Musa dan Monoteisme
Sampul edisi pertama 1939 | |
| Pengarang | Sigmund Freud |
|---|---|
| Judul asli | Der Mann Moses und die monotheistische Religion |
| Penerjemah | Katerine Jones |
| Bahasa | Jerman |
| Subjek | Musa |
| Penerbit | Knopf |
Tanggal terbit | 1939 |
Tgl. terbit (bhs. Inggris) | 1939 |
| Jenis media | Cetak |
| Halaman | 186 |
Musa dan Monoteisme (bahasa Jerman: Der Mann Moses und die monotheistische Religion) adalah sebuah buku tahun 1939 tentang monoteisme karya Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis. [1] Buku ini mengejutkan banyak pembacanya karena mengajukan pendapat baru bahwa Musa lahir dari keluarga asli Mesir kebanyakan, berlawanan dengan anggapan umum bahwa ia memiliki garis darah budak Yahudi yang dibesarkan keluarga kerajaan. [2]
Freud berpendapat bahwa Musa sebenarnya pendeta Akhenaten yang melarikan diri dari Mesir setelah kematian Firaun. Ia mengajarkan hal yang sama sekali baru, monoteisme kepada rakyat Mesir, dan dibunuh oleh Orang Israel. Karena rasa bersalah, para pembunuhnya kemudian mengembangkan proses pembentukan reaksi (reaction formation), dengan malah memuja sosoknya dan menjadi sangat berkomitmen pada gagasan monoteisme yang ia ajarkan.[3]
Ringkasan
[sunting | sunting sumber]Buku ini berisi tiga esai dan merupakan lanjutan dari karya Freud di bidang teori psikoanalitik, sebagai cara untuk mengembangakn hipotesis dari kejadian historis, dikombinasikan dengan kekaguman obsesifnya dengan penelitian mengenai Mesir, arkeoligi, dan hal-hal antik.[4][5] Freud dengan berani membuat hipotesa bahwa Musa bukanlah Orang Yahudi, tapi lebih dekat dengan keluarga bangsawan Mesir asli, kemungkinan pengukut Akhenaten, ajaran monoteisme pertama yang dikenal dalam sejarah.[6]
Catatan kalangan Yahudi mengenai Musa diinterpretasi ulang oleh Freud, melalui penemuan baru Tel-El-Amarna. Di dalam arkeologi sendiri, penyembahan monoteis terhadap dewa matahari Aten dalam kepercayaan yang diciptakan dan dianut Akhenaten pada Era Amarna baru disadari pada tahun 1887, dan intepretasi terhadap penemuan-penemuan tersebut baru di fase awal. [7] Monograf Freud terhadap subyek ini seniri, untuk semua kontroversi yang dihasilkan, adalah salah satu bahasan popular dalam topik ini. [4]
Dalam narasi ulang oleh Freud, hanya orang-orang terdekatnya yang dipimpin Musa menuju kemerdekaan, setelah kematian Akhenaten sekitar 1350 SM. Mereka kemudian berbalik membunuh Musa dalam sebuah pemberontakan, dan akhirnya bergabung dengan para penyembah monoteis lainnya di sekitaran Midian, yang menyembah dewa gunung api bernama Yahweh.[8][9] Freud memperkirakan bahwa dewa matahari Aten dari era Musa di Mesir kemudian berfusi dengan kepercayaan kepada Yahweh, dan seorang pendeta Midian, yang kebetulan juga bernama Moses, kemudian mencatat semua perkataan dan tingkah lakunya.[10] Musa, dengan kata lain, adalah figur kombinasi dari dua individu yang sebenarnya berbeda, yang kemudian biografi menjadi sangat dikenal dan jejak-jejak para pembunuhnya dihapus sama sekali. [8]
Freud menjelaskan, bahwa ratusan tahun setelah pembunuhan ini, para pemberontak ini kemudian menyesali perbuatannya , dan menciptakan konsep Musa yang baru, dengan harapan kembalinya Musa Sang Penyelamat atas Kaum Israel. Freud mengklaim bahwa rasa bersalah yang direpresi (atau bahkan disensor), mengakar selama beberapa generasi, menghasilkan neurosis di kalangan kaum Yahudi yang legalistik (kaku pada hukum) untuk menghalau atau mengatasi warisan trauma psikologis dan rasa bersalah mereka. Dalam banyak hal, buku ini sebenarnya mengulangi teori teogoni (asal-usul dewa) yang pertama kali dikemukakan Freud dalam buku Totem dan Tabu,[11]sebagaimana ia akui di dalam teks buku Musa dan Monoteisme beberapa kali. Contohnya ia menulis:
