Mati suri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Mati suri adalah pengalaman pribadi seseorang yang telah meninggal secara klinis, sebelum akhirnya hidup kembali. Dalam dunia neuroscience dan kedokteran modern abad ke-20, hal ini disebut sebagai NDE (Near-Death Experience). Pernapasan, detak jantung, dan fungsi otak mungkin masih terjadi, tetapi mereka hanya dapat dideteksi oleh sarana kedokteran canggih.

Dengan alasan kemanusiaan, dokter biasa melakukan CPR upaya untuk membuat jantung dan paru orang yang telah dianggap meninggal dunia kembali berdetak sehingga orang tersebut hidup kembali. Keadaan tubuh seseorang yang mengalami mati suri secara klinis pada umumnya sudah meninggal atau dalam keadaan koma.

Pengalaman NDE ini masih menjadi misteri besar karena sulit dijelaskan secara logika ilmiah karena rohnya keluar dari tubuh. Yang bersangkutan dapat melihat tubuhnya sendiri yang meninggal, tergeletak di rumah sakit atau terjebak di dalam mobil karena kecelakaan hebat, misalnya.

Secara ajaib, terjadi pemisahan antara kesadaran dan fisik. Rohnya masuk atau pindah ke dunia akhirat. Beberapa orang menyebut bahwa mereka merasa berada di dalam surga dan mengalami sensasi serta kejadian menakjubkan seperti:

  • Masuk dalam keadaan gelap, lalu melihat cahaya.
  • Bertemu malaikat yang menanyakan perihal hidupnya di dunia.
  • Bertemu saudara atau keluarga yang sudah meninggal.
  • Melihat keindahan luar biasa yang tidak ada di bumi dan merasakan cinta yang menakjubkan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
  • Melihat peristiwa hidupnya di masa lalu.
  • Melihat ada batasan.
  • Lalu, kembali ke tubuhnya semula.

Menurut Penjelasan Beberapa Agama[sunting | sunting sumber]

Islam[sunting | sunting sumber]

Dalam Hadits Qudsi dijelaskan, kematian merupakan pintu penghubung antara dunia dan akhirat. Setiap orang yang mati melewati pintu tersebut, sedangkan kehidupan, yaitu kondisi ketika jasad atau tubuh dengan roh masih melekat.

Lalu, dalam Al-Qur'an juga dijelaskan, mati suri berarti salah satu ujung tali roh terlepas, tetapi dia masih hidup karena ujung lainnya masih terikat. Itu yang membuat dia bisa kembali hidup. Mirip dengan orang tidur. Sebagaimana diketahui, roh ibarat tali yang punya dua ujung terikat pada tubuh. Jika salah satu ujung terlepas dari badan, hal itu memungkinkan manusia untuk melayang-layang dengan apa yang disebut dengan mimpi atau mati suri.

Kristen Protestan[sunting | sunting sumber]

Mati suri menurut Kristen Protestan juga memiliki arti yang lebih mendalam untuk kehidupan manusia. Kehidupan memang sebuah jalan agar kita bisa menuju Allah, tetapi pada kenyataannya manusia tercemar dengan dosa sehingga akan ada banyak rintangan untuk menuju pada Allah.

Agar kita bisa dipersatukan kembali dengan Allah, dibutuhkan kemurnian hati seutuhnya dan kehidupan harus menjadi proses pembersihan. Pembersihan yang dilakukan secara terus-menerus sangat harus untuk dilakukan dan tahap terakhir dalam menentukan hal tersebut adalah kematian yang berarti berpisahnya dari dunia fana.

Katolik[sunting | sunting sumber]

Jika kita hidup dalam Kristus, mati suri adalah sebuah penyucian diri terhadap dosa yang telah kita lakukan di masa lalu. Semua dosa kita akan diperlihatkan dalam mati suri ini.

Ketika kita masih berdosa dan menjadi seteru Allah, Kristus wafatkan kita untuk mendamaikan kita dengan Allah. Maka oleh Adam, kita manusia jatuh dalam dosa, sedangkan oleh Kristus kita memperoleh hidup yang kekal (Roma 5: 12–18).

Oleh ketidaktaatan Adam, kita semua jatuh dalam dosa. Namun, oleh ketaatan, kita semua dibenarkan (Roma 5: 19). Kita menerima rahmat kehidupan kekal pada saat kita dibaptis di dalam kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama-sama dengan Dia dan memiliki kehidupan yang baru bersama Dia (Roma 6: 1–4).

Yahudi[sunting | sunting sumber]

Dalam pandangan agama Yahudi, seseorang yang telah mengalami mati suri akan diperlihatkan masa depan dan kedatangan Tuhan sebanyak dua kali.

Konghucu[sunting | sunting sumber]

Menurut Konghucu, mati suri merupakan penembusan dosa terhadap sang hyang. Jika kita mati suri minimal tiga jam, semua dosa kita selama tiga tahun akan dihapuskan.

Orang yang mengalami mati suri dalam Konghucu ditandai dengan datangnya dewi kematian yang bertujuan memberi tahu keluarganya akan kematian orang terdekatnya.

Baháʼí[sunting | sunting sumber]

Jika penganut Baháʼí ada yang mengalami mati suri, bersiap-siaplah akan datang suatu musibah yang amat besar. Entah keluarganya ada yang sakit ataupun kecelakaan.

Menurut konsep Baháʼí, mati suri adalah sebuah kesengsaraan karena di sana kita diperlihatkan semua dosa yang kita lakukan ketika hidup di dunia.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]