Pengepungan Damaskus (634)
Pengepungan Damaskus terjadi pada masa peralihan kepemimpinan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ke Umar bin Khattab. Pemimpin Pengepungan Damaskus adalah Khalid bin Walid atas perintah Khalifah saat itu, yaitu Abu Bakar. Ketika pengepungan berlangsung, Abu Bakar wafat dan posisi khalifah berpindah ke Umar bin Khattab. Perintah pertamanya adalah penggantian posisi panglima dari Khalid bin Walid menjadi Abu Ubaidah bin al-Jarrah.[1]
Awal Pengepungan
[sunting | sunting sumber]Pasukan muslimin bergerak melakukan perjalanan menuju Damaskus pada tanggal 20 Jumadil Akhir 13 H (20 Agustus 634 M). Pengepungan kota Damaskus dimulai dengan menjaga seluruh gerbangnya yang terdiri dari 6 gerbang.[2]
Khalid menjaga daerah sebelah timur kota. Ia juga mengirim satuan kecil di sebelah utara Damaskus untuk berjaga-jaga dan memata-matai gerakan Bizantium. Syurahbil menjaga Gerbang Thomas di sebelah timur laut. Abu Ubaidah menjaga Gerbang Jabiya di barat dan Yazid menjaga dua gerbang kecil di selatan.[3]
Khalid memberikan lima intruksi kepada masing-masing pimpinan. Pertama, membuat tenda markas diluar jarak jangkauan panah musuh. Kedua, terus menerus menjaga dan memeriksa gerbang. Ketiga, siapkan pemanah jika dijumpai musuh yang mengganggu di atas benteng. Keempat, pukul mundur musuh yang menyerang ke luat benteng dan kelima, jika situasi kritis, segera meminta pertolongan pada pasukan utama di bawah komando Khalid.
Sementara Dhirar memimpin 2.000 pasukan berkuda untuk melakukan inspeksi setiap malam untuk mencari celah kelemahan musuh.Keesokkan harinya, kedua jendral Bizantium yang tertawan, Azazir dan Kulus di bawa ke depan benteng di mana pasukan Bizantium dapat menyaksikkan pimpinannya. Keduanya telah ditawarkan masuk Islam tetapi mereka menolak. Beberapa saat kemudian keduanya dihukum mati oleh eksekutor Dhirar.
Tiga pekan lamanya pengepungan berlangsung, belum ada tanda-tanda kemenangan dan kekalahan antar kedua belah pihak. Di lain pihak, intelijen Muslimin yang berada di antara Emessa dan Damaskus, melihat ribuan (12.000 pasukan) Bizantium sedang bergerak menuju Damaskus pada tanggal 10 Rajab 13 H (9 September 634 M). Informasi ini tidak mengejutkan Khalid yang sudah menduga akan datangnya bantuan Heraklius yang tidak rela melepaskan Damaskus.
Sejumlah 5.000 kavaleri disiapkan Khalid dengan mempercayakannya pada Dhirar dan wakilknya, Rafi. Atas perintah Khalid mereka bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke Saniyat al-Uqab di utara, tempat mereka menyambut datangnya pasukan bantuan Bizantium. Pagi berikutnya mereka telah melihat rombongan pasukan musuh di kejauhan. Saat jarak keduanya telah dekat, Dhirar langsung memimpin serangan kilat ke arah musuh yang terburu-buru menyiapkan formasinya.
Pertempuran keras segera merambat ke semua front, di mana jumlah musuh dua kali lipat besarnya. Dhirar mengobrak-abrik formasi musuh dengan menjatuhkan banyak lawannya. Beberapa pasukan Romawi mengenalnya yang lantas mengepungnya dengan ketat. Tarung satu lawan belasan bahkan puluhan Bizantium terjadi di tengah kecamuk perang. Orang-orang Bizantium berniat menangkap Dhirar hidup-hidup untuk dihadapkan kepada Heraklius. Tangan kanan Dhirar terkena panah tetapi pergumulan terus berlanjut. Setelah mendapat banyak luka akibat serangan beramai-ramai musuh akhirnya Dhirar berhasil dijatuhkan dan dibawa musuh ke belakang barisan Bizantium.
