Hotlin Ompusunggu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Hotlin Ompusunggu (lahir di Sigura-gura, Sumatera Utara, 19 Juli 1974; umur 44 tahun) adalah aktivis lingkungan yang memadukan upaya pemberdayaan masyarakat, konservasi hutan, dan layanan kesehatan di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Hotlin mendirikan yayasan layanan kesehatan sekaligus konservasi hutan pada tahun 2007 yang dinamakan LSM Alam Sehat Lestari (disingkat ASRI) bersama doktor Romi Beginta.[1] Ide awal upaya ini berawal dari temannya, dokter Kinari asal Amerika Serikat yang menggagas integrasi antara kesehatan dengan lingkungan. Hotlin sendiri adalah dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Sumatera Utara.[2] Setelah lulus kuliah, Hotlin mengabdikan diri di puskesmas selama empat tahun, lalu dua tahun di pedalaman Sumatra Selatan. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan ke Inggris, untuk mendalami bidang Community Development and Higher Education di Redcliffe College University of Glocestershire.[1] Sepulang dari Inggris, ia berkenalan dengan Kinari Webb MD, dokter keluarga yang pernah melakukan penelitian di Gunung Palung. Dia tertarik dengan konsep Kinari tentang pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan layanan kesehatan dengan konservasi.[1]

Terinspirasi dari Kinari Webb MD, Hotlin memadukan program konservasi penanaman kembali hutan dengan diskon layanan kesehatan di LSM Alam Sehat Lestari (disingkat ASRI) yang ia dirikan. Yayasan Asri didirikan di Kecamatan Sukadana bersama Kinari dan Antonia Gorog, Ph.D. Gorog adalah pakar ekologi dan konservasi yang pernah bekerja dua tahun di Indonesia menjadi penasihat pengetahuan (scientific advisor).[1]

LSM Alam Sehat Lestari[sunting | sunting sumber]

LSM Alam Sehat Lestari, disingkat ASRI, didirikan dari keprihatinan Hotlin yang menemukan bahwa pembalakan liar disebabkan oleh sulitnya akses masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TGNP), Kalimantan Barat ke pusat layanan kesehatan. Warga desa di sekitar TGNP harus menempuh jarak sekitar 87 kilometer untuk berobat di ibu kota Kabupaten Ketapang. Pembalakan liar dilakukan sebab hasil pertanian dan menjual sapi tidak lagi mencukupi untuk membayar biaya transportasi, penginapan, dan pengobatan di kota. Hal itu membuat Hotlin merasa miris. Apalagi, masyarakat yang tinggal di sekitar TNGP itu sangat bergantung pada hutan. Pembalakan liar pun marak.[1]

Pelatihan pertanian organik menjadi salah satu program yang dijalankan Asri untuk menghambat laju kerusakan lingkungan di kawasan TNGP. Program ini juga salah satu program yang juga diinginkan oleh warga sekitar TNGP sehingga mereka bisa beralih pekerjaan dari pembalak liar menjadi petani organik.[1] Kegiatan ditindaklanjuti dengan penyusunan konsep kerja konservasi. Hotlin dan tim lantas mendirikan klinik sebagai layanan jasa kesehatan masyarakat yang murah tetapi berkualitas. Hotlin pun merangkap menjadi dokter gigi di klinik itu.[1]

Klinik menggolongkan pasien berdasarkan status dusun tempat tinggal mereka. Setiap dusun diberi status zona dengan indikator tertentu. Indikatornya yakni seberapa besar komitmen masing-masing dusun melakukan konservasi hutan dengan tidak menebang pohon sembarangan. Dusun dibagi dalam zona hijau dan merah, yang hijau—sudah terbebas dari usaha terkait pembalakan liar—mendapat diskon 70 persen. Yang merah—masih ada usaha terkait pembalakan liar—mendapat diskon 30 persen.[1] Kemudian dusun dibagi ke dalam empat zona, yaitu hijau, kuning, biru, dan merah. Status zona biru diberikan kepada desa-desa yang tidak berbatasan langsung dengan TNGP tetapi memiliki komitmen menjaga hutan. Sebab, banyak kasus, ada dusun yang berbatasan langsung dengan TNGP menjadi berstatus kuning atau merah gara-gara ulah pembalak dari dusun lain. Hingga kini, sebanyak 76 dusun bekerja sama dengan Yayasan Asri dengan warna zonasi yang beragam.[1]

Dusun pada daerah konservasi yang Hotlin dampingi dibagi dalam zona hijau dan merah. Dusun yang hijau—sudah terbebas dari usaha terkait pembalakan liar—mendapat diskon 70 persen. Yang merah—masih ada usaha terkait pembalakan liar—mendapat diskon 30 persen. Kini, dusun dibagi ke dalam empat zona, yaitu hijau, kuning, biru, dan merah. Status zona biru diberikan kepada desa-desa yang tidak berbatasan langsung dengan TNGP tetapi memiliki komitmen menjaga hutan. Sebab, banyak kasus, ada dusun yang berbatasan langsung dengan TNGP menjadi berstatus kuning atau merah gara-gara ulah pembalak dari dusun lain. Hingga kini, sebanyak 76 dusun bekerja sama dengan Yayasan Asri dengan warna zonasi yang beragam. Pembayaran layanan kesehatan juga diperkenankan dilakukan menggunakan sumber daya pengganti, seperti kotoran sapi dan kambing untuk pupuk, bibit, kerajinan tangan, sekam, ataupun kulit telur. Tiap bibit pohon yang diserahkan, ada nilai tertentu yang tercatat di sebuah kartu. Catatan itulah yang digunakan sebagai pembayaran untuk pengobatan. Misalnya, 1 bibit kayu pelanjau dihargai Rp6.000. “Prinsipnya seperti kartu pembayaran elektronik di halte TransJakarta, namun untuk hal ini ini masih dicatat manual. Hotlin kemudian mendapatkan penghargaan Whitley Award 2011 dari The Royal Princess, Putri Anne, dari Kerajaan Inggris dan hibah proyek sebesar 30 ribu poundsterling.[2]

Selama 2007–2015 klinik LSM Alam Sehat Lestari telah melayani hampir 25 ribu pasien dengan total kunjungan hampir 60 ribu kali. Pada 2009, Bupati Kayung Utara mencanangkan pelayanan kesehatan gratis. Meski begitu, warga tetap membanjiri Klinik Asri dengan membawa kerajinan tangan atau bibit pohon dan lainnya yang bisa dijadikan alat bayar. Itu terjadi karena masih ada keterbatasan fasilitas kesehatan yang disediakan pemda untuk layanan kesehatan gratis.[1] Lima tahun berjalan, usaha Hotlin sudah terlihat. Jumlah pembalak berkurang drastis, dari 1.360 keluarga pembalak yang menjadi sasaran Asri, berkurang menjadi 450 keluarga pada 2012.[1] Para pembalak hutan sudah beralih profesi, ada yang bekerja di perusahaan (14 persen). Ada pula yang bekerja di pabrik minyak sawit (13 persen), menjadi pedagang (empat persen), menjadi nelayan (dua persen), menjadi pekerja konstruksi (1,5 persen), dan paling banyak menjadi petani organik, mencapai 52 persen.[1]

Rujukan[sunting | sunting sumber]