Pertempuran Busrah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pertempuran Busrah
Bagian dari Operasi Militer Khalid bin Walid, Penaklukan Islam di Suriah
Syria bosra theater.jpg
Teater Roma Busrah
Tanggal Juni-Juli 634 M.
Lokasi Busrah, Suriah
Hasil Kemenangan kaum muslimin
Pihak yang terlibat
Kekhalifahan Rasyidin Kekaisaran Romawi Timur,
Kerajaan Ghassan
Komandan
Khalid bin Walid Heraklius,
Romanus
Kekuatan
13.000 12.000
Korban
130 8.000

Pertempuran Busrah terjadi dalam rangka perebutan kota yang juga merupakan ibukota dari kerajaan Ghassan (dibawah kekuasaan kekaisaran Romawi Timur). Pengepungan kota memakan waktu satu bulan lamanya yaitu mulai bulan Juni hingga Juli 634 M. Kota Busrah adalah kota penting pertama di Suriah yang jatuh ke tangan kaum muslimin.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Khalifah Abu Bakar mengirim empat kontingen pasukan ke berbagai distrik di Suriah dibawah pimpinan Amr bin Ash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Shurahbil bin Hassana dan Yazid bin Abu Sofyan. tetapi mereka mengalami kesulitan untuk merebut kota-kota itu karena adanya bala bantuan dari konsentrasi pasukan Romawi Timur di Ajnadain. Khalifah kemudian memutuskan mengirim Khalid bin Walid (Penakluk Persia) ke Suriah untuk menjadi panglima utama.

Sesudah Khalid bin Walid tiba di Suriah dan memimpin pasukan, dengan cepat satu persatu kota berhasil direbut dan akhirnya tiba di kota Busrah pada bulan Juni 634 M. Sesuai instruksi, Abu Ubaidah bin Jarrah harusnya tetap berada di distrik Hauran yang telah direbutnya untuk menunggu kedatangan Khalid di Busrah. Tetapi ia merasa sangat khawatir karena kota Busrah dijaga oleh gabungan tentara romawi dan arab kristen yang kuat dan terlatih dibawah seorang pimpinan panglima Romawi.

Ketika Khalid disibukkan oleh pembebasan kota di Suriah Timur, Abu Ubaidah memutuskan menyerang kota Busrah. Ia mengirim Shurahbil beserta 4000 tentara untuk merebut kota tersebut. Saat pasukan Shurahbil bergerak menuju kota, dengan segera pasukan romawi membuat benteng pertahanan yang terdiri atas 4000 orang. Sebenarnya pasukan Shurahbil ini adalah pasukan garis depan saja karena mereka ditugasi untuk mengepung kota sambil menunggu tibanya pasukan Khalid. Shurahbil berkemah di barat kota dan menugaskan pasukannya mengepung benteng.

Selama dua hari tidak terjadi pertempuran, baru pada hari ketiga ketika pasukan Khalid sedang bergerak menuju Busrah, tentara Romawi keluar dari benteng dan bertempur dengan pasukan Shurahbil di luar batas kota.

Ketika kedua pasukan telah siap bertempur, Shurahbil menawarkan terlebih dahulu kepada komandan Romawi (seperti yang selalu disampaikan oleh setiap komandan muslim sebelum memulai pertempuran) tiga opsi yaitu masuk Islam, atau berdamai dan membayar jizyah atau perang. Komandan Romawi tetap memilih perang. Pertempuran-pun akhirnya pecah menjelang siang hari.

Selama dua jam pertama peperangan, kedua belah pihak tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Baru menjelang sore hari, keunggulan pasukan Romawi mulai tampak dan pertempuran berjalan sesuai rencana mereka. Pasukan roma berhasil maju dan membuat pengepungan dikedua sisi, pertempuran semakin sengit. Pasukan muslim menunjukkan keberanian yang luar biasa dengan bertempur sengit untuk membongkar pengepungan ini meskipun usaha mereka tidak berhasil dan pada sore harinya pengepungan semakin kuat.

