Kaprabonan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kaprabonan

1699–sekarang
{{{coat_alt}}}
Dalung Damar Wayang
Lambang Peguron Kaprabonan
Ibu kotaKota Cirebon
Bahasa yang umum digunakanBahasa Cirebon 1679-sekarang
Agama
Islam
Pangeran Adipati Kaprabon 
• 1696 (didirikannya Kaprabon)
Pangeran Raja Adipati (PRA) Kaprabon
• 2021
Pangeran Handi Raja Kaprabon
Sejarah 
• Pendirian peguron Kaprabonan oleh putera mahkota kesultanan Kanoman Pangeran Raja Adipati Kaprabon
1699
• -
sekarang
Didahului oleh
Kesultanan Kanoman
---
Status Politik:
  • De facto dibentuk (1699)
  • Pangeran Raja Kaprabon (putera mahkota Sultan Anom I) mendirikan Kaprabonan pada 1696

Kaprabonan adalah Peguron (tempat pembelajaran) yang didirikan oleh putera mahkota kesultanan Kanoman yaitu Pangeran Raja Adipati (PRA) Kaprabon pada tahun 1699

Sejarah Kaprabonan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1681, Belanda menawarkan perjanjian persahabatan kepada kesultanan Cirebon yang pada waktu itu telah dipecah menjadi dua yaitu Kasepuhan dan Kanoman yang kemudian ditandatangani pada tanggal 7 Januari 1681,[1][2] perjanjian persahabatan yang dimaksud adalah untuk memonopoli perdagangan di wilayah Cirebon.

Sultan Kanoman I Muhammad Badrudin Kartawijaya memiliki dua orang putera dari permaisuri yang berbeda, yaitu Pangeran Adipati Kaprabon yang merupakan putera pertama dari permaisuri kedua yaitu Ratu Sultan Panengah dan Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin, putera keduanya yang berasal dari permaisuri ketiga yang bernama Nyimas Ibu. Setelah ayahandanya wafat, kedua puteranya ini sepakat untuk melakukan lijdelijk verzet (perlawanan diam-diam) melawan Belanda.

Kemudian Pangeran Raja Muhammad Qadirudin diresmikan sebagai Sultan Anom II keraton Kanoman dikarenakan saudaranya yaitu Pangeran Adipati Kaprabon yang merupakan putera pertama Sultan Anom I dari permaisuri keduanya yaitu Ratu Sultan Panengah memutuskan untuk memperdalam ajaran agama Islam dan menyerahkan kepemimpinan keraton Kanoman kepada adiknya Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin.[3] Setelah menyerahkan kepemimpinan Keraton Kanoman kepada adiknya, Pangeran Adipati Kaprabon mendirikan Kaprabonan pada tahun 1696 sebagai tempat pendidikan agama Islam. Pada saat itu gejolak politik pemerintahan Belanda semakin memanas, dan perlawanan-perlawanan terhadap kolonial Belanda pun masih terus berjalan, sehingga Pangeran Raja Adipati Kaprabon ingin menjauhkan diri dari situasi tersebut dan selalu mengkhususkan diri (Mandita) dalam mengembangkan agama Islam kepada para murid-muridnya

Pangeran Raja Adipati Kaprabonan diberi gelar Sultan Prabu. Setelah ibunya wafat, Pangeran Raja Adipati Kaprabon diangkat sebagai putera mahkota Kesultanan Kanoman pada 1690. Setelah menjadi putra mahkota, ia bergelar Sultan Pandita Agama Islam yang diserahi Busana Pakaian Perang Kerajaan Wali yang dinamakan busana Kaprabon. Berdasarkan bedah sejarah yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. H. Pangeran Hempi Raja Kaprabon, Drs., M.Pd. bersama Raden Hamzaiya disaksikan oleh seluruh wargi keturunan mengatakan jika nama Kaprabonan diambil dari kata "Prabu" yang memiliki arti sebagai putera Mahkota. (sumber : catatan Redaktur 2020).

Pada waktu Sultan Anom Badrudin wafat, Pangeran Raja Adipati Kaprabon masih berada diluar Keraton Kanoman selama 6 tahun. Pada masa itu, terjadi kekosongan kekuasaan karena gejolak politik semakin memanas. Di tengah gejolak politik itu, pengaruh dan campur tangan VOC semakin menguat setelah Nyi Mas Ibu (permaisuri ketiga) melakukan pendekatan kepada VOC untuk mengangkat anaknya, Pangeran Manduraredja sebagai Sultan Kanoman II. Keinginan Nyi Mas Ibu itu disetujui oleh VOC seiring dengan pengangkatan Pangeran Manduraredja sebagai Sultan Kanoman II dengan gelar Sultan Carbon Qodirudin yang bertahta di Keraton Kanoman. Sementara itu, hak Pangeran Raja Adipati Kaprabon sebagai putra mahkota Kanoman untuk menerima tahta Kanoman dicabut oleh VOC.

