Jamal D. Rahman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Jamal D. Rahman
Jamal Rahman.jpg
Jamal D. Rahman
Lahir 14 Desember 1967
Bendera Indonesia Kabupaten Sumenep, Jawa Timur
Pekerjaan Sastrawan
Tahun aktif 1990 - sekarang

Jamal D. Rahman (lahir di Sumenep, Jawa Timur, 14 Desember 1967; umur 49 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Dia merupakan salah satu penyunting buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang menuai kritik dari sejumlah kritikus dan sastrawan. Sejak 1993 Jamal menjadi redaktur majalah Horison, dan kini dia memimpin majalah tersebut.[1]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Jamal D. Rahman lahir dan besar di Lenteng Timur, Sumenep, Madura, 14 Desember 1967. Dia adalah alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]]. Menyelesaikan S2 pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian, dan kebudayaan di berbagai media massa.[2]

Ia kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam luar negeri antara lain Festival Seni Ipoh III, Negeri Perak, Malaysia (1998), Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritkan Sastra Melayu Serantau, Kualalumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers Meet) di Kualalumpur (2001), Festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004). Puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Dimuat dalam berbagai antologi.[3]

Karya[sunting | sunting sumber]

Tulisan-tulisannya juga dimuat dalam sejumlah buku, di antaranya Islam dan Tranformasi Sosial-Budaya (1993), Romo Mangun di Mata Para sahabat (1997), Tarekat Nurcholishy (2001), dan Ulama Perempuan Indonesia (2002). Jamal D. Rahman juga menjadi editor (bersama) lebih dari 20 buku, di antaranya Wacana Baru Fiqih Sosial: 70 Tahun KH Ali Yafie (Bandung, Mizan, 1997), Dari Fansuri ke Handayani, Sastra Indonesia dalam Program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (Jakarta, Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia 1-4 (Jakarta, Horison, 2002), Kaki Langit Sastra Pelajar (Jakarta, Horison, 2002), dan Horison Esai Indonesia 1-2 (Jakarta, Horison, 2003). Ia juga pernah menjadi redaktur jurnal pemikiran Islam Islamika (1993-1995), wartawan majalah Ummat (1995-1999), dan redaktur majalah sastra Horison (sejak 1993). Kini, dia adalah pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Kumpulan puisinya antara lain Airmata Diam (1993), Reruntuhan Cahaya (2003), dan Garam-Garam Hujan (2004). Jamal D. Rahman, pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2003 - 2006.[4][5]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang melibatkan nama Jamal D. Rahman dalam penyusunannya terus menuai kontroversi. Bahkan, ada penolakan dari kalangan pegiat sastra. Mereka menolak sejumlah hal, dari kriteria yang dijadikan dasar pemilihan para tokoh sastra tersebut hingga penggunaan kata "paling" dalam judul. Penolakan itu muncul baik di media sosial maupun tulisan-tulisan di media cetak. Para kritikus menganggap ada sebagian nama yang terangkum dalam buku tersebut belum layak dianggap sastrawan. Pegiat sastra yang menolak buku karya Jamal D. Rahman bahkan mengeluarkan petisi yang menuntut penarikan buku dari peredaran. Alasan itu antara lain:

  • Adanya potensi kesesatan publik. Kesesatan terjadi karena Tim 8, sebagai penyusun buku, dinilai memiliki klaim asertif dengan menyematkan kata "paling berpengaruh" pada judul buku. Para pegiat sastra menilai, tulisan-tulisan dari para tokoh yang dipilih justru tak menunjukkan adanya sisi superlatif pengaruh mereka dalam dunia sastra secara kuantitatif dan kualitatif. Kesesatan selanjutnya muncul karena Tim 8 tak memiliki definisi dan kriteria yang jelas dalam memilih tokoh sastra. Tim dinilai tak dapat membedakan antara afek, efek, dampak, dan pengaruh tokoh-tokoh yang dipilih. Kesesatan berikutnya adalah adanya konflik kepentingan yang memasukkan promotor buku tersebut, Denny J.A., sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh.
  • Buku ini dinilai telah mencederai integritas dan moral para ahli sastra, sastrawan, dan masyarakat.
  • Buku ini menjadi preseden buruk karena berpotensi membuat masyarakat percaya pada klaim asertif serupa dalam tulisan-tulisan lain pada masa mendatang.[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Situs resmi Taman Ismail Marzuki, diakses 27 Februari 2015
  2. ^ Banten Muda, diakses 27 Februari 2015
  3. ^ Petisi pegiat sastra toloak buku 33 tokoh sastra, diakses 27 Februari 2015
  4. ^ Academia: Jamal D Rahman - Danarto Wahdatul Wujud di Indonesia Modern, diakses 27 Februari 2015
  5. ^ Jakarta-Berlin.de, diakses 27 Februari 2015
  6. ^ Tempo: Alasan ditolaknya buku 33 tokoh sastra Indonesia, diakses 27 Februari 2015