Paracanthurus
| Paracanthurus | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Subfilum: | |
| Kelas: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Subfamili: | |
| Tribus: | |
| Genus: | Paracanthurus Bleeker, 1863 |
| Spesies: | P. hepatus |
Paracanthurus hepatus,atau yang biasa dikenal dengan nama ikan leter enam, blue tang, dan Dory, adalah salah satu spesies botana. Ikan yang banyak dicari oleh pemelihara ikan ini merupakan satu-satunya spesies ikan dalam genus Paracanthurus.[2][3]
Deskripsi
[sunting | sunting sumber]Paracanthurus hepatus memiliki tubuh berwarna biru tua, ekor kuning, serta corak hitam pada bagian atas yang menyerupai angka 6. Panjang tubuh saat pertama kali mencapai kematangan seksual adalah 15 cm. Individu dewasa umumnya memiliki bobot sekitar 600 g dan jantan biasanya lebih besar dibanding betina.
Paracanthurus memiliki sisik-sisik kecil, masing-masing dengan ctenii pendek di permukaan atasnya. Sisik pada duri ekor memiliki ctenii sekitar tiga kali lebih panjang dibanding sisik di bagian tubuh lainnya. Sisik yang terletak di bagian anterior kepala, antara mata dan rahang atas, lebih besar dan dilengkapi pelat tulang yang bertuberkel.
Paracanthurus memiliki bentuk tubuh pipih lateral, berbentuk elips, dan moncong terminal. Ikan ini memiliki sembilan duri keras punggung, 26–28 duri lunak punggung, tiga duri keras anal, 24–26 duri lunak anal berwarna kuning, serta 16 duri pada sirip ekor dengan lobus atas dan bawah sedikit menonjol. Sirip perut terdiri dari satu duri keras dan tiga duri lunak.
Ekologi
[sunting | sunting sumber]Paracanthurus merupakan spesies laut diurnal yang menempati habitat neritik di sepanjang garis pantai. Ikan ini ditemukan di perairan jernih di area terumbu laut lepas yang terbuka atau di celah terumbu karang yang berarus sedang hingga kuat. Selain di terumbu karang, spesies ini juga diketahui hidup di padang lamun, hutan bakau, hamparan alga, dan terumbu batu. Paracanthurus hidup di kisaran kedalaman 2 meter hingga 40 meter. Mereka hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil beranggotakan 8 hingga 14 ekor. Ikan ini juga dapat ditemukan di dekat karang Pocillopora di area beralga terumbu karang. Individu juvenil sering ditemukan berkelompok dengan memanfaatkan karang Acropora sebagai tempat berlindung. Jumlah jantan dan betina cenderung seimbang dengan rasio 1:1.
Ikan ini penting bagi kesehatan terumbu karang karena memakan alga yang jika dibiarkan dapat mencekik karang akibat pertumbuhan berlebih.
Makanan
[sunting | sunting sumber]Individu juvenil pada umumnya memakan plankton. Saat dewasa, ikan ini bersifat omnivora dan memakan tidak hanya zooplankton, tetapi juga alga rambut.
Siklus hidup
[sunting | sunting sumber]Pemijahan berlangsung sepanjang tahun, dengan puncak antara bulan April hingga September. Pemijahan terjadi pada sore hingga malam hari di sekitar lereng bagian luar terumbu. Peristiwa ini ditandai dengan perubahan warna tubuh dari biru gelap menjadi biru pucat. Jantan secara agresif menggoda betina dalam kelompok, lalu keduanya melesat ke arah permukaan air sambil melepaskan telur dan sperma.
Telur Paracanthurus berukuran kecil, sekitar 0,8 milimeter. Telur ini bersifat pelagik dan masing-masing mengandung satu tetesan minyak untuk membantu mengapung. Telur yang dibuahi menetas dalam waktu 24 jam, menghasilkan larva kecil, tembus cahaya, dengan perut keperakan dan duri ekor sederhana. Setelah tubuh menjadi berwarna, corak hitam muncul, tetapi hanya baru membentuk angka 6 saat mencapai kematangan.
Ikan ini mencapai kematangan seksual pada usia 9–12 bulan, dengan ukuran sekitar 15 cm. Tingkat fekunditas cenderung meningkat seiring bertambahnya bobot tubuh.
Ikan-ikan dari famili Acanthuridae, termasuk Paracanthurus, menghasilkan larva altrisial yang tidak menerima perawatan induk. Setelah menetas, larva bergantung pada cadangan kuning telur untuk bertahan hidup selama dua hingga tiga hari pertama kehidupannya.
Popularitas
[sunting | sunting sumber]Ikan ini dipopulerkan oleh karakter Dory di film Finding Nemo pada 2003 dan sekuelnya, Finding Dory, yang dirilis pada 2016. Dalam kedua film tersebut, suara Dory diisi oleh Ellen DeGeneres (dalam Bahasa Inggris) dan Fransiska Kristiana Tola (dalam Bahasa Indonesia).
Setelah perilisan Finding Nemo, media melaporkan adanya fenomena peningkatan pembelian terhadap ikan Nemo (ikan badut ocellaris) dan Dory, hingga dijuluki sebagai Nemo effect. Namun, keabsahan Nemo effect tersebut diperdebatkan di jurnal ilmiah. Meski begitu, gelombang rumor serupa kembali beredar di internet setelah perilisan Finding Dory pada tahun 2016.[4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- Froese, Rainer and Pauly, Daniel, eds. (2007). "Paracanthurus hepatus" in FishBase. March 2007 version.
- Debelius, Helmut (1993). Indian Ocean Tropical Fish Guide: Maledives [i.e. Maldives], Sri Lanka, Mauritius, Madagascar, East Africa, Seychelles, Arabian Sea, Red Sea. Aquaprint. ISBN 3-927991-01-5.
- Weisberger, Mindy (17 June 2016). "Finding Dory's Underwater Clan in the Real World". LiveScience. Retrieved 17 June 2016.
- ↑ McIlwain, J.; Choat, J.H.; Abesamis, R.; Clements, K.D.; Myers, R.; Nanola, C.; Rocha, L.A.; Russell, B.; Stockwell, B. (2012). "Paracanthurus hepatus". 2012: e.T177972A1507676. doi:10.2305/IUCN.UK.2012.RLTS.T177972A1507676.en. ;
- ↑ Froese, Rainer and Pauly, Daniel, eds. (2007). "Paracanthurus hepatus" di situs FishBase. Versi March 2007.
- ↑ "Paracanthurus hepatus". Integrated Taxonomic Information System.
- ↑ Veríssimo, Diogo; Anderson, Sean; Tlusty, Michael (2020-04). "Did the movie Finding Dory increase demand for blue tang fish?". Ambio. 49 (4): 903–911. doi:10.1007/s13280-019-01233-7. ISSN 1654-7209. PMC 7028816. PMID 31410777.