Huginn and Muninn

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Huginn dan Muninn bersama Odin

Huginn dan Muninn adalah burung gagak pendamping penguasa Alam dan pemimpin para Aesir, Dewa Odin, dalam mitologi Nordik[1]. Dalam lukisan, Huginn dan Muninn tampak bertengger di kedua bahu Odin. Kedua gagak tersebut terbukti sangat setia[2] pada Odin dan menemaninya hingga ajal menjemput, hari demi hari, pertempuran demi pertempuran, mereka membuktikan diri mereka sebagai sekutu yang dapat dipercaya dan teman yang tidak dapat dipisahkan[3]. Setiap pagi, Huginn dan Muninn terbang melintasi Midgard, dan kembali ke bahu Odin pada malam hari. Odin menganggap kedua gagak tersebut sebagai mata-mata dan tangan kanannya selama masa pemerintahan dan peperangan[4], bahkan sang dewa lebih mementingkan mereka dibandingkan rakyatnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Diterjemahkan dari Bahasa Nordik Kuno, Huginn berarti "berpikir" dan Muninn, "pikiran." Mereka datang untuk melambangkan pengetahuan dan kemahakuasaan Odin yang luas, dan bertanggung jawab untuk memperluas kebijaksanaannya. Dalam mitologi Nordik, gagak sangat dihormati dan dihargai Odin. Pada kenyataannya, mereka disembah oleh rakyat Nordik. Artefak dari zaman tersebut menggambarkan Odin bersama kedua gagak yang disertai dengan perisai, piring, gelang dan perhiasan[4].

Literatur[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa baris informasi mengenai Huginn dan Muninn dalam beberapa puisi mitologi Nordik. Sebagian besar informasi tentang gagak, selain dari artefak, berasal dari literatur yang ditulis oleh sejarawan dan sarjana Islandia abad ke-13, Snorri Sturluson. Dia menggambarkan gagak dalam dua bagian dari Prosa Edda seminalisnya, yaitu buku yang berisikan kompilasi puisi yang ditulis dalam format puisi prosa. Burung gagak muncul di Prosa Edda dalam bentuk buku yang berjudul "Gylfaginning" (atau Tricking of Gylfi) dan "Skáldskaparmál" (bila diterjemahkan memiliki arti Bahasa Puisi), di mana mereka masing-masing ditampilkan dalam beberapa baris dalam Bab 38 dan Bab 60[3][4]. Tak hanya dalam Prosa Edda, kedua gagak juga terdapat dalam cerita rakyat: Heimskringla, dan Third Grammatical Treatise, di mana kedua gagak diceritakan bahwa mereka nyaman berada di bahu Odin.

Arkeologi[sunting | sunting sumber]

Secara arkeologis, gagak telah memberi kita banyak pengetahuan tentang budaya Nordik. Selama sembilan abad dan dalam empat negara, burung-burung ini dianggap sebagai simbol penting dalam mitologi Nordik, yang digambarkan sedang terbang di sekitar kepala Odin atau bertengger di pundaknya. Burung gagak tersebut seringkala muncul dalam jimat emas, pelat helm, dan bros untuk bahu, yang berasal dari abad ke-5, ke-6, dan ke-7. Mereka menghmemberkati Permadani Oserberg, yang ditemukan di atas kapal pemakaman Viking abad ke-9, dan mereka hinggap di Thorwald's Cross, batu rune dari abad ke-11. Swedia, Denmark, Norwegia, dan bahkan Inggris menyatakan bukti bahwa penduduk setempat berdoa kepada Huginn dan Muninn untuk mendapatkan kekuasaan dan bimbingan[3].

Hubungan Huginn dan Muninn dengan Odin[sunting | sunting sumber]

Dalam buku karya Sturluson yang berjudul Heimskringla: A Chronicle of Kings of Norway (dalam bab Ynglinga saga), ia menuliskan lebih banyak referensi mengenai gagak. Kumpulan puisi epik ini tentang kehidupan Odin tersebut menyampaikan bahwa bab 7 buku tersebut mengungkapkan bahwa kedua gagak membuat Odin bijaksana[5]. Selain itu, buku lain dalam koleksi Prose Edda, "Grímnismál", mengungkapkan informasi menggiurkan lainnya tentang Huginn dan Muninn. Dalam puisi ini, Odin menyamar sebagai Grimmir (bila diterjemahkan memiliki arti berkerudung atau bertopeng). Tujuan dari penyamarannya adalah untuk menasihati Pangeran Agnarr. Dia melakukannya dengan memberikan informasi pangeran muda tentang dua gagak. Odin, sebagai Grimmir, menyatakan hal berikut[6]:

Grímnismál
“Huginn dan Muninn terbang setiap hari

Di atas bumi yang luas.

Aku takut pada Huginn, bahwa dia akan kembali.

