Hepatitis A

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari


Hepatitis A
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Hepatitis A induced jaundice
ICD-10 B15.
ICD-9 070.0, 070.1
DiseasesDB 5757
MedlinePlus 000278
eMedicine med/991  ped/977
MeSH D006506
?Hepatitis A
Electron micrograph of hepatitis A virions
Electron micrograph of hepatitis A virions
Klasifikasi virus
Kelas: Kelas IV ((+)ssRNA)
Ordo: Picornavirales
Famili: Picornaviridae
Genus: Hepatovirus
Spesies: Hepatitis A virus


Hepatitis A adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus hepatitis A yang disebarkan oleh kotoran/tinja penderita; biasanya melalui makanan (fecal - oral).[1] Bberapa kasus hanya memberikan sedikit atau tanpa gejala terutama bagi yang masih muda.[2] Waktu antara dan gejala, antara 2-6 minggu.[3] Gejalanya biasanya berakhir dalam 8 minggu dan meliputi: mual (nausea), muntah-muntah, mencret, kulit kuning (terutama bagian putih dari mata), demam, dan nyeri abdomen.[2] Sekitar 10–15% dari penderita akan kambuh kembali dalam 6 bulan setelah infeksi pertama.[2] Penyakit hepatitis A yang fatal jarang terjadi, tetapi mungkin terjadi pada lansia.[2]

Biasanya penyakit ini disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh kotoran penderita hepatitis A.[2] Kerang (Shellfish) yang tidak dimasak dengan matang, biasanya menjadi sumber infeksi penyakit ini.[4] Dapat juga menyebar melalui kontak erat dengan penderita.[2] Setelah terkena hepatitis A satu kali, maka orang tersebut akan kebal seumur hidupnya terhadap penyakit ini.[5] Diagnosa membutuhkan tes darah, karena gejalanya seringkali sama dengan penyakit lainnya.[2]

Vaksin hepatitis A efektif untuk pencegahan.[2][6] Bberapa negara merekomendasikan vaksinasi untuk anak-anak dan pada yang beresiko tinggi dan belum pernah divaksin sebelumnya.[2][7] Vaksinasi tampaknya efektif untuk seumur hidup.[2] Usaha pencegahan lainnya adalah mencuci tangan dan memasak makanan dengan matang.[2] Tidak ada perawatan khusus yang bisa dilakukan, kecuali istirahat dan pengobatan untuk mengatasi mual, atau mencret sesuai kebutuhan.[2] Infeksi biasanya sembuh dengan sempurna dan tanpa penyakit hati berkelanjutan.[2] Penanganan kegagalan hati yang akut, jika terjadi, bisa dilakukan transplantasi hati.[2]

Didunia terjadi sekitar 1,5 juta penderita hepatitis A dengan gejala setiap tahunnya[2] dengan perkiraan sekitar 10 juta yang terinfeksi setiap tahunnya.[8] Umumnya terjadi di bagian dunia dengan sanitasi yang buruk dan tidak cukup air bersih.[7] Di negara berkembang sekitar 90% anak-anak pada umur sepuluh tahun pernah terinfeksi dan akan kebal pada saat dewasa kelak.[7] Kadang-kadang terjadi wabah di negara berkembang yang agak maju, ketika anak-anak belum terkena infeksi hepatitis A sebelumnya, tetapi juga tidak divaksinasi, demikian juga kebanyakan yang lainnya.[7] Di athun 2010, Hepatitis A akut menyebabkan 102,000 kematian.[9] World Hepatitis Day terjadi tiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk mengingatkan akan virus hepatitis.[7]

Masa inkubasi[sunting | sunting sumber]

Penularan virus Hepatitis A atau Hepatitis Virus tipe A (HVA) melalui fecal oral, yaitu virus ditemukan pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, juga terkadang melalui hubungan seks dengan penderita.