Kondisi tersebut yang mendorong Pangeran Raja Adipati Kaprabon meninggalkan Keraton Kanoman untuk menghindari dari gejolak politik yang bertentangan dengan jati dirinya. Setelah meninggalkan Keraton Kanoman dan mendirikan Kaprabonan tegas Prof. Dr. Ir. H. Pangeran Hempi Raja Kaprabon, Drs., M.Pd. (dalam hal ini Pangeran Hempi berpendapat jika Kaprabonan merupakan sebuah keraton).

Perjuangan melawan penjajah Belanda dengan strategi lijdelijk verzet (perlawanan diam-diam) menemukan tantangan setelah Belanda pada tahun 1699[4] mengangkat Letnan Jacob Palm sebagai seorang pejabat penghubung Belanda untuk wilayah kesultanan Cirebon, dalam bukunya sejarah cirebon, Pangeran Sulaeman Sulendraningrat bahkan mengatakan jika kekuasaan kesultanan-kesultanan di Cirebon pada tahun 1700 telah habis sama sekali (secara politik) dengan adanya pengangkatan Letnan Jacob Palm.[5] Pada tahun 1701, Belanda kemudian menunjuk seorang pedagang bernama Jacob Heijrmanns sebagai pejabat penghubung Belanda untuk wilayah kesultanan-kesultanan Cirebon[4]

Penegasan status Kaprabonan sebagai Peguron[sunting | sunting sumber]


Pada tahun 2011 Pangeran Hempi membuat sebuah pernyataan bahwa Kaprabonan bukanlah sekadar sebuah peguron saja namun juga bersifat sebagai kerajaan, terlebih adanya pengakuan dari pejabat penguasa cirebon (zaman penjajahan Jepang) pada sekitar tahun 1946 pada masa kepemimpinan Pangeran Aruman bahwa Kaprabon adalah sebuah kerajaan.

Pertemuan pelurusan sejarah Kaprabonan pun digelar pada tahun yang sama oleh keluarga besar Kaprabonan dan kemudian sesepuh keluarga besar Kaprabonan yaitu Pangeran Moh. Nurbuat Purbaningrat menyatakan bahwa tidak ada satupun catatan sejarah yang menyebutkan Kaprabonan berdiri sebagai kesultanan[6] atau keraton, pernyataan Pangeran Moh. Nurbuat juga diperkuat oleh sesepuh Kaprabonan lainnya yaitu Pangeran Maulana Cakraningrat :

kerabat Kaprabonan lainnya menjelaskan jika pada masa kepemimpinan Jepang di Indonesia telah terjadi kekeliruan pengakuan, surat dari penguasa Jepang pada saat itu yang mengakui Kaprabonan sebagai sebuah kesultanan atau kerajaan dikarenakan adanya kesalahan dari pihak Kaprabonan ketika mengirimkan surat kepada pemerintah penguasaan Jepang, dikarenakan pada surat yang dikirim oleh pihak Kaprabonan bertuliskan Kaprabonan sebagai keraton maka pihak penguasa Jepang pada saat itu dikarenakan ketidaktahuan sejarah Cirebon membalas surat dari Kaprabonan dengan kata-kata Keraton Kaprabonan, surat balasan inilah yang kemudian dijadikan dasar oleh pihak Kaprabonan untuk menyatakan dirinya sebagai keraton.

Kaprabonan sebagai Pandita Guru Ilmu Kebatinan dalam agama Islam yang dalam dan tertinggi kehormatannya yang disukai dan diikuti oleh banyak murid-muridnya dan didatangi oleh orang-orang dari segala suku bangsa dan negeri (daerah) lain di luar Wilayah Cirebon sampai pada saat sekarang tidak putus diteruskan oleh turunannya secara turun-temurun. Batas tanah peguron Kaprabonan menurut petunjuk catatan orang tua zaman dulu, yaitu dari sebelah Selatan sampai di Jalan Lemahwungkuk ke Timur jalan ke Pengampon. Dari sebelah Timur sampai di Jalan Sasaiki (dulu bernama Kalibacin). Dari sebelah Utara sampai Pasuketan belok ke Jalan Pecinan Lemahwungkuk. Dari sebelah Barat sampai ke Jalan Lemahwungkuk sampai di desa dekat alun-alun Kanoman. Tegas Pangeran Hempi Raja Kaprabon dalam Disertasi nya.