Kabar tertangkapnya Dhirar mengguncang mental Muslimin, namun Rafi segera mengambil alih pimpinan dan terus menggempur Bizantium. Rafi berjuang mati-matian menembus pertahanan musuh untuk menyelamatkan Dhirar tetapi gagal. Matahari telah berada tepat di puncak langit, Rafi segera mengirimkan utusan guna mengabarkan Khalid tentang situasi terakhir serta berita tertangkapnya Dhirar, entah masih hidup atau sudah terbunuh.
Khalid menerima kabar dari utusan dengan hati gelisah. Ia tidak mungkin meninggalkan Damaskus di siang hari itu juga karena akan diketahui oleh musuh di balik benteng yang tentu akan keluar melawan Muslimin. Khalid memutuskan untuk menunggu sampai malam tiba. Dalam suasana gelap gulita, Khalid bersama 4.000 kavalerinya pergi membantu pasukan Rafi dan menitipkan pimpinan pada Abu Ubaidah.[3] Dalam pengajarannya Khalid berhasil membebaskan Dhirar dari pasukan Bizantium yang kembali ke Emessa (Homs).
Pertempuran Terbuka Pertama
[sunting | sunting sumber]Thomas mengumpulkan semua pasukannya yang tersebar di beberapa bagian benteng dan menyiapkan serangan besar melalui Gerbang Thomas yang dijaga 5.000 Muslimin pimpinan Syurahbil. Sebagai langkah awal, Thomas melakukan serangan artileri panah terhadap Muslimin yang masuk dalam jangkauan panahnya. Akibatnya beberapa mujahidin syahid terkena panah- panah musuh.
Seorang pasukan Muslimin yang syahid, Aban bin Said, diketahui baru saja menjalankan pernikahan dengan seorang wanita pemberani. Saat sang istri mengetahui kematian suaminya, ia sangat marah dan maju ke depan dengan membawa busur. Kebetulan, pada saat yang sama, seorang pendeta sedang berdiri di atas dinding benteng dekat Gerbang Thomas. Ia membawa salib besar guna menyemangati prajuritnya. Pendeta yang nampak mencolok ini lantas menjadi sasaran pembalasan sang wanita janda. Ia melepaskan busurnya dan tepat mengenai dada si pendeta. Beberapa detik kemudian si pendeta tersungkur jatuh meluncur ke kaki benteng. Muslimin bersorak sementara pasukan Bizantium merasa takut melihatnya.[3]
Hujan panah Romawi semakin banyak dan mengungguli artileri panah Muslimin sehingga pasukan Syurahbil terpaksa mundur dari daerah yang masuk jangkauan panah musuh. Begitu Muslimin mundur, ruang pengepungan menjadi longgar. Thomas memerintahkan untuk membuka gerbang dan segera keluar menata pasukannya di depan benteng. Thomas sendiri memimpin dengan pedang terhunus dan berteriak keras menyemangati pasukannya.

Pertempuran berkecamuk begitu keras dan berimbang walaupun jumlah prajurit Muslimin hanya separuh dari kekuatan Bizantium. Thomas mencari- cari posisi komandan Muslimin, Syurahbil. Setelah ia temukan, bersegera ia maju dengan pedang yang masih menitiskan darah. Namun langkahnya terhenti begitu sebuah panah tertancap di sebelah matanya sehingga ia terjatuh. Serangan panah tiba-tiba itu tidak lain berasal dari si wanita janda yang masih dendam atas kematian suaminya. Thomas segera diselamatkan pasukannya dan dibawa kembali ke dalam benteng bersama mundurnya pasukan yang lain.[2]
Ratusan jasad pasukan Bizantium tergeletak di depan gerbang dan menyisakan ketakutan atas pukulan balik Muslimin. Thomas sangat marah dan dendam atas luka yang menyebabkan matanya terluka. Ia bertekad untuk melakukan serangan balasan di malam hari. Thomas membuat rencana besar dengan membagi semua serangannya ke tiap gerbang sehingga menyibukkan semua pasukan Muslimin, sementara pasukan utamanya akan memukul Syurahbil tanpa mendapat bantuan apa pun dari pasukan lain.
Syurahbil telah mengkhawatirkan kemungkinan serangan yang dilakukan Thomas di malam hari. Sementara pasukannya banyak yang terluka dan jumlahnnya pun terbatas. Ia mengirim utusan kepada Khalid untuk meminta tambahan pasukan, tetapi Khalid menolak dan memintanya berjuang sekuat mungkin.
