Panti werdha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Panti werdha adalah sebutan lain untuk panti jompo dalam bahasa Bali, menunjuk pada wisma dengan fasilitas penunjang yang diperuntukkan bagi orang lanjut usia (lansia).[1]

Panti werdha yang di negara Barat disebut dengan retirement home atau old people's home/old age home merupakan tempat tinggal bagi lansia yang lebih banyak dipilih karena tempat ini memungkinkan lansia untuk tetap hidup tanpa menggantungkan diri kepada anak/keluarga. Di Asia, termasuk di Indonesia, sebagian besar lansia hidup sendiri atau hidup bersama anak. Meskipun demikian, panti werdha tetap ada, dengan kepengelolaan yang secara umum dipegang oleh pemerintah.[1]

Rumah tangga tunggal lansia[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014, tidak diketahui berapa jumlah lansia dari total 20.24 juta lansia atau setara 8.03% penduduk Indonesia yang tinggal di panti jompo. Diketahui sebanyak 42.32% lansia yang tinggal di dalam satu atap bersama tiga generasi, 26.80% lansia yang tinggal bersama keluarga inti, dan 17.48% lansia yang tinggal hanya bersama pasangan. Hal yang perlu mendapat perhatian ialah lansia yang tinggal sendiri atau rumah tangga tunggal lansia yang ada sebanyak 9.66%, yang harus memenuhi semua kebutuhan- makan, kesehatan, dan sosial- mereka secara mandiri.[2] Untuk membantu aktivitas dan demi keamanan serta kelangsungan hidup rumah tangga tunggal lansia, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Memberikan pegangan/handle pada sisi kloset dan bak mandi untuk menghindari jatuh atau terpeleset.
  2. Mengganti toilet jongkok dengan toilet duduk agar lebih memudahkan.
  3. Menempatkan pencahayaan tambahan.
  4. Menata ulang furnitur sehingga menutup risiko terjadinya kecelakaan, serta dapat lebih memenuhi kebutuhan.
  5. Menempatkan penanda khusus, misalnya tulisan atau peringatan, untuk membantu menemukan lokasi atau menginformasikan suatu kondisi tertentu.

Sisi positif[sunting | sunting sumber]

Perawatan yang diberikan kepada lansia bervariasi di tiap-tiap negara[1] dan pilihan memasukkan orang tua ke panti jompo termasuk yang kurang populer di Indonesia[3] sebab normatifnya perawatan lansia merupakan tanggung jawab keluarga. Namun situasi ini dapat menjadi berbeda atau berubah di tempat-tempat dimana jumlah keluarga inti semakin berkurang atau pada saat kaum wanita juga mempunyai kesibukan dengan kegiatan di luar rumah.[1] Panti jompo dapat menjadi sebuah pilihan dengan mempertimbangkan sisi positifnya, baik untuk keluarga maupun untuk lansia. Sisi positif panti jompo, antara lain: 1) bila terbatas waktu untuk memberikan perawatan terhadap lansia, maka perawatan senantiasa diberikan di panti jompo, 2) bila lansia membutuhkan aktivitas bersosialisasi, maka terdapat banyak teman yang sebaya di panti jompo, 3) di samping ketersediaan fasilitas perawatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan lansia yang meliputi kebutuhan fisik/kesehatan, emosional, dan sosial, terutama bagi yang memiliki kecacatan fisik atau menderita penyakit kronis, maka beragam kegiatan di panti jompo dapat membantu lansia agar tetap bugar dan aktif.[3]

Sisi negatif[sunting | sunting sumber]

Namun selain melihat pada sisi positif panti jompo, sisi negatif keberadaan lansia di panti jompo juga harus dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa tinggal di panti jompo membuat para lansia mudah menyerah terhadap kehidupan. Hal tersebut dapat terjadi akibat kurangnya stimulasi mental pada lansia yang menyebabkan munculnya sikap apatis atau tidak peduli terhadap kehidupan sehari-harinya. Pada kasus tertentu, beberapa panti jompo tidak mengadakan kegiatan yang menarik yang dapat meningkatkan motivasi lansia untuk melanjutkan hidup. Umumnya terkendala dari segi dana untuk perawatan sehingga kegiatan yang dilakukan para lansia hanya duduk di dalam ruangan yang dilengkapi televisi tanpa melakukan kegiatan apapun lainnya. Sikap apatis diketahui dapat mempengaruhi fungsi otak. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 713 panti jompo diketahui adanya peningkatan risiko kematian hingga 62% dalam kurun waktu empat bulan akibat adanya sikap apatis. Meskipun belum diketahui apa penyebabnya, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Radbound Belanda tersebut dapat diketahui bahwa sikap apatis dapat menyebabkan kematian. Perhatian dan perawatan yang lebih harus diberikan kepada lansia yang menunjukkan ciri minor tersebut. Ilmuwan lain dari Inggris menambahkan, lansia yang hidup dengan depresi di panti jompo jumlahnya mencapai 40%. Langkah penyaringan terhadap para lansia sebaiknya dilakukan sebelum masuk panti jompo. Langkah penyaringan dilakukan untuk mengidentifikasi ada/tidaknya sikap apatis, depresi, atau gangguan kejiwaan lain, sehingga bantuan yang proporsional sesuai kebutuhan dapat terpenuhi untuk setiap lansia. Namun yang sering terjadi, pihak panti tidak mengetahui atau menyadari gejala yang berbeda-beda yang merupakan manifestasi sikap apatis atau depresi dari tiap-tiap individu.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Menimbang Panti Jompo untuk Lansia dan Alternatifnya". Alodokter (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-12. 
  2. ^ Media, Kompas Cyber. "Berkah Kebahagiaan untuk Lansia di Panti Jompo – Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-12. 
  3. ^ a b Liputan6.com. "Dilema Menitipkan Orangtua di Panti Jompo". liputan6.com. Diakses tanggal 2017-11-12. 
  4. ^ "Berada di Panti Jompo Membuat Harapan Hidup Lansia Menurun". SINDOnews.com. Diakses tanggal 2017-11-12.