Pendirian bangunan Kaprabonan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun. 1696 bangunan yang pertama didirikan adalah bangsal utama, lalu kaputran (tempat tinggal anak laki-laki) dan kaputren (tempat tinggal anak perempuan). Pada tahun 1700 dibangunlah tajug (mushola)[7]

Pembagian waris komplek Kaprabonan[sunting | sunting sumber]

Pada masa Pangeran Aruman menjabat sebagai penguasa di Kaprabonan sekitar tahun 1946 - 1974 telah membagi waris komplek Kaprabonan kepada dua orang puteranya yakni Pangeran Herman dan Pangeran Hernu[8].

Pangeran Hernu menguasai sebagian komplek Kaprabonan seperti Pendopo dan Gedong kesenian[8].

Kiprah keluarga Kaprabon[sunting | sunting sumber]

Pangeran Aroeman Raja Kaprabon terpilih sebagai anggota konstituante pada era Soekarno dan menyumbangkan harta kekayaan Kaprabonan guna pembangunan tugu monumen Nasional (MONAS).

Sikap Pangeran Hempi dalam kisruh tahta Kasepuhan[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 30 Juli 2020, Pangeran Hempi selaku pimpinan di Kaprabonan Cirebon menuliskan surat yang ditujukan kepada para wargi dan pini sepuh keraton Kasepuhan serta sentana kesultanan Cirebon yang menyatakan bahwa penerus di Kasepuhan tidak dapat diteruskan oleh puteranya[9],[10]

Daftar Pangeran Kaprabonan[sunting | sunting sumber]

  • 1699-1734: Pangeran Raja Adipati (PRA) Kaprabon
  • 1734-1766: Pangeran Kusumawaningyun Kaprabon
  • 1766-1798: Pangeran Brataningrat Kaprabon
  • 1798-1838: Pangeran Raja Sulaiman Sulendraningrat Kaprabon
  • 1838-1878: Pangeran Arifudin Kusumabratawirdja Kaprabon
  • 1878-1918: Pangeran Adikusuma Adiningrat Kaprabon
  • 1918-1946: Pangeran Angkawijaya Kaprabon
  • 1946-1974: Pangeran Aruman Raja Kaprabon
  • 1974-2001: Pangeran Herman Raja Kaprabon
  • 2001-2021:[11] Prof. Dr. Ir. H. Pangeran Hempi Raja Kaprabon, Drs., M.Pd.
  • 2021[12]-Sekarang: Pangeran Handi Raja Kaprabon

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kartodihardjo, Sartono. 1988. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500 - 1900 (dari Emporium sampai Imperium). Jakarta: Gramedia
  2. ^ Roseno, Edi. 1993. Perang Kedondong 1818. Depok: Universitas Indonesia
  3. ^ Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat - Sejarah Keraton Kaprabonan, Cirebon
  4. ^ a b >Hoadley, Mason Claude. 2018. Selective Judicial Competence: The Cirebon-Priangan Legal Administration, 1680–1792. New York : Cornell University Press
  5. ^ P.S. Sulendraningrat. 1985. Sejarah Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka
  6. ^ "2011 - Jurnal Patroli News - Status Keraton Kaprabonan digugat". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-05. Diakses tanggal 2015-09-20. 
  7. ^ Fanny. 2020. Bangunan Berusia Lebih dari 300 Tahun di Keraton Kaprabonan Ambruk. Cirebon : Kabar Cirebon
  8. ^ a b Anwarudin, Khoirul. 2021. Keraton Kaprabonan Memanas, gara-gara Tembok Pemisah. Cirebon : Radar Cirebon
  9. ^ a b Septiadi, Egi. 2020. Dinilai akan Timbulkan Masalah Panjang, Hempi: Penerus Sultan Sepuh XIV Tak Bisa Diteruskan Putranya. Bandung : Pikiran Rakyat
  10. ^ Tim Radar Cirebon. 2020. Pangeran Hempi Kaprabonan Angkat Bicara soal Trah Sunan Gunung Jati di Keraton Kasepuhan. Cirebon : Radar Cirebon
  11. ^ Erlanti, Mutiara Suci. 2021. Sosok Pangeran Hempi Raja Kaprabon yang Kini Meninggal Dunia, Disebut Orang yang Bersahaja dan Ramah. Cirebon : Tribun News Cirebon
  12. ^ Abdussalam, Muhamad Syarif. 2021. Pak Uu Saksikan Penobatan Sultan Baru Cirebon, Merasa Bangga dan Berharap Ini. Bandung : Tribun Jabar