Secara mengejutkan datanglah bala bantuan pasukan berkuda khalid terjun ke medan perang. Khalid bin Walid saat itu berada satu mil dari kota ketika mendengar suara peperangan. Dengan segera ia memerintahkan pasukan berkudanya terjun ke medan perang tetapi ia sendiri tidak ikut serta.

Menyadari kedatangan pasukan berkuda muslim, pasukan romawi segera membubarkan pengepungan dan mundur kembali kedalam benteng sehingga pasukan Shurahbil terbebas dari kepungan. Setelah peristiwa pembebasan ini, kharisma panglima Khalid menjadi semakin bersinar di mata para tentara Islam.

Jalannya Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Keesokan harinya, pasukan Romawi keluar lagi dari benteng untuk melanjutkan pertempuran. Rasa takut mereka akan kedatangan bala bantuan dari pasukan Khalid sehari sebelumnya sudah lenyap karena melihat bahwa setelah kedatangan pasukan ini ternyata kekuatan kedua belah pihak masih berimbang. Maka mereka memutuskan untuk mencoba keberuntungan seperti hari sebelumnya yang hampir sukses mengepung pasukan Islam dan juga berharap musuhnya masih kelelahan karena baru saja tiba dari perjalanan jauh.

Kedua belak pihak berhadapan di suatu tanah lapang tepat di luar kota Busrah. Khalid tetap sebagai pucuk pimpinan pasukan Islam. Ia menunjuk Raafe bin Umair sebagai komandan pasukan sayap kanan dan Dhiraar bin Al Azwar sebagai komandan pasukan sayap kiri. Untuk front tengah ia menempatkan Abdur Rahman bin Abu Bakar (anak khalifah Abu Bakar) sebagai komandan.

Sebelum pertempuran dimulai dilakukan pertarungan antar dua komandan, yaitu Abdur Rahman dari pihak Islam melawan salah seorang komandan Romawi. Abdur Rahman berhasil mengalahkannya, tetapi sebelum ia sempat membunuhnya , komandan tersebut lari kembali kedalam barisan pasukan. Dengan segera Khalid memerintahkan serangan disemua front.

Hanya beberapa saat saja pasukan romawi menunjukkan keberanian dalam bertempur, sampai tertembusnya barisan mereka di kedua sayap terutama oleh pasukan sayap kiri. Komandan Dhiraar menunjukkan keberanian luar biasa sehingga mengobarkan semangat anak buahnya. Karena panasnya hari itu, ia membuka baju pelindung sehingga membuatnya lebih ringan dan lincah, kemudian ia juga membuka baju sehingga bertelanjang dada. Ia bertempur dengan kelincahan yang luar biasa dan menebas leher setiap tentara romawi yang berhadapan dengannya. Oleh karena aksinya ini, hampir seminggu lamanya setelah pertempuran cerita tentang komandan Islam yang bertempur sambil bertelanjang dada menyebar di seluruh wilayah Suriah, ia dielu-elukan oleh kaum muslimin dan ditakuti oleh setiap tentara Romawi, sehingga hanya tentara roma yang benar-benar pemberani sajalah yang berani berhadapan dengannya dalam pertempuran selanjutnya.

Setelah buyarnya konsentrasi tentara romawi akibat tertembusnya barisan, akhirnya mereka mundur kembali kedalam benteng. Pada saat itu panglima Khalid juga turut bertempur dengan berjalan kaki dan berdidi paling depan. Saat ia kembali ke belakang untuk memberi perintah pengepungan, ia melihat seorang penunggang kuda menerobos masuk ke tengah-tengah pasukan. Penunggang kuda tersebut adalah Abu Ubaidah bin Jarrah sambil membawa panji kuning yang juga dipakai oleh Nabi Muhammad SAW. saat perang Khaibar. Ia memberikan panji tersebut kepada Khalid yang menunjukkan bahwa Khalid-lah yang akan menjadi panglima utama untuk pertempuran selanjutnya. Khalid menerima panji tersebut sambil berkata :

Demi Allah, kalaulah bukan karena aku harus mematuhi perintah Khalifah, maka aku tidak akan pernah mau menerima ini. Kamu lebih tinggi kedudukannya daripada aku dalam Islam. Aku hanyalah seorang sahabat Rasulullah, tetapi kamu adalah seorang yang mana Rasulullah memberi gelar sebagai orang yang memegang amanat dari umat ini.