Namun saya cemas untuk Muninn ”

Snorri Sturluson, Terjemahan Benjamin Thorpe, Prosa Edda


Para sarjana memperdebatkan puisi tersebut, mereka percaya hal tersebut merujuk pada pengaruh mistis gagak. Beberapa menyatakan bahwa puisi ini memiliki beberapa hubungan dengan dukun dan praktik untuk mendekatkan diri dengan para dewa. Profesor yang melakukan studi abad pertengahan Skandinavia di University of California di Berkeley, John Lindow, menyatakan bahwa bait itu mungkin telah mengindikasikan kemampuan Odin untuk mengirimkan "pikiran" dan "pikirannya" kepada para dukun dalam keadaan tak sadarkan diri. Dalam bait lain, Odin khawatir tentang kembalinya Huginn dan Muninn, yang dieskpresikan dengan kalimat, "konsisten dengan bahaya dihadapi dukun dalam kondisi tak sadarkan diri."[4]

Beberapa sarjana menafsirkan Huginn dan Muninn sebagai proyeksi Odin sendiri, dibandingkan dengan gagak biasa yang telah diberkati dengan kekuatan khusus. Dalam budaya Nordik, para dukun terbiasa untuk memasuki kondisi tak sadarkan diri, di mana mereka mengirim kesadaran mereka untuk menyelidiki dunia dan membawa kembali informasi. Nama-nama gagak Odin (Huginn yang berarti "berpikir" dan Muninn yang berarti "pikiran") mendukung gagasan bahwa mereka adalah proyeksi kesadarannya[3].

Sarjana lain percaya bahwa Huginn dan Muninn adalah fylgjur Odin. Dalam budaya Nordik, binatang roh, yang disebut fylgjur, umumnya terlihat ditemani pria dan wanita hebat. Hewan-hewan ini adalah manifestasi dari karakter orang tersebut. Seseorang yang didampingi rubah sebagai fylgja melambangkan kelicikan, sementara seseorang yang didampingi seekor sapi sebagai flygja melambangkan kuatan yang jinak. Gagak mewujudkan kebijaksanaan dan bimbingan dalam budaya Nordik, sehingga dewa dengan dua gagak sebagai flygjur-nya akan menjadi panduan yang bijak, seperti Odin[3]. Fylgjur sering dikaitkan dengan nasib seseorang, mereka cenderung muncul tepat sebelum momen klimaks dalam kehidupan seseorang, dan mereka sering menjadi pertanda kematian. Huginn dan Muninn sering muncul dalam penggambaran Ragnarok, pertempuran besar apokaliptik di mana Odin ditakdirkan untuk mati. Burung gagak memperingatkannya tentang peristiwa itu dan tetap di pundaknya selama pertempuran[3].

Beberapa sarjana percaya bahwa Huginn dan Muninn adalah hamingja Odin, perwujudan fisik dari keberuntungannya. Dalam budaya Nordik, roh terdiri dari banyak bagian yang dapat dipisahkan yang dapat dikirim pada tugas yang berbeda. Hamingja adalah salah satu dari bagian-bagian itu, dan karena itu bukan salah satu bagian terpenting dari roh, ia sering ditugaskan untuk misi-misi kecil[3].

Mitos dan Legenda[sunting | sunting sumber]

Tidak hanya sebagai simbol umum dan kuat dalam cerita rakyat Nordik, gagak juga memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Nordik. Kemmungkinan, hubungan pertama antara orang-orang Nordik dengan gagak adalah kebiasaan makan mereka. Orang-orang Norwegia kuno adalah pemburu dan pengumpul, sedangkan gagak adalah pemakan bangkai. Burung gagak yang pintar mungkin membuntuti seorang pemburu selama sehari, dan ketika sang pemburu membunuh, sang gagak akan mengundang dirinya sendiri untuk menyantap hasil buruan. Demikian juga, seorang pemburu yang lapar mungkin melihat seekor gagak berputar-putar di langit dan mengikutinya ke makanan. Dengan cara ini, ikatan primitif mungkin telah terbentuk antara orang-orang Norwegia dengan gagak[3].

Seiring berjalannya waktu dan kemajuan peradaban Nordik, orang-orang mulai melakukan perjalanan laut yang terkenal yang akan memenangkan budaya Nordik tempat yang mulia dalam sejarah, dan mereka membawa gagak bersama mereka. Sama seperti gagak yang pernah menuntun orang-orang Nordik ke mangsa, mereka dapat diandalkan untuk memandu kapal mereka ke darat. Burung-burung perkasa itu dibawa dalam kurungan di kapal Viking. Secara berkala, mereka diambil dari kandang mereka dan dilemparkan ke angin laut untuk mengintai sekitar kapal. Jika burung itu menemukan tanah, ia akan menuju ke sana alih-alih kembali ke kapal. Jika tidak menemukan tanah, burung itu akan kembali ke kapal. Mereka memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Norwegia, oleh karena itu gagak mulai dihormati oleh rakyat[3]. Terlebihnya lagi, Huginn dan Muninn mengerti dan dapat berbicara bahasa manusia[7]

  1. ^ "Dewa-Dewi Mitologi Nordik". WADEZIG!™ (dalam bahasa Inggris). 2015-10-19. Diakses tanggal 2020-02-26. 
  2. ^ "Odin's Ravens • Facts & Mythology about Muninn and Huginn". Gods & Goddesses (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-28. 
  3. ^ a b c d e f g h i Geller, Prof (2016-11-01). "Huginn and Muninn - Pair of Ravens in Norse Mythology". Mythology.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-26. 
  4. ^ a b c d "Huginn and Muninn: The Divine Ravens of Odin". Owlcation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-27. 
  5. ^ tommy. "what does the raven symbolize meaning in norse mythology?" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-28. 
  6. ^ "Iceland – Huginn and Muninn". Europe Is Not Dead! (dalam bahasa Inggris). 2013-07-13. Diakses tanggal 2020-02-28. 
  7. ^ "Huginn and Muninn: Powerful Ravens Of Odin, Supreme God In Asgard In Norse Mythology". Ancient Pages (dalam bahasa Inggris). 2017-12-07. Diakses tanggal 2020-02-28.