Gejala Hepatitis A biasanya tidak muncul sampai Anda memiliki virus selama beberapa minggu. Hepatitis A sangat terkait dengan pola hidup bersih. Dalam banyak kasus, infeksi Hepatitis A tidak pernah berkembang hingga separah Hepatitis B atau C, sehingga tidak akan menyebabkan kanker hati. Meski demikian, Hepatitis A tetap harus diobati dengan baik karena mengurangi produktivitas bagi yang harus dirawat di rumah sakit.

Waktu terekspos sampai kena penyakit kira-kira 2 sampai 6 minggu. Penderita akan mengalami gejala-gejala seperti demam, lemah, letih, dan lesu, pada beberapa kasus, seringkali terjadi muntah-muntah yang terus menerus sehingga menyebabkan seluruh badan terasa lemas. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.

Gejala[sunting | sunting sumber]

Gejala awal dari infeksi hepatitis A dapat tersaru dengan influenza, bahkan beberapa penderita, terutama anak-anak, tidak menunjukkan gejala sama sekali. Masa inkubasi, sampai pertama kali gejala muncul, setelah terjadi infeksi, biasanya 2-6 minggu.[10] 90% anak-anak yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. Rata-rata masa inkubai adalah 28 hari.[3]

Gejala infeksi hepatitis A berhubungan langsung dengan usia, 80% dewasa memiliki gejala sehubungan dengan virus hepatitis akut dan mayoritas anak-anak tidak menunjukkan gejala atau infeksi yang tak terdeteksi.[11]

Gejala biasanya berakhir kurang dari 2 bulan, meskipun pada sebagian penderita dapat sakit hingga 6 bulan lamanya.[12]

Tanda dan gejala Hepatitis A yaitu:

  • Kelelahan
  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice), karena meningkatnya kadar bilirubin
  • Urin berwarna gelap seperti teh
  • Mencret
  • Kotoran BAB yang berwarna terang atau mirip tanah liat

Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium:

  • Pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu, demam, kehilangan selera makan dan mual;
  • Stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik); dan
  • Stadium kesembuhan (konvalesensi). Gejala kuning tidak selalu ditemukan. Untuk memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan enzim hati, SGPT, SGOT. Karena pada hepatitis A juga bisa terjadi radang saluran empedu, maka pemeriksaan gama-GT dan alkali fosfatase dapat dilakukan di samping kadar bilirubin.

Masa pengasingan yang disarankan[sunting | sunting sumber]

Selama 2 minggu setelah gejala pertama atau 1 minggu setelah penyakit kuning muncul. Pasien juga diharapkan menjaga kebersihan. Dan lebih baik dirawat dirumah sakit agar mendapat bantuan medis yang memadai

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Kasus-kasus ringan Hepatitis A biasanya tidak memerlukan pengobatan dan kebanyakan orang yang terinfeksi sembuh sepenuhnya tanpa kerusakan hati permanen.

Perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sesudah dari toilet adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi diri terhadap virus Hepatitis A. Orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi imunoglobulin. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk sendiri (Havrix) atau bentuk kombinasi dengan vaksin hepatitis B (Twinrix). Imunisasi hepatitis A dilakukan dua kali, yaitu vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12 bulan kemudian, sementara imunisasi hepatitis B dilakukan tiga kali, yaitu dasar, satu bulan dan 6 bulan kemudian. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial terinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering jajan di luar rumah.

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A, sebab infeksinya sendiri biasanya akan sembuh dalam 1-2 bulan. Namun untuk mengurangi dampak kerusakan pada hati sekaligus mempercepat proses penyembuhan, beberapa langkah penanganan berikut ini akan diberikan saat dirawat di rumah sakit.

1. Istirahat. Tujuannya untuk memberikan energi yang cukup bagi sistem kekebalan tubuh dalam memerangi infeksi.

2. Anti mual. Salah satu dampak dari infeksiHhepatitis A adalah rasa mual, yang mengurangi nafsu makan. Dampak ini harus diatasi karena asupan nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan.

3. Istirahatkan hati. Fungsi hati adalah memetabolisme obat-obat yang sudah dipakai di dalam tubuh. Karena hati sedang mengalami sakit radang, maka obat-obatan yang tidak perlu serta alkohol dan sejenisnya harus dihindari selama sakit.

