Payan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Payan (Tombak)
Payan simuli.jpg
Payan Simuli (Tombak Duakha) Salah satu Simbol dari pada Lambang Lampung
Informasi umum
Gaya arsitekturPayan (Tombak) Bersejarah
KotaLampung
NegaraIndonesia
Makom dari hulu balang Istana Gedung Dalom yang di sebut sianggah angah.

Simbol Payan yang terdapat pada Lambang Lampung adalah Payan[1] Payan Simuli (Payan duakha). Dahulu nama payan simuli ini payan duakha, payan duakha tersebut sebuah tombak pusaka peninggalan Negeri Sekala Brak yang dipegang oleh hulu balang bernama sianggah anggah keturunan dari sianggah anggah ini ada di Pekon Kegeringan Kecamatan Brak Kabupaten Lampung Barat saat ini, sianggah anggah ini ada dipintu gerbang Gedung Dalom Kepaksian Pernong pada saat itu Istana Gedung Dalom Kerajaan Sekala Brak berada di daerah yang namanya hanibung, payan ini didapat oleh sianggah anggah dari Hematang Sulang, pemberian dari ratu yang berada di hematang sulang untuk menjaga keturunan dari pada Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong, sekitar lebih kurang pada tahun 1922 terjadi keributan karena ada harimau yang masuk ke batu brak, Saibatin pada saat itu adalah Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja, Pangeran tersebut mendatangi tempat keributan dengan membawa Payan Simuli Pada saat itu ratusan rakyatnya tidak memperbolehkan Pangeran untuk turun langsung menghadapi harimau tersebut akan tetapi Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja tetap turun menghadapi harimau tersebut dan harimau tersebut ditemukan oleh Pangeran di pinggiran lembah daerah batu brak dan harimau tersebut sudah dikerumuni para pendekar, hulu balang, pemberani dan rakyat sekala brak pada saat itu Pangeran memerintahkan para pendekar, hulu balang, pemberani dan rakyat sekala brak yang sedang mengerumuni harimau tersebut untuk minggir Pangeran mencabut sarung payan duakha karena itu pada tahun 1922 saat ini di tahun 2021 sudah 99 tahun beberapa catatan menyatakan bahwasanya payan duakha itu diarahkan keharimau kemudian hariau tersebut mengerung akan tetapi harimau tersebut tidak berani melompat, catetan lain menyatakan harimau tersebut mengerung akan tetapi mulut harimau tersebut terbuka saja dan mulutnya tidak bisa menutup Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja mendekati harimau tersebut dan disekamkan payan duakha kemulut harimau yang sedang terbuka dua hari kemudian harimau itu pergi dan tidak pernah kembali lagi sampai saat ini, setelah diteliti harimau itu harimau perempuan yang masih gadis sejak saat itu payan ini tidak lagi disebut payan duakha disebut payan simuli sampai saat sekarang ini. Hingga saat ini banyak di temukannya di sebagian rakyat asli keturunan suku lampung masih menyimpan peninggalan pusaka tradisional berupa Payan, Keris, Laduk dan sebagainya yang di wariskan dari leluhur mereka yang di wariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.[2]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]