Pertempuran Terbuka Kedua
[sunting | sunting sumber]Gerbang Jabiya terbuka diikuti keluarnya ribuan pasukan Bizantium yang merangsek Muslimin. Abu Ubaidah segera menarik pedang dari sarungnya dan bersama pasukannya menahan gempuran musuh. Abdurrahman pun berlaga dengan ayunan pedangnya sehingga tersungkurlah beberapa lawannya. Tidak seberapa lama, mereka kembali masuk ke dalam benteng.
Pada saat yang sama, Yazid berjuang menahan gempuran Bizantium di gerbang selatan. Awalnya Yazid terdesak tetapi sungguh kebetulan, Dhirar sedang patroli di dekat Yazid sehingga secepat kilat Dhirar memburu prajurit Bizantium yang lari terbirit-birit ke dalam benteng begitu mengetahui lawannya Dhirar.

Nasib Gerbang Timur tidak jauh berbeda dengan gerbang lainnya. Rafi berjuang keras menghadapi rongrongan pasukan Thomas. Khalid dari kejauhan menyaksikkan pertempuran malam yang disinari rembulan. Beberapa saat kemudian Khalid membawa 400 kavalerinya menuju arena perang Rafi lalu berteriak lantang,
“Aku ksatria agung, Khalid bin Walid.”[2]
Mendengar suara lantang Khalid, rupanya cukup menggetarkan pasukan Bizantium sehingga buru-buru mereka mundur masuk kembali ke dalam benteng. Pertempuran malam paling keras terjadi di Gerbang Thomas di mana pasukan Syurahbil yang kelelahan diserang lagi pada tengah malam. Beruntung sinar rembulan yang terang memberi penerangan yang jelas atas pergerakan musuh yang keluar dari gerbang benteng. Syurahbil bersegera menyiapkan formasi tempur menyambut kedatangan pasukan Thomas. Maka terjadilah pertempuran hebat di mana pasukan harus berjuang sekuat tenaga. Duel siang yang tertunda akhirnya terjadi pada malam itu antara Thomas dan Syurahbil.[3]
Pertarungan seru berlangsung tanpa ada yang kalah. Sebuah celah terlihat oleh Syurahbil, dengan secepat kilat ia menebas, tetapi tertahan pelindung musuh hingga patahlah pedangnya. Kini Syurahbil terancam, dalam kondisi kritis muncul dua pasukan muslim berupaya menyerang Thomas. Syurahbil mendapatkan pedang yang terjatuh dari Muslimin yang terbunuh, tetapi ia sudah tidak menemukan Thomas. Rupanya pasukan Bizantium mundur perlahan-lahan karena tidak berhasil mendobrak pertahanan Muslimin. Pasukan Thomas kembali masuk ke dalam benteng, selanjutnya ia menyerahkan beberapa kewenangan kepada wakilnya, Harbes, untuk menahan gempuran Muslimin. Thomas sudah kehilangan tekad untuk bisa menghalau pengepungan lawannya.[1]
Beberapa hari berikutnya tidak ada lagi bentrokan antar pasukan. Pasukan Bizantium sudah letih berperang dan mereka menginginkan perdamaian. Namun mungkinkah mengajukan perdamaian dengan syarat kepada Khalid? Rasanya tidak mungkin, pikir mereka. Mereka menaruh harapan besar kepada Abu Ubaidah yang merupakan orang kedua di barisan Muslimin. Sayangnya keputusan bukan di tangan Abu Ubaidah sehingga mereka hanya bisa menunggu datangnya nasib baik tanpa ada aksi-aksi perlawanan apapun.