"Keyakinan [ini] saya dapat saat menulis buku Totem dan Tabu (1912), dan semakin lama semaki n menguat. Sjeak itu, saya tidak pernah meragukan lagi bahwa fenomena relijius hanya dapat dipahami melalui model gejala neurotik individu yang sangat kita kenal—sebagai kembalinya kejadian-kejadian penting yang telah lama terlupakan dalam sejarah purba keluarga manusia; bahwa fenomena tersebut berhutang karakter obsesifnya pada asal-usul itu sendiri, dan oleh karena itu memperoleh pengaruhnya terhadap umat manusia dari kebenaran sejarah yang terkandung di dalamnya."[8]
Penerimaan
[sunting | sunting sumber]Secara umum, buku ini banyak ditolak dan dikritisi, baik dari ahli sejarah maupun di luar ahli sejarah. Dukungan atas pandangan Freud lebih banyak datang dari penggemarnya saja.
Menurut sejarawan agama Kimberly B. Stratton, dalam buku Musa dan Monoteisme, Freud "mengajukan sebuah tindakan pembunuhan purba sebagai asal-usul agama, dan secara khusus mengaitkan ingatan (serta represi) terhadap kejadian tersebut dengan kisah eksodus dan lahirnya monoteisme alkitabiah."
Mitolog Joseph Campbell menulis bahwa gagasan Freud yang menyebut Musa adalah orang Mesir "memberikan kejutan bagi banyak pengagumnya." Menurut Campbell, usulan Freud diserang secara luas, "baik dengan argumen yang terpelajar maupun tidak." Campbell sendiri menahan diri untuk tidak menghakimi pandangan Freud tentang Musa, meskipun ia menganggap keberanian Freud untuk menerbitkan karyanya—terlepas dari potensi sifatnya yang menyinggung—sebagai sesuatu yang "mulia."
Kritik dari berbagai disiplin ilmu
[sunting | sunting sumber]Filsuf Mikkel Borch-Jacobsen dan psikolog Sonu Shamdasani berpendapat bahwa dalam Moses and Monotheism, Freud menerapkan "metode interpretasi yang sama dengan yang ia gunakan di ruang pribadinya untuk 'merekonstruksi' ingatan pasiennya yang terlupakan dan tertekan" ke dalam sejarah.
Teolog Anglikan Rowan Williams menyatakan bahwa penjelasan Freud tentang asal-usul Yudaisme adalah hal yang "sangat tidak masuk akal," dan bahwa penjelasan Freud bukanlah penjelasan ilmiah melainkan sebuah "kerangka imajinatif." Arkeolog alkitabiah William Foxwell Albright menolak buku Freud dengan menyatakan bahwa karya tersebut "sama sekali tidak memiliki metode historis yang serius dan menangani data sejarah secara lebih sembrono daripada data psikologi introspektif dan eksperimental." Baru-baru ini, arkeolog Israel Aren Maier juga kritis terhadap karya Freud dan menyebut analisisnya "sederhana dan sebagian besar tidak tepat," sementara ahli Mesir Kuno Brian Murray Fagan menyatakan bahwa karya itu "tidak memiliki dasar dalam fakta sejarah.
Ahli Mesir Kuno Donald Bruce Redford sendiri menulis pada tahun 2015:
Sebelum banyaknya bukti arkeologis dari Thebes dan Tell el-Amarna tersedia, angan-angan terkadang mengubah Akhenaten menjadi seorang guru yang manusiawi tentang Tuhan yang sejati, mentor bagi Musa, sosok seperti Kristus, atau seorang filsuf yang mendahului zamannya. Namun, makhluk-makhluk imajiner ini sekarang memudar seiring dengan munculnya realitas sejarah secara bertahap. Terdapat sedikit atau bahkan tidak ada bukti yang mendukung gagasan bahwa Akhenaten adalah nenek moyang dari monoteisme penuh seperti yang kita temukan dalam Alkitab.
