Pesanggrahan, Batu, Batu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Pesanggrahan
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Timur
Kota Batu
Kecamatan Batu
Pemerintahan
 • Kepala desa Anam Suyanto (2008 - sekarang)
Kodepos 65313
Luas ... km²
Jumlah penduduk ... jiwa
Kepadatan ... jiwa/km²

Pesanggrahan adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Batu, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pesanggrahan, pada zaman dahulu adalah sebuah tempat dimana para Petinggi Kerajaan beristirahat. Konon para Raja, Ratu, Adipati dan Punggawa Kerajaan antara lain Raja Mataram bersama para Istri selirnya sering mandi di sumber mata air panas Songgoriti dan beristirahat atau “Mesanggrah” [Jawa] di tempat yang sekarang ini orang menyebut Desa Pesanggrahan. Wilayah Pesanggrahan yang karena letaknya di bawah lereng Gunung Panderman, panoramanya yang indah serta hawanya yang sangat sejuk [saat itu] menjadikan daya tarik tersendiri bagi orang dari luar untuk beristirahat di tempat ini, disamping itu tempat ini sudah menjadi salah satu tempat di mana banyak Petinggi Kerajaan beristirahat pada zaman itu, maka pada akhirnya wilayah ini dinamakan Desa Pesanggrahan. Dalam era perkembangannya, karena tingkat keramaian dan kemajuan sosial budaya masyarakat semakin tinggi, Desa Pesanggrahan dibagi menjadi beberapa wilayah kecil yang disebut “Dusun” yang namanyapun mengikuti sejarah asal usul dusun masing-masing.

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Desa Pesanggrahan berlokasi tepat pada lereng gunung Panderman persis berada pada lereng sebelah utara gunung panderman. Desa Pesanggrahan dibatasi oleh kelurahan Ngaglik pada sebelah timur, Desa Songgokerto pada sebelah utara, sementara sebelah barat dan selatan langsung berbatasan dengan hutan.

Dusun[sunting | sunting sumber]

  • Dusun Srebet. Kata “Srebet”, berasal dari bahasa Jawa “Semrebet“, kata tersebut dalam bahasa Indonesia artinya menebar/semerbaknya aroma harum/wangi seseorang. Makna lain dari kata “Semrebet“ adalah sebuah bunyi Baju Jarik seorang perempuan yang berbunyi “Brebat–brebet“ [Jawa]. Nama Dusun Srebet diambil dari menebarnya [Semrebet] aroma harum dan bunyi [Brebat-Brebet] Baju Jarik seorang perempuan yang diyakini oleh warga masyarakat sebagai orang yang membuka/Bedah Krawang Dusun Srebet. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Mbah Ageng Maimunah Mayangsari” yang saat ini “Pesareannya“ berada di Jl. Cempaka Gg. Pesarean, dan tempat tersebut hingga kini selalu dikunjungi masyarakat baik dari dalam maupun dari luar Kota Batu.
  • Dusun Wunucari. Dusun Wunucari berada disebelah utara Dusun Srebet. Pada mulanya dusun ini adalah sebuah wilayah kecil yang sangat banyak ditumbuhi pepohonan besar dan rindang. Di antara banyaknya pepohonan tersebut terdapat satu pohon yang paling besar yang konon orang menyebutnya kala itu dengan nama “Pohon Wunut“, sehingga pada akhirnya daerah ini dinamakan Dusun Wunucari.
  • Dusun Krajan/Pesanggrahan. Dusun Krajan/Pesanggrahan tepatnya berada disekitar Balai Kota Batu [saat ini]. Dusun ini dinamakan “Pesanggrahan” atau “Krajan“, singkatan dari kata “Kerajaan“. Artinya bahwa di tempat inilah pada zaman dahulu para Raja, Adipati dan Pembesar Kerajaan beristirahat. Dusun Pesanggrahan /Krajan berarti tempatnya para raja beristirahat. Fakta sejarah hingga kini bahwa daerah ini paling banyak berdiri termpat peristirahatan berupa hotel-hotel. Dari sinilah nama Desa Pesanggrahan juga diambil.
  • Dusun Macari/Pesantren. Pada zaman dahulu di daerah ini terdapat seorang ulama yang menyebarkan agama Islam. Masyarakat menyebutnya Kyai Matsari [Jawa] yang berasal dari bahasa Arab “Muhammad Asy’ari”. Dia juga mendirikan sebuah tempat pendidikan berupa Pesantren yang pada akhirnya menjadi nama sebuah dusun yaitu “Macari” atau orang dahulu sering juga menyebutnya dengan Dusun “Pesantren” yang letaknya kini disebelah timur Balai Kota Batu.
  • Dusun Toyomerto/Seruh. Seruh atau Toyomerto, dulu merupakan daerah pegunungan serta perkebunan jeruk dan kopi. Di daerah tersebut juga terdapat banyak binatang buas berupa harimau, babi hutan, rusa dll. Pada areal hutan dan perkebunan, masyarakat sekitar sering menjumpai bekas garukan kaki harimau pada tanah, orang sering menyebut “Serutan“ kaki harimau. Disamping itu pada malam hari seringkali terdengar raungan harimau yang seru. Dari suara raungan harimau serta garukan [Serutan:Jawa] harimau tersebut, pada akhirnya manyarakat menyebut daerah itu dengan nama Dusun “Seruh/Seruk”. Pada sekitar tahun 1973, karena perkembangan sosial ekonomi yang lebih maju, masyarakat dengan dimotori oleh seorang petugas dari Dinas Pengairan yang bernama Iskhak berusaha membuat aliran air untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat yang sebelumnya sangat kekurangan. Sehingga melimpahlah air di Dusun Seruh. Karena melimpahnya air tersebut, nama Dusun Seruh/Seruk diganti oleh masyarakat menjadi “Dusun Toyomerto“.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]