3][4]

Namanya disebut-sebut di dalam koleksi-koleksi teori medis sejak awal abad ke-5 SM.[2] Selain itu, terdapat keterangan tentang dirinya dari sebuah papirus yang terdapat di British Museum.[2] Hanya ada sedikit fragmen dari tulisannya yang masih tersimpan hingga kini.[3] Salah satu karyanya yang terkenal adalah "Perihal Alam" (On Nature).[1]

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Philolaos berasal dari Kroton.[1] Ia lahir sekitar tahun 470 SM.[1] Setelah sekolah mazhab Phytagoras di Kroton hancur dan anggotanya tercerai-berai, ia pergi dan menetap di Thebes.[1][2][5] Kemudian ia pergi lagi dan menetap di Targentum.[2][5] Kedua murid Sokrates yang mendampingi saat-saat terakhirnya, diketahui juga sebagai murid Philolaos.[1][2]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Tentang Yang Terbatas dan Yang Tak Terbatas[sunting | sunting sumber]

Philolaos menyatakan bahwa ada dua prinsip di dalam segala yang ada.[3][5] Kedua prinsip tersebut disebutnya "yang terbatas" dan "yang tak terbatas".[1][4][5] Walau berbeda, keduanya dipersatukan oleh "keteraturan".[1][3][4][5] Dengan demikian, segala sesuatu berasal dari elemen-elemen berbeda yang dipersatukan oleh "keteraturan" tersebut.[1]

Selain itu, segala sesuatu yang ada juga dapat dikenal dengan angka-angka.[3] Alasannya adalah bahwa bila segala sesuatu yang ada terbatas, maka ia dapat dipisahkan satu dengan yang lain.[3] Bila sesuatu dapat dipisah-pisahkan, berarti sesuatu itu akan selalu dapat dihitung.[3] Karena itu, segala "yang terbatas" yang manusia ketahui selalu akan dapat dihitung.[3]

Tentang Alam Semesta[sunting | sunting sumber]

Mengenai alam semesta, Philolaos berpendapat bahwa hal pertama yang menjadi "teratur" adalah apa yang disebut "tungku api". "Tungku api" ini terletak di pusat alam semesta.[1][4] Dengan demikian, alam semesta dipandang sebagai suatu kesatuan.[1] Ke-ada-an dimulai dari pusatnya, "tungku api", lalu mengembang ke segala arah.[1] Philolaos berpendapat bahwa "tungku api" ini merupakan dunia dewa-dewi.[1] Kemudian di sekelilingnya terdapat langit, matahari, bulan, bumi, dan benda-benda lain yang terbentuk dari api yang bersumber dari "tungku api".[1]

Tentang Manusia[sunting | sunting sumber]

Ada empat prinsip dari manusia, yakni otak, jantung, pusar, dan alat kelamin.[1] Kepala adalah tempat berpikir.[1] Jantung adalah tempat jiwa dan tempat merasakan segala sesuatu.[1] Pusar adalah tempat pertumbuhan awal manusia.[1] Alat kelamin adalah tempat benih kehidupan dan perkembang-biakan manusia.[1] Otak adalah inti dari manusia yang membedakannya dengan makhluk hidup lain.[1]

Tentang Penyakit[sunting | sunting sumber]

Menurut Philolaos, penyakit disebabkan oleh empedu, darah, dan lendir.[1] Ketiga unsur itu adalah prinsip dari segala penyakit.[1][2] Ia mengatakan bahwa darah menggumpal ketika daging di dalam tubuh semakin padat.[1] Sedangkan darah akan menjadi lebih cair ketika pembuluh darah bercabang.[1] Lendir merupakan persenyawaan air hujan.[1] Kemudian empedu dianggap sebagai cairan dari daging.[1] Penyakit muncul ketika terjadi situasi yang terlalu dingin atau terlalu panas terhadap ketiga zat tersebut.[1][2]

Tentang Jiwa[sunting | sunting sumber]

Philolaos memandang jiwa sebagai yang terpenjara di dalam tubuh.[1] Jiwa adalah percampuran dan harmoni antara elemen-elemen berbeda yang terdapat di dalam tubuh.[2] Akan tetapi, berbeda dengan para filsuf mazhab Phytagoras lainnya, ia berpendapat bahwa jiwa akan menghilang bersama dengan tubuh.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab (Inggris)Jonathan Barnes. 2001. Early Greek Philosophy. London: Penguin. P. 176-181.
  2. ^ a b c d e f g h i j (Inggris)Edward Zeller. 1957. Outlines of the History of Greek Philosophy. New York: Meridian Books. P. 54-56.
  3. ^ a b c d e f g h (Inggris)Ted Honderich (ed.). 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford, New York: Oxford University Press. P. 734.
  4. ^ a b c d (Inggris)Carl A. Huffman. 1999. "The Phytagorean Tradition". In The Cambridge Companion to Early Greek Philosophy. A.A. Long, ed. 66-87. London: Cambridge University Press.
  5. ^ a b c d e (Inggris)Albert A. Avey. 1954. Handbook in the History of Philosophy. New York: Barnes & Noble. P. 16.

Lihat Juga[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]