Lapangan Imam Bonjol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Balai Kota Padang dan Plein van Rome tempo dulu
Tribun bernama Balairung yang terdapat di Lapangan Imam Bonjol, menghadap ke timur.

Lapangan Imam Bonjol (sebelumnya bernama Plein van Rome, bahasa Belanda: Stadion Roma) adalah alun-alun sekaligus ruang terbuka hijau di pusat Kota Padang, Sumatra Barat. Lapangan ini berbatasan dengan Jalan Sudirman, Padang di sebelah barat serta dikelilingi berbagai kantor dan bangunan penting yang telah berdiri sebelum kemerdekaan, seperti Balai Kota Padang. Di sisi barat, terdapat semacam tribun yang dinamakan sebagai Balairung, berbentuk seperti rumah adat Minangkabau rumah gadang dengan atap melengkung dan memiliki anjungan pada masing-masing sayap.[1]

Sebelum kemerdekaan, pemerintah Hindia Belanda menjadikan lapangan ini sebagai alun-alun kota karena letaknya yang dikelilingi sejumlah bangunan pemerintahan kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, lapangan ini sempat diberi nama dengan istilah Jepang Nanpo Hodo yang berarti "Angin dari Selatan". Setelah kemerdekaan, pemerintah sempat menjadikannya sebagai kompleks stadion dengan nama Stadion Benteng. Setelah berdirinya Stadion Gelora Haji Agus Salim pada 1980-an, pemerintah menyematkan nama Imam Bonjol untuk lapangan ini.[2][3][4][5]

Sejak tahun 1995, Pemerintah Kota Padang mengembangkan hutan kota berupa ruang terbuka hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan sekaligus sebagai salah satu sarana rekreasi masyarakat.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Balairung Icon Kota Padang". Dinas PM & PTSP Padang. Diakses tanggal 2020-06-15. 
  2. ^ Safwan, Mardanas. 1987. Sejarah Kota Padang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hal.22-23.
  3. ^ "Dari Plein van Rome hingga Lapangan Imam Bonjol". Haluan. 4 Maret 1993.
  4. ^ Sejarah Sepakbola Kota Padang, Ini Faktanya; Bermula di Plein van Rome.
  5. ^ Hatta: Jejak yang Malampaui Zaman. Majalah Tempo. hal. 12.