Penyulihan suara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Dalam bidang perfilman, penyulihan suara atau yang dikenal dengan istilah sulih suara (dubbing, looping) merupakan proses merekam atau menggantikan suara untuk suatu tokoh karakter. Istilah ini paling kerap digunakan untuk merujuk kepada suara-suara yang direkam yang bukan milik pemain asli dan bertutur dalam bahasa yang berlainan dengan pemain asli tersebut. Tujuan penyulihan suara adalah untuk menyesuaikan percakapan tokoh-tokoh agar dapat lebih diterima sesuai budaya masyarakat setempat. Namun cara ini sering ditentang oleh penonton berusia muda karena penyulihan suara tokoh film yang bersangkutan dapat merusak latar dan watak tokoh film. Dalam pengertian lain, sulih suara juga dilakukan dengan cara memasukkan suara manusia ke dalam film-film animasi dan fabel.

Sejarah Dubbing di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Sejarah dubbing di Indonesia tentunya lekat dengan proses produksi film di Indonesia itu sendiri[1]. Industri film modern di Indonesia yang mulai tumbuh di era tahun 1960an[2], membuat pertumbuhan dubbing menjadi begitu pesat di Indonesia. Di Indonesia, pada awalnya dubbing merupakan sebuah kegiatan merekam suara turunan dari industri film karena keterbatasan alat yang digunakan untuk merekam suara di lapangan. Sehingga proses perekaman suara harus dilakukan setelah proses editing film selesai, dan harus menyesuaikan dengan gerak bibir dari aktor dan aktris yang berperan dalam film nya. Kita bisa melihat bahwa produksi dubbing pada film Indonesia tampak jelas. Kadang gerakan bibir dan suara yang dihasilkan tidak selaras (Lip Sync), atau terdengar sangat kasar, dengan proses mixing audio yang kurang tepat. Beberapa film yang terkenal menggunakan proses dubbing seperti film Warkop DKI, Rhoma Irama, dan film-film lain yang diproduksi hingga tahun 1990an. Di tahun 1990, alat perekaman suara di lapangan mulai muncul dan dapat digunakan pada proses produksi film Indonesia, sehingga proses dubbing yang sebelumnya merupakan turunan dari industri film di Indonesia, mulai bergeser untuk digunakan pada industri Televisi di Indonesia. Booming acara import, seperti opera sabun, dan film animasi pada tahun 1990 membutuhkan proses produksi audio ulang, khususnya merubah bahasa asli menjadi bahasa lokal Indonesia agar dapat dinikmati oleh pasar Indonesia.

Pengalihan suara di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, proses ini hanya berlaku untuk acara tayangan di televisi, khususnya pada film keluarga dan semua jenis film yang tidak menggunakan Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa daerah Indonesia sebagai bahasa utamanya. TV nasional tidak akan menayangkan film atau program versi sulih suara Indonesia (hanya memberikan teks terjemahan) pada acara realitas dan film - film dewasa yang berbahasa Inggris, tetapi saluran TV kabel seperti HBO, Fox Family Movies, Cartoon Network, Disney Channel, Discovery, TLC dan Disney Junior akan menyediakan pilihan bahasa pada program tayangannya dalam bahasa asli program atau bahasa yang sudah disulih suarakan. Berdasarkan P3SPS KPI, seluruh program siaran asing (baik Film non-Inggris, berita bahasa Asing maupun serial drama Asia atau Timur Tengah) wajib memberikan Bahasa Indonesia secara lisan dan tertulis agar dapat dipahami dan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa resmi di Asia khususnya Indonesia, itulah kewajiban bagi setiap program siaran Radio maupun Televisi.

Kini pada era modern di Indonesia, dubbing bukan hanya tools untuk menikmati program televisi saja, namun juga termasuk dalam proses Localize konten dari luar negeri menuju ke dalam negeri. Proses sulih suara, dari bahasa satu ke bahasa lain tidak hanya terjadi pada program TV, namun juga pada iklan TV, Iklan digital, YouTube video, bahkan hingga company profile. Hal ini ditujukan untuk memperkuat tools marketing perusahaan ketika akan melakukan ekspansi pada negara lain.

Pengalihan suara di luar negeri[sunting | sunting sumber]

Eropa[sunting | sunting sumber]

Negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Spanyol dan Italia menerapkan pengalihan suara secara penuh untuk semua jenis film, baik itu film keluarga maupun dewasa. Pengalihan suara ini berlaku untuk film yang tayang di bioskop dan TV. Bahkan jika diperlukan, film tersebut juga diterjemahkan judulnya agar mudah dipahami oleh penonton setempat.

Sementara di negara-negara Balkan, Inggris, Belanda dan Nordik, pengalihan suara hanya dilakukan untuk film yang ditargetkan kepada penonton anak-anak saja. Pengalihan suara ini berlaku untuk film tayangan TV dan bioskop.

Afrika[sunting | sunting sumber]

Film yang tayang di wilayah Afrika Tengah biasanya menggunakan versi dubbing dari distributor Prancis. Namun di daerah Afrika Utara yang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa utamanya, film yang ditayangkan juga ikut dialih suarakan dalam Bahasa Arab. Hal ini berlaku untuk film dan serial TV untuk anak-anak. Sementara di wilayah Afrika Selatan, diadakan juga pengalihan suara serial TV dalam bahasa - bahasa daerah mereka, seperti Zulu dan Afrikaans

Asia[sunting | sunting sumber]

Tiongkok, Iran, dan Jepang menerapkan pengalihan suara pada semua jenis film dan serial TV dalam bahasa resmi mereka masing-masing. India mampu menerapkan pengalihan suara pada semua jenis film dalam bahasa Hindi dan beberapa bahasa daerahnya seperti Urdu, Tamil, dan Telugu sehingga memberikan kesan yang sama bagi para penontonnya seperti pada saat menikmati film Bollywood.

Sementara negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand hanya akan memberikan subtitle pada film dewasa yang tayang di bioskop serta hanya akan menerapkan dubbing pada tayangan televisi saja. Namun versi dubbing dalam bahasa resmi negaranya masing-masing juga tersedia untuk beberapa film anak-anak yang tayang di bioskop. Filipina menerapkan dubbing dalam bahasa Filipino secara khusus pada film anime dan film lain yang tidak berbahasa Inggris, kecuali channel TV kabel yang juga menyediakan tayangan dalam versi sulih suara bahasa Filipino. Sedangkan Singapura - yang mengakui 4 bahasa resmi - jarang menerapkan sulih suara pada semua jenis tayangan TV dan bioskop, kecuali pada tayangan berbahasa daerah China (seperti Cantonese, Hokien dan Tio Ciu) disulih suarakan ulang dalam Bahasa Mandarin.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Definisi Dubbing dan Perbedannya dengan Voice Over Di Indonesia | inavoice.com". inavoice.com. Diakses tanggal 2020-12-08. 
  2. ^ "Perfilman Indonesia". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2020-11-26.