Bacaan tambahan
[sunting | sunting sumber]- Assmann, Jan (1998). Moses the Egyptian: The Memory of Egypt in Western Monotheism Harvard University Press.
- Certeau, Michel de (1988). The Fiction of History: The Writing of Moses and Monotheism. [1975.] The Writing of History, pp. 308–354. (Translated by Tom Conley.) Columbia University Press, New York. ISBN 0-231-05574-9
- Chaney, Edward (2006). 'Egypt in England and America: The Cultural Memorials of Religion, Royalty and Religion', Sites of Exchange: European Crossroads and Faultlines, eds. M. Ascari and A. Corrado. Amsterdam and New York: Rodopi.
- Chaney, E, 'Freudian Egypt', The London Magazine (April/May 2006), pp. 62–69.
- Chaney, E, 'Moses and Monotheism, by Sigmund Freud’, 'The Canon', THE (Times Higher Education), 3–9 June 2010, No. 1,950, p. 53.
- Edmundson, Mark (2008). The Death of Sigmund Freud: The Legacy of His Last Days Bloomsbury United States ISBN 978-1-59691-430-8
- Ginsburg, Ruth; Pardes, Ilona (2006). New Perspectives on Freud's Moses and Monotheism. Tübingen: Max Niemeyer.
- Paul, Robert A. (1996). Moses and civilization: The meaning behind Freud’s myth. ISBN 0-300-06428-4
- Rice, Emanuel (1990). Freud and Moses: The Long Journey Home. Albany, New York: State University of New York.
- Rice, Emanuel (1999). Freud, Moses, and the Religions of Egyptian Antiquity: A Journey Through History Psychoanalytic Review, 1999 Apr; 86(2):223–243. PMID 10461667
- Yerushalmi, Y. H. (1991). Freud's Moses. New Haven: Yale University Press.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Mosesn and Monotheisme, Sigmund Freud. dari situs amazon
- ↑ Buku Sigmund Freud tentang Nabi Musa dalam Sudut Pandang Psikoanalisis. dari situs orbit indonesia
- ↑ 8 Teori Psikologi yang Aneh dan Menarik dari Sigmund Freud, Apa Saja? dari situs idntimes
- 1 2 "Sigmund Freud's fascination with Egypt". Apollo Magazine (dalam bahasa American English). 2019-08-13. Diakses tanggal 2020-01-05.
- ↑ Reading Freud's reading. Gilman, Sander L. New York: New York University Press. 1994. hlm. 266–287. ISBN 0-8147-3051-5. OCLC 28114291. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
- ↑ Brier, Bob. "Akhenaten, The Heretic Pharaoh." Lecture 21 of Great Courses History of Ancient Egypt.
- ↑ Misalnya, inventori fragmen kuilnya baru lengkap pada tahun 1967 dan rekonstruksi digitalnya sendiri masih terus berlangsung.. Winfield Smith, .Ray"The Akhenaten Temple Project" Expedition Magazine 10.1 (1967): n. pag. Expedition Magazine. Penn Museum, 1967 Web. 5 Jan 2020 <http://www.penn.museum/sites/expedition/?p=1779>https://www.penn.museum/sites/expedition/the-akhenaten-temple-project/
- 1 2 3 Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:0 - ↑ "Jahve" berdasarkan transliterasi oleh Freud dalam buku ini. (Lihat referensi sebelumnya).
- ↑ Yerushalmi, Yosef (1991). Freud's Moses: Terminable and Interminable. Yale University Press. hlm. 3–4. ISBN 0-300-04921-8.
- ↑ "Psychoanalysis of Myth - Sigmund Freud - Moses and Monotheism". stenudd.com. Diakses tanggal 2020-01-06.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Moses and Monotheism text at archive.org