Pencegahannya untuk Hepatitis A adalah melakukan vaksinasi yang juga tersedia untuk orang-orang yang berisiko tinggi.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ryan KJ, Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (4th ed.). McGraw Hill. pp. 541–4. ISBN 0-8385-8529-9. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Matheny, SC; Kingery, JE (1 December 2012). "Hepatitis A.". Am Fam Physician 86 (11): 1027–34; quiz 1010–2. PMID 23198670. 
  3. ^ a b Connor BA (2005). "Hepatitis A vaccine in the last-minute traveler". Am. J. Med. 118 (Suppl 10A): 58S–62S. doi:10.1016/j.amjmed.2005.07.018. PMID 16271543. 
  4. ^ Bellou, M.; Kokkinos, P.; Vantarakis, A. (March 2013). "Shellfish-borne viral outbreaks: a systematic review.". Food Environ Virol 5 (1): 13–23. doi:10.1007/s12560-012-9097-6. PMID 23412719. 
  5. ^ The Encyclopedia of Hepatitis and Other Liver Diseases. Infobase. 2006. p. 105. ISBN 9780816069903. 
  6. ^ Irving, GJ.; Holden, J.; Yang, R.; Pope, D. (2012). "Hepatitis A immunisation in persons not previously exposed to hepatitis A.". Cochrane Database Syst Rev 7: CD009051. doi:10.1002/14651858.CD009051.pub2. PMID 22786522. 
  7. ^ a b c d e "Hepatitis A Fact sheet N°328". World Health Organization. July 2013. Diakses tanggal 20 February 2014. 
  8. ^ Wasley, A; Fiore, A; Bell, BP (2006). "Hepatitis A in the era of vaccination.". Epidemiol Rev 28: 101–11. doi:10.1093/epirev/mxj012. PMID 16775039. 
  9. ^ Lozano, R (Dec 15, 2012). "Global and regional mortality from 235 causes of death for 20 age groups in 1990 and 2010: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2010". Lancet 380 (9859): 2095–128. doi:10.1016/S0140-6736(12)61728-0. PMID 23245604.  |first2= missing |last2= in Authors list (bantuan); |first3= missing |last3= in Authors list (bantuan); |first4= missing |last4= in Authors list (bantuan); |first5= missing |last5= in Authors list (bantuan); |first6= missing |last6= in Authors list (bantuan); |first7= missing |last7= in Authors list (bantuan); |first8= missing |last8= in Authors list (bantuan); |first9= missing |last9= in Authors list (bantuan); |first10= missing |last10= in Authors list (bantuan); |first11= missing |last11= in Authors list (bantuan); |first12= missing |last12= in Authors list (bantuan); |first13= missing |last13= in Authors list (bantuan); |first14= missing |last14= in Authors list (bantuan); |first15= missing |last15= in Authors list (bantuan); |first16= missing |last16= in Authors list (bantuan); |first17= missing |last17= in Authors list (bantuan); |first18= missing |last18= in Authors list (bantuan); |first19= missing |last19= in Authors list (bantuan); |first20= missing |last20= in Authors list (bantuan); |first21= missing |last21= in Authors list (bantuan); |first22= missing |last22= in Authors list (bantuan); |first23= missing |last23= in Authors list (bantuan); |first24= missing |last24= in Authors list (bantuan); |first25= missing |last25= in Authors list (bantuan); |first26= missing |last26= in Authors list (bantuan); |first27= missing |last27= in Authors list (bantuan); |first28= missing |last28= in Authors list (bantuan); |first29= missing |last29= in Authors list (bantuan); |first30= missing |last30= in Authors list (bantuan)
  10. ^ "Hepatitis A Symptoms". eMedicineHealth. 2007-05-17. Diakses tanggal 2007-05-18. 
  11. ^ Ciocca M. (2000). "Clinical course and consequences of hepatitis A infection". Vaccine 18: 71–4. doi:10.1016/S0264-410X(99)00470-3. PMID 10683554. 
  12. ^ "Hepatitis A Information for the Public". Center for Disease Control. 2009-09-17. Diakses tanggal 2011-01-08. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]