Tanggal 19 Rajab (18 September) seorang penduduk Damaskus, Jonah meluncur turun dari dinding benteng dengan seutas tali. Ia berjalan mengendap-endap menuju pasukan Muslimin dan minta dipertemukan dengan Khalid. Saat keduanya bertemu, Jonah menceritakan tentang kemalangan yang menimpa dirinya serta sebuah solusi yang ia tawarkan dalam bentuk barter. Ia meminta bantuan Khalid untuk mengamankan dirinya dengan sang istri, sebagai balasan, ia akan memberitahukan trik tercepat menaklukkan Damaskus. Khalid setuju.[2]
Pembukaan Gerbang Damaskus
[sunting | sunting sumber]Bizantium mengadakan pesta malam harinya dan hanya menempatkan sedikit penjaga di setiap gerbang. Khalid percaya dengan penuturan Jonah sehingga pada malam itu juga pasukan Muslimin di Gerbang Timur melakukan pergerakan untuk memasuki gerbang yang diinformasikan Jonah dari dalam.[3]
Pasukan Bizantium sangat menikmati sinar indah purnama di malam itu dengan pesta dan minum-minum sehingga mereka mulai mabuk. Di sisi luar dinding benteng timur, beberapa Muslimin mulai memanjat dengan menggunakan tangga dan tali. Seratus orang pasukan termasuk Khalid dan Qa’qa memasuki benteng yang tidak ada penjaganya. Saat mereka turun ke bawah, mereka menjumpai beberapa musuh sehingga terjadi pergumulan kecil. Seorang Bizantium yang selamat segera memberitahukan kejadian yang terjadi Gerbang Timur. Suasana menjadi heboh dan panik.
Pesta suka ria berubah secepat kilat menjadi suasana perang di mana pasukan Bizantium bersegera berlari ke arah timur. Saat mereka mendekati pasukan Muslimin, Khalid telah berhasil mematahkan kunci dan rantai Gerbang Timur. Gerbang terbuka dan masuklah ribuan pasukan ke dalam benteng. Melihat bobolnya pertahanan benteng, pasukan Bizantium memutar langkahnya kembali ke pusat kota karena takut akan serangan Muslimin. Khalid, segera merangsek dan mengobrak-abrik pertahanan musuh di dalam benteng.[1]
Thomas, memutar akalnya secepat kilat untuk melakukan perlawanan dan tindakan penyelamatan. Gagasan cerdasnya muncul, di mana ia akan mengajukan perdamaian secepat kilat kepada Abu Ubaidah di sisi barat benteng. Ia yakin, Abu Ubaidah yang tidak tahu bahwa benteng telah berhasil dimasuki Khalid lewat timur, akan menyetujui tawaran perdamaian dan penyerahan benteng kepada Muslimin. Maka secepat kilat Thomas mengirim utusan menghadap Abu Ubaidah, sementara beberapa unit pasukannya ia perintahkan untuk bertahan selama mungkin menahan serangan Khalid.
Abu Ubaidah menerima utusan Thomas dan setuju dengan tawaran penyerahan benteng dengan damai. Ia berpikir Thomas meminta berdamai dengannya karena mereka takut dengan Khalid. Tanpa mengetahui bahwa benteng telah dauber-uber Khalid, Abu Ubaidah mengira bahwa Khalid akan setuju dengan pendapatnya di mana benteng diserahkan dengan damai, tanpa ada pertumpahan darah, mereka dapat meninggalkan Damaskus dengan damai dan penduduk Damaskus bersedia untuk membayar Jizyah. Abu Ubaidah mengambil tanggung jawab serah terima Damaskus beberapa saat lagi. Utusan Thomas kembali secepat kilat ke dalam benteng.
Gerbang Jabiya terbuka perlahan-lahan guna menyambut masuknya Abu Ubaidah bersama Muslimin dengan damai. Ia berjalan ke pusat kota dengan damai ditemani Thomas, Harbes dan para pendeta. Di sisi timur, Khalid juga menuju pusat kota bagaikan badai mengamuk. Saat kedua pejabat tinggi militer Muslimin ini bertemu di pusat kota, mereka saling menatap dengan keheranan. Abu Ubaidah melihat rombongan Khalid menenteng pedang yang masih basah dengan darah. Sementara Khalid tak terkejut melihat rombongon Abu Ubaidah nampak damai dikelilingi Thomas, Harbes dan pendeta.
Keheningan bergelayut beberapa saat sampai Abu Ubaidah memecah suasana,
“Wahai Abu Sulaiman, Allah berkenan memberikan kota ini dengan damai kepada kita, sehingga tidak perlu bagi kita untuk bertempur lagi.” “Damai apanya!” balas Khalid marah,”Aku telah menaklukkan benteng ini dengan kekuatan. Pedangku telah merah dengan darah dan aku telah memperoleh ghanimah dan tawanan.”[2]
Situasi konflik mulai menghangat di antara dua pemimpin besar Muslimin. Abu Ubaidah mengambil keputusan tanpa mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi. Perbedaan watak dan karakter tampak menonjol antara Abu Ubaidah dan Khalid. Sang ‘kepercayaan umat’ lebih mengedepankan kedamaian dan pengampunan. Sebaliknya, sang ‘pedang Allah’ lebih memprioritaskan menghukum keras dan menghabisi perlawanan musuh sampai ke akar-akarnya.