Pasukan Islam kemudian mengepung rapat kota Busrah. Pucuk pimpinan tentara Romawi putus asa, karena ia menyadari bahwa sebagian besar pasukan cadangan sudah menuju ke kota Ajnadain, dan meragukan akan mendapat bala bantuan dari sana. Beberapa hari kemudian ia menyatakan menyerah secara damai. Khalid menerima penyerahan ini dengan syarat mereka mau membayar jizyah atau upeti. Menyerahnya kota Busrah kepangkuan Islam ini terjadi pada pertengahan bulan Juli tahun 634 M.

Komandan Romanus masuk Islam[sunting | sunting sumber]

Versi lain dari perang ini adalah bahwa adanya salah seorang komandan Romawi yaitu Romanus masuk Islam setelah kedatangan pasukan Khalid ke Busrah pada pertengahan perang. Masuknya Romanus ke dalam Islam membawa pengaruh besar pada jalannya pertempuran selanjutnya karena dengan panduannya pasukan Islam berhasil menembus benteng pertahanan lawan pada malam hari yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang sangat besar dikalangan tentara romawi.

Seperti biasa sebelum pertempuran dimulai diadakan pertarungan antar komandan dari kedua belah pihak. Khalid maju sebagai komandan pasukan Islam dan Romanus sebagai komandan pasukan Romawi. Sebelum duel dilakukan, Khalid menawarkan Romanus agar masuk Islam, dan secara mengejutkan ajakan ini diterimanya setelah menanyakan beberapa hal tentang Islam kepada Khalid. Ia menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian ia menuju ke markas pasukan Islam

Kemudian ia memberi kabar kepada pasukan Romawi dengan menulis surat yang isinya:

Kepada musuh Allah dan Rasulnya. Kalian janganlah lupa bahwa aku telah memilih Islam sebagai agamaku. Sejak saat ini tidak ada lagi tali yang mengikat antara kalian dengan aku, baik di dunia ini maupun di akhirat. Aku menyangkal adanya penyaliban terhadap Yesus, dan memutuskan ikatan dengan pengikutnya. Aku memilih Allah sebagai tuhanku dan Nabi Muhammad SAW. sebagai nabi dan Rasul terakhir, Ka'bah sebagai kiblatku, dan kaum muslimin sebagai saudara seimanku. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah SWT. dan Muhammad adalah Rasul pilihannya. Aku meyakini bahwa Allah akan memuliakan agama ini beserta pengikutnya.

Masuknya Romanus kedalam Islam membuat ciut nyali pasukan Romawi, mereka memutuskan mundur dari pertempuran untuk mempertahankan benteng kota. Pada saat pasukan Islam mengepung kota Busrah, Romanus memandu satu detasemen khusus yang dikomandani oleh Abdur Rahman untuk melewati terowongan tepat dibawah benteng kota. Mereka berhasil membuka pintu gerbang kota sehingga seluruh pasukan muslim bisa memasuki benteng. Dengan meneriakkan kalimat Allahu Akbar mereka menyerbu dan membunuh banyak pasukan romawi sedangkan sisanya langsung menyerah. Rakyat kota Busrah akhirnya menyetujui pembayaran jizyah sehingga perdamaian tercapai.

Penaklukan kota Busrah yang terjadi pada minggu kedua bulan Juli tahun 634 M. adalah penaklukan kota penting pertama di Suriah oleh kaum muslimin. Tentara Islam hanya kehilangan 130 jiwa sedangkan pasukan Romawi harus merelakan beberapa ribu nyawa pasukannya. Khalid mengirim surat kepada Khalifah Abu Bakar tentang keberhasilan merebut kota ini dan juga mengirim seperlima dari rampasan perang. Penaklukan kota Busrah ini membuka jalan kepada pasukan Islam untuk menaklukkan seluruh Suriah.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]