“Wahai Panglima, ketahuilah bahwa aku telah memasuki kota dengan damai.”
“Kamu melanjutkan masuk tanpa mengetahui hal yang terjadi,” jawab Khalid dengan wajah marah,”bagaimana mungkin mereka bisa berdamai denganmu sementara aku berhasil masuk dengan mematahkan pertahanan mereka.”
“Takutlah pada Allah, wahai Panglima! Aku telah menjamin keselamatan mereka.”
“Engkau tidak memiliki hak untuk menjamin mereka tanpa perintahku. Aku pemimpinmu. Aku tidak akan menyarungkan pedangku sampai aku hancurkan mereka hingga orang terakhir.”
“Aku tidak percaya, bahwa engkau menolak kesepakatan damaiku dengan mereka. Aku telah menjamin keselamatan mereka atas nama Allah dan Rasulnya yang menyeru kepada Allah dan kedamaian. Siapa Muslimin yang bersamaku berarti setuju dengan perdamaian, dan ingatlah, melanggar perjanjian bukanlah sifat kita.”
Pernyataan Abu Ubaidah mulai menimbulkan polarisasi pasukan Muslimin. Beberapa pasukan Muslimin di belakang Khalid mulai mendekati pasukan Bizantium untuk membunuhnya. Abu Ubaidah segera meminta Khalid untuk berdiskusi empat mata membahas persoalan perbedaan sikap mereka. Dan selama mereka berdiskusi, tidak boleh ada yang mengeksekusi musuh. Semua setuju. Khalid akhirnya setuju setelah dijelaskan oleh Abu Ubaidah, bahwa benteng-benteng Bizantium lain, jika mengetahui bahwa Muslimin mengkhianati perjanjian mereka, tentu akan semakin sulit untuk ditaklukkan, mereka tidak akan mau menyerah. Sekalipun demikian, Khalid tetap berniat untuk menghukum keras Thomas dan Harbes sampai waktunya,[3]
“Baik, aku setuju dengan perdamaian, kecuali terhadap kedua orang ini.” Khalid menatap tajam ke arah Thomas dan Harbes.
“Mereka berdua yang pertama kulindungi,”jawab Abu Ubaidah,”Kata- kataku tidak akan terpatahkan. Semoga Allah mengampunimu.”
“Demi Allah, aku pasti akan membunuhnya nanti. Biarkan mereka keluar kota. Semoga Allah menghukumnya!” balas Khalid.
Thomas kegirangan bahwa ia mendapat jaminan perlindungan dan dapat keluar meninggalkan kota dengan aman dengan Harbes dan pasukannya yang tersisa.
“Ya, kau bisa pergi sesuai keinginanmu. Namun jika kami menaklukkan sebuah tempat di mana engkau ada disitu, maka sudah tidak ada lagi jaminan keselamatan terhadapmu.”
“Beri kami waktu tiga hari, setelah itu kesepakatan berakhir. Jika setelah itu kalian menyerang kami, kalian dapat membunuh atau menawan kami.” Ucap Thomas.
“Setuju! Kau hanya boleh pergi dengan membawa bahan makanan!” sergah Khalid.
“Ini akan membatalkan perjanjian. Kesepakatannya adalah mereka berhak membawa barang-barang yang menjadi milik mereka.” Ucap Abu Ubaidah.
“Baik aku setuju, tapi tidak untuk persenjataan.”
“Kami harus memiliki senjata untuk pertahanan kami dari serangan musuh selain kalian.” Protes Thomas.
Khalid setuju. Tepat saat matahari terbit di ufuk timur,Khalid menandatangani perjanjian kesepakatan damai antar kedua belah pihak. Sang pemenang menjamin keselamatan lawannya tanpa ada satu pun yang terzhalimi. Kegembiraan terungkap di setiap wajah Muslimin di seluruh hingga ke tanah Hijaz (Mekah dan Madinah) atas masuknya Damaskus ke dalam wilayah Muslimin.[1]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
- 1 2 3 4 5 Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- 1 2 3 4 5 6 Grania, Abu Fatah (2008). Panglima Surga. Jakarta: Cicero Publishing. ISBN 9789791751285